Obsession Of Love

Obsession Of Love
Menghindar 1



Ketika bel berbunyi semua siswa mulai bergegas membereskan buku dan barang-barang mereka dan bersiap untuk keluar dari kelas tanpa peduli guru masih di meja dan membereskan bahan materi untuk hari itu. Saat semua keluar bu Dini menghampiri aku yang masih duduk diam di mejaku tanpa melakukan apapun.


“Azia, apa kamu ada masalah?” Bu Dini yang tiba-tiba bicara membuat aku cukup kaget waktu itu karena sejujurnya waktu itu pikiranku sedang berada jauh dari ragaku.


“Eh ibu, ada apa, bu?”


“Azia, harusnya ibu yang tanya pada kamu, sebenarnya kamu ada masalah apa? Dari sejak ibu masuk kamu sudah seperti ini, melamun dan terlihat murung, apa kamu punya masalah lagi dengan teman-teman?” Tanya bu Dini yang khawatir padaku.


“Tidak ada, bu. Mungkin Azia hanya sedikit kurang sehat saja makanya dari tadi Azia kelihatan tidak bersemangat.”


“Azia, kalau kamu punya masalah, sebaiknya kamu cerita pada orang yang kamu percaya dan selesaikan masalah itu pelan-pelan agar tidak menjadi beban untukmu. Kamu ini kan masih remaja, jangan lah kamu menggung beban sendiri, nak! Kalau kamu butuh teman curhat ibu siap mendengarkan”


“Iya, terima kasih banyak atas perhatiannya, bu tapi Azia benar-benar tidak punya masalah sekarang”


“Permisi!” Andi masuk ke kelas dan menghampiri kami.


“Kalian pacaran?” Tanya bu Dini pada Andi yang menghampiriku.


“Iya, jadi apa boleh saya bawa pulang pacar saya sekarang, bu?” Ucapan Andi tidak hanya membuat bu Dini kaget, tapi aku juga ikut kaget apa lagi dia langsung menggandeng tanganku untuk keluar kelas.


“Boleh, boleh tentu saja boleh, silahkan! Kalau begitu ibu permisi dulu dan ingat jangan berlebihan pacarannya, ya?!” Bu Dini sepertinya benar-benar salah paham dan kelihatan sangat mendukung hubungan kami.


“Siap, bu!” Andi tersenyum dan melambai pada bu Dini yang keluar dari kelas.


Aku mencubit pinggang Andi karena ucapannya yang membuat aku kesal.


“Azia, sakit tahu!”


“Biarin! Makanya kalau ngomong itu jangan ngasal, gimana kalau bu Dini salah paham?” Ucapku kesal.


“Emang aku peduli?! Gak penting banget sih, sekarang ayo pulang!” Andi menarik tanganku dan membawa tas milikku.


“Pelan-pelan Andi!”


Lalu di depan pintu kelas Andi melepas genggamannya dan berbalik melihat kearahku.


“Makanya jangan lama, aku udah lapar banget tahu!”


“Iya, aku juga lapar tapi, jangan buru-buru kayak gitu, gimana kalau aku tersandung terus jatuh dan jidat aku kena lantai?”


“Gak akan!” Tegas Andi.


“Ya, bisa aja, ya’kan?”


“Udah aku bilang gak akan artinya ya gak akan, kalau kamu jatuh aku yang akan tangkap, kalau kamu luka aku yang akan obati jadi jangan khawatir, sekarang ayo pulang!” Andi kembali menarik aku dengan terburu-buru menuju parkiran.


Tempat parkiran sudah hampir sangat sepi, hanya tinggal beberapa motor dari siswa dan juga guru yang masih berada di sekolah karena beberapa alasan.


“Pakai helem kamu dulu!” Andi memberikan aku helm yang dia persiapkan khusus untuk aku.


“Iya”


Saat aku akan memakai halem dan Andi menghidupkan motor tiba-tiba saja kak Alex masuk ke parkiran sekolah kami.


“Azia!” Wajahnya terlihat kesal dan tatapan matanya sangat mengerikan.


“K-kak Alex” Bicaraku waktu itu jadi terbata-bata karena aura yang di keluarkan dari kak Alex itu membuat aku sangat takut.


Andi markirkan kembali motornya dan menghadang kak Alex yang terus menatap lurus kearahku.


“Gak akan! Katakan apa perlumu!”


Tubuh Andi menghalangi pandangan kak Alex yang tertuju padaku, aku jadi merasa aman berada di belakang Andi.


“Azia sayang, cepat ke sini!” Kak Alex memintaku menghampirinya dengan nada perintah yang tegas dan itu membuat aku semakin takut menghampirnya.


“Jangan memerintah Azia, dia itu bukan bawahan kamu, ya?!” Bentak Andi yang entah kenapa terlihat penuh emosi tidak seperti biasanya.


