
“Baiklah, ayo berangkat” Dia melepas pelukannya, lalu bangun dengan tangan menghapus sisa-sisa air matanya.
“Makananmu?”
“Aku sudah kenyang sayang, ayo pulang, aku ingin istirahat di tempatmu sebelum masuk kelas sore”
“Eum, terserahlah.” Karena restoran yang kami kunjungi hari ini milik Bibi Aurel, karenanya aku dan Bastian tidak perlu membayar makanan yang kami pesan.
***
Ucapan Bastian saat di restoran beberapa waktu lalu ternyata benar-benar membuat ku dalam masalah besar kali ini. Tiba-tiba sekretaris kakek memintaku untuk menghadap keket di rumah utama, yang mana biasanya jika aku sudah dipanggil ke rumah utama maka artinya akan ada pembicaraan serius dalam pertemuan tersebut.
Rumah utama…
Begitu sampai di rumah utama aku langsung diarahkan menuju lantai dua, tepatnya di ruang kerja milik kakek. Kakek duduk di kursi kerjanya dengan tangan sibuk mengelap batu giok berbentuk kura-kura kesayangannya, dia menatapku dengan tatapan dingin dan tajam seperti biasanya. Aku menarik kursi yang berhadapan langsung dengan kakek, rasanya aku ingin kabur saat kami sudah berhadapan tapi, aku tidak punya keberanian untuk kabur lagi setelah banyak ancaman yang kakek berikan hanya agar aku tetap tinggal di keluarganya.
“Bastian sudah membicarakan masalah peresmian pertunangan kalian, tapi kakek rasa seharusnya kamu menikah saja, bukankah itu lebih baik dari sekedar kembali bertunangan.” Ujarnya dengan nada datar dan mata yang fokus membersihkan batu giok kesayangannya.
“Usiaku masih 20 tahun, aku tidak ingin menikah dengan alasan apapun. Untuk masalah peresmian pertunangan itu pun aku tidak mau.” Ucapku dengan tegas.
Jujur takut bukan lagi yang aku rasakan saat ini, hanya rasa muak dan marah yang sedang aku pendam dalam-dalam hingga suatu hari aku bisa meluapkannya.
“Kenapa tidak mau? Apa kamu masih memikirkan pria itu? Lupakan dia, dia tidak cocok untukmu”
“Memangnya siapa yang cocok untukku? Si anak manja itu? Dia tidak berguna, hanya membuat aku repot dan emosi saja”
“Setidaknya dia lebih muda dari pria itu, dan dia merupakan ahli waris tunggal perusahaan Van Grup, dengan bimbinganmu dia akan menjadi lebih dewasa dan layak menjadi suami dan pemimpin Van Grup di masa depan.” Ucap Kakek dengan mata kini menatapku.
Aku menghela napas panjang, jujur bicara dengan kakek itu seperti naik turun gunung tanpa henti, benar-benar melelahkan, “Kenapa harus aku? Cucu kakek yang belum menikah kan masih Ada Hui Lu”
“Dia sudah punya calon suami, lagi pula dia itu lebih tua 3 tahun dari Bastian”
“Kenapa yang lain boleh memilih pasangannya? Kenapa aku tidak? Kenapa?” Tanyaku kesal.
“Jaga nada bicaramu Azia Mutiara! Bersikap sopanlah di depan orang tua.”
“Kenapa anda melakukan ini pada saya tuan Zhong Xu! Apa saya benar-benar cucu anda? Kenapa saya tidak merasakan ikatan keluarga sedikitpun dengan kalian? Saya lelah diatur, saya juga ingin hidup bebas seperti yang lain”
“Hentikan omong kosongmu! Kamu itu cucu kandung kakek, kakek seperti ini agar kamu bahagia, para sepupumu pandai memilih pasangan hidup tidak seperti kamu dan ibumu itu, andai dia mendengarkan du dari dulu untuk menikah dengan Mexinus, mungkin dia tidak harus merasakan banyak penderitaan dulu. Tapi karena kegilaannya pada seorang profesor baru universitasnya saat itu, dia malah meninggalkan keluarga dan kehidupan mewahnya hanya untuk memulai hidup dari bawah dengan pria yang usianya jauh lebih tua darinya, sangat disayangkan. Tapi lihat sekarang, setelah menikah dengan Mexinus, dia bahagia hingga sekarang” Jelasnya panjang lebar namun aku menatap dingin dengan menyimpan sejuta rasa kesal saat kakek mengatakan seolah Papa kandungku tidak pentas dengan putrinya padahal jika kecelakaan waktu itu tidak terjadi mungkin aku masih punya keluarga lengkap dan hidupku akan sempurna apalagi Papaku Darwin merupakan pekerja keras dan orang sangat cerdas hingga dia bisa membangun perusahaannya sendiri di bidang obat-obat medis.
“Acara peresmian pertunangan kalian akan dilaksanakan seminggu sebelum kamu berangkat ke Inggris.” Putusnya tanpa peduli dengan pendapatku.
