Obsession Of Love

Obsession Of Love
Ngerjain Alex



“Gak, kamu diam aja! Gak jadi aku bisikin”


“Lihat chat grup kita aja” Mia memberikan kode dengan matanya agar Dirga tidak tahu apa yang ingin kami bahas.


“Oke”


“Jadi, apa rencananya?” Tanya Fara yang menantikan rencana untuk mengerjai kak Alex.


“Anak super cemburuan itu harus kita kerjakan hari ini, berani-beraninya dia mengikuti kita sampai sini, dia pikir dia siapa? Dasar kampr*t sialan!”


“Hai, kalian sangat keterlaluan, dia itu tidak cemburuan, hanya sedikit khawatir saja! Tapi, aku setuju untuk mengerjai dia hari ini”


“Nah gitu dong, ayo kita mulai! Kalian ikuti saja drama yang aku buat, oke!”


“Sip sip!”


“Kenapa kalian tidak jadi makan? Kalian sebenarnya punya rencana apa?” Tanya Dirga yang tidak ikut dalam grup kami.


“Ada deh, sekarang kamu pegang tangan Azia cepat!”


“Buat apa?”


“Alah! Banyak tanya kamu, cepat pegang aja! Terus tatap dia dengan penuh perasaan.”


“Aku gak bisa!”


“Kenapa gak bisa? Ini kan gampang banget, ayo coba aja!”


“Aku gak bisa menatap cewek lain dengan mesra selain kamu!” Ucap Dirga dengan ekspresi wajah yang serius.


“Woi! Siang-siang gak usah gombal, bikin orang mual aja, sakit nih mata!” Ucap Fara yang merasa geli dengan ucapan Dirga.


“Eh, yang jomblo jangan iri dong!” Ucap Mia sambil tertawa mengejek Fara yang baru menyandang status jomblo.


“Bangs*t! Awas ya kalau aku punya pacar, kalian pasti akan menyesal!”


“Iya iya, makanya cari pacar sana biar gak sendirian kalau kami lagi kencan!”


“Udah udah, kalau ngobrol terus kapan kita mulainya” Gerutu Mia yang tidak sabar melihat kak Alex cemburu.


“Duh duh duh, adik kecilku Azia pengen banget ya ngerjain pacarnya?”


“Ya gak papa kan sesekali,”


“Jangankan sesekali, sering juga boleh”


“Ayo mulai! Cepat genggam tangan Azia!”


“Tapi…”


“Dirga, malam ini aku pulang ke rumah deh kalau kamu mau nurut”


“Oke, tapi kamu janji ya bakalan pulang ke rumah?”


“Iya aku janji!”


Setelah itu Dirga mencoba memberanikan dirinya memegang tanganku. Walau dia mencoba tenang, tapi aku bisa merasakan dia bergemetaran, aku tebak mungkin saja dia belum pernah benar-benar memegang tangan gadis selain Mia. Wajahnya sedikit kaku saat tersenyum, benar-benar sandiwara yang buruk, dia aktor terburuk yang pernah aku kenal. Tak lama setelah itu sebuah tangan memisahkan tangan aku dan Dirga, dengan wajah penuh kekesalan dia menatap Dirga.


“Jangan berani-berani kau menyentuh milikku!” Lalu kak Alex menarik kerah baju Dirga dan hampir melayangkan satu pukulan hingga menyebabkan sedikit kegaduhan.


Keadaan mulai di luar kendali, manajer tempat itu menghampiri kami karena beberapa pelanggan mengeluhkan masalah itu. Beberapa orang merekam kejadian itu tapi, Fara tidak tinggal diam, dia langsung menghubungi pengawalnya dan meminta untuk membereskan semua orang yang merekam kejadian itu.


“Hai, jangan coba-coba kamu pukul tunangan ku, ya!” Mia menarik Dirga ke belakangnya dan maju untuk menghadang kak Alex.


“Apa maksudmu?” Kak Alex terlihat bingung dengan apa yang dia ucapkan Mia.


“Kak, sabar dulu, ini hanya salah paham!”


“Mohon maaf sebelumnya, kalau kalian masih ribut, kami terpaksa akan memanggil security untuk menyeret kalian keluar, kalian sudah mengganggu pelanggan lain.” Ucap Manager yang menghampiri kami.


“Maafkan kami pak! Saya akan mengatasi mereka anda bisa kembali sekarang” Fara mencoba menenangkan manager tempat itu yang terlihat kesal.


“Baiklah, saya harap kalian semua bisa menikmati makan dengan tenang dan tidak mengganggu pelanggan lain, terimakasih dan selamat menikmati.” Setelah mengatakan itu dia pun pergi.


“Sekarang kalian semua duduk!” Fara mengendalikan situasi dan membuat semua kembali tenang.


“Kak, sebenarnya kami hanya main-main saja tadi, lagian salah sendiri kenapa kakak mengikuti kami?”


“Itu…” dia mulai kebingungan mencari alasan.


“Itu karena kamu khawatirkan kalau Azia kami jodohkan dengan pria lain, ya’kan?” Mia melanjutkan ucapan kak Alex.


“Aku tidak berpikir seperti itu”


“Apanya yang enggak?! Kamu pikir kami gak tahu, kalau kamu kesini karena cemburu, ya’kan?”


