
Setelah mengabaikan ku beberapa hari dan bersikap dingin padaku, tiba-tiba saja kak Alex datang ke rumah dan mengajakku untuk makan malam bersama keluarganya siang rabu yang cerah itu, tepatnya setelah aku pulang sekolah.
“Apa yang terjadi? Dia bersikap seperti biasa dan bicara seperti bisa lagi?” Pikirku yang curiga pada perubahannya yang mendadak itu.
“Azia, apa yang sedang kamu lakukan? Mau jalan masa pria sampah itu?” Fara menghampiriku yang sedang bersiap-siap untuk pergi dengan kak Alex.
“Hai Fara, kamu tidak boleh mengatakan hal buruk tentang kak Alex seperti itu”
“Ya, ya ya, dasar bucin! Sekarang kalian berencana pergi kemana?”
“Dia bilang kami akan makan malam di rumahnya”
“Senangnya, bisa dekat sama calon mertua”
“Hahaha… Mia, kamu ini ada-ada aja” Aku tersenyum malu.
“Yaudah, cepat dandan sebelum si Alex jadi berubah jadi jamur di depan karena terlalu lama menunggu kamu.”
“Iya, ini udah hampir siap, kok! Nah, gimana? Aku cantik, gak?” Aku berdiri dan berputar sambil memperlihatkan tampilan ku hari itu
“Cantik, cantik banget malah, udah kalau aku yang jadi mertua mu pasti aku langsung restu-in hubungan kalian deh!”
“Ish Fara! Aku kan jadi malu”
“Udah sana, keluar! Anak sialan itu udah menunggu kamu tu”
“Fara, kamu tidak boleh…”
“Iya, lain kali aku tidak akan mengatakan hal itu, udah sana pergi”
“Eh, kalian harus buat tugas kalian, ya?!”
“Udah mau pergi masih aja ingat saal tugas, udah iya nanti kami kerjakan”
“Ingat loh, aku akan periksa waktu pulang” “Iya, bawel, udah sana pergi”
“Fara, kamu mau buat tugas?”
“Gak, males, aku mau nonton dulu, lagian Azia gak ada jadi gak akan ada yang marahin kita soal tugas, ya'kan?”
“Aku mendengar kalian! Kalian gak boleh main game atau nonton drakor sebelum selesaikan tugas”
“Loh kok kamu balik lagi sih, Zia?!”
“Aku lupa bawa handphone ku, pokoknya kalian harus buat tugas, aku akan mengawasi, aku akan menghubungi kalian tiap satu jam untuk memastikan kalian membuat tugas”
“Dasar guru kejam, iya ini kami kerjakan”
“Nah, gitu dong kan enak di lihatnya, ini untuk masa depan kalian berdua juga sayangku, udah aku pergi dulu, daaa…”
“Dasar anak itu, mau pergi aja masih ingat soal tugas, udah kita kerjain aja sebelum dia mulai merepet lagi soal itu”
Setelah itu aku turun dan menghampiri kak Alex, dia melihatku dengan tatapan yang selalu aku rindukan.
“Kamu cantik sekali, sayang!”
“Makasih, kalau gitu ayo kita pergi, aku ingin segera membantu bu Dewi untuk membuat makan malam”
“Tapi sayang, kamu kan tidak bisa masak”
“Memang tidak bisa tapi aku bisa membantu hal lain, aku yakin kalau aku tidak akan mengacaukan dapur kok”
“Baiklah kalau kamu sangat yakin soal hal itu”
“Oh iya kak, apa Andra juga ada di rumah?”
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan dia?”
“Karena semenjak kita pacaran rasanya kita seperti melewatkan dia, padahal kan kalau dia tahu akan hubungan kita itu terasa lebih baik”
“Jangan!”
“Jangan apa?”
“Jangan beritahu pada dia”
“Loh kenapa begitu, apa dia tidak menyukaiku?”
“Bukan karena itu, aku punya alasan sendiri kenapa dia tidak bisa di beritahukan soal hubungan kita”
“Aku ikut kata kakak saja”
‘dring dring’ handphone ku terus berbunyi berulang kali.
“Siapa sih ganggu banget!” Saat melihat layar handphone ternyata Andi yang menghubungiku berulang kali.
“Benar-benar anak ini! Hallo ada apa?”
“Ini keadaan darurat, pokoknya kamu tolong ke lapangan basket dekat rumah ku, tolong Azia cepat ini masalah hidup dan mati ku!”
“Oke, aku ke sana, diam dan tenanglah!” Aku merasa bisa tahu kalau Andi sedang tidak bercanda dari nada bicaranya yang ketakutan.
“Kak bisa berhenti sekarang?!”
“Kenapa?”
“Ada keadaan darurat, intinya aku minta maaf tidak bisa ikut makan malam bersama kakak dan keluarga, tolong sampaikan permintaan maaf ku”
“Temanku”
Alex menahan tanganku saat aku akan keluar dari mobil.
“Kak, aku buru-buru”
“Teman macam apa yang membuat kamu sangat khawatir dan bisa meninggalkan pacar kamu saat ini?”
“Kak, aku benar-benar harus pergi, tolong pahami aku kali ini!?” Lalu aku pergi dan berjari ke pangkalan ojek yang tidak jauh dari tempat kak Alex berhenti.
