Obsession Of Love

Obsession Of Love
Mangga Andi



“TUNGGU DULU!!!” Aku memberi kode pada teman-teman untuk memutar video.


“Apa yang harus kita lakukan untuk menghancurkan Azia?”


“Itu gampang, kalian sebar saja rumor kalau dia itu pembawa sial, pasti orang-orang akan percaya terlebih, orang-orang tolol itu pasti akan percaya dengan rumor yang kalian sebar.”


“Apa kamu yakin?”


“Yakin lah! Aku pernah mencobanya, kalian tinggal lebih-lebihkan saja keadaan yang ada, aku dengar neneknya sedang sakit, bilang saja kalau itu kerena Azia membawa sial”


“Eh, iya juga boleh lah, kami akan coba seperti yang kamu suruh”


“Bagus, ini uang untuk kalian, lalukan semua cara agar dia keluar dari sekolah itu, paham?!”


“Siap, nona!”


Setelah melihat video itu, orang tua dari anak-anak yang ada dalam video itu langsung pergi menemui aku dan meminta maaf atas masalah itu. Acara tetap di lanjutkan oleh teman-teman, mereka memberikan edukasi mengenai cara memilah berita dan mengatasi masalah anak-anak meraka yang ikut dalam beberapa kasus pembullyan yang kami kupas sekalian di acara itu. Meski banyak yang tidak serius mendengar apa yang mereka coba sampaikan pada orang tua murid yang hadir tapi, semuanya merasa puas dan lega karena dengan selesainya acara itu, kami semua berkemungkinan menghilangkan masalah pembullyan yang di lakukan oleh kakak kelas pada adik-adik kelasnya.


“Azia, kepala sekolah menyuruh kamu datang ke ruangannya sekarang.”


“Ada masalah apa lagi?”


“Entah, lihat aja dulu, aku ke sana dulu, ya!”


“Oke”


Aku pergi ke ruang kepala sekolah, begit membuka pintu aku di kaget kan dengan orang tua murid dan juga kakak kelas yang sedang berdiri di dekat meja kepala sekolah.


“Ada apa, pak?”


“Mereka semua ingin minta maaf dan meminta kamu untuk tidak memperpanjang masalah ini”


“Benar, nak Azia. Kami sangat menyesal karena gagal dalam mendidik anak kami tapi, kami tidak ingin masa depan mereka menjadi lebih buruk lagi jika malah ini di perpanjang.”


“Saya mengerti, mengingat mereka sebenar lagi lulus saya juga tidak ingin memperpanjang masalah tapi, sayang meminta para orang tua lebih tegas pada anaknya, saya bukan malaikat yang baik hati karena itu, saya ingin mereka tetap mendapatkan hukuman”


“Apa yang harus kami lakukan pada mereka?” Tanya seorang ibu padaku.


Sebenarnya aku tetap merasa iri pada ke empat anak itu, mereka punya orang tua yang akan datang ke sekolah kalau mereka terkana masalah dan meminta maaf mewakili mereka.


“Saya kenal dengan salah seorang psikiater, dia adalah orang tua dari murid saja, saya pikir kalau mereka berempat perlu menemui beliau di akhir pekan sebelum ujian. Saya ingin kebiasaan dan perilaku mereka berubah setelah berkonsultasi pada beliau.”


“Kalau itu saya sangat setuju, yang lain bagaiman?”


“Kami semua setuju”


“Bagus kalau begitu, saya akan terus memantau pertemuan mereka, kalau begitu saya permisi dulu karena masih ada kelas hari ini”


“Rasakan kalian! Emang enak gak bisa jalan sama pacar di akhir pekan hahahhahah… Ini akibatnya kalau kalian membuat aku kesulitan saat pacaran!” Aku tertawa dalam batin merasa gembira setelah menyita akhir pekan dari anak-anak yang menyebarkan rumor aneh tentang aku beberapa minggu terakhir ini.


Setelah membuat keributan hari itu kami semua tetap harus belajar seperti biasa, mendengar materi dan juga mengerjakan tugas. Setelah hati itu semua kembali ke titik semula, tidak ada lagi mata yang melihatku dengan tatapan yang aneh dan pastinya hatiku merasa lega.


***


“HII!”


“Andi sialan! Bikin kaget aja!”


“Lagian siang-siang gini bukannya ke kantin malah nongkrong di sini sambil ngelamun, lagi mengelamunin apa sih?”


“Gak ada”


“Pakek bohong lagi! Udah bilang aja kalau mau mangga!”


“Andi kamu kok peka banget sih?”


