Obsession Of Love

Obsession Of Love
i'm yours part 3



“Sangat melelahkan” Keluhku saat keluar dari ruang rapat dengan suara kecil.


Ku teruskan langkahku hingga di depan pintu ruangan ku, sejenak aku berhenti, entah kenapa tiba-tiba aku teringat akan Alex. Meski apa yang dia lakukan malam itu cukup buruk karena membuat aku merasakan sakit hingga saat ini tapi, sejujurnya aku tidak bisa menipu diri, aku cukup menikmati bagian dimana dia menjadi buat dan kasar padaku.


“Kangen kak Alex” Batin sambil membuka pintu ruangan ku.


Aku melihat handphone, tidak ada satu pesan pun masuk dari Alex dan itu membuat ku sedikit kecewa dan kesal. Tapi aku bukan orang yang suka menghubungi duluan saat rindu karena itu aku hanya diam dan menatap layar handphone ku sambil membaringkan kepalaku di meja.


‘eet’


Pintu kaca terbuka, Alham datang dengan segelas air hangat dan sepiring buah yang di tata rapi oleh dia pecinta kerapian.


“Anda lelah, silahkan minum teh hangat, ini akan membantu ada” Ucapnya sambil membereskan mejaku dan meletakkan minuman itu di depanku.


Aku mencoba bangun dan melihat apa yang ia bawa untukku.


“Apa aku harus meminumnya?” Tanyaku lesu.


Lalu dia berjalan kearah belakang kursiku, “sepertinya anda lelah, bagaimana kalau saya beri sedikit pijatan”


“Tidak..”


Belum selesai aku bicara tangannya sudah memberiku pijatan lembut yang membuatku merasa cukup nyaman dan lebih baik, “Tidak buruk, coba sedikit lebih keras, kalau bisa sekalian kepalaku, aku sedikit pusing” Ucapku yang mulai menikmati pijatan itu.


Tangan pria yang lebih besar dari ku itu mulai memberi pijatan pelan di kepalaku, aku tahu itu akan menghancurkan gaya rambutku yang sudah aku buat semaksimal mungkin untuk terlihat rapi tapi, itu bukan masalah asalkan dia bisa membuat kelelahan ku dan rasa sakit di kepalaku sedikit berkurang.


“40 menit lagi kita harus bertemu klien, apa anda ingin makan yang lain?” Tanyanya dengan nada lembut di atas kepalaku.


“Tidak ada.” Jawabku yang masih menikmati pijatan lembut dari tangan Alham yang aku rasa mungkin lebih lembut dari tanganku.


“Permisi..”


Seorang karyawan tiba-tiba menerobos masuk ke ruangan ku dan itu membuat kami bertiga kaget dengan alasan yang berbeda.


“Maaf, saya salah masuk” Lalu dia segera berlari keluar.


“Siapa anak itu?” Tanyaku.


“Sepertinya dia anak magang” Jawab Alham yang masih memberiku pijatan di kepala.


“Beri dia peringatan tapi jangan terlalu keras karena dia masih baru di sini” ucapku.


“Baik”


“Stop! Aku pikir sekarang aku merasa lebih baik. Ayo bersiap berangkat!” Pintaku sambil menarik piring berisi buah.


“Baik, saya akan menunggu diluar”


Lalu Alham segera keluar dari ruangan ku.


Seperti biasa tiap hari jadi hari paling sibuk untukku, aku lelah tapi aku sangat menikmati setiap proses ku dalam membangun bisnisku ini. Untungnya tidak ada jadwal lagi setelah meeting terakhir di jam 5, karena itu aku bisa menghampiri kak Alex di rumah sakit.


Kalau ditanya lelah ya tentu saja aku lelah tapi aku terlalu merindukan suamiku, hingga aku tidak bisa menunggu dia di rumah.


“Apa anda sakit?” Tanya Alham padaku yang meminta di turunkan di rumah sakit.


“Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan suamiku” Ucapku sambil membuka pintu.


“Terima kasih. Besok jangan lupa untuk menghubungiku sebelum berangkat agar kamu tidak perlu menungguku seperti pagi ini”


“Baik”


Lalu mobil Alham pun segera melaju.


Aku benar-benar tidak sadar kalau Alex tidak jauh dari tempat aku berdiri dan dia sudah menatapku dari tadi dengan tatapan penuh amarah. Aku benar-benar kaget begitu mataku berhasil menangkap bayangannya, dia terlihat kesel lalu pergi menjauh dari tempat itu, aku mencoba menyusul langkah cepat pria tinggi dengan tubuhnya masih terlihat sangat seksi meskipun dari belakang dan dia juga mengenakan jubah dokternya.


