
“Mana bisa begitu. Bagiku Azia sudah seperti adik kecilku yang ingin aku lindungi, dari dulu dia memimpikan memiliki keluarga, lalu saat dia sudah menemukan keluarga kandungnya, apa aku harus membiarkan mimpinya ikut hancur hanya karena obsesi sesaatnya akan cinta seorang Alex? Hahaha… mana mungkin, aku tidak akan membiarkan Alex menjadi batu hambatan untuk kebahagiaan Azia yang sempurna.” Ucap Fara.
“Tapi…”
“Mia, jika kamu tidak ingin membantu, setidaknya diam saja” Tegur Fara.
***
Pikiran Azia kacau malam itu setelah berdebat dengan para sahabatnya, dia muak dengan dunia yang terus menghalangi cintanya pada Alex, tapi kali ini dia tidak ingin menyerah dengan alasan apapun. Dalam pikiran kacau mobil yang dia kendarai telah sampai parkiran hotel tempat Alex menginap, duduk termenung dalam mobil yang masih menyala, dia menatap dinding parkiran yang ada di depan matanya, entah berapa kali dia menghela napas berat.
“Apa aku harus turun?” Monolognya.
Entah dorongan dari mana, langkahnya jadi ringan saat mengingat wajah kekasihnya. Tanpa sadar kakinya sudah berada di depan kamar Alex, tanpa ragu dia mengetuk pintu berwarna hitam itu.
Tok tok tok
Klek!
Pintu terbuka, terlihat seorang pria dengan tinggi 190 cm, menggunakan baju kemeja putih yang dua kancing di atas terbuka dan memperlihatkan otot dadanya yang cukup sesi.
“Apa kakak sedang menggodaku?” Tanya Azia sedang senyum nakal dan tatapan terarah pada roti sobek yang menggiurkan di depan matanya.
Segera si pria memperbaiki kembali kemejanya, “Kenapa kamu tiba-tiba datang” Tanyanya heran, lalu ia menuntut perempuan cantik itu ke dalam kamarnya.
“Kenapa kakak membuka kemeja?” Tanya Azia pada pria yang berjalan mengambil baju dalam lemari.
“Aku berencana mandi sebelum tidur” Jawabnya.
“Mandi? Tidur? Serius? Kenapa ini kan masih jam 8.30, kak” Ucap Azia yang kini sudah duduk cantik di sofa dengan mata fokus pada pria yang sudah bersiap untuk masuk ke kamar mandi.
“Ini tidak akan lama” Ucapnya sebelum masuk ke kamar mandi.
Di tinggal Alex mandi, Azia menjadi sedikit bosan, dia mulai membuka handphone dan memeriksa beberapa dokumen yang dikirim lewat email oleh sekretarisnya.
Ting Ting!
Beberapa pesan masuk, pesan dari orang yang mendapat julukan tunangan dari seorang Azia hingga saat ini.
“Apa kamu tidak kembali ke pesta? Putrimu ingin berdansa denganmu, apa kamu bisa kembali?”
Azia hanya membaca pesan itu tanpa ada niat untuk membalasnya, dia tidak ingin kembali ke pesta apalagi ia tau kalau bertemu dengan Bastian tidak memberikannya ketenangan saat pikirannya sedang kacau.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka terlihat Alex dengan baju kaos hitam keluar sambil mengelap rambutnya yang basah.
“Mau aku bantu?” Tawar Azia.
Alex tersenyum kecil, “Tentu” Jawabnya sambil menyerahkan handuk putih itu pada Azia.
“Apa hari ini melelahkan?” Tanya Azia berjalan menuju tempat tidur dan mengambil handuk putih dari tangan Alex.
“Sedikit” Wajah Alex yang terlihat bahagia karena bisa bersama dengan kekasihnya malam itu.
“Kak”
“Eum”
“Bagaimana kalau kita…” Ucapnya ragu-ragu.
Tangan Azia berhenti mengeringkan rambut Alex, “Bagaimana kalau kita menikah saja?” Ucapnya.
“Hah?!” Alex terkejut, ia berbalik dan menatap mata kekasihnya itu. “Menikah? Kamu yakin? Aku tidak masalah, tapi bagaimana dengan tunanganmu itu, aku harap masalah kamu selesaikan dulu hubunganmu dengannya lalu kita menikah” Ucap Alex dengan nada lembut dan penuh ketenangan.
“Kalau kita menikah, pertunangan ini juga akan batal dengan sendirinya kak” Azia terlihat frustasi, dengan segera Alex memeluk perempuan yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Aku menginginkan hubungan kita itu di restui Azia. Aku tidak ingin dipandang jahat oleh keluargamu, aku tidak ingin menjadi pernikahan ini akan jadi masalah untukmu nantinya” Ucap Alex mencoba menenangkan Azia.
