Obsession Of Love

Obsession Of Love
Valentine day



14 februari, pagi itu aku mendapatkan banyak coklat dan bunga dari teman-teman kelas dan beberapa anak kelas lain. Aku nggak ada niatan buat PHP-in mereka semua tapi, mau gimana lagi godaan makanan itu susah banget buat di hindari.


“Andi!” Aku melihat Andi membawa banyak coklat di tangannya, aku tahu pasti itu dari gadis-gadis yang suka sama dia.


Kebiasaan buruk Andi adalah suka bawa kabur coklat buat di makan sendiri. Begitu aku memanggilnya dia langsung berjalan cepat kearah lain, dia terlihat benar-benar menghindari aku.


“Andi!” Aku mengejar langkah Andi yang begitu cepat dengan menenteng coklat di tanganku.


“Ah! Ini sangat berat, aku harus meletakkannya di kelas dulu” Aku memutar arah dan kembali ke ke dalam kelas.


Setelah itu aku pergi ke kelas Andi dan ternyata dia tidak ada di sana, aku pergi mencari dia di taman tempat kami biasa nongkrong.


“Di sini juga tidak ada! Aku cari di perpus saja! Eh, itukan mustahil, gak mungkin dia ke sana karena diakan banyak denda di perpustakaan.”


Lalu aku pergi ke kantin tapi, saat akan ke melangkah aku tidak sengaja melihat bayangan yang sepertinya aku kenal. Aku mengikuti jalan menuju ke belakang sekolah dan ternyat Andi sedang menuju ke tempat parkiran dan ingin menyembunyikan coklat yang dia dapat dariku.


“Andi! Dasar keterlaluan! Bisa-bisanya kamu mau menyembunyikan makanan enak dari aku”


“Azia, kamu kan udah dapat tadi, udahlah inikan punyaku!”


“Punyamu itu punyaku juga”


“Enak aja! Azia, udah jangan gitu dong! Aku cuma dapat dikit gara-gara kamu”


“Loh kok aku sih? Ya, karena beberapa dari penggemarku pikir kalau kita udah jadian makannya mereka nggak kasih aku coklat lagi”


“Bukan salah aku dong kalau gitu! Pokoknya bagi sini!”


“Gak bisa gitu dong, Azia!”


“Kalau gitu, mana coklat dari kamu untuk aku?”


“Eum itu…” Andi belagak linglung, dia terus saja memengang rambutnya dan melihat keatas tanpa tujuan, dari garak-geriknya aku sudah tahu dia lupa pada hadiahku, itu sudah bisa.


“Kamu kan udah dapat banyak dari orang lain jadi, masa kamu masih minta dari aku? Tanteku juga kirim kamu kue yang biasanya, iya’kan?”


“Enak aja, itukan beda! Kamu setiap tahun kan selalu memberikan aku hadiah jadi, tahun ini juga harus ada!”


“Nanti aku kirim, ya?!”


“Gak, aku mau hari ini! Kamu selalu saja telat memberikanku hadiah, pokoknya kali ini aku mau yang pertama!!”


“Yaudah, kalau gitu kita pulang nanti mampir di tempat yang kamu mau, kamu boleh beli satu barang tapi, hanya satu aja, oke!” Andi terus menekan kata ‘satu’ karena dia tahu kalau mengajakku belanja pasti aku tidak hanya memilih satu barang apa lagi kalau itu toko makanan.


“Oke!” Aku sangat senang karena mendapatkan hadiah dari Andi itu kayak ngerasa punya kakak yang selalu perhatian sama adeknya.


Setelah selesai jam terakhir aku segera menunggu Andi di parkiran, dari luar gerbang aku melihat seperti mobil kak Alex. Kalau bisanya aku akan menghampirinya tapi, kali ini aku gak mau menghampiri dia karena aku masih kesal sama dia yang bisa-bisanya mengabaikan aku di rumah sakit di tambah dia tidak pernah membalas pesanku beberapa bulan terakhir ini.


Tak lama kemudian Andi datang ke parkiran.


“Udah lama?” Tanya Andi sambil membantuku menggunakan helm seperti biasa.


“Nggak, aku juga baru keluar. Kita akan kemana?”


“Kamu maunya makanan atau buku aja?”


“Aku mau beli buku aja tapi, aku juga mau beli makanan.”


“Sayangku Azia, apa kamu udah buta? Dua kantong plastik penuh dengan coklat ini buat apa? Perut kamu tu dia buat dari apa sih sampai-sampai gak pernah kenanga kalau makannya?”


“Bukan gitu Andi, aku tu mau kasih semua ini buat anak-anak di panti tempat aku tinggal dulu, terus sisanya yang aku dapat dari kamu, Mia, Fara, dan Raihan itu untuk aku makan.”


