
Banyak perubahan yang terjadi beberapa bab, tapi jika masih banyak kesalahan yang terdapat dalam bab ini jangan lupa meninggalkan jejak komentar agar bisa segera memperbaikinya, atau jika ada saran bisa langsung tulis saja di kolom kementar, jangan lupa juga untuk follow. (author)
/
/
Keesokan harinya dengan berat hari aku meminta kak Alex untuk bertemu di cafe dekat rumah sakit tempat kak Alex praktek, sebenarnya aku mau bertemu di tempat lain tapi karena dia hanya punya waktu sebentar makanya kami memutuskan bertemu di cafe yang ada di sekitaran rumah sakit.
Kami sepakat bertemu jam 1 siang tapi aku datang 5 menit lebih awal, siang itu cafe penuh dengan pembeli, mungkin karena memang menu yang tersedia disana pada dasarnya enak dan lagi sekarang memang jam-jam istirahat makanya banya pengunjung yang mayoritas orang yang bekerja di perusahaan atau rumah sakit yang ada di dekat cafe.
Seorang pria tinggu dengan lesung pipi terlihat jelas saat dia tersenyum tiap pengunjung yang masuk, berdiri di depanku.
"Adek mau minum di sini atau mau dibawa pulang saja?" Tanya pria itu dengan ramah padaku.
"Rencana mau minum di sini, kak cuma kayaknya lagi penuh ya?"
Pria itu pun mulai menatap ke arah meja-meja yang ada di luar, "Sepertinya di luar penuh, biar saya lihat di dalam..." belum selesai dia berbicara, beberapa orang keluar dari dalam cafe, "Sepertinya ada meja kosong di dalam, silahkan masuk" Ucapnya ramah padaku.
"Baik terimakasi, kak" Ucapku sambil membalas senyumnya.
'dia manis juga' pikirku.
Saat aku masuk kedalam ternyata ada dua meja yang kosong, karena meja di sudut ruangan terasa lebih aman saat membicarakan masalah serius dengan kak Alex nantinya, aku pun berjalan menuju meja itu dan ternyata di belakang ku ada seorang pelaya cafe yang mengikutiku. Begitu aku duduk dia langsung memberiku menu, semua menu di sana memang sedikit lebih mahal di bandingkan tempat-tempat yang biasa aku kunjungi dengan Andi, tapi ini jauh lebih murah dari pada tempat yang aku kunjungi dengan kak Alex atau pun dengan Mia dan Fara.
"Saya pesan taro 1, kukis 2"
"Baik, kak. Mohon di tunggu pesanannya" Ucap gadis seumuranku dengan senyum ramah, lalu ia pun segera pergi.
15 menit berlalu, tapi kak Alex belum ada kabar, bahkan pesananku yang tadinya aku pikir akan lama pun sudah 10 menit yang lalu sampai dan hampir habis, tapi kak Alex masih saja belum datang.
"Mau tunggu sampai kapan?" Gerutu ku kesal.
5 menit kemudian kesabaranku sudah habis, aku pun pergi dari cafe setelah membayar tentunya. Aku benar-benar tidak tahan menunggu lebih dari 20 menit tanpa kabar, bahkan pesanku pun tidak dia baca dan itu membuat aku semakin kesal. Setidaknya jika memang tidak punya waktu bertemu, dia bisa mengabariku dulu dan itu lebih baik dari pada membuat orang menunggu tanpa kepastian seperti ini.
"Sebaiknya aku menyusul kak Alex kerumah sakit saja" gumaku kecil sambil melihat pesan yang tidak di baca oleh kak Alex.
Karena jarak rumah sakit dengan cafe hanya beberapa meter, aku pun memutuskan untuk berjalan kaki, bukan karena aku sedang menghemat tapi ya memang karena dekat aja.
Saat dalam perjalanan tiba-tiba satu pesan dari nomor pak Arya masuk.
Ting!
"Hallo Azia, mungkin ini sudah terlambat tapi, Paman tetap akan meminta maaf dan mengembalikan saham milik almahum Papa mu, serta milik Mama mu yang selama ini paman kelola. Karena usia mu belum dewasa menurut hukum, karena itu kepemilikan saham untuk dialihkan atau nama Mama mu selaku wali sahmu. Namun untuk keuntungan dari perusahaan tetap akan paman transfer ke rekeningmu sama seperti sebelumnya karena itu, tolong jangan terlalu membenci paman, paman melakukan semua ini hanya karena situasi paman sekarang masih belum bisa benar-benar menjaga kamu. Sekali lagi maafkan paman, Azia."
'Aku tidak membenci pak Arya hanya saja... Aku sedikit kecewa' pikirku saat membaca pesan dari pak Arya.
