Obsession Of Love

Obsession Of Love
Pernikahan yang luar biasa



Melihat kak Alex menghabiskan minumanku, sejujurnya aku sedikit kesal tapi, Fara terlihat jadi orang paling kesal di sana. Dia menatap tajam kearah Kak Alex yang benar-benar sangat kentara dalam mengompori Fara.


“Mereka bisa nggak sih kalau menunda pertengkarannya?” Pikirku yang berjalan di depan mereka yang sedang perang dingin tapi sayangnya aku tidak bisa menghalangi pandangan keduanya karena ku lebih pendek dari dua orang itu.


“Hai! Jangan membuat keributan di sini, ini acara pernikahan kita berempat, paham!” Ucap Bastian sambil menarik Fara ke sampingnya.


Lalu Vandi junior ku yang ternyata adalah anak dari salah seorang pemegang saham perusahaan Papa datang ke acara itu sebagai perwakilan dari keluarganya yang tidak bisa hadir di acara pernikahanku.


“Hai Azia!” Sapa nya dengan mata hanya tertuju padaku dan melewati Bastian dan Fara yang ada di sampingku. Tangannya meraih tanganku, dengan tulus dia mengucapkan selamat padaku “Selamat atas pernikahannya, aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu” lalu dia memelukku.


Kami semua kaget termasuk kak Alex yang langsung mencoba memisahkannya dariku.


“Maaf, aku hanya ingin mengucapkan selamat saja” lalu dia turun dari panggung, dan kamu lainnya menghampiriku dan mengucapkan selamat atas pernikahan kami.


“Siapa dia?” Tanya Fara padaku.


“Dia hanya juniorku di organisasi” Jawabku.


“Yang benar? Kalian hanya sebatas itu saja atau kamu pernah pacaran dengannya?” Tanya Fara lagi padaku.


“Kenapa kamu mengatakan seperti itu? Aku benar-benar tidak memiliki hubungan semacam itu dengannya tapi …”


“Tapi apa, dek?” Tanya Kak Alex yang penasaran dang terlihat sedikit kesal pada Vandi.


“Beberapa hari lalu aku pernah merusak mobilnya dan kami bicara sebentar karena masalah itu”


“Apa kamu yakin? kalau memang benar seperti itu lalu kenapa dia mengatakan hal seperti tadi? Ucapannya itu membuat dia terdengar seolah-olah pacar yang kamu campakkan hanya karena kamu lebih memilih si Alex itu!” Ucap Fara dengan mata menunjuk dengan tajam ke arah kak Alex.


Dari cara mereka bertanya kedua orang yang di sebelahku itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan dan seolah semua penjelasan ku adalah kebohongan dan itu membuat aku cukup kesal.


“Gini aja lah! Kalau kalian tidak percaya ucapku, kalian bisa tanya langsung sama anak itu atau kalau kalian mau kalian juga bisa tanya langsung pada Mia karena hari itu dia juga ada di sana!” Jelas ku kesal.


“Sabar, mereka hanya penasaran saja. Jangan terlalu diambil hati, ayo minum dulu!” Bastian menyodorkan ku segelas minuman.


“Makasih!” Aku langsung menghabiskan minuman itu dengan kesal.


Dan sesuai dugaan ku kedua manusia itu tidak percaya padaku ucapan ku dan mereka benar-benar menghubungi Mia untuk meminta penjelasan tentang hubunganku dengan Vandi. Sungguh hari itu sudah cukup menjadi hari yang panjang dan melelahkan untukku, sudahlah aku harus bangun sebelum subuh hanya untuk mulai persiapan gaun pengantin dan make up. Belum lagi baju dan hiasan kepala sudah membebani ku, lalu sekarang hanya karena beberapa kata dari Vandi dua manusia yang tadinya sedang perang dingin itu malah seolah memojokkan aku. Semua tekanan itu membuat aku ingin meledak, tapi untungnya ada Bastian yang masih tetap netral dan tidak menambah beban pikiranku.


Meski Bastian tidak banyak membantu tapi setidaknya dia tidak menjadi beban tambahan untukku, dan untungnya penjelasan Mia bisa membuat kak Alex dan Fara menjadi tenang dan berhenti mencurigai ku. Kalau di pikir-pikir ini cukup aneh, kenapa mereka harus meributkan hal setidak penting itu terutama untuk Fara, kenapa dia ikut-ikutan curiga padaku padahal kalau pun aku memang melakukan hal semacam itu seharusnya itu tidak ada hubungannya dengan dia, lalu kenapa dia harus marah.


