Obsession Of Love

Obsession Of Love
*Bimbang



Aku segera kembali ke rumah sakit dan menemui Andi, di ruangan itu ternyata sudah ada Mia yang duduk di samping Fara sambil memainkan handphone nya.


“Kita perlu bicara!” Aku mengunci pintu dan menarik kursi di dekat Andi dan menyeretnya sedikit ke tengah-tengah antara Andi dan mereka.


“Jadi keputusan kamu soal Alex apa?”


“Aku akan mempertahankan hubungan kami, aku yakin saat kak Alex kembali nanti … Mungkin saja aku sudah kembali juga jadi kami…”


“Ucapanmu penuh dengan keraguan Azia, kalau kamu ragu dengan apa yang kamu putuskan bagaimana kami bisa yakin pada hal itu?”


“Aku hanya…” Aku benar-benar tidak bisa melepaskan kak Alex apa lagi memikirkan kalau suatu hari nanti dia bersama perempuan lain, itu benar-benar membuat aku gila.


“Tunggu dulu! Jadi maksud kamu, kamu akan menggantung hubungan kamu dengan Alex selama 5 tahun? 5 tahun bukan waktu yang singkat Azia, banyak yang akan berubah dalam 5 tahun itu dan apa kamu yakin bisa terus mencintai Alex atau… Apa kamu yakin Alex tidak akan melirik yang lain saat itu?”


“LALU AKU HARUS APA?” Teriakku kesal dan frustasi.


Aku kehilangan akal sehatku tiap kali memikirkan kalau aku harus berpisah dari kak Alex. Jika dulu tujuan hidupku ada untuk membuat orang lain kesulitan karena kehadiranku tapi, segalanya sekarang telah berubah karena kehadiran kak Alex. Kini tujuan hidupku adalah hidup tenang dan damai bersama dengan kak Alex dan tentunya membangun keluarga kecil milikku sendiri bersama kak Alex.


“Tenangkan dirimu” Fara berdiri di sampingku sambil memelukku.


“Azia, aku bukannya mau berpihak sama Alex, tapi kamu pikir saja sendiri, bisa saja kamu jatuh hati sama orang lain di sana lalu bagaimana dengan Alex? Dia pasti akan terluka jika saat dia sudah menunggu dengan sabar kamu malah..”


“Mia, kamu tahukan betapa aku mencintai kak Alex. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu?” ucapku pada Mia yang jelas-jelas memperlihatkan ketidak sutujuannya dengan pemikiranku.


“Beb, perasaan itu seperti arah angin dia bisa berubah kapan saja. Kamu harus mengakhiri hubunganmu dan itu yang terbaik” Ujarnya lagi dan lagi-lagi membuat aku semakin bingung dengan keputusan apa yang harus aku ambil kali ini.


“Kalian kok gitu sih sama aku?” Aku tidak bisa menerika saran dari mereka karena aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan kak Alex.


“Azia sayangku, kali ini mereka memang benar dan kamu tidak bisa bersikap egois dan mempertaruhkan kebahagiaan orang lain di sini!” Fara menepuk bahuku pelan beberapa kali hingga membuat aku merasa lebih tenang.


Aku kembali memeluk Fara, “Fara, aku sangat mencintai dia, aku tidak bisa bersama pria lain selain dia!” Aku menangis dalam pelukan Fara.


“Sebaiknya kamu bicara saja dulu dengan dia karena masalah ini bukan hanya tentang kamu tapi, juga tentang si Alex itu!” Saran Fara yang entah kenapa terdengar lebih bijak dari biasanya.


“Aku setuju dengan usul Fara, kamu memang perlu jujur dengan Alex Azia” ucap Mia sependapat dengan Fara.


“Aku juga sependapat dengan Mia dan Fara, intinya kamu harus ngomong sama dia dan menyelesaikan masalah ini” Ujar Andi yang semakin membuat aku tertekan.


“Jika aku jujur, aku yakin kak Alex menyusulku, lalu dia akan mendapat masalah dan lebih parahnya mimpinya akan terhambat dan itu semua... itu semua karena aku, apa kalian paham?” Aku benar-benar tidak tau harus apa lagi kali ini, semua tidak masuk dalam akal pikirku.


“Kamu terlalu banyak berpikir, sayang. Percaya pada Alex, dia tidak mungkin bertindak tanpa berpikir dulu” Ucap Andi penuh keyakinan.


***


Tak terasa saat aku masih memikirkan tentang situasi hubungan aku dengan kak Alex, ujian sudah di depan mata. Gara-gara banyak pikiran aku jadi sensitif dan mudah marah, apa lagi di ujian pertama yang menyebalkan. Biasa aku akan ujian sendiri di ruang guru dengan pengawasan langsung dari guru pengajar mata pelajaran itu sendiri tapi, hari itu ujian matematika aku malah disuruh untuk ujian di kelas sama seperti anak-anak lain. Sebenarnya aku senang hanya saja, kalian pasti ngerti kan kalau ujian di kelas itu lebih bikin pusing dari pada ujian di depan guru, alasannya simpel banget yaitu teman-teman depan, belakang, kiri dan kanan terlalu berisik meminta jawaban dariku.


