
“Azia, dengerin aku tidak pernah mempermasalahkan usiamu, karena sebenarnya yang dirugikan di sini bukan aku tapi kamu, sayang! Sekarang saja aku sudah berusia 23 tahun, saat kamu akan berusia 22 tahun dan siap untuk menjadi istri, kamu pasti akan melirik yang lain karena saat itu mungkin aku tidak setampan dan sebaik saat ini sayang” jelasnya pelan-pelan padaku.
“Kak, aku mencintai kakak itu tulus dari hati, mau kakak cacat, tua, tidak tampan, asal itu kak Alex yang aku kenal maka, itu bukan sebuah alasan untuk tidak mencintai dan malah meninggalkan kakak!”
Kak Alex mendekatiku lalu menggenggam tanganku sambil menatap mataku dengan tatapan mendalam.
“Azia, sama seperti kamu yang tidak akan meninggalkan aku karena kekuranganku, aku pun tidak akan pernah meninggalkan kamu dengan alasan apapun di masa dengan nanti, sayang!”
“Janji?!”
“Iya, janji!” Lalu kak Alex memelukku dan menghapus airmata ku.
“Ah, gak seru! Masa kalian bertengkarnya kayak gitu dong!” Andi tiba-tiba muncul di balik kegelapan sambil membawa gitar dan diikuti Mia dan Fara di sampingnya.
“Kan sudah aku bilang, mereka tu cuma mau main drama-drama ala korea aja tu tadi, ayo kita balik aja!” Ajak Fara yang sudah langsung berbalik dan berjalan ke arah tenda.
“Kalian ngapain sih ngikutin kami?” Tanyaku kesal sambil melepas pelukan kak Alex.
“Gak, hanya saja tadi kami pikir akan ada adegan yang emosional jadi kami mau nonton tapi, kenyataannya malah adegan basi, ah gak asik! Kalau bertengkar tu sesekali yang heboh kek, kak enak tu di lihatnya!”
“Dasar Andi sialan!” Aku langsung mengambil ranting di bawah kakiku dan mengejar Andi yang mengatakan hal buruk tentang kami.
Setelah berhasil memukul Andi aku dan Mia masuk ke tenda dan segera bersiap tidur di samping Fara yang sudah terlanjur masuk ke dunia mimpi tanpa menunggu kami. Saat Mia sudah berbaring tiba-tiba aku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal tapi aku bisa langsung menebak siapa yang mengirimnya.
“Besok ayo bertemu” Pesan yang tanpa basa-basi itu berisi ajakan untuk bertemu dengan tersirat makna memaksa di dalamnya.
“Tidak bisa, ganti ke lusa”
“Jangan buang waktu, minggu sore kita bertemu di tempat yang aman dan tidak banyak orang, cari tempat yang bagus, paham?!”
“Baik” Balasku singkat.
Setelah itu aku langsung tidur di tengah-tengah Mia dan Fara yang sudah tidur lebih dulu dari aku.
***
Minggu siang, saat acara kemping kami sudah selesai dan tempat itu sudah dibersihkan oleh pelayan-pelayan milik Fara. Andi dan kak Alex pun meminta izin pulang karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, Fara dan Mia seperti bisa mereka akan pergi menemui gebetan mereka di akhir pekan. Sedangkan aku, aku menunggu waktu yang tepat dan menghubungi kak Roni untuk membooking restoran miliknya untuk sore itu.
“Azia, kamu serius mau nge-booking tempat untuk sore ini? Ada cara apa?”
“Kak, kata orang-orang, semakin sedikit kita tahu semakin baik untuk kehidupan yang tenang kita”
“Kalau kamu gak mau bilang, ya sudah biar kakak tanya sama pacar kamu aja, gimana?” Ucap kak Roni dengan nada sok mengancamku.
“Jangan!!!” Ucapku agak panik.
“Kenapa?” Tanya penasaran.
“Adalah alasannya, pokoknya jangan ada yang tahu selain kakak dan aku, ini rahasia”
“Kalau mau ini jadi rahasia kamu katakan saja untuk apa kamu booking restoran sore ini? Aku mau menemui seseorang yang identitasnya ingin dirahasiakan, ini menyangkut keluarga kandungku kak, jadi aku mohon bantuannya, apa kakak bisa…”
“Bisa, udah kamu gak usah bayar, kalian datang saja jam 4 nanti, tapi waktunya tidak bisa lama hanya 2 jam karena setelah itu tempat itu akan dihias untuk acara lain malam ini” kak Roni dengan cepat setuju.
“Baik, terima kasih banyak kak”
Setelah selesai menelpon kak Roni aku pun menghubungi ‘orang itu’ setelah kami sepakat untuk bertemu di jam 4. Dia meminta aku untuk berhati-hati dalam perjalanan tanpa memberitahu alasannya sehingga itu membuat aku menjadi super waspada.
