Obsession Of Love

Obsession Of Love
Makan siang



Awalnya Bastian hanya ingin mengajak Zuzu belanja baju dan mainan baru untuk mereka mainkan selama Zuzu menginap di tempat Azia, tapi pada akhirnya mereka malah sampai di Tayo Station, salah satu tempat wisata yang cocok untuk anak-anak terlebih yang sangat menyukai karakter bus Tayo. Disana Zuzu mendapatkan teman banyak teman baru dan Bastian pun ikut bermain dengan anak-anak itu hingga membuatnya jadi perhatian para ibu yang ada di sana. Mungkin karena ketampanan seorang Bastian atau karena cuma dia laki-laki yang mau bermain dengan kelompok anak kecil tanpa beban bahkan dia terlihat sangat menikmatinya.


“Pipi, Zuzu lapar” Ucapnya dengan tangan menekan perutnya.


Bastian pun melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 12 lewat, dia pun berhenti bermain dengan anak-anak itu lalu bangun dan menggendong Zuzu.


“Let's go home, my princess” Ucapnya pada Zuzu, “Say goodbye to your friends” Lanjutnya.


“See you next time friends” Ucap Zuzu sambil melambai pada teman-teman barunya dan di balas lambaian dengan senyum pada anak dan ayah yang sudah beranjak menjauh dari tempat itu.


Tadinya Bastian hendak pergi ke restoran dan makan berdua dengan Zuzu, tapi dia ingat kalau jadwal Azia senggak saat makan siang, dia pun memesan makan dari restorannya dan mengirimnya untuk Azia, sedang dia sedang dalam perjalanan menuju ke perusahaan Azia.


“Where are we going, Pipi?”


“Kita akan makan siang dengan Mimi, Zuzu mau makan siang bareng Mimi, kan?” Tanya Bastian dan dijawab dengan anggukan oleh Zuzu. “Bagus! Nanti kalau sampai di ruangan Mimi, kamu harus peluk Mimi dan bilang ‘ayo makan bersama’ paham kan?” perintahnya.


“Iya, Pipi. Zuzu paham.” Jawab anak itu dengan senyum polosnya.


Bastian tersenyum puas dengan jawaban Zuzu, “Kamu emang anak Pipi yang sangat pintar” Ucapnya dengan tangan mengelus pelan puncak kepala si kecil yang menggemaskan itu.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di parkiran perusahaan milik keluarga Xu.


“Mau Pipi gendong?” Tanya Bastian yang turun duluan dan membukakan pintu untuk Zuzu.


“Mau gendong!” Ucapnya sembari merentangkan tanga kecilnya ke arah Bastian, dengan cepat Bastian menyambutnya dan membawa Zuzu ke dalam gendongannya. Keduanya pun masuk ke dalam perusahaan, saat di lobi keduanya berpapasan dengan Lulu, sekretaris kedua Azia.


“Selamat siang tuan! Tuan Bastian, anda ingin menemui bu direktur?” Tanya Lulu dengan senyum formalitasnya.


“Iya, apa makanan yang aku pesan sudah sampai?” Tanya Bastian.


“Sudah, saya keluar untuk membeli minuman pesanan direktur”


“Oh, kalau begitu belikan juga untuk kami” Perintahnya pada Lulu.


“Tidak ada. Kalau begitu cepat beli, jangan buat kami menunggu” Ucapnya sebelum meneruskan langkahnya ke arah lift khusus direktur.


‘dasar anak sialan, lo cuma beruntung karena tunangan sama bu direktur, kalau enggak udah dari dulu gue depak lo, dasar sok berkuasa, dih najis banget, dia pikir dia siapa perintah-perintah gue, dasar menyebalkan’ geramnya dalam pikiran yang ditutup dengan senyuman formalitas yang jadi topengnya dalam dunia kerja.


Ruang Direktur…


Pintu dibuka terlihat seorang perempuan sedang sibuk membaca dokumen yang entah berisi tentang apa, ekspresinya terlihat sangat serius.


“Apa kamu belum selesai?” ucap Bastian yang telah meletakkan Zuzu di sofa dan menyiapkan makanan yang ia pesan di atas meja.


“Sedikit lagi. Kenapa kalian ingin makan di sini? Aku kan bilang jangan menggangguku”


“Kami hanya ingin makan siang bersama, bukan ingin mengganggu”


Azia hanya diam dan fokus pada dokumennya, lalu dia mendatangi lembaran terakhir yang ia baca. Ia bangun dan meninggalkan meja yang penuh dokumen itu, langkahnya terarah pada Bastian dan Zuzu yang kelihatan sangat menantikannya untuk ikut makan bersama.


“Anak Mimi sudah lapar ya?” Tanya Azia yang duduk disebelah Zuzu.


“Iya, Zuzu Lapar. Mimi, ayo makan”


“Iya sayang, ayo makan”Ucapnya pada Zuzu, “Setelah ini kalian akan ke mana?”


“Eum… Aku tidak punya jadwal, aku kan pengangguran. Aku mau tetap di sini tapi… tidak ada tempat tidur dan televisi atau sejenisnya” Ucap Bastian.


“Kalian bisa menggunakan ruang sebelah sana” Menunjuk pada pintu di sebelah rak buku, “ Aku baru tau di kantor kakek ada kamar, kalian bisa gunakan untuk bermain atau beristirahat kalau tidak mau pulang. Kalau mau pulang ya pulang saja” ucap Azia datar.


Bastian tersenyum sambil melihat ke arah pintu ruangan istirahat direktur, “Aku akan tetap di sini”


“Eum” Dehem Azia sambil menyuap makanannya.


Bersambung…