Obsession Of Love

Obsession Of Love
Pergi



“Kalau kakak bisa keluar, nanti kakak akan minta Ayah kakak buat bawa coklat untukmu, bagaimana?”


“Kakak janji?”


“Iya, janji sayang”


Setelah itu kami mencoba mengelabui penjaga hingga aku bisa keluar dari rumah itu. Di depan pagar aku menunggu Ayah Andi menjemputku bersama dengan anak kecil yang terus menggandeng tanganku.


“Apa masih lama?” Tanya anak laki-laki yang menggemaskan dengan wajahnya yang cemberut.


“Entahlah, mungkin saja sebentar lagi”


“Aku bosan!” Dia kelihatan kesal dan membuat kedua pipinya terlihat semakin besar dan menggemaskan, hal itu membuat aku hampir tergoda untuk mencubit pipi tembemnya itu.


“Sebentar lagi pasti datang”


Tak lama kemudian datang sebuah mobil hitam dan berhenti di depan pagar, tepatnya di samping kami. Seorang pria keluar dari kursi depan dan membukakan pintu untuk seorang penumpang yang entah siapa orangnya. Begitu keluar terlihat kaki panjang dengan sepatu bermerk yang dikenakannya. Pria itu terlihat tinggi, bermata biru muda, berwajah tirus dan berkulit putih berjalan menghampiri kami.


“PAPA” Anak kecil itu berlari dan memeluk pria itu.


“Kenapa kamu di luar? Siapa anak itu?” Pria itu bicara dengan bahasa Inggris yang sangat lancar dan sempurna.


“Saya Azia, pak!” Jawab Azia yang lancar bahasa Inggris. “Gak sia-sia aku belajar bahasa Inggris di sekolah, akhirnya terpakai juga” Pikir Azia yang merasa bersyukur karena gak sia-sia dia belajar bahasa inggris dari kecil.


“Nak Azia, kenapa kamu membawa Liam keluar?”


“Saya menunggu Ayah saya di sini dan adik kecil ini ingin menemani saya.”


Tak lama setelah itu sebuah taksi datang dan berhenti di belakang mobil hitam. Ayah Andi keluar dengan sedikit berlari ke arah kami.


“Apa kamu baik-baik saja, nak?” Ayah Andi bertanya dalam bahasa Indonesia hingga membuat dua orang yang tidak mengerti apa yang kami bicarakan mulai mengerutkan dahi mereka dengan ekspresi penuh dengan rasa penasaran.


“Apa yang dikatakan paman itu?” Tanya Liam dengan nada bicara polosnya.


“Dia bertanya apa aku baik-baik saja” Aku menerjemahkan ucapan Ayah Andi pada dua orang yang terlihat kebingungan di depanku. “Ayah, ayo kita pulang!” Aku yang sudah sangat akrab dengan keluarga Andi dari kecil membuat aku terbiasa bersikap selayaknya anak kandung pada Bunda dan Ayah Andi.


“Iya, ayo kita pulang sebelum Bunda semakin cemas padamu”


“Tunggu!”


Gerbang rumah besar itu terbuka dan keluarlah kakek dengan beberapa pengawal yang mengikutinya. Lalu dua orang wanita datang dan berdiri di samping kakek dan kedua wanita itu melihatku dengan tatapan sinis dan penuh dengan kecurigaan.


“Azia Mutiara, jangan berani-berani kamu meninggalkan tempat ini atau…”


“Atau apa?” Tanya Ayah dengan nada kesal karena kakek itu membentakku.


“Kalau Azia pergi dari tempat ini saya akan pastikan kalau kalian tidak hidup tenang!”


“Kenapa Azia harus tinggal di sini? Kalian sebenarnya mau apa dari anak saya?” Ucap Ayah yang menyamakan nada bicara dengan kakek yang terlihat murka.


“Dia cucu saya, dia bagian dari keluarga ini dan kamu tidak punya hak untuk membawanya.”


“Apa Anda punya bukti kalau dia bagian dari keluarga Anda? Dengar baik-baik pria itu, Azia itu anak saya dan tidak ada seorang pun yang boleh menyakitinya termasuk kalian.”


“Ayah, biarkan saja mereka pergi. Bukankah ini lebih bagus, setidaknya kita tidak lagi di tipu dan mereka juga mengakui kalau mereka anak dan ayah, artinya Azia itu bukan anak dari adik ke 5, ayah!” Ucap wanita yang berada disamping kakek.


“Tutup mulutmu!” Bentak kakek pada wanita yang di sampingnya.


“Saya tidak punya waktu untuk berdebat, kalau kalian menghalangi kami maka saya akan lakukan upaya hukum karena kalian sudah menculik anak saya!”


“Ayah mertua, biarkan saja mereka pergi. Tolong jangan membuat Liam ketakutan, ini tidak baik untuk mentalnya!” Ucap pria yang usianya mungkin lebih muda dari Ayah Andi.