“Tentu saja tidak, kalian salah! Aku tidak datang karena cemburu. Sayang percayalah, aku bukan pencemburu-an, aku hanya khawatir saja tadi sama kamu karena aku pikir kamu marah”


“Kakak ini, mana mungkin aku marah, apa lagi marahnya sama kak Alex, cowok yang paling aku cinta, itu kan hal yang mustahil banget’kan”


“Ya, jomblo harap bersabar” Ucap Mia dengan nada mengolok-olok Fara.


“Dasar kalian keterlaluan! Masa aku sendiri yang gak punya pasangan! Ini tidak adil!” Fara berdiri dengan wajah yang kesal.


“Ya, mau gimana lagi, siapa suruh kamu jomblo!” Ucap Mia dengan nada mengejek.


“Kalian semua menyebalkan!” Fara kembali duduk dan melahap makanan di depannya dengan penuh kekesalan.


Semua kembali tenang dan sepertinya Mia mulai membuka hatinya dengan Dirga.


“BTW, kalian kapan sih tunangannya?”


“Kalau gak salah, di penghujung bulan ini, aku pikir ini terlalu mendadak tapi, mau bagaimana lagi, aku harus secepatnya kembali ke Amerika untuk menyelesaikan kuliahku.”


“Sayang sekali, aku pikir kamu akan lama di sini dan membuat Mia bertaubat” Ucap Fara dengan wajah kecewa.


“Hahahaha… suruh orang bertaubat, lah diri sendiri gimana?”


“Aku sih lagi proses, lagian pacaran itu udah jadi aktivitas yang membosankan akhir-akhir ini”


“Dirga, aku dengar kamu akan terjadi di perusahan milik ibu Mia setelah lulus, ya?”


“Dari mana kamu tahu itu? Tapi, emang benar sih aku bakalan menetap di sini setelah lulus dan bekerja di perusahaan keluarga Mia, orang tua kami ingin kami cepat dekat dan segera menikah setelah Mia siap”


“APA? Nikah? Yang benar aja, kita baru saja membahas soal tunangan, kenapa jadi nikah, sih?” Mia terlihat syok dengan ucapan Dirga yang membahas soal pernikahan.


“Ya, pada akhirnya kita memang akan tetap menikah, ya’kan?”


“Iya tapi, itu masih jauh jadi, gak usah di bicarakan dulu dong! Bikin pusing aja!”


“Sebenarnya kamu gak mau nikah sama aku kan?”


“Siapa bilang, aku mau kok!” Lalu Mia menutup mulutnya karena keceplosan mengatakan mau menikah.


“Kamu serius?”


“Serius apa?” Mia mulai pura-pura lupa dengan apa yang tidak sengaja diucapkannya barisan.


“Ya, serius mau nikah sama aku?”


“Kapan aku bilang begitu” Mia pura-pura lupa dengan apa yang dia ucapkan beberapa detik yang lalu.


“Barusan”


“Kamu pasti salah denger, ya’kan teman-teman” Mia memberi kami kode untuk mendukung ucapannya.


"no comment” Fara tidak ingin ikut campur dengan urusan itu.


“Iya, aku gak denger, sudah cepat makan” Ucapku.


“Eh, bukannya dia bilang mau tadi?” Ucap kak Alex tanpa bersalah.


“Kak, diam aja!” Aku mencubit pinggang kak Alex karena dia tidak bisa bekerja sama dengan kami.


“Tu kan, aku gak salah denger, dia aja denger kalau kamu bilang mau”


“Dasar parasit sialan! Pulang sana kamu!” Mia mengusir kak Alex karena kesal.


“Oke, Azia ayo kita pulang!” Kak Alex menarik tanganku.


“Op op op! Dia pulang bareng kami, oke!”


“Gak bisa begitu lah!!” Kak Alex terlihat kesal karena Fara mencegahnya membawaku.


“Apa nya yang gak bisa, aku bilang Azia pulang bareng kami ya artinya dia pulang sama kami, kalau kamu mau pulang ya pulang aja sendiri sana! Lagian gak ada yang undang kamu kesini, ya'kan?” Ucap Fara tegas sambil menahan ku yang ditarik kak Alex.


‘dring’ tiba-tiba handphone kak Alex berbunyi.


“Hallo! Iya, saya mengerti, saya akan segera ke sana!”


“Maaf sayang, aku harus ke rumah sakit, kamu makan saja dengan mereka dan jangan pulang ke sore an,ya?” Lalu dia mengecup keningku sebelum akhirnya pergi dengan terburu-buru.


“Mau pergi aja masih cari kesempatan tu anak, memang perlu dihajar dulu biar sadar diri!” Fara terus menyoroti kak Alex hingga dia keluar dari tempat itu dengan tatapan kesal.


“Kalian gak boleh gitu, dia itu kan pacar aku, calon adik ipar kalian”


“Adik ipar apaan, udah tua, gak cocok banget deh!”


“Kalian jahat banget sih sama kak Alex”


“Udah, lupain aja anak itu dan fokus makan aja”


Setelah itu kami pun pulang, Mia memberikan mobilnya pada kami dan dia pulang dengan Dirga. Aku heran sama Mia, kadang dia kelihatan tidak suka tapi, kadang dia terlihat sangat tergila-gila pada Dirga. Perasaan seseorang sulit dijelaskan dengan kata-kata, bahkan aku sendiri pun tidak pernah memahami perasaanku sendiri.


Bersambung…