
Aku pikir setelah malam itu kami sudah baikan tapi kak Alex masih saja melarang aku ke rumah sakit kecuali untuk urusan yang mendesak saja. Nenek juga semakin jarang mengizinkan aku menjenguknya dan hal itu membuat aku curiga, apa yang mereka sembunyikan dari aku. Aku mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terburu dari mulai ada dokter atau suster atau bahkan pasien yang ternyata jadi selingkuhan kak Alex di rumah sakit dan nenek yang khawatir terhadap perasaanku memutuskan untuk tidak memberitahu hal itu padaku dan lebih memilih agar aku tidak melihat hal itu secara langsung.
“Huft!!” Aku terus saja menghela napas beberapa kali.
“Berat banget beban hidupmu ratu rakusku, coba cerita ada masalah apa?” Andi datang dengan membawa satu minuman susu kotak untukku.
“Makasih!” Aku mengambil susu itu dan segera meminumnya.
“Lesu banget hari ini, ada masalah apa?”
“Tugas dari guru banyak atau apa?”
“Tugas banyak udah biasa tapi yang gak biasa itu sikap kak Alex”
“Memangnya ada apa dengan pacar kesayanganmu itu? Apa dia selingkuh?”
“Jaga ya mulutmu itu!” Aku menatap kesal kearah Andi.
“Santai aja kali! Terus kalau bukan itu ada masalah apa?”
“Gini, sebenarnya setelah malam di mana kamu mengambil nasi gorengku itu dia jadi semakin menghindariku”
“Ah, yang benar” Tanya Andi dengan nada mengolokku.
“Aku lagi serius nih!”
“Masa sih?” Andi terus saja mengolok-ngolok aku dengan nada ucapannnya yang bisakin kesal.
“Andi!” Aku memukul-mukul Andi karena kesal.
“Ampun! Aku gak bercanda lagi, aku dengerin deh ceritamu yang udah biasa itu”
“Mau ku pukul lagi, nih?”
“Udah lanjut aja ceritanya!”
“Jadi setelah malam itu dia semakin sulit di hubungi, aku tahu dia sibuk di siang hari makannya aku menghubunginya tadi pagi tapi dia gak angkat”
“Mana tahu dia lagi bobok cantik, ya’kan?”
“Emang kamu pikir dia kayak kamu suka bangun kesiangan, gitu?”
“Kapan aku kesiangan?”
“Ingat gak dua minggu yang lalu saat kita janji belajar bersama di akhir pekan? Kamu kan membuat aku nunggu kamu bangun.”
“Salah sendiri kenapa gak kamu bangunin aja aku”
“Memang pengen dipukul kamu, ya?”
“Udah lupakan itu, lanjut curhatnya”
“Dia bilang mau jemput aku hari ini tapi aku gak yakin dia datang”
“Emang gimana dia bilangnya ke kamu?”
“Katanya dia akan berusaha itu aja”
“Nah itu artinya dia belum pasti datang dah kamu pesan taksi online atau naik bus saja sana”
“Loh kenapa naik bus? Motor kamu kan ada” Aku tersenyum lebar melihat kearah Andi yang mengerutkan keningnya.
“Azia, kali ini gak! Aku sudah ada janji sama pacar aku jadi kamu gak usah membuatnya kacau kali ini”
“Biarin aja, kamu juga gitu pas aku lagi kencan sama kak Alex!”
“Itukan beda kisahnya, kan kamu yang mulai duluan”
“Gara-gara kamu minta aku jalan sama si Fara hari itu aku di putusin sama pacar aku, dia juga menampar aku karena temannya mengirim foto kalau aku lagi berdua sama Fara, tahu!”
“Loh kok bisa? Bukannya kamu baru bilang mau move on cuma dua hari dari aku minta kamu jalan sama Fara, ya’kan?”
“Bukannya mau sombong atau pamer tapi ya mau gimana lagi, aku ini kan cowok tampan, keren, ketua OSIS dan populer ya wajarkan kalau ada yang nembak aku?”
“Sayangnya otak kamu gak sekeren penampilanmu!”
“Makasih atas pujiannya” Ucap Andi tanpa rasa malu sedikipun dan dia terlihat sangat bangga pada dirinya sendiri.
“Terserah lah! Aku mau balik ke kelas, bye!”
“Hati-hati di jalan!” Andi melambai padaku dan dia masih duduk di sana sambil terus mencari gadis mana yang mau dia gombali saat aku pergi.
