Obsession Of Love

Obsession Of Love
Kencan bertiga



Akhir pekan yang aku tunggu akhirnya datang akan tetapi kali ini ada yang beda dari kencan kami karena ada orang lain yang ikut bersama kami.


“Hai!” Andi datang dengan pakaian santai seperti biasa ya meski dia masih terlihat keren hingga beberapa pasang mata terus saja tertuju padanya dari mulai masuk ke restauran itu hingga dia duduk dan bergabung dangan kami.


“Sayang, kenapa dia ada di sini?” Tanya kak Alex sambil berbisik padaku.


Aku mencoba membuat dia tenang dengan menggenggam tangannya dan menatapnya dengan dalam, aku mencoba bicara dari hati ke hati agar dia tidak marah.


“Kak, Andi itu jomblo gak laku, aku kasihan sama dia karena di campakkan teman-temannya yang gak jomblo kayak dia, dia duduk sendirian di rumah, aku khawatir dia kerasukan setan kalau merenung di rumah sendirian.”


“Woi! Gak usah ngeghibah juga kali! Aku bukan gak laku cuma belum dapat yang cocok aja” Bantah Andi dengan wajah kesalnya.


“Udah kamu diam aja!” Aku menyoroti Andi dengan tatapan kesal karena memotong pembicaraanku dengan kak Alex.


“Iya, iya aku diam, silahkan lanjutkan, bu!”


“Sayang, dengerin aku! Andi bisa jaga diri sendiri, dia gak harus ikut dalam kencan kita’kan?” Kak Alex terlihat tidak menyukai kehadiran Andi di tempat itu.


“Mas, mas! Bisa ke sini bentar!” Andi memanggil seorang pelayan.


“Ada yang bisa saya bantu, mas?”


“Eh, ini! Saya mau pesan ini dan ini, eum… Ini juga, oh kayaknya ini juga deh, minumnya jus apel aja.”


“Baik, mohon di tunggu pesanannya”


“Oke, tolong cepat, ya, soalnya saya sudah lapar”


“Andi! Kamu emang gak ada urat malu apa? Kami aja belum pesan apa-apa, kenapa kamu udah pesan duluan?”


“Aku lapar, lagian kamu udah janji mau traktir aku’kan?”


“Terserah deh!”


“Dek, kamu pikir sendiri, mana ada yang bawa teman saat kencan sama pacarnya?”


“Ada kok, aku sering tuh di ajak Fara atau Mia kalau ada kesempatan, lagian Andi gak akan ganggu kita, ya’kan ANDI?!!” Aku menatap kearah Andi.


“Eh, iya iya, janji deh aku gak akan ganggu kalian selama aku dibayarin heheh…” Andi tersenyum tanpa malu saat minta traktir pada pacar temannya.


“Terserah kamu ajalah!” Wajah kak Alex terlihat jelas kesal walau dia telah mengizinkan Andi tetap berada diantara kami.


“Makasih sayang!” Aku memeluk kak Alex dengan mesra.


“EUk! Jijik aku lihat kamu manja-manja gitu, Zia! Lebay banget sih kalian!”


“ANDI! Kamu diam aja!”


“Oke oke aku diam!”


Setelah itu kami memesan makan lagi tapi kali ini hanya untukku dan kak Alex saja. Begitu pesanan datang, meja kami penuh dengan makanan yang di pesan Andi untuk dirinya sendiri.


“Suka ngatain orang rakus, tapi diri sendiri malah lebih rakus, dasar gak tahu diri!”


“Eh, aku tu lagi lapar banget karena di rumah gak ada yang masak, pembantu yang biasanya di rumah tiba-tiba minta cuti dua hari, jadi aku kelaparan deh!”


“Uuu… kacianya, eh tapi aku gak peduli tu!” Olok ku pada Andi yang terlihat menyedihkan.


“Dasar cewek tega!”


“Biarin, lagian kamu itukan calon koki masa kamu gak bisa buat makanan sendiri, sih?”


“Ya, mau gimana lagi, kalau udah kena virus mager, jangankan masak keluar rumah aja males”


“Bukan karena virus deh, kamu kan dari lahir emang udah males, hahahah…”


‘TAKKK!’ Kak Alex tiba-tiba memukul meja dengan sangat keras hingga membuat kami berdua kaget.


“Ada apa, kakak?”


“Gak ada sayang, hanya ada serangga tadi di meja makanya aku pukul” Dia tersenyum seperti biasa, tapi matanya seperti mengisyaratkan kalau dia sedang kesal pada kami berdua.


“Azia, kamu pesan minum apa tadi?” Tanya Andi yang gak peka.


“Oh, aku mah bisa jus mangga! Enak banget, mau coba?”


“Boleh, sini aku coba!” Andi mengambil jus ku dan meminumnya.


“Eh, enak, kita tukaran, gimana?”


“Boleh!”


“Euhem, euhum euhum!” Tiba-tiba kak Alex sok-sok-an batuk.


“Kakak kenapa?” Tanyaku pada kak Alex.


“Gak papa”


“Serius? Kakak gak sakit tenggorokan, kan?”


