Obsession Of Love

Obsession Of Love
Guru pengganti



“Pagi semua!” Aku menyapa teman-teman di kelas yang sedang bergosip di pagi hari.


“Azia sini dulu!”


“Ada apa?” Aku menghampiri mereka lalu duduk diantara mereka dengan wajah penuh tanda tanya.


“Kamu kenal gak sama pak … Ah siapa namanya?” Tanya Hana pada teman di sampingnya.


“Itu loh namanya… Eum,  kalau gak salah Erdian”


“Oh…”


“Kamu tahu orangnya?” Tanya Hana padaku


“Enggak”


“LAH!” Ucap serentak mereka dengan wajah kaget sekaligus kecewa.


“Emang ada apa sih?”


“Azia, kamu kan sering di ruang guru, masa kamu gak tahu sih masalah guru baru itu?”


“Guru baru? Heum… Kayaknya pernah lihat deh di sana tapi... aku gak terlalu memerhatikan sih.  Lagian aku lagi sibuk sama persiapan lomba untuk mewakili sekolah kita beberapa waktu yang lalu, jadi nggak sempat memperhatikan hal lain”


“Ah, pantas aja kamu gak tahu”


“Emang ada apa?” Tanyaku penasaran.


Seketika mereka mulai memasang mode gosip, dengan gestur tubuh yang khas dan mimik wajah saat bercerita seolah memang pembawa acara gosip.


“Gini ceritanya, dia itu pengganti sementara guru matematika kita, kalau gak salah dia itu guru magang deh, pokoknya semester ini kita ujiannya sama dia”


“Lalu masalahnya apa?” Tanyaku yang benar-benar tidak paham apa masalahnya.


“Cara dia ngajar itu bikin orang gak paham, di tambah dengan dia asik sendiri, dan satu lagi dia itu buang-buang waktu banget deh di kelas”


"Dia tu asik ngasih tugas rangkum doang, bikin emosi jiwa, emang nggak niat banget jadi guru" Ucap kesal Aca si paling malas nyatat.


“Eh, tapi dia ganteng” Ucap Rere sambil senyum-senyum sendiri mengingat wajah guru itu.


“Dasar anak ini!” Buku di tangan Aca hampir melayang kearah Rere yang bikin orang gemas dengan ucapannya.


Saat sedang asik di kelas seorang dari kelas lain datang dan memintaku untuk ke ruang guru.


“Kalian baik-baik sama bapak itu ya, mana tahu jodoh aku pergi dulu!” Lalu aku keluar dari dalam kelas menuju ke ruang guru.


Saat akan membuka pintu ruangan itu seorang keluar dan membuat aku tidak sengaja menabraknya. Aku terjatuh dan kepalaku sedikit sakit karena tubuh orang yang aku tabrak itu cukup keras. Saat aku melihat siapa yang aku tabrak ternyata itu adalah seorang pria yang hampir setinggi kak Alex ya meski kak Alex lebih tinggi dan lebih tampan dari pria yang aku tabrak itu.


“Maafkan saya!” Aku berusaha berdiri sendiri dan meminta maaf pada pria itu.


“Kamu Azia, kan?” Tanya pria yang sudah bisa aku tebak sebagai guru baru yang baru saja di bicarakan teman-teman, karena wajahnya yang asing meskipun gaya bicaranya sok akrab.


“Bapak kenal saya?”


“Ya enggak lah! Cuma dari tadi guru-guru membicarakan kamu jadi saya cuma menebak kalau kamu Azia, kamu mau ke dalam?” Lirik pria itu ke arah ruang guru yang pintunya masih terbuka lebar.


“Iya, pak! Sekali lagi maaf karena saya kurang hati-hati” Lalu aku segera masuk ke dalam ruangan.


“Menarik”


Sekilas aku mendengar kata-kata itu sebelum pintu tertutup. Di dalam ruangan aku bertemu dengan pak Eman, guru bahasa yang akan memberikan aku materi yang lebih mendalam dari materi yang seharusnya aku dapat di kelasku. Alasan aku selalu berada di ruang guru adalah karena selain membantu guru menyelesaikan beberapa urusannya juga untuk mendapatkan materi tambahan agar aku siap jika ada lomba yang diadakan di tingkat sekolah, kabupaten atau tingkat lainnya.


“Azia, apa kamu masih mau mengajar les?” Tanya pak Zikri padaku.


“Saya masih mengajar, tapi untuk saat ini jadwal saya sudah sangat penuh makanya saya tidak mengajari anak yang bapak katakan kemarin itu”


“Oh, kalau hari minggu kamu ngapain?”


“Saya tidak mengerjakan apapun selain bermain dengan teman-teman saya”


“Bagaimana kalau kamu mengajari anak itu di akhir pekan saja? Saya yakin ibunya akan setuju lagian saya benar-benar tidak bisa mengajari anak itu lagi, dia sangat sulit di ajarkan, darah tinggi saya akan naik kalau terus mengajari anak itu”


“Loh, kenapa bapak tidak menyerahkan pada guru lain saja?” Usul Pak Eman.


