Obsession Of Love

Obsession Of Love
Jalan-jalan



“Tapi tante…”


“Sayang, sebaiknya kamu luruskan masalah dari pada kamu nyesel  nanti, bisa saja kan kalau kamu salah lihat terus kamu ambil langkah yang gegabah hingga membuat dia pergi dari kamu dan di saat itu perempuan lain akan menggantikan posisimu. Percaya deh sama tante, tante ini udah 40 tahun hidup dan udah banyak banget pengalaman yang kayak gini, mending kalian bicara baik-baik saja dulu”


“Tapi tante, teman aku juga melihat kak Alex pergi dengan wanita lain, lalu banyak bukti yang aku dapat kalau selama kak Alex tidak mau aku temui dia pergi dengan cewek lain, tante!”


“Sabar sayang!” Tante memeluk ku sambil mengelus rambutku, saat itu aku tidak mampu menahan air mata di depannya.


“Tante yakin kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengannya jika kalian mau berkomunikasi”


“Tapi tante, selama ini dia yang menghindari ku dan bukan aku jadi, siapa yang bersalah? Mungkin saja dia berpaling karena cewek itu lebih cantik dari aku dan lebih dewasa dari aku.”


“Yang cantik menurut kamu kan belum tentu cantik menurut dia sayang, jangan pesimis dong, percaya diri! Katakan pada dirimu kalau kamu lebih dari siapapun dan katakan juga kalau kamu itu berhak mendapatkan yang terbaik!”


“Tapi tante…”


“Sayang, kalau dia memilih pilihan yang salah maka artinya kamu di takdir kan untuk orang yang lebih baik dari dia, hargai dirimu dan jangan biarkan orang lain menginjak-injak dirimu hanya karena alasan cinta, paham?!” Ucap tante Ika dengan tegas pada aku yang masih terlihat ragu.


“Baik tante, setelah ini aku akan bicara pada dia, lalu sekarang kita lanjut nonton dulu dan besok tante akan menemani Azia jalan-jalan, kan?”


“Eum… Itu tante sepertinya tidak bisa, besok tante harus kerja, banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor lalu kalau kamu mau jalan-jalan tante akan meminta Tristan untuk menemani kamu, ya?”


“Tristan itu siapa tante?”


“Dia itu keponakan teman tante, anaknya baik dan dia suka jalan-jalan juga”


“Okelah kalau gitu, Azia gimana baiknya aja, ya selama dia bisa diajak ngobrol Azia sih gak masalah”


***


Malam berlalu dengan cepat dan pagi hari sudah datang sesuai jadwalnya. Warna langit cukup cerah hari itu, aku bisa memprediksikan kalau banyak uang yang akan keluar hari itu.


“Sayang, tante berangkat dulu, ya?” Tante pergi dengan terburu-buru.


“Hati-hati di jalan tante!”


Bibi pengurus rumah pun sudah tiba untuk membersihkan rumah seperti biasa. Lalu aku duduk di depan pagar rumah tante Ika karena menunggu orang yang akan menemaniku jalan-jalan hari itu. Orang itu cukup lama hingga aku sempat-sempatnya membuat gambar di tanah dengan tenting kayu di dekat pagar.


“Hai! Maaf ya lama!”


Saat aku melihat dari sumber suara yang amat merdu untuk di dengar itu, terlihat wajah tampan dengan lesung pipi yang membuat senyumnya sangat manis hingga aku merasa gula darahku naik karena senyum itu.


“Kamu Azia, kan? Halo! Kenalkan aku Tristan!” Dia mengulurkan tangannya.


Saat aku menjabat tangannya terasa sedikit kasar, rasanya sepertinya dia punya hobi main gitar dari tekstur tangannya.


“Halo! Aku Azia, salam kenal!” Aku membalas senyumnya.


“Kalau begitu, ayo kita naik motorku?!”


“Iya”


Lalu aku naik motor itu dan kami segera pergi dari tempat itu. Hari itu sangat menyenangkan seenggaknya aku sudah memenuhi impian kecilku yaitu pergi liburan tanpa teman-teman, mencoba hal baru, dan yang paling penting itu adalah bisa naik motor sambil jalan-jalan selain sama Andi.


“Oh iya, aku harus panggil kamu apa?”


“Panggil Azia aja, lagian kayaknya lebih enak kalau kita saling memanggil saja, iya’kan?”


