Obsession Of Love

Obsession Of Love
Masalah 1



Semuanya terasa sangat indah, aku punya pacar yang sangat aku cintai, teman-teman yang selalu mendukungku. Semua sangat sempurna hingga aku merasa hal buruk bisa saja merebut kebahagian yang sedang aku rasakan ini. Rumus hidup yang aku tahu adalah firasat buruk selalu benar. Sepulang sekolah aku pergi dengan Andi ke toko buku, saat kami sedang memarkirkan motor tiba-tiba seorang gadis dengan sorot mata yang penuh keangkuhan menghadang langkah kami.


“Hai Azia! Lama tidak berjumpa, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu masih membawa sial?” Ucapnya dengan senyum yang mengejek.


“Azia, ayo jalan!” Andi menarik ku pergi menjauh dari gadis itu.


“Hai, bocah sialan! Tunggu!” Dia kembali mencegah kami.


“Apa yang kamu inginkan?” Tanya Andi yang kesal dengan gadis itu.


“Kenapa kamu bersama dia, hah?! Kalian pacaran?”


“Apa urusanmu?”


“Ini jadi urusanku karena kamu mantanku, aku tidak ingin tempatku digantikan oleh gadis pembawa sial ini!”


“Berhentilah memfitnah, Azia! Dasar gadis jahat!” Andi melewati gadis itu dengan terus menarik tanganku.


“Tunggu!” Dia menarik tangan Andi.


“Apa lagi sih?”


“Jauhi gadis itu!”


“Apa urusanmu?!”


“Dia membawa sial, aku tidak mau kamu mendapat kesialan karena dia!”


“Hai! Gadis sombong, jaga ucapan mu!”


“Kenapa? Kamu marah? Memang benarkan kalau kamu membawa sial?”


“Benar-benar otak udang!” Ucapku sambil memalingkan wajahku darinya.


“APA KAMU BILANG?!”


“Aku hanya mengatakan kebenaran, kamu memang otak udang, ya’kan?”


“Apa maksudmu?” Dia kelihatan sangat kesal.


“Ya, cuma otak udang yang percaya dengan namanya pembawa sial. Hal yang kamu katakan itu tidak ada pembuktian secara ilmiah, orang-orang yang percaya hal semacam itu adalah orang-orang yang tidak mau menerima kenyataan, bukan begitu Andi?”


“Iya, aku pikir juga begitu, lagian kalau Azia membawa sial pastinya waktu dia lahir bumi ini udah di hantam sama meteor atau seenggaknya adalah peperangan di negara ini tapi, kenyataanya gak ada tuh!”


“Tapi, Bu Melati masuk rumah sakit karena dia!” Dia menunjuk kearah ku dengan tatapan penuh dengan kebencian.


“Nenekku itu masuk rumah sakit karena serangan jantung bukan karena kutukan, dasar gak jelas! Kalau mau begok ya begok aja sendiri gak usah aja-ajak oranglah!” Aku menarik Andi masuk ke toko buku dan mengabaikan gadis itu.


“Hai Azia! Meski kamu bilang kutukan itu bukan hal yang nyata tapi, yang pasti banyak orang yang pasti akan percaya dan kamu akan kehilangan semuanya, camkan itu!”


“Dasar mulut cabe, pergi sana!” Andi mengusir gadis itu.


“Hai, kamu Lina! Dari pada kamu mengkhawatirkan hidupku lebih baik khawatirkan hidupmu saja, aku dengar keluarga yang mengadopsi mu mempunyai seorang putra dan dua orang putri, aku pikir posisimu sekarang sedang berada di ujung tanduk apa lagi kamu putri yang bodoh dan pembuat onar, tunggu waktu kamu habis aja, dan aku rasa sebentar lagi kamu akan di depak”


“KAMU…” Dia pergi dengan wajah kesal.


“Azia, dari mana kamu mendapatkan informasi itu?”


“Sebenarnya aku pernah menjadi guru les adik-adiknya beberapa minggu, aku kaget begitu tahu kalau mereka adalah anak-anak dari orang tua adopsi si Lina itu.”


“Sekarang kamu masih ngajar les?”


“Iya tapi gak banyak seperti dulu, hanya beberapa anak saja.”


“Dari pada mikirin anak itu, ayo kita beli beberapa buku!”


“Oke!”


