
“Ya biasanya kamu tidak akan menaruh nasi di piringku atau membawakan aku air dingin saat aku baru pulang, ya meski aku suka tapi ini sedikit aneh”
“Baiklah, lain kali aku tidak akan melakukannya” Ucapku serius tanpa niat buat ngambek karena aku juga merasa aneh sama seperti kak Alex rasakan.
“Bukan begitu maksudku, aku hanya…”
“Alex, cepat makan dan jangan bicara lagi!” Bu Dewi memotong percakapan kami yang terlihat aneh itu.
Setelah makan, kami berempat bersantai di ruang keluarga setelah para lelaki selesai bersih-bersih. Bu Dewi memutar film drakor yang dia sukai dan terlihat jelas kak Alex dan Ayahnya terlihat terpaksa ikut menonton.
“Sayang duduk sini dekat ibu!” Pinta Bu Dewi padaku yang ditahan oleh kak Alex.
“Iya Bu” Aku langsung bangun dan duduk di sebelah Bu Dewi.
“Ibu apaan sih! Masa Azia di suruh duduk jauh dari aku sih?!”
“DIAM!” Bu Dewi membentak anak sulungnya itu dan menatapnya dengan tajam.
“Ayah! Ibu gak adil!” Kak Alex meminta bantuan pada Ayahnya.
“Udah sabar saja!” Ucap lembut Ayah kak Alex yang sudah biasa dengan sikap istrinya.
“Ayah kok gitu sih?! Belain dong aku!” Kak Alex mulai ngambek.
“Bu, apa gak papa kalau kak Alex ngambek?” Tanyaku dengan sedikit berbisik.
“Udah biarin aja dia, nanti baikan sendiri, kita nonton saja” Ucap bu Dewi dengan senyumnya yang entah kenapa selalu membuat aku tenang.
Lalu tanpa terasa sudah hampir jam 9 malam, aku meminta izin Bu Dewi untuk pulang karena sudah terlalu lama aku di sana, aku takut kalau orang rumah khawatir padaku. Kak Alex menawarkan diri untuk mengantarku pulang, sedangkan Bu Dewi seakan tidak ikhlas aku pulang saat itu.
“Sayang, apa kamu tidak bisa menginap saja?”
“Gak bisa bu, Azia kan harus sekolah besok”
“Sayang sekali, padahal Ibu ingin lebih lama bersamamu di sini”
“Lain kali Azia akan datang kok bu, akhir pekan ini Azia akan minta izin untuk menginap tapi, Azia sih gak yakin tante Mita mau izinin karena ini kan rumah kak Alex”
“Loh kenapa kalau ini rumah Alex?”
“Azia kan pacaran sama kak Alex, jadi tante mungkin akan ragu buat izinin”
“Bilang sama tante mu kalau nanti di akhir pekan Alex akan ibu kirim ke rumah bibinya”
“Loh kok ibu gitu sih?”
“Kenapa? Kamu ada masalah? Pokoknya kamu harus tinggal di rumah sakit atau di rumah bibi mu di akhir pekan ini, paham?!”
“Ayah!” Kak Alex melirik kearah Ayahnya dan meminta bantuan.
“Alex, nurut saja pada Ibumu”
“Kalian kok gitu sih sama anak sendiri, gak adil banget!”
Lalu kak Alex menarik ku masuk ke mobil dan membawaku keluar dari tempat itu dengan cepat. Dia kelihatan sangat marah, aku jadi takut untuk memulai percakapan.
“Kamu pasti mau nanya kenapa ibuku bersikap seperti itu, iya’kan” Tanya kak Alex padaku.
Sebenarnya aku gak mau nanya soal itu tapi karena dia udah mancing-mancing topik itu ya terpaksa aku bertanya karena sepertinya kalau aku bilang bukan nanti mood dia akan kembali memburuk.
“Iya, kenapa dia sangat menyukaiku?”
“Nah dulu, ibu pernah bermimpi punya anak perempuan tapi sayangnya yang lahir selalu anak laki-laki, sebenarnya ibu punya tiga anak, tapi sayangnya anak ke tiga meninggal sehari setelah dilahirkan dan itu juga anak laki-laki, ya setelah itu ibu menyerah punya anak karena dia terus melahirkan anak laki-laki.”