“Gak kok, aku baik-baik aja”


“Sayang, mau coba makan penutup milikku?” Kak Alex mencoba menyuapiku.


“Eum”


Kak Alex berinisiatif menyuapiku padahal aku sudah bersiap untuk mengambilnya sendiri, aku tidak bisa menolak suapan darinya apa lagi dia terlihat sangat berharap aku memakannya dengan segera.


“Eumm… Ini enak banget, tapi aku udah kenyang, gimana kalau setelah ini kita jalan-jalan sebentar”


“Boleh boleh, aku juga pengen gerak dikit agar makan di perutku bisa cepat di cerna!”


“Andi, tolong ya! Aku ini lagi bicara sama kak Alex bukan sama kamu, please diam aja, oke!”


Lalu Andi memberi isyarat kalau dia akan tutup mulut dan membuat seolah mulutnya sedang di kunci.


“Iya, aku setuju kalau jalan-jalan sebentar sebelum siang, lalu kita baru jenguk nenek kamu di rumah sakit.”


Setelah itu kami jelan-jalan di teman kota bersama-sama, aku bergandengan tangan dengan kak Alex sedangkan Andi berjalan di depan kami. Aku sangat bahagia bisa jelan-jalan bersama pacar dan sahabatku di akhir minggu, rasanya semuanya tidak memiliki penghalang sedikitpun.


“Azia, ayo ke sana!” Andi menarik tanganku lalu kami berjalan cepat menuju ke tempat orang-orang sedang berkumpul dan mengambil gambar bersama dengan badut boneka yang sedang berada di teman itu.


“Ayo kita foto bersama beruang itu!” Ajak Andi padaku.


“Oke, tapi siapa yang bayar?”


“Heheh.. Kamu dong, kan aku udah bilang aku sedang krisis banget, ayolah… Anggap aja aku berhutang sama kamu, ya?!”


“Kamu itu udah banyak banget utangnya sama aku, bukannya bayar malah di tambah terus, bikin kesel aja”


“Azia, please!” Andi memohon dengan pose menyedihkan hingga aku jadi gak tega buat nolak.


“Oke, ayo kita foto bareng beruang yang super lembut dan imut itu”


Lalu kami menarik kakak Alex untuk menjadi fotografer dadakan untuk kami berdua.


“Ni udah!” Ucap kak Alex dengan nada dingin pada kami.


“Lah, ini cuma Azia aja, wajah aku kok gak kelihatan”


“Kalau mau kelihatan ya suruh orang lain aja fotoin kalian gampang’kan?” Ucap kak Alex dengan nada kesal.


“Oke!” Lalu Andi mengambil handphone ku dari tangan kak Alex dan meminta orang lain untuk mengambil foto kami berdua.


“Azia, lihat nih! Lucu banget deh, beruangnya juga imut banget, pengan aku bawa pulang deh”


“Dasar pecinta makhluk berbulu, kamu beli aja boneka yang besar sana”


“Kalau aku beli boneka, nanti ibuku bilang apa? Malu dong!”


“Terserah, aku juga gak peduli hahahah…”


“Azia, ayo kita ke rumah sakit, mungkin nenekmu sedang menunggu”


“Aku boleh ikut, gak?” Tanya Andi santai.


“Boleh, lagian kamu udah lama gak jenguk nenek, aku pikir mungkin saja nenek sudah merindukan anak se bawel kamu.”


“Aku bukan bawel tahu, cuma agak sedikit banyak bicara itu aja”


“Ngeles aja kerjamu, ya?! Udah ayo kita berangkat”


Lalu kami berangkat ke rumah sakit bertiga, kak Alex jadi diam sepanjang jalan dan suasana di mobil terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, aku pikir itu karena pendingin di mobil tapi, kalau di pikir-pikir lagi suasana jadi lebih dingin saat kak Alex mulai diam dan menatap lurus pada jalan saja.


“Syut! Syut!” Andi memberiku kode dan sedikit menepuk kursi ku.


“Apa?”


“Buka handphone mu!”


“Iya”


“Hai, pacar kamu kenapa tu? Dia marah, ya?” Pesan dari Andi


“Gak, dia gak marah, emangnya kenapa?” Balasku.


“Kamu gak ngerasa kalau suasana dalam mobil ini terasa aneh? Dan ekspresi datar dia itu membuat aku sedikit takut”


“Jangan terlalu di pikirkan, dia bukan orang yang suka marah-marah gak jelas, percaya saja, kamu akan baik-baik saja, oke!”


“Au ah, aku gak yakin, tapi terserahlah!”


“Sayang, kamu chat sama siapa?” Tanya kak Alex tiba-tiba.


“Hah!” Aku kaget karena dari tadi dia seperti tidak melirik kearah ku sama sekali tapi dia tahu apa yang sedang aku lakukan.


Bersambung…


Jangan lupa tinggalkan jejak anda dengan memberikan satu like dan jika ada saran jangan lupa tulis di komentar, satu like dari anda sangat berguna untuk penulis, terimakasih sudah membaca, sampai jumpa di next episode.