Obsession Of Love

Obsession Of Love
Kenapa?



Katanya sih latihan sebelum jadi orang tua tapi rasanya kok jadi aneh ya, bisa-bisanya selama ada bocah itu di rumah Azia jadi sering main sama dia ketimbang sama aku. Padahal selama dua hari ini aku terus berusaha lebih banyak waktu untuk di rumah tapi, semua itu tetap tidak terlihat mata Azia karena Azia hanya memerhatikan bocah menyebalkan itu. Di depan Azia anak itu sok imut dan menyebutku Ayah tapi begitu Azia pergi, dia langsung menjadi sosok yang menyebalkan. Tatapannya tajam seolah aku merebut miliknya padahal kenyataannya dialah yang merebut waktu istri mungilku. Sialnya aku tidak bisa mengatakan apapun karena Azia terlihat sangat menyukai anak itu dari padaku aku.


“Kak Alex nggak kerja?”


‘Padahal aku mau ikut main sama mereka tapi kok Azia kayak ngusir aku gitu sih?’ Pikirku kesal.


“Ni juga mau berangkat” Aku pun bergegas ke kamar dan mengganti bajuku.


“Kapan sih anak itu pulang, kenapa dia lama banget di sini? Seharusnya dia pulang ke rumahnya” Geturuh ku kesal sambil memilih baju di lemari.


‘trak’ Pintu terbuka terlihat Azia dengan senyum tipis namun terlihat sangat manis itu masuk ke dalam kamar dan menghampiriku.


“Kak, aku akan mengantar Rion ke bandara, setelah itu mungkin aku langsung ke luar kota karena ada pekerjaan. Kakak kalau mau tinggal di rumah kakak boleh kok, kan lebih dekat sama rumah sakit ketimbang tempat ini. Mungkin aku akan lama di sana.”


“Heh? Kamu sedang mengusirku?”


“Eh, bukan seperti itu… Aku hanya kasihan melihat kakak harus bolak-balik dari sini, tempat ini kan jauh banget dari rumah sakit kakak. Aku cuma khawatir sama kondisi kakak itu aja kok.”


“Heum” Meski mendengar penjelasan panjang Azia, aku tetap merasa sedang di usir. “Aku akan tinggal di sana, kamu senangkan sekarang?” Lantas aku pergi meninggalkan Azia dengan buru-buru.


Rasa kesalku sudah memuncak, aku tidak ingin rasa kesal itu berubah jadi amarah karena itu aku buru-buru keluar dari kamar. Aku tidak tau kenapa aku akhir-akhir ini lebih sensitif dari biasanya, tapi aku rasa ini rasa kesal yang bukan berasal dari ucapan Azia yang seolah mengusirku tadi, mungkin ini hanya rasa kesal karena melihat Azia bahagia dengan merawat anak orang lain namun tidak sekalipun dia mengharapkan anak dari pernikahan kami. Aku terus berpikir kenapa dia seperti itu, apa yang salah dengan aku hingga dia tidak menginginkan anak dari hubungan kami. Mengingat hal itu membuat aku semakin tidak menyukai Rion, Rion memang bukan penyebab masalah utama tapi, melihat wajah anak itu rasanya aku ingin sekali mengatakan banyak hal karena terlalu kesal tapi, aku menahannya karena aku tidak ingin melihat Azia sedih dan mendapat masalah karena keegoisanku ini.


“Semoga semua ini cepat berakhir” Ucapku sambil menatap kearah Rion yang sedang makan cemilan di ruang keluarga sendirian.


*


*


‘dring..’


Handphone ku sudah berdering beberapa kali tapi kali ini entah siapa lagi yang akan mengajakku bicara saat aku sedang tidak ingin bicara.


“Hallo!” Sapaku dengan nada datar.


“Lex, nih obat penyubur kandungan sudah siap, mau ambil kapan?” Tanya Dafana teman terbaikku yang bekerja di bidang farmasi dan kini dia memiliki perusahaan yang bergerak dibidang farmasi yang sudah cukup dikenal.


“Nanti malam aja, sekarang aku masih ada beberapa pasien yang perlu ditangani.”


“Oke, nanti kita ketemu ditempat biasa aja, sekalian teman-teman yang lain juga mau ngumpul.”


“Oke”


Mungkin perbuatanku sekarang akan dianggap jahat karena mencoba segala hal hanya agar Azia berhenti mengonsumsi pil kontrasepsi dan agar kami bisa memiliki anak sendiri. Sejujurnya beberapa minggu yang lalu aku tidak sengaja menemukan pil kontrasepsi di antara buku yang ada di rak buku yang ada di kamar kami. Aku sengaja meminta Dafana untuk membuat obat penyubur kandungan dan membentuknya sama persis seperti pil kontrasepsi yang selama ini di konsumsi Azia. Mungkin jika Azia tau tentang perbuatan ku kali ini dia akan marah besar tapi, aku tetap akan melakukannya meskipun dia akan marah padaku karena aku tidak ingin dia terus membunuh calon anak kami, bahkan dia tidak pernah bertanya bagaimana pendapatku tentang semua yang dia lakukan selama ini karena itu aku pikir kali ini saja, aku juga akan melakukan sesuai keinginanku dan tidak menanyakan pendapatnya.


Sejujurnya aku penasaran kenapa Azia melakukan banyak hal hanya karena tidak ingin memiliki anak, padahal dia terlihat sangat suka anak-anak dari dulu, apa lagi selama beberapa hari Rion tinggal dengan kami dia benar-benar terlihat seperti seorang ibu yang sangat penyayang. Aku ingin sekali menanyakan kebenaran ini pada Azia tapi, aku juga memiliki ketakutan untuk mendengar jawaban yang mungkin lebih melukaiku nantinya.


Dari semua ketakutanku, hal yang paling aku takutakan adalah Azia mulai mengalihkan pandangannya pada Alham, sekretaris barunya itu terlihat lebih baik dariku bahkan umur mereka juga sama, aku selalu khawatir tiap kali Azia mengatakan akan keluar kota atau keluar negeri dengan pria itu. Aku pernah memint Azia memecat Alham dengan nada bercanda tapi Azia malah menanggapinya dengan sangat serius dan berkatan Alham adalah pekerja terbaik yang dia jumpai selain sekretarisnya terdahulu yang baru-baru ini berhenti karena ingin fokus pada pernikahannya.


Bersambung…..