Obsession Of Love

Obsession Of Love
Permintaan



“Nyebelin banget sih kak Alex ini! Yaudah deh, AKU CINTA KAK ALEX puas!”


“Nah gitu dong”


“Kak Alex gak bales ucapan ku, aku ngambek ini!”


“Iya iya aku juga cinta sama Azia ku ini!” Kak Alex mencubit pipiku sambil terus berusaha fokus pada jalan.


Bukannya ke restaurant atau tempat makan lain, kami malah pulang ke rumah kak Alex dan makan siang bersama dengan keluarganya.


“Azia sayang, ibu pikir kamu tidak jadi ke sini karena Alex mengatakan kalau kalian ada di luar kota.”


“Dekat kok bu, makannya kami bisa pulang ke sini, Azia juga gak tahu sebenarnya kalau akan sampai ke rumah ini. Kak Alex tadi cuma bilang akan makan siang saja, tapi gak bilang kalau akan pulang ke rumah.”


“Untungnya ibu belum makan siang, ayo kita makan bersama!”


“Paman mana, bu?”


“Dia masih di kantor, ibu sudah mengirim makan siang, katanya dia tidak bisa pulang karena pekerjaan yang menumpuk.”


Setelah makan siang kami bertiga duduk di ruang keluarga sambil menonton drama siang itu.


“Azia, aku boleh minta sesuatu?” Kak Alex tiba-tiba ekspresi serius, dan suasana tiba-tiba menjadi tegang.


“Alex, memangnya kamu mau pinta apa sama Azia? Kenapa wajahmu serius begitu?”


“Tidak ada, bu! Azia, apa boleh aku minta sesuatu sekarang?”


“Minta aja, kalau bisa akan aku penuhi”


“Kalau gak bisa?” Tanya kak Alex padaku.


“Ya, akan aku usahain deh buat kakak jadi, mau minta apa?”


“Kamu bisa gak berhenti mengajari anak yang bernama Rendi itu dan beberapa anak laki-laki lain?”


“Oh itu! Aku pikir mau minta apa tadi, aku udah mikirnya kakak mau minta aku lamar hahaha…”


“Azia, jangan bercanda, katakan apa bisa?” Ucapnya dengan mengerutkan kedua alisnya dan terlihat matanya mengharapakan jawaban yang jelas dan pasti dariku.


“Tentu saja bisa tapi, setelah waktuku habis, soalnya nanggung, aku belum dapat bayaran.” Jawabku dengan mencoba memberi dia pengertian akan keadaanku dan berusaha agar dia tidak marah.


“Akan aku berikan uang sebagai gantinya, tapi kamu harus berhenti sekarang”


“Kenapa jadi serius begini, sih? Kalian bicarakan itu setelah makan saja nanti!” Ibu Dewi mencoba mencairkan suasana yang lebih serius dari awalnya, Ibu Dewi seakan sedang merespon pikiranku yang sedang kacau karena permintaan dan tatapan tajam kak Alek padaku.


“Baik, bu” Kak Alex benar-benar menurut pada ucapan bu Dewi.


Setelah makan pun kak Alex masih menanyakan hal yang sama, hingga aku sedikit kesal padanya.


“Kak, aku bukan hanya cari uang, aku juga cari ilmu, setiap aku mengajari orang lain rasanya ilmu yang aku punya seperti bertambah, aku suka melakukan ini tapi, kalau kakak tidak suka aku akan berhenti! Tapi, aku harus menyelesaikan tanggung jawabku hingga akhir, tolong mengerti itu” Ucapku sambil terus meninggikan nada bicaraku karena terlalu kesal pada kak Alex.


“Apa hanya itu alasan yang kamu punya? Atau jangan-jangan…” Dia masih bicara dengan nada lembut saat merespon ucapan ku yang membentaknya tapi aku cukup tahu kalau dia sedang kesal saat itu.


Ibu Dewi langsung menarik kak Alex pergi dengan wajah kesal. Aku tetap di ruangan keluarga dan duduk sambil merenungkan keadaan kami yang semakin hari semakin memburuk dan mungkin sudah berada di ujung tanduk dan menunggu waktu untuk berakhir.


“Nak, Ibu perlu bicara dengan Alex sebenar, ya?! Kamu bisa melanjutkan nontonnya dulu” Ucap Bu Dewi padaku sebelum pergi menarik kak Alex.


“Baik bu”


Lalu mereka pergi ke lantai atas, kak Alex di seret dengan paksa meski dia tidak melakukan perlawanan karena dia termasuk anak yang sangat patuh pada orang tuanya.


“Ada apa dengan kamu? Apa yang kamu ingin katakan pada Azia?” Bentak Bu Dewi yang mulai hilang kesabarannya.


“Aku hanya tidak suka dia dekat dengan banyak laki-laki di luar sana, aku benar-benar tidak menyukai hal itu!” Jelas kak Alex.


“Kamu jangan coba-coba melewati batas dan membuat Azia tidak nyaman, ya! Ibu sudah susah-susah membuat kalian dekat karena ibu sangat menginginkan Azia menjadi menantu rumah ini, meski tadi dia mengatakan akan berhenti demi kamu tapi, tetap saja ibu tidak suka dengan sikapmu kali ini!”