“Apa sekarang kalian puas?” Tanyaku pada dua orang yang sedang sok bersalah di depan mataku.


“Puas? Puas kenapa?” Tanya Fara dengan polosnya.


“Puas setelah Mia menjelaskan hubunganku dengan Vandi! Kalian kenapa sih melakukan ini padaku? Kalian kan orang yang paling mengenalku, setidaknya kalian harus percaya padaku!”


“Aku percaya kok padamu, yang nggak percaya itu si Alex! Aku tidak mengatakan apapun atau pun menghubungi Mia, ya kan Mia?” Fara melirik ke arah Mia yang sedang berbincang dengan Bastian. “Mia, iya kan?” Tanya Fara lagi.


“Apa?”


“Iya, iya.” Mia pun melanjutkan perbincangannya dengan Bastian.


“Tu kan, Mia aja bilang iya. Jadi, yang salah itu Alex!” Fara menunjuk ke kak Alex.


Kak Alex hanya menatap sinis ke arah Fara lalu dia turun dari panggung dan menghampiri teman-temannya yang baru datang.


“Tu dia diam aja, berarti dia mengakuinya. Jadi jangan marah padaku, ya sayang” Ucap Fara sambil memelukku.


“Iya”


Lalu beberapa fotografer datang untuk melakukan sisi foto untuk kami dan keluarga.


“Ibu, ayo foto bersama!” Ajak ku pada bu Dewi yang kini sudah resmi menjadi ibu mertuaku.


“Putri kesayanganku, akhirnya kamu resmi menjadi menantu ibu.” Ibu memeluk dan mencium ku.


Aku mengambil sesi foto dengan keluarga kak Alex terlebih dulu, lalu dilanjutkan dengan sisi foto dengan keluargaku.


“Liam! Ayo sini, kita foto!” Ajak ku pada adik kecilku yang kini sudah menjadi remaja yang masih saja terlihat menggemaskan.


“Azia, kenapa kamu tidak memanggil Mama mu?” Bisik kak Alex padaku.


“Nanti, Mama datang sendiri kok” Jawabku sambil memeluk Liam.


“Bagaimana kabarmu?”


“Sangat baik. Aku senang melihat kakak menggunakan pakaian tuan putri seperti ini. Sangat cantik” Pujinya dengan nada polos seperti biasa.


“Azia, tolong jangan begini. Ayo panggil Mama dan Papa mu!” Pinta kak Alex dengan nada memohon padaku.


“Kenapa tidak kakak saja?” Tanyaku.


“Azia, tolong demi diriku, kali ini saja turunkan ego mu dan bicaralah dengan baik pada orang tuamu. Bagaimanapun itu adalah orang tuamu, jika kamu tidak bersikap baik padanya, aku adalah orang pertama yang akan merasa berdosa dan bersalah… Tolong, Azia”


Karena kak Alex terus memohon, dengan terpaksa aku menuruti permintaannya dan menghampiri Mama yang sedang berbincang dengan beberapa orang penting yang kebetulan aku kenal.


“Ma, ayo kita lakukan sesi foto dulu” Pintaku pada Mama yang baru saja selesai bicara dengan beberapa orang itu sesaat sebelum aku bicara.


“Papamu mana?” Tanyanya dengan nada lembut tidak seperti biasanya.


“Papa sudah bersama kak Alex di sana” Tunjuk ku pada kak Alex yang sedang berfoto bersama dengan Papa dan Liam.


Dengan ragu-ragu aku menggandeng tangan dingin mama dan menariknya ikut bersamaku. Meski kami sedikit agak canggung tapi kehadiran kakak Alex benar-benar berhasil memaksa kami mencairkan suasana. Untuk pertama kalinya aku melihat senyum tulus dari mama, aku rasa foto yang diambil kali itu adalah foto terbaik dari sekian banyak foto lainnya.


Perlahan aku mulai merasakan es yang menjadi penghalang antara aku dan Mama kini mulai mencair. Aku tidak tahu ini akan bertahan sampai kapan tapi setidaknya hari itu sudah lebih dari cukup untukku merasakan kebahagian yang sudah lama aku nantikan. Rasanya hidupku hari itu lengkap dan hampir menjadi sempurna, karena aku merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh, keluarga yang selama ini aku impikan.


Aku benar-benar tidak lagi iri pada mereka yang memiliki orang tua karena aku sudah merasa cukup sempurna dengan apa yang aku miliki sekarang ditambah dengan kehadiran kak Alex yang sangat-sangat melengkapi bagian kosong dari hidupku.