“Ya gimana gak peka, dari sekian banyak tanaman di taman ini yang kamu tatap cuma pohon mangga yang tingginya gak seberapa ini”


“Iya, aku lagi pengen banget makan mangga”


“Kamu ngidam?”


“Mau aku pukul?”


“Ya habisnya kamu kenapa pengen makan mangga kayak orang ngidam aja?!”


“Aku bukannya mau makan mangga muda, aku mau makan mangga yang udah mateng di pohonnya, pasti enak banget, apa lagi kalau di buat jus, beh mantap jiwa”


“Kalau mantap jiwa kenapa gak ke rumah ku aja?”


“Jangan bilang kamu sudah mengamati pohon mangga ku sejak lama?”


“Yap! Kamu selalu tahu pikiranku, aku sudah lama menunggu kamu ajak ke rumah, aku pengen banget metik mangga terus langsung makan di tempat, pasti enak banget!”


“Dasar ratu rakus, makanya hari ini kamu pulang bareng aku aja”


“Siap”


“Pacar kamu gimana?”


“Udah, itu gak usah di pikirkan, lagian dia biasanya izinin kalau itu sama kamu”


“Terserah deh, lagian dia pacar kamu bukan pacarku”


“Eh, jangan bilang kalau kamu suka sama pacarku? Andi, jujur aja deh! Kamu suka’kan sama pacar aku’kan?”


“Kamu gila apa? Gak mungkin lah aku suka sama pacar kamu, dia itu gak setampan aku tahu! Lagian aku ini cowok normal”


“Dasar narsis! Kalau normal kenapa kamu jomblo?!”


“Hai! Jangan pernah menghina status jomblo ku ini, aku jomblo karena belum menemukan cewek yang pantas jadi pacarku, aku terlalu populer makanya banyak cewek yang ngelamar posisi jadi pacarku, hanya saja aku tidak tertarik”


“Udah narsisnya? Aku mau ke kelas, males dengerin ocehan kamu itu!”


“Hai, aku gak narsis! Azia tunggu dulu! Aku belum selesai ngomong!”


Aku benar-benar males tingkat akhir mendengar ocehan Andi soal ketampanan dan kepopulerannya yang selalu dia sombongkan padaku.


“Dasar jomblo gak laku, sok bilang kalau dia lebih tampan dari kak Alex ku, dia pikir dia siapa?! Huh! Dasar menyebalkan, aku yakin dia menyukai kakak Alex ku, awas saja kalau dia mencoba menggoda pacarku nanti!”


Setelah pelajaran terakhir selesai Andi menungguku di depan kelas, dan kami pergi bersama-sama ke parkiran.


“Kamu gak ada kegiatan OSIS?”


“Gak lah, kan gak mungkin selalu ada kegitan, gimana hari ini?”


“Apanya?”


“Ya pelajarannyalah!”


“Biasa aja”


“Gak ada yang cari masalah sama kamu lagi’kan?”


“Gak, tenang aja! Lagian setelah kejadian waktu itu semua kembali seperti biasa dan laciku kembali di penuhi dengan surat cinta”


“By the way, udah izin belum sama pacar kalau hari ini pulang sama aku?”


“Udah! Aku pikir kamu mau nanya soal surat itu”


“Rencana sih iya tapi, tiba-tiba kepikiran yang lain. Jadi kamu balas semua surat yang kamu terima?”


“Iya, lagian aku suka banget sama puisi dan surat cinta dari mereka.”


“Gila! Artinya kamu php-in anak orang dong?”


“Gak tu”


“Apanya engga, kamu balas surat mereka artinya memberikan harapan, dasar kamu ini!”


“Enggak! Aku gak bilang apa-apa selain surat atau tulisan dia bagus itu aja kok”


“Sama aja!”


“Beda!”


“Sama!”


“Ku bilang beda ya beda! Aku pukul nih kalau kamu membantah lagi!”


“Iya udah beda deh beda! Sekarang ayo naik”


Setelah itu kami pun pergi ke rumah Andi dan begitu sampai aku langsung ke belakang rumahnya dan melihat langsung mangga yang sudah siap di petik. Rasanya aku melihat surga mangga, aroma dan bentuknya yang besar menggugah mulutku untuk mencicipinya, lambungku seakan berterika meminta aku segera memanjat dan memetik buat mangga itu. Aku kembali ke dalam rumah dan meletakkan tasku lalu mengganti rokku dengan celana olahraga yang sebanarnya sudah aku persiapkan jauh-jauh hari, jikalau-kalau si Andi mengajakku ke rumahnya untuk memetik mangga miliknya.


Bersambung....


Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan, kalau ada kesalahan bisa tulis di komentar agar bisa di perbaiki. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dari kalian😁😁😁