Sampai di restoran ternyata aku terlalu cepat datang, aku menunggu sambil memakan makanan pembuka yang sudah aku pesan.
“Sudah lama?” Tanya pria yang baru datang tanpa rasa bersalah dan duduk santai tanpa satu permintaan maaf keluar dari mulutnya.
“Oke langsung saja, kirim uangnya lalu saya akan berikan informasinya.”
“Loh kenapa begitu? Bagaimana kalau kamu menipu aku?” Aku berhenti makan dan mulai serius.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang penting kalau tidak ada uang saya tidak akan memberikan informasinya.”
“Oke! Berapa?”
“Sesuai kesepakatan awal karena ini belum sampai satu tahun maka jumlah uang yang saya minta tidak akan kurang dari 100 juta”
“Oke!”
Aku mentransfer sejumlah uang kepada pria yang sebenarnya namanya saja aku tidak tahu, aku hanya tahu kalau dia pria yang bisa mencari informasi apapun yang diminta sesuai dengan keinginan kliennya.
“Udah, jadi mana?”
“Nih flashdisk yang berikan informasi yang kamu minta dan karena uangnya lunas di tempat saya akan memberikan sedikit bonus informasi tambahan” Ucapnya yang sok acuh tak acuh.
“Katakan!” Desak ku.
“Sabar gadis kecil! Yang pertama tentang orang yang menitipkan kamu di panti asuhan saat kamu kecil dulu adalah paman yang selama ini membantu kamu, kamu pasti pernah mikir kalau dia itu malaikat tak bersayap yang menolong kamu tapi sayangnya dia iblis berwujud manusia.” Pria itu tertawa kecil seolah sedang mengejek ku.
“Kamu pasti salah! Pak Arya mana mungkin melakukan itu, ini pasti salah” Aku sangat kaget dan tidak habis pikir dengan apa yang baru saja aku dengar tentang orang yang tadinya aku pikir seorang yang sudah seperti ayahku sendiri ternyata adalah orang yang tega menelantarkan aku.
“Apa dia ayahku?”Lanjutku.
“tentu saja bukan! Dia mungkin jahat, tapi dia ayah yang baik dan sahabat baik, dia itu teman ayahmu, karena dia tidak ingin mengacaukan keluarganya karena kehadiranmu dia entah terpaksa atau memang tidak punya hati hingga pada akhirnya dia menitipkan kamu ke panti asuhan” Ucapan pria itu membuat aku kehilangan rasa percaya pada semua hal yang ada dalam ingatanku.
“Lalu orang tua kandungku?”
“Informasi itu bisa dilihat di dalam data yang aku berikan pada kamu. Bonus yang kedua itu tentang hubungan ayahmu dengan keluarga ibumu, jadi intinya karena status keluarga ayahmu yang dari orang biasa makanya kakek mu tidak merestui hubungan mereka hingga ibumu kabur dari rumah dan menikah tanpa persetujuan keluarganya di Indonesia”
“Bagaimana kamu tahu hal itu? Seakan kamu ada di saat kejadian itu terjadi”
“Kamu tidak perlu tau bagaimana dan dari mana aku mendapatkan infomasi ini, yang penting kamu mendapatkan apa yang ingin kamu dapatkan, bukan? Oh ya, gadis kecil, ingat ini, kamu telah menggali masa lalu yang sudah mereka tutupi karena itu hati-hatilah, mungkin suatu hari kamu akan kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari masa lalumu.” Ucapnya dengan nada serius yang membuat aku jadi penuh kekhawatiran.
“Apa kamu akan menghianatiku?”
“Gadis kecil, dalam bisnis seperti ini yang berkuasa itu uang, kesetiaan itu tergantung jumlah penawaran, apa kamu paham?"
Aku terus menatapnya tanpa berkedip hingga pria itu merasa tidak nyaman dan mulai melihat kearah lain.
“Jangan menatapku begitu gadis kecil! Saya mungkin akan menjual sedikit informasi tentangmu jika mereka meminta, tapi saya bersumpah tidak akan memberitahu dimana kamu tinggal saat ini!”
“Apa ucapanmu bisa dipercaya?” Tanyaku yang masih tidak yakin dengan ucapan pria itu.
“Meski saya tidak memberitahu sekalipun tetap saja mereka akan tahu dengan cara lain, banyak yang berbisnis seperti saya di luar sana, lagian kamu itu teman sepupu saya jadi mana mungkin saya akan membuat kamu dalam masalah.”
“Huem…” Aku sedikit ragu tapi, aku tidak tau harus melakukan melakukan apa agar infomasiku bisa terus aman.
“Oh ya, pacar kamu aneh juga ya, dia mengirim seseorang untuk terus mengawasimu dari beberapa bulan yang lalu tapi dua bulan terakhir ini sepertinya dia berhenti mengirim seseorang mengawasimu”
“Apa maksudmu?”
next...