Aku merasa malah ini sudah terlalu jauh karena itu aku meminta bantuan Mia dan Fara untuk mengatasinya. Andi mengirim ku beberapa pesan di mana dia menjelaskan situasinya, dia bersembunyi dari kejaran wanita yang terobsesi padanya. Saat sampai di lokasi, Mia dan Fara sudah duluan sampai.
“Kalian menemukan, Andi?” Tanyaku.
“Belum”
“Pus, pus! Hai hai! Lihat ke sini!” Lalu sebuah ranting di lempar kearah ku.
“Apa ini?!” Aku menyadari ada sesuatu di atas pohon tempat kami berdiri.
“Hai! Kalian lihat ke atas!” Ucap Andi.
“Hai, apa yang kamu lakukan di atas Andi? Udah jadi monyet sekarang, ya? Hahaha…” Ejek Fara yang tidak bisa menahan tawanya.
“Enak aja, tadi cewek gila itu mengejar-ngejar aku setelah terus menanyai keberadaan Azia, jadi terpaksa aku naik ke pohon ini, eh, itu dia, tolong aku! Jauhkan gadis gila itu dariku”
“Andi! Ternyata kamu di situ!” Ucap gadis itu tanpa memperdulikan keberadaan kami.
“Hai, kamu! Apa kamu udah putus urut malu?” Fara maju ke depan kami dengan wajah yang geram pada wanita itu.
“Fara, dia itu bukan putus urat malu tapi, emang gak punya malu, udah tahu Andi gak suka sama dia tapi, dia masih aja kejar-kejar Andi!”
“Tutup mulutmu!” Wanita itu terlihat semakin marah dan hampir menyerang Mia
“Kamu! Tolong menjauh lah dari pacarku!” Andi turun dari pohon dan berdiri di depan Mia.
“Pacar? Kamu bahkan tidak pernah bersamanya dalam beberapa minggu ini, apa itu bisa di sebut pacar? Aku tahu kamu hanya bersandiwara” Wanita itu tidak percaya dengan ucapan Andi.
“Aku tidak..”
“JANGAN BOHONG! Kamu tidak pernah pacaran dengan dia'kan?” Wanita itu terlihat begitu sedih dan juga kecewa sekaligus marah pada Andi.
“Memang dia tidak pacaran dengan si Andi sialan itu tapi, Andi tepat tidak akan pacaran dengan wanita gila seperti kamu!” Ucap Fara yang kesal.
“Dasar Jal**g sialan, tutup mulutmu!” Amarah wanita itu semakin memuncak
“Kenapa mulutku harus di tutup?” Ujar Fara dengan percaya diri maju dan mendekati wanita itu.
“Kamu!!” Saat gadis itu akan menampar Fara, dua pengawal yang entah dari mana datang dan menahan gadis itu.
“Lepaskan aku!”
“Hahahah… Kamu benar-benar gadis gila!” Fara terlihat menikmati pemandangan saat wanita gila itu memberontak dan ingin menyerangnya.
Andi yang ketakutan dengan tatapan dari wanita gila itu akhirnya bersembunyi di balik aku dan Mia.
“Andi, jangan bersembunyi dan katakan dengan lantang kalau kamu tidak menyukainya dan katakan juga gadis seperti apa yang kamu sukai agar dia tahu dan berhenti menjadi gila seperti ini” Perintah Fara.
Andi berjalan ke depan dengan penuh percaya diri, lalu menghela napas beberapa kali, dia bersiap mengatakan apa yang ada di pikirannya selama ini.
“Aku tidak menyukai gadis yang terlalu terobsesi seperti kamu, aku menyukai gadis yang penuh semangat, cantik, baik, dan selalu bersikap santai dalam semua situasi seperti gadis yang ada di sampingku ini” Andi menarik tangan Mia.
“Aku menyukai gadis seperti ini, dan berhentilah berharap kerena kamu tidak akan bisa sebanding dengannya”
“Dasar pria jahat!” Gadis itu memberontak lalu lari dari tempat itu.
“Tunggu dulu, jadi selama ini kamu menyukai Mia dan bukannya Azia?” Fara terlihat sangat kaget.
“Kenapa jadi aku? Andi dan aku gak akan mungkin saling suka” Jelas ku pada Fara yang terlihat masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Tidak, tidak, aku pikir dulu dia menolak ku karena kamu”
“Hahahah… Kamu masih mempermasalahkan penolakan ku waktu itu?” Ucap Andi sambil tertawa.
“Hai, lepaskan tanganku!” Ucap Mia sambil tersenyum kesal.
“Eh, maaf! Terima kasih karena kalian sudah mau membantuku hari ini, bagaimana sebagai balasannya aku akan mengajak kalian untuk makan malam di rumahku”
“Oke!” Mia langsung menjawab tanpa pikir panjang.
“Kalau begitu ayo kita ke rumahku, aku akan masak banyak untuk kalian”
“Eh, Azia bukannya kamu akan makan malam dengan keluarga Alex?”
“Ah itu, aku sudah membatalkannya karena anak ini sangat mengkhawatirkan”
“Apa si Alex gak masalah?”
“Entahlah, tapi mengingat kak Alex itu orang lebih dewasa, aku pikir dia tidak akan berpikir sempit dan cemburu karena masalah ini”
“Kamu tidak tahu saja, otaknya memang terlalu sempit, ayolah kalau memang mau makan di rumah Andi”
Bersambung…
Kalau ada kesalahan dalam pengetikan jangan lupa buat di komen di kolom komentar biar di edit dengan cepat. Terimakasih telah membaca dan memberikan Like-nya ☺️☺️☺️