Obsession Of Love

Obsession Of Love
Masalah part 1



Aku pikir perdebatan kami yang terakhir telah membuat dia berhenti memikirkan hal gila tentang hubunganku dan Alham. Aku sedikit lega karena kami tidak lagi memperdebatkan hal itu selama beberapa hari terakhir.


“Kak, aku boleh pinjam mobilnya untuk hari ini?” Pintaku sambil menarik kunci mobil di meja dekat tempat tidurku.


“Kenapa?” Tanya Alex yang masih merapikan kemejanya.


“Apa tidak boleh?”


“Bukan begitu, tapi bagaimana mobilmu? Apa sudah diperbaiki?”


“Itu sudah lama selesai tapi aku meminta kepala pelayan membawanya ke rumah utama.”


“Rumah utama?” Alex melirik ke arahku seolah bertanya ‘maksudmu apa’ dari mata dan mimik wajahnya.


“Maksudku rumah peninggalan orang tuaku.” Jawabku cepat.


Dia terlihat lega, lalu kembali berjalan mendekatiku yang masih duduk di kasur.


“Lalu bagaimana aku berangkat?” tanya Alex sambil mencubit maja pipiku.


“Tentu saja bersama sekretarisku. Alham sudah menunggu di bawah, kak Alex bisa berangkat sekarang” Ucapku dengan tangan mencoba melepas cubitan yang sedikit mengganggu itu.


Dia terdiam menatapku.


“Ayo berangkat, dia sudah menunggu. Aku mendorong Alex keluar, lalu aku masuk lagi ke kamar untuk mengambil jas dokter Alex. Aku mengantarnya hingga masuk ke mobil bersama Alham, aku harap mereka bicara baik-baik di perjalanan.


“Hati-hati di jalan” Ucapku sambil menutup pintu mobil untuk Alex.


Dia benar-benar diam seolah membisu.


Begitu mobil itu melaju menjauh dari rumah aku segera menghampiri mobil Alex. Sejujurnya aku tidak berniat membuat Alex memperbaiki hubungannya dengan Alham, tapi aku hanya ingin menempelkan alat pelacak di mobilnya agar aku selalu tahu dimana dia berada.


Setiap hari selalu ada laporan tentang apa yang dilakukan Alex dan dengan siapa dia melewati harinya selama di luar rumah. Aku merasa aku tidak sia-sia membuang uangku pada organisasi yang misterius itu, setidaknya aku bisa menyingkirkan dokter yang mencoba merayu suamiku dalam beberapa hari ini. Tadinya aku ingin membeli saham rumah sakit itu agar aku bisa mengawasinya tapi, situasi perusahaan sedang membutuhkan lebih banyak dana untuk bisa berkembang dan bersaing dengan yang lain di pasarnya, terpaksa aku menunda hal itu. Tapi setidaknya aku punya anggota DoS yang terus mengawasi suamiku dan menyingkirkan setiap orang yang mencoba memiliki suamiku.


*


*


*


Siang itu aku sudah cukup lelah dengan rapat, aku pikir untuk makan siang di kantor dan menikmati rasa tenang di ruangan ku. Saat akan memesan makanan lewat aplikasi kantor, aku sedikit teringat kalau pagi ini aku tidak sarapan bersama dengan Alex.


“Apa aku ke rumah sakit dan makan bersama suami tempan ku?” Gemaku.


“1 jam lagi kita akan ada meeting dengan klien. Tolong tidak pergi terlalu jauh atau kita akan mendapat masalah” Ucap Alham yang entah sejak kapan sudah berada di depan mejaku.


Dia meletakkan bekal di mejaku dan segelas jus, aku tebak jus itu adalah jus pir. Tidak ada yang terlalu tahu selain coklat aku juga tergila-gila pada buah dengan nama latin Pyrus communis dari genus Pyrus. Buah dengan daging putih mendominasi, benar-benar tidak pernah bisa aku tolak jika ada yang memberikannya padaku.


“Silahkan makan” Ujarnya sambil tersenyum kecil.


“Apa kamu sudah makan?” Tanyaku basa-basi.


“Belum, aku akan makan di mejaku.”


“Bawa saja makanan nya disini, kita makan bareng aja.” Tawarku.


“Akhirnya aku kenyang. Terima kasih atas makanannya” Ucapku tulus pada Alham yang duduk di depanku dan masih fokus pada makanannya.


