
“Dokter Doni tolong obati kak Alex dengan benar, aku harus menemui temanku sebentar. Jangan biarkan dia pergi dari ruangan ini sebelum aku kembali”
“Tenang saja, aku akan merawatnya dengan sangat baik, kamu bisa pergi sekarang.”
Kak Alex menarik tanganku seakan dia meminta aku untuk tetap tinggal bersamanya di ruangan itu.
“Gak usah lebay deh! Biarkan dia pergi, nanti juga dia balik ke sini.” Doni menahan kak Alex dan melepaskan tangan kak Alex dari ku.
Aku keluar dengan cepat dari ruangan itu dan mencari ruangan tempat Andi dirawat dan begitu aku menemukannya aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan itu membuat aku melihat pemandangan yang cukup mengagetkan. Fara yang tadinya mengatakan tidak bisa menjenguk Andi dengan seribu macam alasan tiba-tiba sudah ada di dalam ruangan tempat Andi dirawat dan duduk sambil terus menatap Andi dengan tatapan penuh perasaan.
“Kapan kamu sampai?” Tanyaku pada Fara.
“Eh, Azia! Kenapa kamu terlambat datang dan kenapa bajumu ada bercak darah?” Tanya Fara panik.
“Itu…” Gara-gara Fara bertanya aku kembali mengingat apa alasan aku buru-buru menemui Andi.
Tanpa melanjutkan ucapanku aku langsung memeluk Fara dengan sangat erat dan tanpa sadar air mataku pun terus menetes. “Fara aku minta maaf, semua terjadi karena kehadiranku, andai aku nggak ada mungkin…”
Suara tangisku membuat Andi yang sedang tidur pun terbangun.
“Kenapa sih kalian berisik banget? Aku mau istirahat!” Tergusnya dengan mata masih nggan membuka sempurna.
“Andi!” Aku langsung memeluk Andi sambil terus menangis.
Mata Andi melotot kaget, lalu tangannya membelai lembut kepalaku. “Maafkan aku, karena keegoisanku kalian semua terluka tapi… tapi sekarang semua akan baik-baik saja. Semua akan seperti semula.” Ucapku yang masih tidak bisa menyembunyikan frustasiku.
“Azia, kamu ngomong apa, sih?” Andi menepuk-nepuk pelan punggungku agar aku merasa lebih tenang.
“Aku sudah sudah memutuskan untuk mengikuti semua permintaan mereka dan aku akan pergi untuk kebaikan semua” Putusku dengan tangan melepas pelukan Andi.
Fara kaget dengan ucapanku, “Apa? Kamu jangan gila, semua bisa diselesaikan dengan cara lain. Kamu jangan gegabah, bahkan Papamu tidak ingin kamu tinggal dengan keluarga Mama mu, ya’kan?”
“Memang iya sih tapi.. huesk… huesk” Aku tidak bisa menahan tangisku saat memikirkan harus meninggalkan mereka. “Aku tidak masalah kehilangan hidupku tapi, aku tidak akan pernah bisa jika harus kehilangan kalian” Aku tidak cukup kuat untuk terlihat tegar di depan dua sahabatku, mungkin karena mereka sudah seperti keluarga dan bagian penting dari hidupku.
“Bicara apa sih kamu ini, Ayo kita duduk dulu!” Fara menghampiriku yang berdiri di samping Andi dan menarikku untuk duduk di sofa. “Minum air dulu dan tenangkan pikiranmu. Pikirkan baik-baik keputusanmu itu, Azia”
“Fara, aku tidak punya pilihan, ini adalah keputusan yang tepat dan ini semua untuk menyelamatkan kita” Aku benar-benar putus asa dengan hidupku.
“Ini bukan ‘kita’, Azia tapi kamu hanya menyelamatkan ‘kami’, iya’kan? Kamu ingin mengorbankan dirimu untuk kami apa itu adil?” Fara terlihat tidak terima dengan keputusanku kali ini.
