Obsession Of Love

Obsession Of Love
Tak terduga



“Baik, kalau Zuzu biar diurus oleh sekretaris ku” Ucap Azia yang sibuk membereskan berkas yang ada di mejanya lalu mengambil tas dan pergi mendahului Bastian, langkah Azia terhenti di meja sekretarisnya yang ada di depan ruangannya.


“Kalian urus Zuzu, kalau dia bangun segera bawa ke apartemen saya. Kami akan pergi ke rumah sakit, jadi jaga dia sampai saya kembali, paham”


“Paham, Direktur” Ucap kedua sekretaris Azia.





Azia terus saja gelisah memikirkan Xu, meskipun Azia sedikit membenci Xu tapi, selama beberapa tahun ini pria tua itu lah yang lebih banyak berperan sebagai orang tua untuknya, meski sering berselisih paham, tapi ikatan darah keduanya membuat Azia tanpa sadar menyayangi kakeknya itu.


“Azia, apa kakek akan baik-baik saja?” Tanya Bastian yang terlihat lebih panik dan khawatir dari Azia yang merupakan cucu kandung dari Xu.


“Tenangkan dirimu, kakek akan baik-baik saja” Ucap Azia sambil menepuk pelan tangan Bastian yang tidak tenang.


“Kakek benar-benar akan baik-baik saja kan?” Tanyanya dengan air mata mulai mengalir membasahi kedua pipinya, dipeluknya Azia yang duduk di sampingnya. “Aku takut Azia, aku tidak mau kehilangan lagi” Ucapnya dengan suara terdengar pilu.


“Semua akan baik-baik saja, percaya padaku” Ucap Azia dengan tangan mengusap pelan rambut Bastian.


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit, Azia dan Bastian segera turun dan berlari menuju lift. “Hapus air matamu” Ucap Azia mengeluarkan tisu dari tas yang ia bawa.


“Terima kasih” dihapusnya air mata yang kini sudah berhenti mengalir, “Boleh aku menggandeng tanganmu?” Tanya nya ragu.


Bukannya menjawab, Azia malah langsung menarik tangan Bastian dan menggenggamnya erat.


Ting!


Pintu lift terbuka, keduanya langsung berjalan cepat menuju ruangan Xu. Dari kejauhan terlihat sekretaris Xu sedang berbicara dengan seorang pria yang entah kenapa dari belakang terlihat sangat familiar untuk Azia. Langkah Azia kian meragu dan melambat saat dia mendengar suara pria yang sedang berbincang dengan sekretaris Xu.


“Untung anda menolong tuan Xu tepat waktu, jika tidak kami akan kehilangan tuan Xu hari ini” Ucap pria yang usianya mungkin sekitar 45 tahun atau lebih.


“Itu hanya kebetulan saja, saya tidak menyangka akan mendapatkan kejadian seperti itu saat sedang berada di sana”


“Nona Azia” Ucap sekretaris Xu yang melihat Azia dan Bastian sedang berjalan menuju ke arahnya. Di saat yang sama pria yang tadinya sedang mengobrol dengan sekretaris Xu pun menoleh ke arah orang yang dimaksud oleh sekretaris Xu. Kedua pasang mata saling bertemu, saat itu waktu terasa seperti berhenti untuk keduanya, Azia menghentikan langkahnya dan tangan Bastian yang tadinya digenggamnya erat pun pada akhirnya dilepas paksa olehnya.


“K-kak A-Alek” Ucap Azia dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, matanya menatap rindu sosok pria yang berada di depannya, sedang langkahnya terasa berat untuk maju karena otaknya mengetahui fakta bahwa pria yang di depannya itu bukan lagi miliknya, hati pria itu bukan lagi untuknya, dan ada wanita lain yang menggantikan posisinya yang dulu.


“Azia?” Alex hendak melangkah menghampiri Azia tapi langkahnya terhenti saat laki-laki yang berdiri di samping Azia memperlihatkan kepemilikannya dengan memeluk pinggang Azia mesra. Ekspresi Alex jelas terlihat kecewa, ingin sekali dia memukul pria yang berani-beraninya menyentuh gadis miliknya, tapi ia sadar kalau situasinya saat ini tidak memungkinkannya untuk melakukan hal itu.


“Kamu mengenalnya, Queen?” Tanya Bastian dengan nada lembut.


Sejenak Azia terdiam, pertanyaan dari Bastian menyadarkannya kalau dia sudah memiliki tunangan dan orang itu sedang berada di sampingnya.


“Dia.. Dia kenalanku” Jawab Azia ragu.


Ekspresi Alex terlihat lebih buruk saat mendengar jawaban Azia, ia sangat kecewa karena Azia hanya menggapnya sebatas kenalan, sedang mereka tidak pernah mengucapkan kata putus pada hubungan mereka.