Meski aku tidak ingin memikirkan omongan Lina tapi, aku masih merasa sedikit khawatir, aku takut semua orang percaya dengan hal semacam kutukan. Aku cukup tahu kalau sulit untuk mengubah pendapat seseorang terhadap suatu yang sudah mendarah daging dalam pikiran mereka. Aku rasa resah, aku takut aku akan di jauhi lagi dengan banyak tragedi yang terjadi di tahun ini, aku takut Lina membuat rumor buruk lagi tentangku. Gara-gara ucapan Lina aku tidak bisa tinggal di rumah Fara untuk sementara waktu, aku tidak ingin mereka tahu akan masalahku dengan Lina dan aku kembali membuat mereka repot karena urusanku.


“Aku bisa gila jika begini! Aku tidak bisa membiarkan mereka mengucilkan aku lagi! Aku tidak mau teman-teman menjauhiku karena masalah ini. Apa yang harus aku lakukan” Aku terus merenungkan banyak kemungkinan yang terjadi dikemudian hari, saat rumor aneh tentangku kembali menjadi alasan aku di jauhi teman-temanku.


‘ting’ Notifikasi pesan dari handphoneku.


“Azia, kamu kenapa belum pulang?” Pesan dari Fara.


“Beb, Alex bilang kamu gak bersama dia, kamu dimana sekarang? Hubungi kami kalau ada masalah” Pesan dari Mia.


Lalu kak Alex meneleponku, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun saat itu, aku mengabaikan semua pesan dan telpon masuk. Saat malam tiba, aku mengirim pesan pada Fara dan mengatakan kalau aku sementara waktu tidak tinggal bersamanya.


‘dring’ handphone ku kembali berdering dan kali ini Fara yang menghubungiku.


“Ada apa?” Dia langsung menyerang ku dengan pertanyaan yang membuat aku harus berpikir dengan cepat untuk mencari alasan agar dia tidak mengada-ngada aku yang sedang punya banyak pikiran.


“Gak ada, memangnya kenapa?”


“Ya, aneh aja kenapa tiba-tiba ingin tinggal sendiri?”


“Tidak, aku hanya mau tinggal di rumahku saja, aku merindukan rumah yang penuh dengan kenangan bersama nenek.”


“Beb, kamu gak ada masalahkan?” Mia juga ikut bicara.


“Gak kok, kalian ini kenapa? Masa aku harus ada masalah dulu baru bisa tinggal di rumah sendiri sih?”


“Benar juga, kalau gitu kapan kamu tinggal lagi disini?”


“Saat aku merasa lebih tenang”


“Jangan, lama-lama ya beb, aku bisa-bisa kangen kamu, udah tiap hari kita jarang main bareng, sekarang kita malah gak tinggal seatap lagi.”


“Iya, aku yakin gak lama kok. Udah dulu, aku mau istirahat, ya”


“Eh, kenapa tiba-tiba kamu istirahat jam segini?”


“Kawan-kawanku, aku benar-benar ngantuk.”


“Baiklah, selamat istirahat”


Baru juga selesai dengan urusan Mia dan Fara, Alex malah menghubungiku.


“Baru aja mau rebahan udah di ganggu lagi!” Aku benar-benar kesal.


“Apa?” Aku tidak menyapanya dan langsung menanyakan apa yang ingin dia bicarakan.


“Dek, kenapa kamu dingin begitu? Apa aku membuat salah?”


“Huft!” Aku mencoba menghilangkan kekesalanku dan menarik nafas panjang beberapa kali sebelum kembali bicara dengan kak Alex.


“Iya, ada apa kak Alex ku”


“Azia, jujur apa kamu marah sama aku?”


“Gak, memangnya kenapa?”


“Lalu kenapa kamu mengangkat telpon dari Mia dan Fara, padahal aku duluan yang menghubungi kamu dari sore, mereka menyombongkan nya padaku, aku sangat kesal, kenapa kamu mengabaikan ku?”


“Iya, aku minta maaf! Lain kali tidak akan terjadi lagi, sudah aku mau istirahat?”


“Jam segini? Tidak biasanya, apa kamu lagi ada masalah?”


“Kenapa pertanyaan kalian sama, sih? Aku benar-benar ingin istirahat kak.”


“Baiklah aku tidak akan mengganggu, selamat istirahat sayangku, love you”


“Em” Lalu aku segera memutuskan telpon itu dan segera tidur.


Bersambung…