“Syut! Syut! Azia! Azia!” Nadin dari sisi kananku terus saja memanggil-manggil aku dengan suara berbisik.


Lain orang lain pula cara bikin aku emosinya, di belakang kursi ku itu ada Edo yang terus saja melempar kertas kosong untuk memanggilku. Aku tidak mau ada yang curang dalam ujian makanya aku hanya diam meski mereka berteriak sekalipun untuk memanggilku. Untungnya soal ujian kali itu cukup mudah jadi aku menyerahkan kertas jawaban paling cepat dibanding dengan yang lain.


“Ini jawaban saya pak, kalau gitu saya permisi!”


“Tunggu!” Pak Erdian si guru pengganti yang menyebalkan itu malah menahanku dan membuat aku semakin kesal. “Kamu terlalu cepat mengumpulkan, apa kamu tidak mu periksa lagi?”


“Tidak, pak”


“Beneran?”


“Iya, pak”


“Kalau gitu duduk saja dulu sambil nunggu teman-teman yang lain”


Aku kembali duduk di kursiku dan sesuai dugaan teman-teman dari berbagai sudut mulai berbisik meminta jawaban dan ada juga yang terus saja melempar kertas kosong untuk meminta jawaban dariku. Aku yang emosi langsung berdiri dan melihat tempat duduk ketua kelas.


“Ada, untuk apa?” Tanyanya dengan wajah kaget.


“Berikan!”


Dia mengambil tas dan mencari spidol untukku, setelah mendapatkannya dia segera berlari ke arahku dan menyerahkan spidol itu padaku. Aku bergegas ke papan tulis dan menulis jawaban dari soal yang sudah aku baca.


“Nih, jawaban milikku!”


“Apa-apaan kamu, Azia?! Kenapa kamu menulis jawaban di papan tulis?” Pak Ardian segera menghapus tulisanku sebelum semua murid menyalinnya.


“Bukannya ini yang bapak mau? Bapak tadikan menahan saya di sini agar saya bisa membagi jawaban saya dengan teman-teman yang lain, ya’kan?”


“Kapan saya seperti itu? Kamu jangan ngarang!”


“Ini ujian, pak dan bukannya hari biasa yang mengharuskan saya duduk di kelas sampai bel berbunyi. Kalau saya terus di sini dengan teman-teman yang memanggil dan melempar kertas kearah saya, memangnya saya bisa tahan untuk tidak memberi jawaban?”


“Kamu ini….!!” Pak Erdian kelihatan sangat kesal dan geram padaku. “Kumpulkan jawaban kalian, kita ujian ulang! Dan kamu, kamu ujian langsung dengan saya”


“Baik!”


Semua murid kelihatan kesal tapi beberapa masih santai karena mereka masih di berikan soal yang sama hanya kertas jawaban saja yang ditarik. Begitu pak Erdian keluar untuk mengambil soal lain untukku mereka langsung berisik, mereka bertukar jawaban dan beberapa masih saja menanyakan jawaban padaku.


“Aku udah kasih tadi jadi gak ada pengulangan dan kalau kalian mau nyontek harusnya kalian jangan ribut dong!”


“Ah, betul juga” Lalu suara berisik di kelas itu pun sedikit meredam karena mereka kini hanya berbisik atau melempar kertas untuk melakukan barter jawaban.


Begitu pak Erdian kembali mereka langsung mematung, seakan mereka adalah lilin yang baru saja dipadamkan.


“Karena masalah tadi maka saya menambah waktu untuk kalian menjawab soal tapi jangan melakukan kecurangan dan jangan berbisik meminta jawaban atau pun melempar kertas, paham?!”


“Paham, pak” Jawab serentak teman-teman yang semangat karena mereka sudah selesai melakukan barter sebelum pak Erdian datang.


“Dan kamu ambil kursi dan ujian di depan saya” Perintahnya.


“Baik, pak” Aku pergi menyeret kursi dan duduk di depan pak Erdian dan menjawab soal yang ternyata isinya hampir mirip dengan isi soal sebelumnya.


Hanya butuh beberapa menit dan akhirnya aku selesai menulis jawaban dengan cepat.


“Ini, pak!”


“Cepat sekali, coba saya cek!” Dia mengecek jawaban milikku dan di samakan dengan jawaban yang telah dicatat di handphone miliknya. “Luar bisa, kamu mengerjakannya dengan sempurna dan cepat, kalau begitu kamu bisa keluar”


“Baik terima kasih, pak!”


“Azia, apa setelah ujian ini kita bisa bicara?”


“Saya harus belajar untuk ujian selanjutnya, pak”


“Kalau begitu bagaimana setelah semua ujian selesai kita makan siang bersama?”


“Huem… Kalau bukan makanan laut saya sepertinya bisa”


“Bagus, kalau begitu kamu bisa keluar sekarang”


“Iya, pak”


Setelah itu aku menghubungi Andi, Fara, Mia, dan Kak Alex untuk ikut makan siang bersama dengan pak Erdian.


Bersambung…