
BANDARA…
Pagi itu Azia dan Alex sudah sampai di bandara, keduanya masih terlihat seperti biasanya hingga sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Azia yang sedang menunggu jemputannya bersama Alex. Dua orang laki-laki berjas hitam turun dari mobil dan menghampiri kedua orang yang menatap kearah mobil yang didepannya.
“Direktur, silahkan masuk” Ucap keduanya sambil membuka pintu mobil.
“Kak Alex dan Alham, kalian tunggu mobil kedua, aku akan pergi dengan mereka.”
“Biarkan aku ikut” Pinta Alex yang menahan lengan Azia.
“Tidak, kakak tunggu mobil lain yang akan menjemput kalian. Kita bertemu di rumah, aku akan pulang sore ini untuk mengambil beberapa barang.”
“Maksud kamu apa?”
“Direktur, kita akan terlambat” Ujar salah seorang pria yang ada di samping Azia.
Azia hanya mengangguk paham, lalu perlahan melepas tangan Alex dari lengannya. “Nanti kita bicara lagi di rumah.” Tangan Alex pun terlepas dari lengan Azia, “Jaga dia untukku” lanjut Azia dengan mata terarah pada Alham yang ada di samping Alex.
Alham hanya mengangguk paham, lalu Azia membalasnya dengan senyum tipis sebelum akhirnya dia masuk ke mobil hitam itu.
Begitu masuk kedalam mobil, seorang perempuan cantik dengan mata biru tua terlihat cukup indah itu duduk dengan anggun di dalam.
“Selamat pagi, direktur Azia!” Ucapnya lembut namun entah kenapa orang yang mendengarnya seolah menjadi tertekan.
“Jadi apa alasanmu menemukan secara langsung?”
“Tidak ada maksud khusus, aku hanya ingin bicara pada salah satu anggota VIV saat aku masih ada di sini.” Sebuah senyum terukir indah di wajah cantik si perempuan misterius itu.
“Jangan buang waktuku” Tegas Azia dengan nada dingin.
“Hahaha… anda sangat menyebalkan, is oke. Mari profesional! Orang yang anda minta singkirkan, kami sudah melaksanakan sesuai perintah tapi, untuk orang yang anda minta awasi di perusahaan Tiara, sesuai dugaan anda dia telah melakukan beberapa kesalahan yang cukup berat. Tapi, jika anda ingin kami membereskan dan menutup semuanya, kami bisa melakukannya secepat yang anda mau.”
“Tidak, kalian tidak perlu membantunya kali ini. Biarkan dia membayar perbuatannya. Atau… buat saja ini menjadi mudah, buat kakek ku tau perbuatannya dan buat dia menebus perbuatannya itu”
“Hukum tidak pernah benar-benar menghukum seseorang dengan benar apalagi dia yang memiliki koneksi, bagaimana jika biarkan kami saja kami yang menghukumnya?”
“Apa kamu gila! Mau bagaimanapun dia itu masih saudara ku.”
Mendengar jawaban Azia, perempuan itu hanya tertawa kecil, “Sangat membosankan” Gumamnya.
“Terserah anda, kami hanya menjalankan sesuai perintah. Lalu untuk suami anda, apa kami masih perlu mengawasinya?”
“Untuk saat ini… ah, lupakan saja masalah dia. Kalian cukup fokus pada masalah dari anak itu dulu. Lalu selidiki semua yang menjadi calon direktur berikutnya. Aku tidak ingin ada celah dari calon pemimpin perusahaan Tiara.”
“Perintah anda adalah mutlak untuk kami, semua informasi tentang perintah anda akan selalu kami update dan dikirim langsung melalui aplikasi kami, jadi silahkan tunggu kabar terbaru” Mobil pun berhenti di depan rumah besar milik keluarga Azia. “Kita sudah sampai” ucap ramah perempuan itu.
“Terima Kasih” Ucap Azia sebelum turun dari mobil hitam itu.
**
Di tempat lain Alex sedang bersiap untuk kembali ke rumah sakit, meski hatinya masih gelisah saat melihat Azia pergi dengan orang asing ditambah Alham sebagai sekretaris Azia pun tidak tau siapa yang membawa Azia pergi saat itu.
Ting!
‘Kak aku sudah di kantor, jadi berhenti khawatir’
Alex sedikit kaget membaca pesan itu, dia tidak menyangka kalau Azia tau apa yang dia pikirkan saat itu.
“Bagaimana dia tau?” Gumamnya.
Ting!
Pesan lain kembali masuk dari Azia.
‘Aku tau karena kak Alex bertanya pada Alham tentang siapa yang menjemputku pagi ini. Jangan terlalu dipikirkan, jaga diri, sore ini aku akan menemuimu di rumah sakit. Jadwal kak Alex hari ini cukup padat, aku pikir kak Alex tidak mungkin pulang cepat hari ini.’
Alex semakin kaget dan heran karena Azia seolah bisa melihat isi otaknya.
Baiklah, aku akan menunggu di rumah sakit. Kabari jika kamu sudah disana, love you sayang
‘Love You Too husband’
Padahal mereka sudah resmi menikah tapi entah kenapa saat Azia menyebutnya suami rasanya jantungnya berdegup cukup kencang, bahkan pipinya menjadi panas, mungkin wajahnya sudah merah merona karena malu.
Ting!
Sebuah pesan dari nomor dengan nama kontak ‘Andras’ membuat senyum Alex menghilang.
‘Sesuai dugaan kalau itu alat pelacak, namun ini jenis baru yang belum pernah aku lihat. Teknologi yang digunakan juga sudah sangat canggih, tidak hanya bisa tau lokasi target tapi juga bisa memberikan informasi akurat tentang siapa saja yang keluar masuk dari mobil mu. Alat ini keren banget tapi sayangnya sepertinya pemiliknya sengaja membuat alat ini rusak otomatis jika ada pihak asing yang menerobos masuk ke sistemnya. Sayang sekali, padahal aku ingin memilikinya. Apa kamu punya lagi?’
Alex terdiam cukup lama saat membaca pesan dari salah seorang teman yang dia percaya untuk menyelidiki alat aneh yang tidak sengaja ia temukan di dalam mobilnya saat sedang membersihkan mobilnya beberapa hari yang lalu.
Apa kamu tidak bisa mencari tau siapa pemilik alat itu?
‘Ya enggak lah! Kemampuanku tidak sebagus itu, lagian sistem alat itu sangat rumit untuk di bobol so nggak mungkin pemiliknya orang biasa. Yang jelas itu bukan dibuat di negeri ini. Kamu pikir aja sendiri, siapa yang ingin tau banyak tentangmu’
Aku tidak bisa memikirkan siapapun sekarang. Apa tidak ada petunjuk lain?
‘Enggak. Mending kamu waspada aja, kalau ada apa-apa kami siap membantu.’
Oke, makasih, dras. Uang udah aku TF ya.
‘Oke, mantap. Thanks’
Alex terus memikirkan siapa yang akan melakukan hal seperti itu padanya, tapi pada akhirnya dia tidak bisa memikirkan siapa tersangka terdekat yang bisa melakukan hal segila itu padanya.
“Lupakan itu Alex, sekarang fokus saja pada pekerjaanmu. Pasien sudah menunggu, jadi fokus ke sana saja!” ucapnya pada dirinya.
Lalu ia bergegas ke mobil, dan segera berangkat ke rumah sakit.
***