Aku mencoba menguatkan diri dan membuat Fara dan Andi mendukung keputusanku“Itu cukup setimpal karena kalian semua adalah hidupku dan titik terpenting dalam hidupku”
“Azia, bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada Bunda?” Ucap Andi yang terlihat merasa bersalah padaku, meski sejujurnya dia memang tidak memiliki salah akupun dalam masalah ini.
“Bunda akan mengerti” Jawabku penuh kayakinan.
“Lalu bagaimana dengan Alex?” Tanya Fara dengan wajah cemasnya. Entah kenapa Fara tiba-tiba membahas Alex padahal dari awal hubungan aku dengan Alex hingga beberapa saat yang lalu dia masih terlihat tidak mendukung hubunganku.
“Itu… Aku akan memikirkannya pelan-pelan, jadi tolong jangan ada yang tahu soal ini. Ini rahasia kita saja!” Aku benar-benar dihadapkan dengan pilihan berat, antara cinta atau kesalamatan orang-orang yang aku cinta, aku tidak ingin egois, tapi apa aku bisa bertahan tanpa kak Alex di sisiku.
“Rahasia apa?” Tiba-tiba kak Alex masuk keruangan itu tanpa mengetuk pintu.
Mata aku kompak fokus pada suara Kak Alex diambang pintu, dengan jantung sudah berdebar-debar tidak karuan, aku tidak sanggup menjelaskan rencanaku untuk meninggalkannya saat ini meski pada akhirnya aku memang akan meninggalkannya.
“Kak Alex, sejak kapan kakak ada di sini?”Aku coba mengalihkan topik pembicaraan dengan cepat.
“Baru sampai dan aku tidak sengaja mendengar kalau kalian menyebut kata rahasia, memangnya ada rahasia apa?”
“Namanya juga rahasia mana mungkin dikasih tahu dasar bego!” Fara mencoba bersikap kasar seperti biasa pada kak Alex agar tidak ada kecurigaan.
“Azia…!” Kak Alex melihat ke arahku dengan wajah meminta jawaban yang pasti.
“Ah itu…Eum, Andi, kamukan sudah ada Fara yang menemani, aku mau bawa pulang kak Alex dulu, nanti aku datang lagi” Aku segera mengahampiri kak Alex dan menggandengnya.
“Ya, ya cepat pergi! Dan bawa cowok mu dari ruangan ini sebelum penyakitku semakin parah gara-gara tatapan dia.” Ucap Andi dengan nada menguris.
“Hahaha, Andi bercandanya berlebihan, ayo pergi, kak!” Aku menarik kak Alex keluar dari ruangan itu.
“Azia!” Kak Alex melepas tanganku dan berhenti di tengah-tengah perjalan kami.
“Kalian ngomongin apa tadi?”Tanya kak Alex yang masih terlihat penasaran dengan rahasia yang kami bicarakan diruangan Andi.
“Itu kan rahasia mereka mana boleh aku kasih tahu ke kak Alex!” Jelasku dengan nada biasa, meski aku hampir tidak bisa mengontrol jantungku dan mungkin saja ekspresi tenangku tidak seperti biasa.
“Oh, jadi itu rahasia antara mereka. Kamu jujurkan, sayang?” dia menatapku dengan penuh curiga, aku mencoba menenangkan hati dan pikiranku agar tidak salah menjawab pertanyaan dari kak Alex. “Kenapa kakak bertanya seperti itu?” Ucapku dengan nada sedikit kesal.
“Soalnya wajah kamu pucat dan seperti …”
Dengan cepat aku memotong cupakan kak Alex yang tidak henti-hentinya menanyakan hal yang membuat jantungku tidak karuan itu, “Kak, aku kurang sehat dan syok karena semua terjadi begitu saja dalam semalam banyak hal buruk terjadi makanya aku seperti ini.”
“Ini bukan salah kamu jadi, kamu tidak perlu memikirkannya. Kalau gitu ayo berangkat, Ibu pasti seneng banget karena kamu berkunjung ke rumah.”