“Kak, kenapa kamu terdengar seperti tidak ingin menikah denganku” Ucap Azia yang tangisnya sudah pecah kali ini.
Dengan lembut Alex membelai rambut gadis cantiknya itu, di ciumnya kening Azia, lalu diusap air mata yang membasahi kedua pipi Azia yang sudah memerah.
“Jika bukan kamu maka aku tidak akan pernah menikah dengan perempuan lain Azia, Aku bersumpah demi nyawaku” Ucap Alex penuh keyakinan.
“Lalu kenapa kita tidak menikah sekarang?” Tanya Azia.
“Sayang, putuskan dulu hubunganmu dengan tunanganmu, lalu aku akan segera menemui orang tuamu untuk melamarmu. Aku benar-benar ingin memulai hubungan kita dengan cara yang baik” Jelasnya dengan nada lembut yang mampu membuat hati gelisah seorang Azia kembali tenang.
“Apa aku harus memutuskan hubunganku sekarang?” Tanya Azia dengan mata menatap lurus pada bola mata hitam Alex.
“Kapanpun itu tidak masalah untukku, Azia, hanya saja akan lebih baik kalau kamu bicara secara langsung dengan pria itu. Kalian memulainya dengan cara baik, maka akhiri juga dengan cara baik. Jangan tinggalkan dendam dan rasa bersalah dalam hatimu untuknya” Ucap Alex yang menarik kembali Azia kedalam pelukannya.
Beberapa menit berlalu Azia masih senang berada dalam pelukan hangat Alex, keduanya masih berpelukan meskipun kini sudah berbeda posisi, keduanya kini tidur di kasur sambil berpelukan, dengan tangan Alex senantiasa mengelus lembut rambut dari kekasihnya.
“Apa kamu sudah tenang, sayang?” Tanya Alex dengan memberi satu kecupan di kening perempuan dalam pelukannya itu.
“Eum” Angguk nya untuk mengiyakan ucapan Alex.
“Apa kamu lepar, sayangku?” Tanya Alex pada Azia yang dijawab dengan gelengan kecil. “Mau tidur?” tanya Alex lagi.
“Eum, aku ngantuk tapi… aku harus kembali, Zuzu akan mencariku nanti, aku berjanji akan membacakan dongeng untuknya”
Alex terdiam sesaat, tangannya juga berhenti mengelus rambut lembut dan halus milik Azia, “Kamu mengingatkanku padanya. Padahal aku sudah lupa” Ucap Alex yang terdengar menyimpan kesal.
“Mengingatkan padanya siapa?” Tanya Azia tidak paham dan juga penasaran Alex sedang mengingat siapa saat itu.
“Anak bernama Zuzu, apa dia anak kamu dan pria itu”
“Hah!” Azia terkejut hingga membuat dia bangun dan terduduk menghadap Alex. “Apa yang baru saja kakak katakan?” Azia menatap lekat pria yang kini juga ikut terduduk sepertinya, “Apa kakak pikir aku serendah itu sampai melahirkan anak di luar nikah?” Tanya Azia yang kecewa pada Alex.
“Aku tidak menganggap kamu rendah sayang, aku hanya bertanya. Karena pria itu di panggil ‘pipi’ dan kamu ‘mimi’ oleh gadis kecil itu. Kalian terlihat seperti keluarga sempurna hingga membuat aku sesaat saat kita berjumpa di toko kue waktu itu.”
Sejenak Azia terdiam, dia mulai mengingat apa yang terjadi di toko kue waktu itu. Benar, salahnya karena tidak menjelaskan status Zuzu pada Alex, tapi dia benar-benar tidak berniat menyembunyikan kebenaran tentang Zuzu pada Alex.
“Zuzu itu anak…” belum selesai Azia bicara, handphonenya malah terus berdering dan beberapa pesan juga masuk secara berturut-turut. “Maaf, aku harus menjawab panggilan ini” Ucap Azia sambil menjawab panggilan dari Bastian.
“Hallo! Ada apa?”
“Zuzu masuk rumah sakit. Aku sudah mengirim lokasinya, kamu segera kesini” Ucap Bastian yang terdengar panik.
“Ada apa dengan Zuzu?” Tanya Azia yang juga mulai panik.
“Aku tidak tau, tiba-tiba dia pingsan dan tubuhnya dipenuhi ruam merah, aku sangat panik, aku takut Azia. Tolong kamu segera kesini” Pinta Bastian yang terdengar seperti orang yang sedang menahan tangis.
"Kak, kita bicara lain kali, aku harus pergi" Azia mengambil tas kecil miliknya lalu berlari keluar dari kamar tanpa memperdulikan Alex yang hendak bertanya.
Bersambung...