“Kenalan, ya?” Gumam Alex dengan senyum kecewanya.


“Bagaimana kondisi kakek sekarang?” Tanya Azia untuk mengalihkan topik.


“Kondisi tuan sudah stabil dan sekarang tuan sedang istirahat, untung ada tuan Alex di tempat itu, jadi tuan bisa mendapatkan pertolongan pertama” Ujar sekretaris Xu.


“Lalu kapan jadwal operasi kakek?”


“Operasi akan dilakukan 4 hari lagi” Jawabnya cepat.


“Eum, kalau begitu kami akan masuk untuk melihat kakek.” Azia berjalan melewati Alex, “Bisa kita bicara nanti?” Tanya Alex yang membuat langkah Azia terhenti untuk beberapa detik.


Azia meneruskan langkahnya dan masuk ke ruangan rawat Xu, “Syukurlah tidak ada hal buruk yang terjadi” Ucap Azia dengan mata menatap lega pria tua yang terbaring di ranjang rumah sakit.


“Semakin sedikit kamu tau, semakin baik” Ucap Azia dengan nada dingin.


“Tapi… Pria itu menatapmu dengan cara berbeda… Dia… dia terlihat seperti seorang yang menyukaimu, aku tidak menyukai itu” Ketusnya kesal.


“Memangnya kalau dia suka, apa akan ada yang berubah dengan hubungan kita? Toh pada akhirnya hanya kamu tunanganku” Tegas Azia dengan tatapan dingin yang membuat Bastian sedikit merinding.


“Tapi…”


“Jangan memancing amarahku, Bastian. Aku benar-benar terus menahannya seharian ini, tolong jangan buat aku lepas kendali di saat seperti ini” Ucap Azia kesal.


“Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu kesal” Sesalnya.


Azia berjalan menuju sofa yang berada di ruangan itu, dia menatap tirai yang terbuka, matanya terlihat kosong, pikirannya melayang pada bayangan Alex yang baru saja ditemui beberapa menit lalu.


‘Kak, kenapa kamu harus muncul sekarang? Hatiku belum siap, jangan buat aku goyah dan menjadi perempuan jahat dengan merebutmu dari istrimu… tolong jangan buat aku menjadi jahat dalam cerita ini. Harusnya kamu tidak muncul sekarang! Aku tidak bisa menahan diri jika terus begini’ Pikir Azia dalam lamunannya.


“Azia! Azia! Hai! Kenapa kamu melamun?!” Tanya Bastian dengan tangan melambai-lambai ke depan jawah Azia yang terarah ke depan sedang matanya terlihat kosong.


“Ah, kenapa?” Tanya Azia yang baru keluar dari lamunannya.


“Kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan? Jangan bilang kamu memikirkan pria tadi?” Tuduhnya pada Azia meski itu fakta yang tidak ingin Azia akui.


Bukan menjawab ucapan Bastian, Azia malah berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


“Mau kemana?”


“Aku ada urusan sebentar, kamu jaga kakek sampai aku kembali, paham” Perintah Azia, lalu ia pun membuka pintu dan menutupnya pelan.


‘Mau kemana dia?’ pikir Bastian penuh curiga.


“Aku harus mengikutinya” Gumannya, lalu ia pun keluar dan mengikuti Azia secara diam-diam.


Azia terus berjalan hingga bertemu dengan sekretaris Xu.


“Dimana kak Alex?” Tanya nya to the point.


“Tuan Alex sedang menemui kepala rumah sakit, sepertinya itu akan memakan waktu lama. Apa anda ingin bicara dengannya sekarang?” Tanya orang itu.


“Tidak, kamu atur saja pertemuanku dengannya secara pribadi, aku akan mengucapkan terima kasih dan memberikan imbalan karena telah menyelamatkan kakek, secara langsung.”


“Baik, saya akan mengatur pertemuan untuk Anda. Kalau begitu saya permisi” Ucapnya lalu ia pun pergi meninggalkan Azia yang masih berdiri di sana.


“Azia, ngapain kamu di sini?” Tanya Bastian yang baru saja tiba saat sekretaris Xu telah pergi.


“Apa kamu akan menginap disini?” Tanya Azia.


“Sepertinya begitu, aku akan pulang sebentar lalu kembali untuk menjaga kakek” Jawab Bastian.


“Tidak perlu, kamu tidak perlu tinggal di tempat ini, sebaiknya kita pulang saja. Lagian kakek sudah ada yang jaga.”


“Tapi…”


“Sekali saja kamu menurut tanpa protes bisa?” Tanya Azia kesal.


“Maaf” Ucapnya lirih.


Azia tidak menanggapi ucapan Bastian, dia menarik tangan Bastian dengan paksa, lalu keduanya pun segera pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke apartemen Azia.


***