“Kamu ternyata masih Azia yang dulu, ya? Kamu masih mementingkan orang lain ke timbang dirimu sendiri! Udah, kalau gitu kita ke panti dulu sebelum ke toko buku gimana?”


Saat akan keluar pagar, kaka Alex menghalangi jalan kami.


“Azia, kamu mau kemana sama dia?” Tanya kak Alex dengan nada dinginnya.


“Andi, jalan terus!” Aku ngalihkan pandanganku dari kak Alex, aku masih sangat kesal pada dia.


“Gimana mau jalan, pacar kamu menghadang jalan kita!”


“Ya udah”


“Ya udah apa? Maksud kamu kita harus tabrak dia gitu?”


“Ya, enggak lah!” Lalu aku turun dari motor Andi dan menitipkan semua coklatku padanya.


“Ayo kita bicara!” Aku menarik kak Alex menjauh dari gerbang karena anak-anak yang lain terganggu untuk keluar. “Sebenarnya kakak mau bicara apa?”


“Ayo kita pulang bareng?” Kak Alex memegang tanganku.


“Ha-ha-ha, kakak bercada, ya?” Aku melepas tangan kak Alex dengan satu hentakan.


“Nggaklah, mana mungkin aku bercanda!”


“Setelah beberapa hari ini, kakak mau bersikap seakan tidak terjadi apapun, begitu?”


“Azia cantik ku, kamu kenapa, sih?” Ucapnya dengan nada rayuan yang sering dia lontarkan tiap kali aku ngambek.


“Kenapa? Kakak tanya kenapa? Dasar nggak peka! Aku mau pulang sama Andi, bye!” Lalu aku pergi dengan cepat kearah Andi yang sedang menungguku.


Andi yang paham dengan keadaanku, langsung jalankan motornya tanpa berkata apapun. Lalu saat kami sudah cukup jauh, dia baru bicara.


“Kita jadi ke panti asuhan, iya’kan?”


“Iya” Jawabku singkat dan jelas.


Selama di perjalanan tidak banyak kata berbicara, hanya kata seperlunya saja. Tak lama kemudian kami sampai di panti, tempat yang membuat aku punya memori buruk yang tidak bisa aku lupakan. Meski begitu aku bukan orang yang akan menghindar dari kenangan dan lari ketakutan setiap saat darinya. Karena semakin di hindari ketakutan itu akan semakin menjadi masalah pada akhirnya dan akan membuat rasa takut itu semakin membesar.


“Azia kita sampai! Kamu bawa aja ini dulu dan sisanya akan aku bawa setelah memakirkan motorku.”


“Oke!” Lalu aku pergi dengan membawa sekantong pelastik berisi coklat dan sisanya Andi yang bawa.


Di sana aku di sambut baik oleh anak-anak dan juga pengurus panti yang baru. Setidaknya kali ini semuanya ramah, untungnya seseorang yang baik hati telah menyelesaikan masalah pantiasuhan ini dengan sangat cepat, meskipun ada beberapa anak yang sudah terlanjur di jual oleh pengurus panti lama. Aku bersyukur karena mereka kini mendekam di penjara karena kasus perdagangan manusia dan juga kekerasan pada anak.


“Anak-anak, apa kalian menyukain coklatnya?”


“Iya, kak! Makasih kak Azia!” Ucap para malaikan mungil dengan tetapan polos mereka.


“Ini di bagikan ke semua, ya terus kalau ada teman kakak yang nyariin, bilangin kalau kakak lagi ada di bawa pohon itu, ya?!”


“Siap, kak!”


Lalu aku pergi, mencari ketenangan dimana suara bising tidak terlalu jelas terdengar di tempat itu dan setidaknya dengan banyaknya perpohonan udara di sana terasa amat segar.


“Azia! Kamu sedang ada masalah?” Andi datang dan duduk si sampingku.


Aku tidak menjawab apa yang Andi tanyakan padaku, lalu aku merebahkan diriku di pangkuannya sambil memandangi langit biru waktu itu. Di bawah bohon dengan sejuknya angin yang berhembus akhirnya aku tertidur di pangkuan Andi. Aku tahu banyak yang Andi ingin tanyakan padaku tapi, dia tidak bisa memaksa aku untuk memberikan dia jawaban. Selain itu Andi adalah orang yang benar-benar mengerti keadaanku, dia selalu tahu suasana hatiku tanpa aku harus bicara, tanpa aku harus mengeluh, dia selalu mencari cara agar suasana hatiku bisa kembali seperti semula karena itu bagiku Andi adalah bagian terpenting di dalam kisah hidupku, sama pentingnya seperti Nenek, Fara, Mia dan yang tercinta kak Alex.


Bersambung…


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak bacaan kalian ya kawan-kawan dan jangan lupakan untuk memberikan reting 5