Obsession Of Love

Obsession Of Love
Perjalanan keluarga 2



Tangan Tiara meraih tangan Mexim, “Itu sudah berlalu, kamu tidak perlu mengingatnya. Fokus pada masa kini saja” Ujarnya dengan nada penuh kelembutan.


“Heum” angguk Mexim dengan senyum kembali muncul dari raut nya yang tadi sedikit sendu.


*


Ucapan Tiara yang ditujukan untuk Mexim, rupanya membuat Azia merasa sedikit tertegun, seolah ucapan itu mengatakan kalau dia harus fokus pada masa sekarang dan berhenti berharap pada masa lalunya, yang artinya melupakan Alex dan fokus pada hubungannya dengan Bastian.


“Makan saja yang tenang, jangan bicara lagi” Tegur Tiara pada Mexim dan Azia.


Pada akhirnya mereka pun makan dengan tenang, tidak ada lagi bicara yang timbul saat makan. Setelah selesai makan mereka meneruskan perjalanan ke sebuah rumah kecil di pinggir pantai, rumah yang dibeli khusus hanya untuk perjalan mereka hari ini.


“Istirahatlah dulu, 2 jam lagi kita akan ke pantai, adikmu ingin bermain di pantai bersama” Ujar Tiara dengan nada datar, lalu pergi meninggalkan Azia di kamarnya tanpa menunggu respon dari Azia.


Azia menatap wanita yang berlalu dari kamarnya, terselip rasa sedih dalam senyum tipis dan tatapan mata yang tidak lepas dari punggung wanita yang dipanggilnya ‘mama’ meski dia jarang sekali memanggil wanita itu menggunakan panggilan itu.


Direbahkannya tubuh di kasur single miliknya, matanya kini menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos, “Apa aku benar bagian dari keluarga ini?” Tanyanya seolah ada seseorang di langit-langit itu.


Padahal sudah bertahun-tahun masuk sebagai anak seorang Tiara Xu tapi, entah kenapa rasanya asing dan masih saja tidak terbiasa dengan kebersamaannya dengan Tiara, bahkan dia lebih merasa akrab dan mudah terbiasa dengan kehadiran Mexim yang jelas-jelas orang asing yang terhubung dengannya karena pernikahan Mexim dengan Tiara yang merupakan orang tua kandungnya.


“Apa ini akan berlangsung selamanya? Minggu depan aku akan mulai tinggal dengan mereka tapi, kenapa aku merasa enggan untuk tinggal dengan mereka. Tapi jika aku minta tinggal sendiri, kakek akan mentangnya dan tidak akan membiarkanku untuk melanjutkan pendidikanku di sana” Monolognya.


Saat pikirannya semakin dipenuhi dengan pikiran-pikiran buruk tentang apa yang mungkin terjadi nanti, tiba-tiba matanya terpejam dan ia pun larut dalam mimpi yang entah indah atau buruk, hanya dia dan Tuhan yang tau.










Sore pun tiba, Liam yang sangat ingin bermain di pantai pun terus meminta Azia untuk ikut dengannya dan bermain di pinggir pantai, sebenarnya Azia yang baru bangun masih enggan berjalan-jalan keluar dari rumah tapi, dia terpaksa karena itu permintaan adiknya.


Mereka bermain air, membuat istana pasir, dan juga bermain kejar-kejaran berdua sedangkan orang tua mereka hanya menonton dari kejauhan.


“Kenapa anak itu tidak mirip dengan pria yang kamu cintai itu?” Tanya Mexim pada Tiara yang fokus memperhatikan anak-anaknya dari kejauhan.


“Bukankah itu bagus, jadi kamu tidak perlu membencinya” Jawab Tiara dengan mata masih fokus kedepan.


“Meski dia mirip dengan orang itu pun aku tidak mungkin membencinya, anak itu tidak salah, yang salah pria yang merebutmu dariku.” Ujarnya sedikit kesal.


“Berhentilah membahas anak itu. Orang yang kamu bahas pun sudah tiada, apalagi yang ingin kamu permasalahkan? Azia sudah cukup mirip denganku, bukan itu sudah lebih cukup agar kamu tidak memikirkan atau membicarakan pria itu sekarang?” Ucap kesal Tiara.


“Maaf, aku hanya merasa aneh karena tidak ada bagian dari Azia yang mirip dengan pria itu. Aku tidak akan membicarakan dia lagi, jangan marah. Maafkan aku”


“Sebaiknya memang tidak perlu bicara tentang orang yang sudah mati, aku ke dalam dulu, awasi saja anak-anakmu itu” Tiara pun pergi masuk ke dalam rumah.


Tak lama setelah Tiara pergi, Liam berlari ke arah Mexim karena dikejar Azia yang disiram olehnya.


“Papa tolong!” Teriak Liam sambil bersembunyi di punggung Mexim.


Sedang Azia berlari dengan seember air laut yang hendak di siram ke Liam, “Sudah cukup, Liam masuk! Azia, maafkan saja adikmu kali ini”


“Menyebalkan” Gumam Azia kesal, sedangkan Liam berlari cepat ke dalam rumah.


Azia terduduk di kursi yang berada tepat di depan Mexim, wajahnya kusut dengan punggungnya basah karena disiram Liam.


“Azia, apa kamu yakin dengan rencanamu?” Tanya Mexim tiba-tiba serius.