“Awalnya aku pikir membiarkan kamu menggantikan indah akan jadi masalah untukku tapi… Sepertinya aku salah, kamu memperlihatkan kemampuan mu dan itu luar biasa. Kadang aku berpikir kita sudah bekerja bertahun-tahun karena aku terlalu terbiasa dan merasa percaya padaku akhir-akhir ini… Sepertinya kamu harus menjadi pegawai tetap.” Ucapku serius.


“Anda terlalu memuji, saya melakukan semua sesuai standar seorang sekretaris pribadi.”


“Bagaimana setelah dari Paris, kita bicarakan lagi bicarakan lagi soal kontrak kerjamu. Aku sangat suka caramu bekerja, kamu dan Indah bahkan tidak ada bedanya, aku merasa kalian adalah orang paling tepat untuk bersamaku.”


“Tentu saja.”


Dia tersenyum lalu mulai menutup kotak bekalnya.


“Terima untuk makanan hari ini” Kata yang tidak sadar aku ucapkan saat melihatnya membereskan semua kota bekal dan gelas dari mejaku.


“Sama-sama” Lalu dia keluar dari ruanganku dengan sebuah senyum tercarah yang tidak sengaja aku lihat saat dia akan berjalan keluar dari ruanganku.


“Apa aku salah lihat?” Aku sedikit mengulang ingatanku, “Sepertinya aku salah, tidak mungkin dia tersenyum bahagia hanya karena aku mengucapkan terima kasih” aku mencoba meyakinkan diri kalau aku salah lihat.


Beberapa jam berlalu dan rasanya sudah cukup lelah untukku, aku berharap waktu cepat berlalu agar aku bisa segera pulang ke rumah. Sayangnya saat waktu sudah menunjukkan untuk aku pulang, hujan malah datang dengan beberapa petir menemaninya turun ke bumi. Aku terlalu takut keluar kantor, aku hanya berdiam di lobby sampai Alham datang menghampiriku.


“Apa anda akan pulang?” Tanya melihatku yang terus menatap keluar tapi enggan melangkah dari tempat aku duduk.


“Eum, rencananya begitu tapi hujan mulai deras sekarang, tadi saat masih tidak deras malah ada beberapa petir yang membuat aku tidak bisa keluar dari tempat ini” Keluhku dengan membuat beberapa ekspresi cemberut.


Dia tersenyum melihatku yang memberut.


“Apa mau ikut dengan saya?” Tawarnya sambil perlihatkan payung di tangannya.


“Aku tidak tahu” Aku kembali memperhatikan jam di handphone lalu melihat ke arah luar. “Ku pikir memang harus pergi denganmu, aku tidak bisa memanggil suami ku keluar menjemputku dalam hujan deras begini. Ini terlalu berbahaya untuknya.”


“Anda sangat perhatian pada suami anda, ini sangat bagus” Ucapnya sambil tersenyum tipis.


“Tentu saja. Tentu saja, karena aku terlalu mencintainya. Ayo berangkat sekarang, aku tidak ingin lebih lama merindukan suamiku”


“Hahaha.. baiklah, saya akan segera mengambil mobil, anda tunggu di sini, saya akan segera kembali”


Lalu dia segera pergi, aku keluar dari kantor, menunggu dia di depan. Tak lama mobil jenis convertible datang dan menghampiriku, pria tinggi putih yang sebenarnya aku tidak berani menyebutnya tampan karena dia terlihat lebih cocok dengan kata ‘cantik’ dalam pikiranku.


“Ayo pergi” Ajaknya dengan nada lembut seperti biasa.


“Eum”


Kami masuk ke dalam mobil, entah dia merasa kalau aku kedinginan atau apa, tapi dia memberikanku jaket miliknya yang ada di bangku belakang, aku tidak berpikir dia perhatian atau apa, aku hanya pikir itu hanya formalitas atau hanya bentuk kesopanan saja.


Begitu sampai di rumah, hujan masih saja. Aku males turun dari mobil tapi aku tidak mungkin terus berada di mobil hingga hujan berhenti.


“Kita sudah sampai” Ucapnya.


“Aku tahu, beri aku payung mu, kamu tidak perlu mengantarku ke depan rumah.”


Dia segera mengambil payung dan memberikannya padaku. “Hati-hati dengan langkah ada” ucapnya dengan nada khawatir.


“Iya”