“Iya, aku juga berpikir seperti itu”


Lalu kami sampai di tujuan pertama, rumah makan padang yang asli ada di padang. Aku udah bilang sama tante kalau gak mau makan pagi di rumah karena mau makan di rumah makan padang asli di padang.


“Kata tante Ika kamu belum makan, karena itu dia suruh aku antar kamu ke sini dulu sebelum ke tempat lain”


Lalu kami masuk ke tempat itu, aku langsung memesan banyak makanan dan karena itu Tristan terlihat sangat kaget.


“Tristan, ayo ikut makan!” Pintaku padanya sebagai basa-basi saja.


“Terima kasih tapi enggak deh, aku udah makan di rumah tadi”


“Yaudah, aku makan sendiri saja”


Lalu aku memakan hampir semua hidangan yang aku pesan tapi sayangnya perutku tidak sanggup melahap semua jadinya aku meminta agar sebagian yang tidak sempat aku sentuh itu diantarkan ke alamat tante Ika.


“Eum, perut aku udah penuh ni! Sekarang kita kemana?” Ucapku sambil memegang perutku yang sudah sangat penuh dengan makanan.


“Kita istirahat saja dulu di taman kota lalu jalan-jalan di sana sebentar, bagaimana?”


“Boleh deh!”


Setelah membayar semua makanan, aku dan Tristan pergi ke taman kota, lalu kami duduk di kursi taman yang tidak jauh dari ayunan. Aku terlalu kenyang hingga tidak bisa memulai percakapan dengan Tristan.


“Kamu punya akun instagram yang namanya Azia cantik, kan?”


“Loh kok kamu tahu? Kamu follow aku?”


“Bisa di bilang begitu dan lebih tepatnya kita sesekali pernah ngobrol di sana”


“Akun kamu yang mana?” Aku langsung membuka handphone dan bersiap mengetik.


“Trisblue! Apa kamu menemukannya?”


“Oh jadi kamu, aku sangat ingin bertemu kamu karena kamu teman yang asik buat ajak ngobrol soal pelajaran”


“Azia, kenapa kamu jarang sekali membalas pesanku walaupun kamu udah membacanya?”


“Sebenarnya yang buat akun aku itu teman-temanku jadi, mereka yang paling sering buka IG aku, kalau aku sih kadang-kadang saja”


“Ternyata begitu”


Lalu aku tanpa sengaja melihat kalung yang ada di leher Tristan. Aku tertarik pada cincin yang dia gantung di kalung itu.


“Tristan, itu…” Tunjukku pada kalung di lehernya.


“Kenapa?” Awalnya dia tidak mengerti apa yang sedang aku tunjuk.


“Cincin itu bagus, ya?”


“Kamu suka?”


“Iya, karena bagus”


Lalu Tristan membuka kalungnya dan memberikan cincin itu padaku.


“Coba pakai!”


Lalu aku mencoba pakai di jariku dan ternyata cincin itu cangat pas di jadi manisku sebalah kiri.


“Wah pas banget, cantik deh!” Aku terus memandangi cincin itu hingga aku puas lalu mengembalikannya pada Tristan.


“Pakek aja dulu, nanti kalau kita ketemu lagi kamu boleh mengembalikannya padaku”


“Tapi…”


“Gak papa, ayo kita lanjut jalan”


“Siap, bos!” Aku segera bangun karena aku sangat ingin jalan-jalan hari itu.


Aku dan Tristan pergi ke banyak tempat hingga kami tidak sadar waktu berjalan sangat cepat dan kami sudah berada di penghujung petang.


“Sepertinya sudah hampir gelap, ayo kita pulang!” Ajaknya.


“Iya”


Lalu kami kembali menaiki motor Tristan dan pulang ke rumah tante Ika. Awalnya semua baik-baik saja hingga aku melihat sosok pria bertubuh tinggi, berkulit putih sedang memandangiku dari kejauhan. Dia terus memandangiku hingga kami sampai di depan rumah tante Ika, setelah berterima kasih pada Tristan, dia segera pergi.


“Azia, kita perlu bicara!” Dia memegang tanganku.


Aku memberontak dan pergi ke dalam setelah membuka pagar.


“Lepas! Aku gak mau bicara!”


Bersambung…


Buat teman-teman jangan lupa kasih like, vote dan juga reting 5 ya. Kalau ada ide yang ingin kalian sampaikan bisa tulis di kolom komentar, terima kasih telah membaca.