“Kakak gak tahu saja kalau semua hal buruk yang terjadi pada kalian itu karena ulah keluargaku, mungkin sekarang kakak tidak menyalahkan aku tapi, saat kakak tahu mungkin kakak akan meninggalkan aku. Maafkan aku karena harus berbohong” Aku hanya dalam pikiranku saat melihat kak Alex berjalan disampingku seperti biasa seakan tidak ada hal buruk yang terjadi padanya hari itu.
Sampai di parkiran aku masih saja memikirkan tentang hubungan kami kedepannya. Kakek memintaku untuk memutuskan hubungan dengan semua orang di sini untuk selamanya tapi, aku tidak akan bisa melupakan mereka dan aku juga tidak akan pernah bisa melepaskan kak Alex dengan apapun alasan yang mereka buat agar aku melepaskan kak Alex.
“Sayang, ayo masuk” Kak Alex masih berdiri di sampingku setelah membukakan pintu mobil untukku.
“Ah, iya!” Aku masuk kedalam mobil tapi pikiranku masih melayang-layang entah kemana.
“Kak, kalau misalnya aku menghilang apa kakak akan mencariku?”
“Tentu saja aku akan mencari kamu sayang, meski harus menyeberangi lautan sekalipun aku pasti akan lakukan.” Ucap kak Alex sambil memasangkan sabuk pengaman padaku.
“Lalu bagaimana dengan kuliah kakak?”
“Apa hubungannya itu?”
“Apa kakak akan meninggalkan kuliah kakak dan mencariku atau melanjutkan kuliah baru mencari aku?”
“Tentu saja aku akan mencari kamu dulu, lalu kalau sudah bertemu kita bisa bersama melanjutkan apa yang tertunda.” Jawabnya tanpa serbesit sedikit keraguan.
Bukannya tenang dengan jawaban kak Alex aku malah semakin gelisah, aku takut menjadi hambatan dari mimpi kak Alex, “Mana boleh begitu! Ayo cepat jalan!” Mendengar apa yang kak Alex jawab membuat aku semakin yakin dengan rencana awalku.
Saat sampai di rumah kak Alex, Ibu Dewi terlihat kaget dengan wajah kak Alex yang penuh dengan luka.
“Apa yang terjadi? Kamu habis dirampok atau apa?” Tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
“Itu, sebenarnya…” Aku ingin menjawab pertanyaan bu Dewi tapi kak Alex malah mendahuluiku, “Ada preman yang menghadang kami, mereka kayaknya suruhan orang, intinya Alex mau ke kamar dan istirahat. Alex titip Azia sama ibu buat hari ini!” Lalu kak Alex langsung pergi ke kamarnya.
“Azia sayang, sebenarnya ada kejadian apa sampai Alex seperti itu?”Tanya Bu Dewi padaku.
Aku langsung memeluk ibu begitu pertanyaan itu ditujukan padaku.
“Ada apa sayang?”
“Azia minta maaf, bu! Ini semua gara-gara Azia, maafkan Azia!”
Dia menatapku dengan penuh keheranan, “Kamu bicara apa sih, sayang? Ayo kita duduk dulu dan bicara pelan-palan”
Kami pergi ke ruang tamu dan duduk dengan ditemani secangkir jus dan cemilan yang bu Dewi persiapkan untukku.
“Coba cerita sebenarnya ada apa?”
“Sebenarnya Azia sudah menemukan orang tua kandung Azia tapi, Azia merasa tidak nyaman dan sikap mereka juga tidak baik pada Azia makanya Azia tidak mau tinggal dengan mereka tapi…”
“Tapi kenapa, nak?”
“Mereka mengancam akan menyakiti orang-orang yang Azia sayang kalau Azia tidak mau pulang bersama mereka. Keluarga Fara sekarang sedang di ujung kebangkrutan dan Andi di rumah sakit, lalu terakhir kak Alex di pukuli oleh orang-orang suruhan kakek hari ini. Semua karena Azia, bu!” Aku kembali memeluk bu Dewi sambil menangis.