“Bukan urusanmu!” Kak Alex menatap tajam kearah Andi yang menyembunyikan aku dibelakangnya.


“Siapa bilang bukan urusanku? Selama itu menyangkut Azia, maka masalah itu akan langsung berhubungan denganku, paham!” Tegas Andi pada kak Alex yang kelihat mulai geram pada Andi.


“Apa kamu bilang?!” Kak Alex terlihat sangat marah mulai menarik kerah baju Andi. Tangan besarnya mulai diangkat dengan kekuatan penuh tangan itu melayang menghantam wajah Andi yang agak sawo matang, Andi yang tidak terima pun mulai membalas pukulan itu. Sebelum perkelahian mereka menjadi lebih serius aku mencoba menarik Andi dan memisahkan mereka berdua.


“Kak, jangan berantem sama Andi!” Ucapku pada kak Alex.


“Gak papa Azia, aku tidak selemah itu untuk dengan mudah di hajar oleh pria bre**sek seperti dia” Andi semakin memprovokasi kak Alex yang sudah jelas-jelas sedang naik pitam hari itu.


Wajah Andi benar-benar tidak terselamatkan, apa lagi kak Alex memiliki tubuh yang lebih besar dan berotot dari Andi si kurus kerempeng tapi sok kuat.


“Kak, jangan dengarkan ucapan Andi, lepaskan Andi! Oke, ayo kita bicara!!” Ucaku untuk menenangkan kak Alex.


Lalu kak Alex melepas kerah baju Andi dan aku sedikit mendorongnya menjauh dari Andi agar tidak terjadi keributan lagi. Meski aku berhasil memisahkan kedua laki-laki yang sama-sama keras kepala itu tapi, keduanya masih saling memberi kode untuk melanjutkan perkelahian, mereka saling memprovokasi hingga aku rasanya ingin melempar mereka ke laut karena terlalu kesal.


“Kak, lihat aku!” Tegasku sambil memegang kedua pipinya dengan kedua tanganku agar dia tidak melihat kearah Andi lagi.


“Kak Alex! Tolong Fokus padaku!”


“Iya, maaf” Dia terlihat lebih tenang setelah itu.


“Kakak ngapain ke sini? Kalau mau cari ribut tolong jangan di sini?”


“Kok kamu ngomongnya begitu? Wajarkan kalau aku cari pacarku karena lama nggak ketemu, iya’kan?”


“Kak, ini masih di lingkungan sekolah, tolong jaga sikap kakak, sebenarnya tidak penting apa alasan kakak ke sini karena saat ini yang penting adalah kakak tidak membuat keributan di sini, bagaimana kalau guru-guru di sini melihat dan menegur kakak?” Ucapku kesal.


“Sayang, apa kamu merasa risih dengan kehadiranku di sini?” Ucapnya dengan raut kecewa.


“Gini deh kak, coba kita balik terus aku yang ada di posisi kakak sekarang, aku datang ke rumah sakit terus aku marah-marah karena kakak lagi bicara akrab dengan perawat atau pasien di sana, apa kakak tidak akan mengatakan hal yang sama?”


“Itu…” Dia terlihat mulai memikirkan kesalahannya walau tidak terlukis ada penyesalan di sana.


“Sekarang kakak kembali saja ke rumah sakit dan lakukan tugas kakak, aku akan tetap pulang dengan Andi” Lalu aku berbalik menuju kearah Andi.


“Azia tunggu!” Dia memegang tanganku dan membuat langkahku benar-benar terhenti.


“Apa lagi, kak?”


“Apa kamu begini karena marah padaku? Apa karena aku tidak mengangkat telpon darimu waktu itu? Kalau benar, aku punya penjelasan soal itu karena sebenarnya waktu itu…”


“Stop kak! Andi bisa mati kelaparan kalau kakak terus menahan kami di sini. Soal waktu itu, aku sama sekali tidak terlalu peduli karena aku tahu kakak sibu dan sekarang apa kami bisa pergi?” Aku sedikit bersikap tegas pada kak Alex waktu itu karena aku ingin dia tahu kalau aku juga punya perasaan yang harusnya dia pertimbangkan.


Lalu kak Alex melepas genggaman tangannya dan aku pergi kembali pada Andi, setelah itu kami pun pergi dan meninggalkan kak Alex di sekolah. Sejujurnya hatiku berat meninggalkan kak Alex seperti itu tapi, aku tidak mau membuat masalah dengan kejadian waktu itu dan membuat aku terpaksa memutuskan hubungan dengan kak Alex untuk kedua kalinya. Aku ingin dia sadar dan mengerti, lalu memutuskan apa yang paling penting untuknya, aku atau wanita itu, dan agar dia berhenti membuat alasan tiap kali kami gagal untuk bertemu atau tiap kali dia tidak membalas atau mengakat telpon dari aku.


Bersambung….