Obsession Of Love

Obsession Of Love
Penyelesaian



Aku pikir aku sudah siap dengan semua kemungkinan yang terjadi tapi, ternyata semuanya di luar pikiran. Sudut mata yang melihatku dengan tatapan aneh dan menghindari ku membuat aku merasa tertekan, aku tidak bisa ke kantin atau pun ke perpustakaan karena orang-orang memandangiku dengan tatapan benci dan menganggap diriku aneh. Aku benci tatapan itu, aku takut dengan mata-mata yang terus mengarah padaku, aku tidak bisa berhenti berpikir apa yang bisa terjadi setelah hari ini, apa aku masih bisa bertahan di tempat yang tidak menerima kehadiranku.


“Azia!” Andi datang menghampiri aku yang sedang duduk sendirian di taman belakang, tepat dimana tidak banyak siswa yang lewat.


“Ada apa?”


“Kamu ini! Jangan cemberut gitu dong, coba senyum!” Andi mencubit kedua pipiku. “Ayo senyum!”


“Andi! Lepasin! Sakit tahu!”


“Makanya jangan cemberut gitu!”


“Gimana gak cemberut, lihat saja mata orang-orang yang memandangiku saat berjalan dari masuk gerbang hingga pulang, aku benci! Aku membenci tatapan itu!”


“Jangan terlalu di pikirkan, lagian mereka cuma iri aja!”


“Iri apanya?”


“Ya karena kamu cantik dan populer, makanya mereka menyebar rumor dan menghasut siswa-siswa lainnya untuk membenci kamu”


“Jadi salah aku apa?”


“Salah kamu karena kamu cantik dan pintar dari mereka”


“Memangnya cantik itu dosa?”


“Ya bukan tapi, bikin orang lain iri itu pasti! Dah, gak usah ngelamun dan merenungkan hal yang gak perlu, aku udah menemukan siapa akar dari permasalahan ini, kamu cuma perlu bujuk kepala sekolah untuk membuat pertemuan orang tua segera lalu kita selesaikan semuanya.”


“Kamu gak lagi bercanda’kan?”


“Dasar kamu ini! Aku gak mungkin bercanda kalau masalah serius, eh gimana kalau pulang nanti mampir ke rumah buat makan sama Bundaku?”


“Oke!”


Setelah bicara dengan Andi aku merasa sedikit lega, lalu saat akan kembali ke kelas aku di hadang oleh kakak-kakak kelas yang menyukai Andi.


“Hai kamu! Sini!”


Aku pura-pura tidak dengar dan langsung berjalan cepat. Mereka mengejar langkahku dan menarik ku ke toilet perempuan lalu aku di kurung di sana.


“Anak sialan! Sok cantik banget kamu, ya?! Berani-beraninya kamu mendekati Andi-ku! Nikmati waktumu di tempat ini dan renungkan kesalahanmu!” Ucap salah seorang dari kakak kelas itu.


“Woi! Anak jelek gak tahu diri! Kalau berani sini bicara di depan!” Ucapku dengan berani dengan mencoba menekan rasa takut dan melawan ucapan mereka.


Mereka langsung terpancing dan membuka pintu dan menarik ku keluar.


“Apa kamu bilang?”


“Aku bilang kalian jelek kenapa? Ada masalah? Anak-anak jelek kalian itu cuma bagian dari pecundang yang hanya bisa main keroyokan dan memfitnah orang, ya’kan?”


“Kamu tahu dari mana kalau kami yang fitnah kamu?”


“Aku tidak bilang kalau kalian yang fitnah aku tapi, aku cuma bilang biasanya pecundang cuma bisa main belakang dan menggunakan cara kotor untuk bertarung. Apa jangan-jangan kalian yang jadi dalang dari gosip yang beredar di sekolah ini?”


“Kalau iya kenapa?”


“Kamu pikir kami takut?”


“Betul itu, walaupun kami memang pelaku nya tapi, kamu tidak punya bukti hahahah…”


“Tertawalah sepuas tenaga sebelum kalian menangis!”


“Menangis? Yang benar aja?! Yang benar itu kami yang akan membuat kamu nangis darah, lihat saja kamu pasti akan di keluarkan dari sekolah! Dasar gadis jalang sialan!”


“Jalang? Bukannya itu julukan untuk kalian?”


“Makin berani ni anak, hajar aja kak!”


“Ayo ajar!”


Aku pikir aku akan benar-benar di pukul tapi untungnya seorang melihat kejadian itu dan segera melaporkannya pada guru. Kami semua di bawa ke kantor dan di tanyai satu-persatu tentang apa yang terjadi.


“Ibu, dia itu pembawa sial, kita harus memusnahkannya!”