“Lalu kenapa harus aku? Bukannya banyak wanita yang dekat sama kakak?”
“Karena kamu menggemaskan, cantik, baik, pintar, sangat berprestasi dan yang paling penting ibu sudah sangat menyukaimu dari pertama bertemu, menurut ibu kamu adalah anak yang harusnya dia lahir kan”
“Masa sampai seperti ini sih?”
“Lalu Ayah kakak kenapa gak membela kakak tadi?”
“Oh kalau itu sudah jelas karena dia terlalu mencintai istrinya yang mudah ngambek itu, apa lagi kalau ibu sedang datang bulang dia akan mudah sekali ngambeknya”
“Benarkah? Aku pikir Bu Dewi nggak kayak gitu deh”
“Kamu kan gak tinggal di sana bertahun-tahun makanya kamu tidak tahu sifat tersembunyi ibuku”
Tanpa sadar kami sudah sampai di depan rumah.
“Sayang” Dia memanggilku dengan nada manja dan aku bisa menebak apa yang dia ingin ucapkan.
“Boleh?” Dia memberiku sebuah kode padaku.
“Apaan sih kak! Aku mau masuk nih!”
“Ya sudah, kalau gitu kamu langsung tidur nanti, ya?!” Dia terlihat kecewa dan itu membuat aku berat hati untuk meninggalkan dia dengan keadaannya seperti itu.
Saat aku membuka pintu mobil tiba-tiba saja aku berubah pikiran lalu aku mencium pipinya dan tentu saja aku tidak akan menunggu dia beraksi, aku langsung kabur meninggalkan dia di dalam mobil. Sumpah aku malu banget tapi, dia yang memperlihatkan wajah kecewanya itu membuat aku tidak tenang.
Begitu masuk ke rumah aku sudah di tunggu oleh tante Mita yang duduk di sofa bersama Mia dan Fara.
“Bagaimana?” Tanya mereka padaku yang baru masuk.
“Bagaimana apanya? Kalian sebenarnya kenapa? Kenapa masih di luar? Bukannya biasanya udah pada siap-siap tidur?”
“Kami nungguin kamu sayangku! Cepat duduk di sini.” Pinta Fara padaku.
“Ada apa?” Aku sangat bingung dengan sikap mereka.
“Kata Dewi kalian buat rencana untuk mengurus para pelakor, iya?”
“Loh kok Bu Dewi mengatakannya pada kalian?”
“Tentu saja karena tante dan bu Dewi-mu itu berteman sayang, ayo kamu sudah siapkan apa untuk serang pertama?”
“Kami hanya akan membuat beberapa benda couple saja agar”
“Bohong! Andi bilang kamu pesan baju, jaket sampai sweater yang ada gambar kalian berdua, ya’kan?!”
“Andi bilang gitu?”
“Andi gak bilang secara langsung sih, tapi tempat Andi memesan barang itu adalah tempat kami berdua berinvestasi ya jelas kami tahu dong, ya’kan Fara?”
“Iya, betul banget tu! Lagian ngapain kamu tutup-tutupi sih?”
“Ya soalnya ini sangat berlebihan banget”
“Loh, perasaan tahun lalu kamu buat kaos yang ada gambar kalian berdua juga, iya’kan?”
“Itukan dulu, lagian itu juga di pakai di rumah aja tapi kalau yang sekarang itu di peruntukkan agar orang-orang melihatnya”
“Biarkan saya sayang, tante juga cepak lihat kamu di buat sedih karena sikap si Alex kurang tegas pada semua wanita yang mendekatinya”
“Kenapa gak putus aja sih? Aku bantu carikan pacar yang lebih baik untuk mu deh nanti” Fara benar-benar masih tidak bisa berhenti memintaku putus dari kak Alex.
“Putus juga boleh, tante akan carikan pria yang lebih baik dari dia dan lebih bisa diandalkan untukmu sayang”
“Fara, tante, Azia itu maunya cuma sama kak Alex dan Azia hanya mencintai kak Alex seorang saja”
“Iya, iya dasar bucin, udah kalau gitu ayo tidur, besok kita bahas lagi” Ucap Fara yang kelihatan sudah bosan mendengar ucapan ku tentang perasaanku pada kak Alex.
Bersambung….
Selamat membaca, jangan lupa meninggalkan jejak bacaannya.