“Aku tidak mau!” Tegas ku padanya. Aku terlalu marah hingga tidak sadar sudah berdiri dan menatap tajam ke arah kakek.
“Duduk!” Perintahnya padaku, yang mana perintah itu langsung aku laksanakan.
“Baik, tapi aku mau Bunda dan Ayah ikut sebagai anggota keluarga!” Pintaku.
“Apa yang kamu maksud itu orang tua Andi, tunangan Margaret?”
“Iya, mereka sudah seperti orang tua bagiku, jika mereka hadir sebagai bagian dari keluargaku maka aku tidak akan membantah atau mengacaukan acara itu, tapi kalau kekek tidak setuju, aku pastikan akan mengacaukan, aku tidak peduli jika harus jadi sorotan publika dan menjadi bahan gosip” Tegasku dengan mata ku menatap tajam pada kekek dan dibalas dengan tatapan yang sama oleh kakek. “Aku tidak peduli dengan semua yang akan terjadi setelahnya, aku ingin dunia tau kalau tuan Xu tidak pantas disebut seorang kakek, karena dia rela menukar bisnis dengan kebahagiaan cucunya”
Kakek berdiam cukup lama hingga matanya mulai diarahkan ke arah gok yang sedari tadi dengannya. “Baiklah, jika itu maumu. Semua akan diurus oleh sekretaris kakek, kamu hanya perlu terima beres saja. Dan ingat untuk tidak mengacaukan atau kabur, paham?”
“Iya, paham. Apa sekarang aku boleh pergi?”
“Iya, silahkan. Ingat minggu ini kita akan makan bersama di sini” Ucapnya yang aku balas anggukan, lalu aku pun keluar dari ruangan kakek.
Acara makan malam kali ini terbilang besar karena akan mengundang pihak keluarga Bastian, Keluarga Andi, keluarga Margareta, dan tentu saja keluargaku, pertemuan sebelum kami berempat resmi bertunangan dengan pasangan masing-masing. Bahagia, Mungkin hanya Andi dan Margareta yang merasakannya sedangkan aku dan Bastian, mana mungkin. Aku tidak tau bagaimana perasaan Bastian terhadapku tapi, aku cukup tau kalau selamanya hatiku tidak mungkin untuknya.
Dring… Dring… Dring..
Aku melihat ke arah layar handphone milikku tertera di sana ‘Tunanganku’ tentu saja tidak lain adalah Bastian. Sebenarnya seminggu lalu nama kontaknya masih menggunakan nama aslinya tapi, malam saat jawal kami kencan atau lebih tepatnya hanya makan malam biasa itu Bastian memaksa untuk aku meminjamkannya handphoneku dan ternyata dia meminjamnya untuk mengubah nama kontaknya di handphoneku.
Kesal, rasanya memang sangat mengesalkan tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memukulnya karena takut dia mengadu pada Bibi Aulia atau kakek seperti beberapa tahun yang lalu, dan akibat dari aduannya itu aku mendapatkan ceramah panjang dan hukuman yang cukup membuatku semakin membencinya.
Setelah membiarkan handphone milikku berdering beberapa kali, akhirnya aku menjawab panggilan itu, “Eum, ada apa?”
“Kamu dimana? Ayo jalan-jalan, aku ingin pergi ke Jepang sore ini, aku ingin kamu ikut.”
Aku menghela nafas lelah, jujur ini salah satunya kenapa aku muak dengan Bastian, dia sama seperti kakek, suka mengambil keputusan tanpa memikirkan pendapatku terlebih dahulu. “Aku tidak bisa, aku punya beberapa pekerjaan yang harus diurus sebelum ke Inggris” Alasanku jujur.
“Kenapa begitu, ayolah…. Kamu kan bakalan meninggalkan aku dalam waktu lama, setidaknya kita butuh lebih banyak waktu berdua sebelum LDR” Rengeknya padaku.
“Apa tidak bisa lusa saja?” Tanyaku menahan kesal.
“Tidak, aku ingin hari ini. Aku sudah menyiapkan semua, termasuk pakaianmu, para surahanku sudah mengemasi barang-barangmu, kita tinggal berangkat saja” Ujarnya terdengar sangat antusias dan semangat.
“BASTIAN! KENAPA KAMU SELALU MELAKUKAN SESUKA HATIMU TANPA MEMIKIRKAN PENDAPATKU, APA KAMU SENGAJA INGIN MEMBUAT AKU KESAL?” Bentakku padanya, lalu aku memutuskan panggilan itu sepihak dan memblokir nomornya.
‘Apa dia memang tidak punya otak untuk berpikir, kenapa dia melakukan semua hal seenaknya saja, ini sangat menjengkelkan’ omel ku dalam hati.
*
*
TETAP DUKUNG KAMI DENGAN MEMBERIKAN VOTE DAN FOLLOW AKU KAMI, TERIMAKSI SAMPAI JUMPA DIEPISODE BERIKUTNYA