Obsession Of Love

Obsession Of Love
Kepergok



“Oi!!!!” Andi berteriak di belakang aku dan membuat aku benar benar kaget.


“Astaga Andi! Kamu udah gila, ya? Bagaimana kalau aku jantungan terus mati?”


“Yaudah, nanti aku bantu siapkan pemakamannya deh!” Ucap Andi sambil tertawa.


“Dasar menyebalkan!” Aku  mengambil ranting yang ada di bawah meja lalu memukul Andi.


“Azia! Sakit! Curang banget sih kamu, masa pukul nya pakai ranting!”


“Biarin, lagian siapa suruh kamu nyebelin, udah jadi mana makanannya? Aku belum makan siang ni!” ucapku sambil mengelus perutku yang sedang keroncongan.


“Makan aja di pikirin, dari pada bahas makan nih lihat!” Andi menunjukkan grup obrolan di WA-nya padaku”


“Apa nih?” Aku tidak mengerti apa yang ingin Andi tunjukkan padaku lalu ketika aku melihat obrolan itu aku sangat kaget.


“Andi apa maksud kamu?! Kamu yang buat grup ini? Masa namanya grup pacar Azia? Kamu gila, ya?”


“Ya enggak lah! Udah baca aja percakapan itu dulu nanti kamu baru protes” Andi menyodorkan handphone nya padaku.


“Gak, aku gak mau baca sebelum kamu ngaku kalau kamu yang buat grup ini” Aku berusaha menolak tapi, sebenarnya aku sedikit penasaran hingga mataku dan tanganku tidak bertindak sejalan, tanganku menolak tapi mataku masih bisa membaca pesan pada layar handphone Andi yang masih menyala.


“Bukan aku yang buat Azia si ratu rakus ku! Lihat ni aku anggota bukan admi, paham?!”


Andi menunjukkan daftar anggota grup dan semua anggotanya aku tidak kenal kecuali Andi.


“Terus ngapain kamu ikut grup anek ini? Jangan-jangan…”


“Jangan-jangan apa?” Andi mengerutkan dahinya.


“Jangan-jangan selama ini kamu suka aku”


“Uuek, muntah perut aku mules gara-gara ucapanmu yang sangat menjijikan itu! Aku suka kamu? Yang benar aja, kamu tu bukan tipeku banget! Kamu itu udah rakus, kejam, suka maksa, gak ada imut-imutnya lagi!”


“Hina aja terus biar nanti hutangnya aku tagih sama bunda mu!” Aku sangat kesal pada ucapan Andi yang kelewat jujur.


“Ish! Kamu ini kalau ngancem nya selalu itu, gak ada yang lain apa?”


“Ada! Mau aku tambah tugasnya pas les dan aku tambah juga jamnya, mau kamu kita belajar sampai jam tidur?”


“Jangan dong! Tega benget sih jadi orang! Udah, jangan buang waktu sekarang baca aja isi percakapannya”


“Iya, iya bawel!” Lalu aku membaca percakapan mereka.


Awalnya mereka hanya sekedar memujiku hingga salah seorang anggota mengirim foto kak Alex yang sedang berpelukan di sebuah restauran dengan seorang wanita yang aku sendiri tidak pernah melihatnya.


“Ini pasti salah! Kak Alex gak akan mungkin melakukan hal ini padaku, dia tidak akan pernah melakukan ini”


“Azia, lihat dong baik-baik ini bukan editan, tapi emang kenyataannya pacar kamu itu genit, gak setia dan yang paling utama dia itu gak tahu diri!” Ucap Andi dengan penuh semangat menghina kak Alex, kayak ada dendam pribadi yang entah apa.


“Tunggu dulu, bukannya dulu kamu sering belain dia? Kenapa tiba-tiba? Apa karena dia pernah mukulin kamu?”


“Ya enggaklah! Lagian kalau soal itu sebenarnya dia udah minta maaf dari dua hari setelah kejadian, lagian emang salahku karena mancing dia duluan, waktu itu aku cuma mau ngetes aja apa benar kata Fara kalau dia cemburu sama kedekatan kita, ya gitu deh kisah singkatnya”


“Oh… Sudah aku duga, kamu memang biang keladinya, bagus deh kalau kalian udah baikan, aku kan jadi lega!”


“Tapi tetap aja, kali ini aku mendukung Mia dan Fara yang meminta kamu putus, lihat kelakukan anak itu di belakangmu! Lihat tu wajah sok tampannya, sok tebar pesona ke semua perempuan, dasar laku-laki gak tahu diri!”


“Andi! Sekali kamu menjelek-jelekkan pacar aku, aku pukul lagi nih!” Aku mengacaukan ranting pada Andi.


“Jangan dong! Sakit tahu! Udah, dari pada ribet kenapa kamu gak tanya aja ke si Alex gak tahu diri itu setelah pulang sekolah?”


“Oke! Kalau itu ternyata cuma fitnah, kamu harus terima hukumannya dan kamu wajib keluar dari grup sesat itu, paham!”


“Oke gak masalah, kalau benar kamu harus mau mengurangi jumlah hutangku, gimana?”