“Saya sudah mengusul pada beberapa guru kenalan saya tapi, mereka menolak karena mereka kenal dengan anak itu dan di forum kami pun sudah banyak yang mengeluh tentang tingkahnya yang keterlaluan makannya banyak yang menolah”


“Kalau gitu saya tidak bisa berkata-kata lagi, semua tergantung Azia”


“Azia kamu punya pacar? Tapi kenapa harus minta izin dia?” Pak Eman mengerutkan dahinya seolah berkata 'kamu baru pajaran nak belum nikah masa perlu minta izin pajar'.


“Saya tidak mau dia marah karena saya mengingkari janji, dia melarang saya mengajari anak laki-laki dari beberapa bulan yang lalu” Jelasku yang merasa aneh karena aku merasa sebenarnya tidak perlu menjelaskan apapun pada siapapun tentang masalahku dan kak Alex.


“Nak, saya sebagai guru sekaligus orang yang berpengalaman dalam hal ini menyarankan kamu untuk tidak berlebihan dalam hubungan, percaya atau enggak kamu dan dia itu belum tentu jodoh lalu untuk apa kamu menghambat diri hanya karena dia tidak suka dengan pengembangan mu?” Ucap pak Eman.


“Saya setuju dengan Pak Eman, lagian kalian pacaran bukan nikah jadi kamu tidak punya kewajiban untuk menuruti ucapannya” Sambung guru lain yang mendengar perbincangan aku dengan pak Eman.


“Kalau begitu biar saya pikirkan dulu” Ucapku untuk tidak memperpajang masalah.


“Baik, kalau begitu kita lanjut materi berikutnya” Pak Eman kembali memberikan materi dan kami juga melakukan diskusi.


Saat bel istirahat berbunyi aku keluar dari ruangan itu dan pergi ke taman dan menunggu Andi datang membawa bekal makan untuk aku. Andi sepertinya terlambat dan perutku mulai berteriak meminta haknya, aku males banget ke kantin karena itu aku hanya bisa tidur di kursi taman sambil menunggu Andi.


“Nih buat kamu!” Sebuah susuk kemasan di letakkan di samping ku.


“Terimakasih Andi, kamu kok lama banget sih?!”


Begitu aku memalingkan wajah aku melihat pria asing di berdiri di sampingku, dia menatap lurus kearah ku dan tersenyum ramah, lalu duduk tanpa meminta izin dariku.


“Kenapa kamu tidak ke kantin dan malah duduk di sini?” Dia bicara dengan santai padaku.


“Bapak ngapain di sini?” Aku mengembalikan susu yang dia berikan padaku.


“Kenapa di kembalikan? Kamu tidak suka?”


Lalu Andi datang menyelamatkan aku, Andi menyelip dan duduk diantara aku dan guru baru itu.


“Nih makanan buat kamu, ini minumannya dan ini cemilan setelah makan” Andi memberikanku bekal yang dia buat dan beberapa cemilan yang baru dia dapat dari pada penggemarnya.


“Makasih, Andi-ku!” Ucapku manja lalu mengambil bekal dari Andi lalu memakannya.


“Gimana, enak?” Tanya Andi sambil mengelus rambutku seolah kami berpacaran.


“Enak banget, kamu emang sempurna, udah ganteng, jagu masak pula” Aku sengaja memuji Andi dengan suara keras agar pria di samping Andi sadar diri dan langsung pergi.


“Andi kamu udah makan?” Tanyaku dengan lembut.


“Belumlah! Makanannyakan udah buat kamu!” Jawab Andi dengan gaya yang sedikit manis.


“Kalau gitu buka mulut!” Lalu aku menyuapi Andi dan memberi Andi kode untuk mengikuti dramaku agar pria itu segera pergi meninggalkan kami. Lalu setelah tidak tahan dengan kemesraan kami berdua, akhirnya pria itu pergi karena sudah tidak bisa tehan karena diabaikan dan di tambah dengan kemesraan yang di tunjukkan Azia dan Andi dengan sengaja pada pria itu.


“Dia siapa?” Tanya Andi sambil memastikan guru baru itu telah menjauh dari tempat kami.


“Guru baru, tapi aku gak suka benget sama dia, dia tu kek caper gitu”


“Azia, mending kamu jauh-jauh deh sama orang itu, aku rasa dia bukan orang baik”


“Aku udah tahu kali Andi! Ngomong-ngomong nasi goreng kamu kali ini kok asin sih?”


“Sebenarnya tadi aku buru-buru makannya gak ngukur dulu pas masak, sorry ya?!” Ucapnya sambil tertawa kecil.


“Gak masalah lagian ini udah cukuplah untuk aku yang super kelaparan”


“Kalau gitu aku ke kantin dulu, ya?!”


“Oke”


Baru beberapa langkah, Andi malah berbalik dan menadahkan tangannya padaku.


“Azia, minta jajan dong!”


“Loh emang kamu gak dapat uang dari Bunda?”


“Bukan gitu, uang itu udah aku kasih buat dana kegiatan OSIS”


“Alasan kamu bisa aja ya?! Nih! Belikan aku susu seperti biasa, ya?!”


“Iya”


Bersambung…


Jangan lupa like dan favoritkan