Langkah kaki Alex benar-benar cepat atau mungkin karena kaki jenjangnya yang sangat panjang dari kaki ku yang pendek membuat perbedaan langkah kami terlalu jelas. Baru saja masuk di koridor dan aku kehilangan jejak Alex, aku cukup kesal karena aku sudah setengah berlari tapi tetap saja tidak bisa menyusul langkah pria tinggi, putih dan penuh pesona itu.


‘klak’


Pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter muda dengan kacamata bulat sesuai dengan bentuk wajahnya keluar sambil membaca kertas yang ada di tangannya. Lalu dia melihat ke arahku yang sudah terlanjur ketahuan memperhatikannya.


“Apa anda salah satu keluarga pasien?” Tanya pria itu dengan sopan dan lembut padaku.


“Tidak” Jawabku singkat.


“Eum” Lalu dia duduk di sebelahku.


“Apa kamu pasien?” Dia mulai merubah cara bicaranya hingga terdengar seolah kami adalah dua orang yang sudah cukup akrab.


“Bukan” Jawabku singkat.


“Eum… jadi kenapa kamu di sini?” Tanya nya padaku dengan ekspresi penasaran.


“Karena…”


“Dia istriku” Ucap Alex yang muncul tiba-tiba dan memotong ucapan ku.


“Dokter Alex” Pria itu langsung berdiri dan menunduk, “Maaf saya tidak tahu kalau gadis ini istri dokter Alex, kalau begitu saya permisi” Lalu pria itu pun segera menghilang dari tempat itu.


Alex duduk di sampingku lalu menyandarkan kepalanya bahuku, “Kenapa sangat sulit memiliki istri secantik kamu, aku selalu khawatir tiap kali kamu berada di luar rumah.” keluhnya dengan nada seolah dia lelah setelah bekerja dengan sangat keras.


Aku hanya terdiam membisu dan mendengarkan keluhannya, tidak lama kemudian seorang dokter cantik menghampiri kami.


“Dokter Alex, apa anda baik-baik saja?” Tanya perempuan cantik itu dengan nada lembut sambil menyentuh bahu Alex di depan mataku.


Melihat adegan itu aku terus mengawasi perempuan itu dengan mata elang ku, aku tidak mengatakan apapun selain memperhatikan semua detail dari perempuan yang berani menyentuh suamiku.


“Sepertinya rumah sakit ini akan segera membutuhkan dokter baru” Pikirku.


“Euhm” Aku mencoba memberi sedikit kode pada perempuan itu agar dia berhenti menyentuh milikku.


“Sayang, aku haus. Aku ingin minuman dingin” Pintaku dengan nada manja pada Alex.


Alex langsung bangun dan menari tanganku, “Mau minum apa?” Tanya nya sambil menggandeng tanganku.


“Ehummm..” Aku berpura-pura berpikir keras sambil sesekali melirik ke arah perempuan yang sepertinya tidak senang melihat Alex menggandeng tanganku.


“Tidak tahu, ayo ke ruangan mu saja, aku bisa minum apa saja kamu berikan” Ucapku yang masih mempertahankan nada manja dalam ucapan ku.


Lalu Alex menuntunku ke ruangan nya, aku cukup kaget melihat meja Alex dipenuhi cemilan.


“Apa dia tahu kalau aku akan datang?” Pikirku.


“Kamu mau minum apa biar aku belikan” Tawarnya.


“Apa aja deh, tapi kalau ada jus buah akan lebih baik” Ucapku.


“Baik, tolong ditunggu ya ratu ku” Lalu Alex memberikanku satu kecupan di kening dan di bibirku lalu berlari dengan cepat menuju kantin rumah sakit.


Aku mulai menelusuri tempat itu, tapi mataku benar-benar tidak bisa teralihkan dari cemilan yang menggoda yang ada di atas meja Alex. Aku mencoba mendekati dan menarik salah satu cemilan itu, ternyata ada memo dengan bentuk hati di atasnya.


“Dokter Alex, bisa tidak kalau aku menjadi pacarmu, dari Indah pasien kamar 202” Pesan itu membuat aku murka hingga tidak sadar membuka cemilan itu dan memakan semua tanpa sisa.


“Dasar wanita genit sialan! Berani-beraninya dia mengirim pesan se-menjijikkan itu!” Ucapku sambil terus melihat setiap cemilan dan pesan dari beberapa penggemar Alex.


Aku benar-benar tidak tahan dan akhirnya membuang makanan itu di tong sampah. Tak lama setelah itu Alex kembali dengan dua gelas jus di tangannya. Dia kaget melihat ekspresi kesal ku, dia terus melangkah dan meletakkan minuman itu di meja lalu berlutut di hadapanku sambil memegang tanganku.


“Apa ada yang salah?” Tanya nya dengan nada lembut tapi terdengar jelas kalau dia khawatir.


“Tidak ada, aku mau pulang!” ucapku kesal.


“Pulang? Baiklah, ayo pulang”