“Enak banget kamu kalau gitu! Tapi yaudah deh, lagian aku percaya sama kak Alex dia pasti gak akan melakukan hal itu”


Setelah pelajaran terakhir selesai, aku langsung menunggu Andi di parkiran seperti biasa. Tapi ternyata menunggu anak itu jadi hal yang bikin naik darah karena tiba-tiba OSIS melakukan rapat dan hal itu membuat aku menunggu Andi cukup lama.


“Kok dia lama banget sih!” Aku benar-benar kesal karena aku sebenarnya sudah sangat lapar.


“Azia, udah lama?” Tanya Andi tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Udah tahu malah nanya dasar Andi menyebalkan! Udah cepat berangkat, aku udah lapar”


“Jadi kamu mau makan atau mau ke rumah sakit?”


“Dua-duanya dong! Aku mau beli roti di jalan dan terus nanti kita ke rumah sakit”


“Oke, tapi aku di beliin juga ya?!”


Aku naik ke motor dan Andi masih saja terus mengajakku ngobrol di jalan meski matanya fokus ke jalan tapi mulutnya itu gak bisa di tutup.


“Dasar gak bermodal, dikit-dikit minta di traktir!”


“Asal kamu tahu Azia, aku cuma mintanya ke kamu aja karena kamu spesial” ucapnya dengan nada seolah memuji dengan ekpresi wajah yang sok serius meski menurut aku dia selalu gagal kalau dalam berekting.


“Spesial hidung mu! Udahlah Andi, aku udah kebal sama rayuan mu, udah nanti aku traktir dan kurang-kurangin tu main gamenya, paham? Uang bulanan mu habis di pakai untuk itu, ya’kan?”


“Gak juga, beberapa untuk sekolah, traktir pacar, modal jalan-jalan, terus untuk bahan makanan yang ingin aku masak itu aja” Jelasnya dengan wajah sok polos.


“Kamu ini, kalau pacarmu di traktir, kalau aku gak pernah” Ujarku sedikit kesal.


“Tapi pacar aku kan gak pernah tu aku kasih makanan yang aku buat sendiri, ya’kan?”


“Oh jadi kamu mau hitung-hitungan nih ceritanya sama aku?”


“Ya bukan itu tapi, kamu duluan kan yang mulai?”


“Au ah, gelap!”


"Terang gini kok dibilang gelap" Ucap Andi dengan wajah sok polos dan tidak peka yang membuat aku ingin memukulnya.


Saat sedang asik ngobrol kami pun sampai di sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumah sakit.


“Kamu diam di sini aku akan beli makanannya!” Lalu aku berlari masuk ke dalam dan beberapa menit kemudian aku keluar dengan sekantong cemilan dan beberapa roti di dalamnya.


“Wah gila! Kamu nge-borong?” Ucap And dengan ekpresi yang memancing emosiku.


“Apa ada masalah, hah!! Inikan uang aku, kamu diam aja deh!” jawabku kesal.


“Oke, oke bos!”


Lalu kami meneruskan perjalanan kami hingga sampai di rumah sakit.


“Azia, aku tunggu di sini aja, ya?”


“Kenapa gak masuk?”


“Gak mau ikut-ikutkan lah dalam perang dunia kalian, aku mau hidup tenang aja di sini, udah aku tunggu di sini dan selesaikan masalah kalian.”


“Oke tapi, kamu jangan sentuh makanan itu sebelum aku, paham?!”


“InsyaAllah deh!” Ucap Andi sambil tersenyum, senyumnya membuat aku khawatir pada cemilan ku yang mungkin saja akan dilahap oleh Andi sendirian.


Lalu aku pergi dengan cepat mencari kak Alex di dalam rumah sakit, baru juga masuk ke lantai pertama dan aku malah di kejutkan dengan kejutan yang luar biasa. Sebuah pemandangan yang tidak pernah aku harapkan terjadi di depanku, wanita yang ada di foto yang tadi aku lihat di grup sesat milik Andi malah ada di depanku dan dalam keadaan sedang berpelukan dengan kak Alex. Aku langsung berputar arah dan pergi kembali ke Andi.


“Andi!” Teriakku dari jauh.


“Sorry Azia! Aku Khilaf, mereka duluan yang menggodaku terus perutku juga udah teriak-teriak dari tadi! Aku minta maaf, ya?”


“Lupakan itu, ayo kita pergi!”


Aku hampir tidak bisa membendung air mataku lagi di depan Andi.


“Azia, kamu kenapa? Si Alex apa-in kamu?” Andi letakkan cemilan di tangannya dan memasukkan kembali ke dalam plastik.


Aku tidak bicara lagi saat Andi menanyakan keadaan aku saat itu, Andi seakan tahu kalau aku akan menangis lalu dia langsung memeluk aku. Aku menangis dalam pelukan Andi cukup lama, saat itu perasaanku campur aduk karena kak Alex sudah sering kali membuat aku sakit hati dan ini adalah hal yang paling parah dari sebelumnya.


Bersambung…


Jangan lupa favoritkan, like, dan vote ya teman-teman.