“Dan itu tidak akan terjadi! Ayo Ayah kita pergi, mereka semua aneh!” Saat itu aku sangat percaya diri keluar bersama dengan Ayah Andi tanpa tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


“Kakak, tunggu!” Liam menarik tanganku. “Kak, apa kita bisa bertemu lagi?” Ucap Liam dengan wajah polos dan lucunya.


“Mungkin suatu hari. Oh iya ini coklat dari Ayah kakak, makan pelan-pelan, kalau begitu selamat tinggal!” Lalu aku pergi dengan Ayah dari tempat itu dengan taksi yang sudah lama menunggu kami.


Saat kami menuju bandara langit sudah berubah warna menjadi jingga, terlihat indah awan-awan yang ada di langit sore itu.


“Ayah, apa mereka akan menyakiti kalian karena ulahku?”


“Azia, anakku apa kamu pikir Ayah dan Bunda itu terlalu lemah hingga mereka bisa menyakiti kami?”


“Aku pernah membaca novel yang situasinya hampir mirip dengan sekarang, dan di sana kita kan kalau keluarga kaya dari orang-orang arogan itu menghancurkan bisnis keluarga dari gadis lemah dalam novel.”


“Apa kamu merasa lemah?”


“Mana mungkin, Azia sudah banyak makan dan sekarang Azia sudah lebih tinggi dari tahun lalu, Azia ini anak yang kuat!”


“Nah, kalau begitu kamu bukan gadis lemah di dalam novel yang kamu baca dan kami bukan orang tua yang bodoh dan lemah hingga mereka dengan mudahnya menghancurkan kami, kamu tenang saja, Ayah dan Bunda pasti bisa menghadapi orang-orang jahat itu”


“Terima kasih, Ayah!”


Ayah dan Bunda Andi sudah sangat dekat denganku dari dulu, bahkan mereka hampir bisa mengadopsiku hingga beberapa hal yang membuat mereka tidak bisa mengadopsiku dulu. Sesampai dirumah aku disambut dengan pelukan dari Bunda yang terlihat sangat khawatir padaku. Aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Bunda, lalu tak lama Andi datang dengan wajah kelelahan dan duduk ikut mendengarkan apa yang sedang aku ceritakan.


“Jadi mereka keluarga kandungmu?”


“Aku tidak tahu karena informasi yang baru aku beli itu belum sempat aku buka karena banyak tugas yang harus aku kerjakan dari klean ku, mereka sudah terlanjur mengirim uang jadi aku tidak mungkin mengabaikan mereka.”


“Heum… Apa Mia dan Fara tahu soal ini?”


“Tentu saja tahu. Sebenarnya aku takut untuk tinggal di tempat itu, aura yang dikeluarkan kakek membuat aku tertekan dan wanita yang dikatakan sebagai mama ku itu pun mengeluarkan aura yang cukup membuat aku takut, aku tidak mau kembali ke tempat itu”


“Sayang, anak cantikku, dengarkan Bunda ya, kalau kamu tidak mau kembali ke tempat itu tidak masalah, kamu masih punya kami yang mau menjadi orang tua mu. Andi dan Ayah apa kalian keberatan jika Azia menjadi bagian dari keluarga kita?”


“Mana mungkin kami keberatan sih Bunda, dari dulu juga Andi sudah minta agar Azia diadopsi, ya’kan?”


“Ayah juga tidak keberatan, Azia anak yang baik dan pintar jadi tidak ada alasan untuk menolak. Apa lagi dia lebih baik dari putra kita yang suka main-main dan malas belajar”


“Loh kok jadi aku sih Ayah! Udah ah, aku mau mandi!” Andi langsung pergi begitu Ayah sudah mulai menyindir kebiasaan buruknya.


“Azia, kamu tinggal di sini saja malam ini bagaimana?”


“Azia besok sekolah, Bunda. Lagian tugas-tugas dari klian Azia belum selesai Azia kerjakan, besok pagi mereka pasti datang untuk mengambilnya.”


“Kalau begitu kamu tunggu Andi selesai mandi dulu, biar Andi yang antar kamu pulang, ya sayang”


“Baik, Bunda”


Lalu Ayah pergi dan memanggil Andi untuk mengantarku pulang. Sambil menunggu Bunda memberikanku banyak cemilan katanya aku terlalu kurus, Bunda juga meminta aku untuk berhenti diet karena aku terlalu kurus. Apa padahal aku tidak diet tapi entah kenapa aku tetap terlihat terlalu kurus di depan semua orang, aku banyak makan tapi aku tidak tahu kemana makanan itu hingga tidak bisa menambah berat badanku.


“Ayah jahat banget, padahal aku mau istirahat, tapi malah di suruh keluar lagi. Azia, ayo kita berangkat sekarang!” Andi terlihat kesal dan dia terus berjalan keluar tanpa menunggu aku.


“Anak itu memang seperti itu kalau istirahatnya di ganggu. Azia, hati-hati di jalan dan jangan terlalu dipikirkan soal yang tadi, ya sayang!”


“Baik, Bunda”


Bersambung….


Jangan lupa untuk vote dan like dari kalian. Selamat membaca dan semoga hari kalian menyenangkan.