
Sementara itu Azia yang berjalan santai di belakang malah memikirkan candaan Alham dengan serius. Saat sedang berpikir keras tiba-tiba seorang pria tinggi, putih berjas putih dengan baju kemeja biru muda berdiri menghalangi langkah Azia.
"Kak Alex" Ucap Azia kaget.
**
Mata Alex menatap tajam kearah Alham dan anak yang ada dalam gendongannya itu, ketiga orang dewasa itu hanya diam tanpa kata hingga beberapa waktu hingga akhirnya Alex memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Kau tidak mengejarnya?” Tanya Alham yang sedikit merasa bersalah walau dia tidak tau apa yang membuat dia menjadi salah dalam situasi itu.
“Buat apa?” Jawab Azia dingin lalu berjalan meninggalkan Alham yang masih kaget dengan jawaban yang tidak terduga dari Azia.
“Dua orang ini ada masalah apa sih? Aku harap aku dibawa-bawa dalam masalah mereka yang aneh ini”
*Perjalanan
Dalam perjalanan panjang itu entah sudah berapa kali Azia menghela napas seorang sedang sangat frustasi.
“Azia, mau sampai kapan kamu menghela nafas, hah?”
“Kenapa? Ada masalah?” Tanya Azia ketus.
“Hai, kenapa kamu marah? Aku kan hanya nanya doang, sebenarnya kamu ada masalah apa?”
“Masalah? Tidak ada” Jawab Azia datar.
“Heum, benar juga. Kamu tidak mungkin punya masalah apa lagi masalah investor sudah teratasi dan perusahaan akan kembali stabil, jadi…”
“Bukan masalah itu, bodoh! Ini masalah lain.” Ucap Azia kesal.
“Lah tadi katanya nggak punya masalah, dasar aneh” Ucap Alham dengan suara kecil.
“Aku mendengarnya!” Ucap Azia dengan tatapan mautnya.
Alham langsung bungkam dan kembali fokus berkendara.
Beberapa menit hanya ada sunyi hingga tiba-tiba Azia mulai membuka mulutnya.
“Alham, aku harus melakukan apa?”
“Ya nggak tau lah. Kamu ini ada masalah hidup apa lagi sih, mending cerita dari pada ngomong nggak jelas kayak gitu.”
“Heum…. Sebenarnya beberapa hari yang lalu ibu angkat kak Alex menghubungiku dan mengatakan kalau aku harus segera memberi mereka penerus kalau tidak lebih baik aku tidak menghalangi masa depan kak Alex.”
“Terus apa masalahnya? Tinggal punya anak aja kan?”
‘trakkk’ satu pukulan mendarat ke pundak Alham dengan cukup kencang.
“Au sakit, makin hari tanganmu makin bertenaga ya!” Ucap Alham dengan melirik sekilas kearah Azia yang sedang murka.
“Makanya jaga omongan mu, kamu pikir mudah melahirkan? Aku takut jika aku punya anak nanti kak Alex berpaling dariku, lalu bagaimana kalau anak ku perempuan, dia pasti akan jadi sainganku di rumah, aku tidak mau itu terjadi.”
“Ya tapi kan itu anak mu juga, lagian menurutku Alex gak mungkin berpaling hanya karena kalian sudah punya anak. Banyak kok orang yang masih romantis meski sudah punya 5 anak jadi santai aja lah.”
“Tapi…”
Belum selesai Azia bicara, mereka sudah berada di halaman rumah Azia.
“Udah sampai, sana turun. Aku mau istirahat”
“Dasar sekretaris kurang akhlak! Sudahlah, Rion sepertinya sudah bangun aku akan…”
“Itu karena saat melihat kak Alex, aku jadi teringat ucapan ibu angkatnya yang mengatakan kalau aku menghalangi masa depan kak Alex. Jika kami bicara melalui telepon mungkin aku tidak akan mengingat masalah ini. Sudahlah, bukannya kamu mau istirahat, sana pulang!” Usir Azia sambil menutup pintu mobil Alham dengan cukup keras.