“Rencana apa?” Azia berbalik bertanya karena tidak tau ke arah mana pertanyaan Mexim ajakan padanya.


“Rencana untuk melawan kakekmu, kamu pikir aku tidak tahu. Meski kamu bisa mengelabuhinya, tapi kamu tidak bisa mengelabuhiku. Kamu pergi ke inggris hanya agar bisa memulai rencanamu, bukan?”


Azia cukup kaget mendengar hal itu, selama ini dia cukup yakin kalau langkahnya yang penuh kehati-hatian tidak akan pernah dicurigai oleh siapapun, tapi bagaimana Mexim tahu rencananya.


“Lalu apa mau, Papa? Tidak mungkin Papa mengatakan itu tanpa tujuan, benarkan?” Tanya Azia penuh curiga.


“Tenanglah, aku tidak menginginkan apapun. Andai kamu putri kandungku mungkin aku akan jadi orang pertama menentang Kakekmu tapi, sayangnya kamu putri dari pria itu. Meski begitu, sekarang kamu bagian keluargaku, setidaknya memberikan investasi pada apa yang sedang kamu kerjakan adalah sebuah bentuk rasa peduli antara keluarga” Ucapnya tulus.


Azia lama terdiam dan memikirkan ucapan Mexim dengan seksama, “Aku akan menerima bantuan dari Papa. Aku akan membuktikan kalau aku bisa berdiri di kakiku sendiri, aku membuktikan pada Papa kalau keputusan Papa untuk berinvestasi padaku bukanlah hal yang sia-sia” Ucapnya penuh percaya diri.


“Bagus, aku tunggu pembuktianmu itu” Ucap Mexim sebelum pergi ke dalam rumah.


***


1 minggu setelahnya akhirnya tiba waktu dimana Azia dan keluarganya pergi ke Inggris.


Hari itu dia diantar oleh keluarga Bastian, keluarga Andi, dan juga Sahabat-sahabatnya yang lain.


“Azia, akhirnya aku bisa mengantarmu pergi dengan benar kali ini” Ucap Fara dengan mata sudah bengkak karena menangis.


“Berhenti menangis, kamu jelek jika menangis” Ujar Azia dengan tawa kecil dengan tangan menghapus air mata Fara.


Entah sejak kapan dimulai, tapi Fara yang sekarang entah kenapa sangat cengeng di depan Azia. Entah masalah apa yang selama ini dihadapi hingga mengubah kepribadian seorang Fara.


“Azia, ingat kalau kamu butuh bantuan, aku dan keluargaku serta keluarga Dirga akan siap membantu. Biarkan kali ini kami mendukungmu dan jangan lagi berkorban untuk apapun, paham” Ucam Mia yang terdengar lebih dewasa dari biasanya.


“Iya, aku paham” Ucap Azia sambil memeluk sahabatnya itu.


“Azia, akhirnya kamu akan pergi lebih jauh. Jangan lupa kalau kami menunggumu di sini, segeralah kembali” Ucap Andi dengan mengusap puncak kepala Azia yang masih memeluk Mia.


Azia melepas pelukan Mia lalu beralih memeluk Andi, “Aku akan merindukan kakak bawelku ini, tolong jangan lupa menghubungiku nanti”


“Harusnya aku yang mengatakan itu, bocil cengeng.” Andi membalas pelukan Azia, lalu Azia melepaskan pelukan Andi dan beralih pada Bunda dan Ayah Andi yang berdiri di belakang Andi.


“Ayah, Bunda” Azia memeluk orang tua Andi yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.


“Jangan menangis sayang, Bunda dan Ayah tidak ingin melepasmu dengan air mata, tersenyumlah putri Bunda. Azianya Bunda sangat cantik saat tersenyum, jadi jangan menangis lagi, ya sayang” Ucap wanita bernama Bulan yang dibalas anggukan oleh Azia.


Sedang di sisi lain ada sepasang mata yang menatap tidak suka kedekatan Azia dengan keluarga Andi.


“Putri Ayah, dengar baik-baik, jaga diri disana, makan yang teratur, jangan sering begadang, dan jangan terlalu paksakan diri, kesehatanmu adalah yang utama, nak” Ucap Januar yang merupakan Ayah dari Andi.


“Iya, Ayah” Ucap Azia patuh.


“Jangan lupa hubungi Bunda kalau sudah sampai, ya sayang” Ucap Bulan dengan memberikan satu kecupan singkat di kening Azia.


Setelahnya Azia berpamitan dengan keluarga Bastian, Aurel tidak terlalu banyak memberikan kata-kata perpisahan mengingat mereka akan segera kembali bertemu karena Aurel suka melakukan perjalan bisnis dengan suaminya ke Inggris akhir-akhir ini.


“Apa aku boleh mengunjungimu?” Tanya Bastian.


“Fokus pada studimu, lalu kita akan bertemu lagi nanti” Jawab Azia.


“Jadi tidak boleh?” Tanyanya lagi.


“Bukan tidak boleh, aku hanya ingin kamu tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak perlu, fokus saja pada kuliahmu lalu susul aku” Ujar Azia.


“Baiklah, sampai jumpa lagi” Ucap Bastian dengan memberikan Azia sebuah pelukan singkat sebelum membiarkan Azia dan keluarganya pergi.










Sampi jumpai di next epidose