“Sayang, itu bukan salahmu! Keluargamu saja yang jahat, tapi ibu yakin kamu tidak seperti mereka. Ayahmu itu orang baik dan ibu yakin kalau kamu memiliki sifat yang mirip seperti ayahmu dan bukan seperti ibu kandungmu yang terlalu aneh.”
“Tunggu dulu! Kenapa ucapan Ibu seakan-akan mengatakan kalau Ibu mengenal orang tua Azia?”
“Itu…” Bu Dewi terlihat sedikit panik, dengan mata yang tidak lagi berani menatapku.
“Bu, tolong jujur pada Azia!”
Bu Dewi menggenggap lembut kedua tanganku, lalu menepuk pelan seolah sedang menyalurkan rasa yang menumpuk di pikirannya, “Tapi kamu harus janji untuk tidak marah!”
“Azia, janji tidak akan marah pada ibu” Ucapku penuh keyakinan.
“Baiklah, jadi sebenarnya waktu kecelakaan yang menangani ayah kamu itu adalah kakak dari ibu, makanya ibu tahu kalau kamu itu anak dari orang yang ibu kenal”
Jujur aku kaget mendengar ucapan Bu Dewi, tapi aku lebih ingin tau bagaimana orang tuaku dari sudut pandang Bu Dewi, “Seperti apa Papa Azia, bu?” Tanyaku.
“Dia adalah pria yang baik hati, pintar dan juga sangat sabar. Semua orang menyukainya tapi sayangnya dia tidak pernah memberikan hatinya pada siapapun hingga suatu hari dia mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Ibu dengar ada seorang gadis yang disebut ‘ratu kampus’ berhasil menaklukan Ayahmu itu, lalu mereka menikah di Indonesia karena katanya orang tua gadis itu tidak merestui mereka.”
“Ibu kenal Papa dari mana?”
“Kamu panggil Darwin Papa? Ibu pikir kamu panggil dia Ayah, tapi itu bukan masalahnya. Jadi, dulu kami pernah satu sekolah saat SMA tapi ibu nikah setelah lulus karena lelah mengejar Papa mu yang tidak bisa ditaklukkan, tapi ini rahasia diantara kita, oke!”
“Iya, bu. Lalu bagaimana?”
“Saat ibu tahu kalau kamu anak dari orang yang paling ibu kagumi ya tentu saja ibu mengirim seorang pengawas untuk mengawasi kamu, begitu tahu kamu tinggal di panti asuhan ibu berencana menjadikan kamu anak adopsi tapi, si Arya menghalangi niat itu makanya terpaksa deh ibu menggunakan Andra agar bisa bertemu dengan kamu.”
“Pantas saja Azia merasa aneh karena ibu terlalu baik pada Azia yang waktu itu masih baru kenal dengan ibu. Pembicaraan ini sebaiknya kita tunda dulu, bu. Azia harus pergi sekarang, apa kita bisa bicara di rumah Andi?”
“Kenapa tidak ke rumah tantemu si Mita itu?”
“Ibu kenal?” Aku cukup kaget mendengar kalau Bu Dewi juga mengenal Tante Mita,
“Kami dulu pernah satu kampus jadi kenal.”
“Apa tante Mita kenal dengan Papa juga?”
“Gak Lah, kalau dia kenal pasti heboh banget dia, bisa-bisa yang jadi ibu mu itu dia bukan gadis asing itu”
“Eum… Kalau begitu Azia pamit dulu, ya bu! Oh iya, kalau bisa ibu tolong minta handphone Azia untuk dikembalikan sama kak Alex, ya bu?”
“Kenapa handphone kamu sama dia?”
“Panjang ceritanya tapi, Azia sekarang gak bicara karena Azia harus pergi sekarang. Azia pergi dulu, ya bu!”
Aku pergi dengan cepat dari rumah itu dan mencari taksi yang lewat di depan rumah kak Alex. Aku kembali lagi ke rumah sakit dan menemui Andi dan Fara agar kami bisa menyusun rencana untuk masalah saat itu.
Bersambung…