“Diam! Apa hak kalian menghakimi orang lain? Kalian merasa jadi orang suci dan tidak punya dosa? Dan masalah tentang pembawa sial, kalian itu bukan orang kolot dan tidak punya akal pikiran, kalian itu manusia yang punya akal pikiran dan juga seorang yang terpelajar. Kalau pembawa sial itu memang ada, bukannya dari dulu kita semua sudah terkena imbasnya, atau dunia ini sudah hancur karena masalah itu, bukan?”


“Tapi bu”


“Diam! Ibu sedang bicara! Kalian jangan menyamai orang-orang yang tinggal di hutan sana, masih saja percaya dengan hal yang tidak nyata, sudah kali ini ibu maafkan mengingat tidak ada masalah yang terjadi tapi, lain kali kalian berempat anak ibu adukan ke kepala sekolah dan akan ibu pastikan kalian di keluarkan, paham?!”


“Paham, bu”


“Bagus, sekarang kalian berempat bisa keluar!”


“Azia nya gimana, bu?”


“Dia tinggal di sini, cepat keluar!”


“Dasar pilih kasih!” terutuh mereka saat keluar.


“Azia, kamu tidak apa-apa’kan?”


“Saya tidak apa-apa sih bu tapi, saya merasa tidak bisa belajar dengan tenang karena gosip ini”


“Ibu pikir mungkin kamu bisa mulai belajar di ruang guru saja, sekalian biar mudah mengerjakan tugas.”


“Tapi, bukannya itu akan membuat ruangan sempet?”


“Itu betul juga, kalau begitu apa kamu punya rencana?”


“Saya dan teman-teman berencana menyelesaiakan masalah ini secepatnya. Agar semuanya tenang saya ingin bicara pada orang tua murid dan juga menindak lanjuti tentang fitnah yang disebar di sekolah ini”


“Bagus, ibu mendukung kamu! Kalau ada yang bisa ibu bantu katakan saja, ibu akan berusa untuk membantu”


“Sebenarnya ada sih, bu!”


Setelah kejadian itu aku meminta izin pada kepala sekolah untuk mengadakan pertemuan orang tua murid untuk satu hari, dan melakukan penyiaran langsung untuk acara mengupas masalah yang ada. Berkat bantuan teman-taman kami mengumpulkan banyak bukti dan juga dukungan para guru kami mempersiapkan presentasi kejutan untuk mereka yang menyebarkan rumor aneh tentangku dan membuat semua orang tua menjadi khawatir dan berusah mengusirku dari sekolah.


“Kenapa kita di minta datang ke sekolah?”


“Saya belum tahu juga, pak. Mungkin ini masalah yang pernah kita bicarakan dengan kepala sekolah”


Para orang tua yang hadir mulai membuat keributan dengan pembicaraan mereka.


“Mohon perhatiannya! Demi tidak membuang waktu para tamu yang hadir, kami akan langsung memanggil bintang utama pada siang ini. Pada Azia Mutiara kami persilahkan untuk naik ke podium!”


“Terimakasih, Andi! Sebelumnya saya minta maaf dan juga berterimakasih pada kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk hadir di tempat ini”


“Tunggu dulu! Kami di suruh hadir hanya untuk mendengar ocehan dari anak pembawa sial itu?” Ucap seorang bapak-bapak yang merasa kesal pada kehadiranku.


“Betul itu, ini hanya membuang-buang waktu kami saja, ayo kita pulang saja”


“TUNGGU DULU!!!” Aku memberi kode pada teman-teman untuk memutar video.


“Apa yang harus kita lakukan untuk menghancurkan Azia?”


“Itu gampang, kalian sebar saja rumor kalau dia itu pembawa sial, pasti orang-orang akan percaya terlebih, orang-orang tolol itu pasti akan percaya dengan rumor yang kalian sebar.”


“Apa kamu yakin?”


“Yakin lah! Aku pernah mencobanya, kalian tinggal lebih-lebihkan saja keadaan yang ada, aku dengar neneknya sedang sakit, bilang saja kalau itu kerena Azia membawa sial”


“Eh, iya juga boleh lah, kami akan coba seperti yang kamu suruh”


“Bagus, ini uang untuk kalian, lalukan semua cara agar dia keluar dari sekolah itu, paham?!”


“Siap, nona!”


Setelah melihat video itu, orang tua dari anak-anak yang ada dalam video itu langsung pergi menemui aku dan meminta maaf atas masalah itu.


Bersambung....


Kalau ada kesalahan dalam pengetikan boleh silahkan di kritik di kolom komentar, terimakasih telah membaca dan like novel ini😁😁