“Bu, aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan dia, harusnya ibu mengerti itu!”


“Sebenarnya, aku ini anak kandung ibu apa bukan sih? Ibu seperti ibu tiri saja, kenapa ibu sangat menyukai Azia lebih dari anak kandung sendiri?”


“Karena anak itu baik, pintar dan dia adalah anak idaman ibu, ibu ingin sekali mengadopsinya tapi tidak bisa jadi satu-satunya cara hanya dengan menikahkannya dengan kalian. Kalau kamu mencoba mengacaukannya lagi, ibu akan membuat Azia menikah dengan Andra, paham?”


“Kenapa harus Andra?”


“Kamu pikir ibu tidak tahu kalau Andra itu menyukai Azia? Ibu juga tahu alasan selama ini kamu tidak memberitahu Andra soal hubunganmu dengan Azia, karena kamu tahu kalau Andra menyukai Azia, ya’kan?”


“Itu…”


“Ibu tidak akan mempermasalahkan itu selama kamu tetap menjaga Azia di sisimu, jangan biarkan dia lepas, sulit mencari penggantinya, kamu tahu itu’kan?”


“Baik bu”


Lalu mereka turun, wajah kak Alex sudah jelas sekali di paksakan untuk tersenyum, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan waktu itu.


“Azia sayang, kamu mau cemilan?”


“Boleh sih bu tapi, Azia masih sedikit kenyang, mungkin nanti”


“Baiklah, kalau gitu ayo kita lanjut nonton dramanya tadi”


“Baik bu. Eh, kak Alex tadi mau bilang apa, ya?”


“Gak ada, memangnya aku mengatakan apa?” Begitu kembali kak Alex seakan melupakan apa yang sebelumnya dia ucapkan padaku dan bersikap seperti biasa.


“Entahlah, kalau begitu lupakan saja, aku tidak jelas mendengarnya tadi”


“Iya benar lupakan saja, lagian aku juga udah lupa mau mengatakan apa tadi” Ucap kak Alex dengan terus memaksakan diri untuk tersenyum dan sesekali melirik kearah ibunya yang duduk di samping kami.


Sorenya aku diantar pulang oleh kak Alex. Tidak banyak percakapan yang kami ucapkan di mobil tapi, aku masih tidak bisa menanyakan apa yang tidak jadi di tanyakan oleh kakak Alex karena dia terus saja mengalihkan topik pembicaraan tiap kali aku menyinggung hal itu. Begitu sampai di rumah aku di kaget kan dengan pemandangan yang jarang terjadi. Mia sedang menangis di kamar dan Fara sedang mencoba menenangkannya.


“Apa yang terjadi?”


“Dia di marahi orang tuanya karena ketahuan bolos kelas untuk pacaran.”


“Udah berapa kali aku katakan jangan bolos, kenapa kalian berdua bandel banget, selama aku tidak mengawasi, kalian selalu melakukan itu, ya’kan?”


“He-he-he, ya maaf! Soalnya pelajarannya membosankan sih” Ucap Fara sambel cengengesan.


“Udah Mia, jangan nangis lagi, lagian orang tua kamu marah itu untuk kebaikanmu, mereka tidak ingin kamu menyia-nyiakan masa depanmu hanya untuk hal yang tidak perlu.”


“Bukan itu yang sebenarnya membuat aku sedih, Kak Roni memarahi aku di depan semua orang di cafe, aku kan malu dan si kambing sialan itu huhuhu…”


“Kambing sialan? Siapa yang kamu maksud?” Tanyaku pada Mia.


“OH, oh aku baru ingat! Pasti si Dirga, ya?” Ucap Fara setelah mengingat-ingat siapa makhluk yang selalu mendapat sebutan kambing sialan dari seorang Mia.


“Jangan sebut nama sampah itu! Aku membencinya!”


“Ada apa dengan anak itu?” Tanyaku yang masih tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.


“Dia telah kembali dan sekarang mengatakan dia akan bertunangan denganku”


“Bukannya itu bagus? Kamu kan cinta banget tuh sama dia? Sampai-sampai semua mantan kamu itu rata-rata itu kan hampir mirip dia semua kecuali masalah otaknya hahah…”


“Gak lucu, Fara!”


“Sorry! Jadi masalahnya di mana?”


“Bayangin aja, setelah bertahun-tahun hilang lalu kembali dan dengan mudahnya bilang akan jadi tunangan ku di depan pacarku, enak banget jadi dia! Aku gak mau! Pokoknya gak mau tunangan sama dia!”


“Kamu, yakin?” Tanyaku yang meragukan ucapan Mia yang sudah jelas-jelas cinta mati pada Dirga.


“Mia, coba deh cerita gimana kejadian sebenarnya!” Pintaku yang sebenarnya masih tidak mengerti letak masalahnya. Karena Mia bicara sambil menangi jadi, aku tidak bisa fokus pada ucapannya.


Bersambung dulu Ya kawan, Eps gak ada habisnya aku ingatkan pada kalian Dukungan Dari kalian Para pembaca dangan membantu semua penulis, jangan Lupa buat Like Oke. Sampai jumpa di episode berikutnya. 