Azia terus berjalan hingga kedepan pintu yang tiba-tiba terbuka dan keluarlah sosok pria tinggi putih bak pangeran dalam dongeng.
“Anak siapa?” Tanya Pria itu dengan nada dingin dan tatapan yang cukup dingin.
“Ini Rion, tiga hari kedepan dia akan tinggal dengan kita.” Jawab Azia yang melewati Alex begitu saja.
“Mama, itu siapa?” Tanya Rion pada Azia yang masih menggendongnya.
“Ah itu… Suami Mama, kamu bisa memanggilnya ….” Azia berhenti dan menatap Alex yang masih berdiri di ambang pintu dan menatap dingin ke arahnya.
“Apa itu Papa tiri?” Tanya Rion polos.
Azia hanya diam saat ditanya, sedang Alex kini mulai melangkah menghampiri dua orang yang terus menatapnya.
“Mama, aku ingin turun.”
“Baiklah sayang” Azia menurunkan Rion dan Rion dengan langkah kecilnya mencoba menghampiri Alex.
“Hallo, Papa tiri!” Sapa Rion dengan senyum tulus.
“Azia, apa maksudnya ini semua?” Tanya Alex dengan tatapan penuh tanya.
“Rion, bisa ke kamar dulu bersama kakak pengasuh?” Pinta Azia dengan nada lembut pada Rion dan pengasuh yang sudah lama berdiri di dekat tangga itu pun berjalan menghampiri Rion dan membawanya ke kamar Azia.
“Azia, aku butuh jawaban! Siapa anak itu dan kenapa dia memanggilmu Mama?”
“Ayo kita duduk dulu” Ucap Azia sambil berjalan kedepan menuju ruang tamu.
“Azia, aku harap jawabanmu sekarang!” Ucap Alex dengan langkah cepat menyusul Azia.
“Menurut kakak, dia siapa?”
“Yang pasti tidak mungkin anakmu, bukan?!”
Azia lama diam, matanya menatap mata Alex yang sedang menunggu jawaban dengan menahan semua emosi dalam dirinya.
“Tentu saja bukan, Usiaku baru 24 tahun dan sebentar lagi akan masuk 25 sedangkan anak itu usianya sudah lebih dari 5 tahun, aku tidak mungkin melahirkan di usia 19 atau 20 tahun. Apalagi keluargaku cukup ketat tentang masalah hubungan dengan lawan jenis.”
“Lalu anak siapa itu? Apa kamu mengadopsi anak secara diam-diam?”
“Hah? Mana mungkin, buat apa aku melakukan hal yang merepotkan. Dia hanya anak seorang klien, dia menyukaiku karena itu…”
“MENYUKAIMU?” Mata Alex seolah berapi-api mendengar kata-kata yang tidak ingin dia dengar itu.
“Bukan klien ku tapi anak itu, dia menyukaiku karena mirip dengan mendiang ibunya yang beberapa tahun lalu meninggal, selain itu klien ini sangat penting jadi aku tidak bisa menolak permintaanya untuk menjaga anaknya selama dia melakukan perjalan bisnis. Selama Rion ada di sini aku harap kak Alex bersikap ramah dan baik padanya”
“Huft! Syukurlah, baiklah aku akan menjaga anak itu. Sekarang boleh aku memelukmu?” Pinta Alex dengan nada manis dan manja.
Azia membalas senyum itu dengan senyum yang lebih manis daripada madu dan segera memberi suami tercintanya dengan sebuah pelukan hangat.
“Kak, bagaimana kalau kita mencoba menganggap Rion sebagai anak kita, anggap aja seperti latihan sebelum memiliki anak sendiri?”
“Tidak masalah, aku akan menjadi Papa tiri yang baik dan sempurna untuknya.”
“Bukan Papa tiri tapi, Ayah kedua” Ucap Azia dengan sebuah tawa kecil yang diikuti dengan senyum dari Alex