Sebenarnya aku hampir lupa masalah pak Arya jika dia tidak mengingatkannya, gara-gara membaca pesan itu entah kenapa aku sedikit merasa sedih. Baru juga aku mencoba menenangkan pikiran karena pesan pak Arya yang membuat aku harus mengingat kesedihan dan kekecewaanku pada dia, sekarang aku malah harus melihat kak Alex sedang berbincang dengan sangat akrab dengan seorang suster yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Amarahku sudah memuncak, aku tidak bisa memandangan manis yang ada di depanku berjalan dalam waktu lama. Dengan penuh amarah aku menghampiri dua orang yang sedang berbincang dan tertawa bahagia itu.
"Putus" Ucap ku dengan ekspresi kesal, lalu aku pun pergi dengan cepat meninggalkan dua orang yang kaget karena ucapanku yang tiba-tiba.
"Azia, maksud kamu apa?" Tanya nya yang masih mencoba menyamai langkahku.
Aku tidak menanggapi pertanyaan itu, aku benar-benar diam dan tidak memperdulikan siapapun, bahkan saat dia terus mengajak ku bicara ketika lift belum terbuka pun aku pura-pura tidak mendengarnya.
"Azia, aku bercanda kan? Azia, jawab! Kamu marah?" Tangan besar kak Alex mencoba meraih tanganku tapi, aku keberu masuk kedalam lift, dan dia malah ikutan masuk.
"Azia bicaralah! Kamu kenapa? Kamu marah? Azia, kamu dengarkan?" Dia terus berusaha membuat aku bicara, tapi aku enggan untuk membuka mulut.
Begitu pintu lift terbuka, aku mempercepat langkahku menuju kamar nenek tapi, kak Alex malah menahan tanganku hingga aku tidak bisa mendekati pintu masuk kamar nenek.
"Azia, tolong bicara" Ucapnya tegas dan penuh menekanan yang seolah sedang mengancamku.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan, kita sudah putus" Ujarku lagi padanya.
"Kapan kita putus? Jangan bercanda Azia, ini benar-benar tidak lucu!" Ucapnya dengan nada kesal.
"Lucu? Yang lucu itu kakak yang buat aku menunggu setengah jam tanpa kepastian, lalu sekarang aku malah melihat kak Alex sedang ngobrol asik dengan suster cantik itu! Sudahlah, aku sudah muak!" Ucapku sambil mencoba memberontak hingga membuat kami jadi pusat perhatian.
Entah kak Alex emang nggak punya urat malu atau apa, tapi bukannya dia membawa aku menjauh dari tempat itu, dia malah tetap bertahan di sana dengan mengabaikan fakta bahwa banyak mata yang lalu lalang memperhatikan kami.
"Aku minta maaf, aku lupa soal janji kita siang ini. Soal suster tadi, dia itu hanya teman lamaku yang baru saja masuk kerja hari ini dan..."
Karena aku sudah tidak tahan menanggung malu karena menjadi pusat perhatian orang yang lewat, pada akhirnya aku menarik kak Alex untuk pergi ke tangga darurat.
"Kenapa kamu menarikku kesini" Tanya kak Alex dengan wajah kebingunggan yang membuat aku kesal.
"Di sana kita dilihatin orang dan itu buat aku malu!" Tegasku yang sedang menahan ledakan emosi.
"Dek, kamu nggak beneran mau putus kan?" Ucapnya dengan wajah memelas.
"Kita udah putus" Tegas ku lagi padanya.
"Dek, bercanda kan? Ini nggak benar-benar minta putuskan?" tanya nya yang mulai panik.
"Aku sudah bilang aku tidak bercanda. Kita Putus" Bentakku kesal.
Tiba-tiba dia terdiam, tatapannya mulai kosong, dan entah bagaimana tiba-tiba air matanya keluar. Aku yang melihat itu menjadi sedikit panik, apa lagi selama aku kenal kak Alex, dia tidak pernah sekalipun mengeluarkan air mata didepanku meskipun kami sedang menonton film paling sedih. Melihat kak Alex yang menangis tanpa suara membuat aku merasa bersalah dan berdosa karena memutuskan dia. Tubuh kak Alex terlihat melemah hingga dia terduduk di lantai, dengan ekpresi syok, sedih, dan terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
"Kak, kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanyaku yang khawatir pada kondisinya.
"Azia, tolong jangan tinggalkan aku, aku benar-benar sangat mencintai kamu, aku... aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa kehilangan kamu Azia." ucapnya dengan nada putus asa.
Mendengar ucapan itu keluar dari mulut kak Alex dengan wajah di penuhi air mata, dan tatapan penuh kesedihan membuat aku kalah dan pada akhirnya aku memeluknya dan berkata, "Kita tidak putus, aku maafkan kakak, sekarang berhenti menangis".
"Kamu berjanji?" Tanya nya dengan nada seolah-olah ragu dalam berbicara.
"Iya, aku janji" Ucapku tanpa pikir panjang. "Setidaknya tidak saat ini" Lanjutku dalam
Next....