Saat akan ke kelas aku di panggil ke ruang Guru, aku sudah bisa menebak kalau mereka akan membuat aku mengerjakan pekerjaan yang membosankan seperti mengisi beberapa berkas dengan tulisanku. Gara-gara tugas itu aku jadi bolos kelas dan ketinggalan penjelasan dari guru yang bisa membuat aku merasa lebih semangat lagi. Pekerjaan itu ternyata selesai tepat saat jam pulang sekolah, setelah semua selesai aku kembali ke kelas untuk mengambil tasku.
Aku merasa kalau kak Alex kali ini akan datang karena itu aku meminta Andi untuk pulang duluan dan membiarkan aku menunggu kak Alex di halte dekat sekolah. Sambil menunggu aku membaca buku yang berisi tentang penelitian terhadap beberapa jenis tanaman dan hewan langka.
“Hai!” Seorang cowok yang menggunakan seragan sekolah yang sama denganku menyapa lalu duduk di sampingku.
“Hai!” Aku melihat kearahnya sekilas lalu kembali melanjutkan membaca buku di tanganku.
“Sudah lama rasanya kamu tidak berada di tempat ini, aku pikir kamu tidak akan pernah menggunkan bus lagi” Dia bicara dengan sok akrab denganku.
Aku tidak meperdulikannya dan terus saja melanjutkan membacaku.
“Kamu suka sekali buku yang membahas tentang penelitian, ya?” Dia terus saja mengajakku bicara padahal aku sudah jelas-jelas tidak menanggapinya.
“Aku juga menyukai itu, makanya aku mengambil kelas IPA supaya nanti aku bisa masuk ke jurusan Biologi”
“Benarkah?” Aku mulai terbawa dengan pembicaraannya.
“Iya tentu saja, meski terkadang aku berpikir Kimia itu lebih menarik kalau sudah masuk materi tentang senyawa-senyawa”
“Wah, bagaimana kamu bisa sama denganku? Aku selalu berpikir bagaimana kalau aku menjadi seorang ilmuan mempengaruhi perkembangan ilmu pengatuan di masa depan” Mataku berbinar-binar tiap kali ada pembahasan mengenai hal yang aku suka.
“Mungkin ini takdir, oh iya kenalkan nama aku Zean dari kelas 2-b!” Dia mengulurkan tangannya.
Aku tersenyum kearahnya lalu menjabat tangannya, aku tidak mengaka kalau anak dari kelas tetangga juga punya anak cowok yang gak kerjaannya main dan ngelawak di kelas.
“Aku..”
“Aku tahu kamu Azia dari kelas 2-a, siapa sih yang gak kenal kamu, si juara umum yang tidak bisa di kalahkan”
“Makasih atas pujiannya! Eh, itu busnya sudah datang”
“Kamu tidak ikut?” Tanyanya yang sudah berdiri di depan pintu masuk bus.
“Tidak, aku sedang menunggu seseorang”
“Kalau begitu aku duluan, ya?! Oh iya, jangan lupa besok kita ngobrol lagi di perpustakaan, ya?” Lalu dia masuk ke dalam bus dan pintu pun di tutup.
Beberapa saat setelah itu aku melihat kearah jam dan ternyata aku sudah menunggu lebih dari satu jam. Tiba-tiba saja angin kencang berhembus dan awan hitam ikut berkumpul di tempat itu, aku benar-benar berharap saat itu kak Alex cepat datang dan aku tidak perlu bahas-basahan. Aku yang belum makan siang membuat perutku terus saja meringis meminta haknya di penuhi.
“Kapan sih kak Alex datangnya?”
Aku terus melihat pesan dan ternyata dia tidak mengatakan apapun. Aku sudah sangat lapar karena itu mengenyampingkan rasa gangsi ku dan kemudian langsung menghubungi kak Alex. Beberapa kali aku menghubunginya tapi tetap saja dia tidak mengangkatnya, aku sangat kesal karena hal itu. Lalu hujanpun turun, aku hanya bisa berlindung di halte bus tapi, angin yang tidak sabar melihat aku basah tiba-tiba menghembus dengan kencang dan membuat air hujan terus saja mengenai tubuhku.
Saat aku sudah putus asa dan berada dalam rasa kesal bercampur dengan sedih tiba-tiba sebuah jaket di selimutkan padaku. Begitu aku melihat dari mana jaket itu berasal aku cukup tidak kaget melihat cowok yang berada di depanku.
“Ngapain kamu masih di sini? Ayo pulang!” Ajaknya padaku.
Bersambung….