
“Kakek tahu, tapi kakek ingin mendengarnya langsung dari mulutmu. Jadi apa kamu masih berpikir dia terbaik untukmu? Apa kamu yakin menginginkannya?” tanya kakek lagi padaku.
“Aku tetap menginginkannya. Aku tegaskan untuk terakhir kalinya pada kakek kalau aku hanya akan menikahi orang itu! Aku tidak akan menikah dengan orang lain selain dia!” Tegas ku sambil beranjak dari sofa itu.
“Duduk!” Perintah kakek.
“Aku tidak mau!” Aku tetap berdiri.
“Kakek akan memberikan kalian kesempatan, tapi dalam 1 bukan ini kamu harus sudah menikah dengan dia, bagaimana?” Tawar kakek secara tiba-tiba.
Aku cukup kaget karena aku tidak berpikir akan mendengar hal itu dari seorang yang sedingin dan sekejam kakek.
“ Apa kakek tidak sedang bercanda?” Tanyaku yang ragu dengan ucapan kakek.
“Apa kamu pernah melihat kakek bercanda?” Tanya nya padaku.
Aku kehilangan kata-kata mendengar hal itu, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat itu. Di satu sisi aku bahagia tapi di sisi lain aku merasa ada sesuatu di balik kebaikan kakek.
“Baik, aku akan memastikan kami akan menikah!” lalu aku segera keluar dari tempat itu.
Seharusnya aku senang karena mendapatkan restu tapi, hatiku benar-benar terganggu karena kebaikan kakek yang terlalu tidak diduga. Ini terasa sangat aneh, aku merasa ada yang salah tapi aku tidak bisa mempertanyakan hal ini langsung pada kakek.
Aku pergi ke kamar, di sana aku terus saja memikirkan ucapan kakek yang membuatku semakin gelisah.
“Kenapa Kakek tiba-tiba memberikan restu? Jika semudah ini aku tidak mungkin harus melewati banyak masalah, dan menunggu cukup lama hanya untuk bisa menikahi kak Alex” Pikirku.
Aku tidak bisa tenang dengan hal itu, aku terus memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
‘dring!’
Handphone ku berdering dan tertera nama ‘Fara’ di layarnya.
“Hallo! Ada apa Fara?” Tanya ku.
“Azia, apa kamu bersama Bastian?” Tanya Fara.
“Tadi sih iya, tapi sekarang enggak, emang kenapa? Oh ya, aku dengar kamu mencampakkan dia, apa itu benar?” Tanya ku.
“Enggak kok, aku tidak melakukan itu. Kamu dengar dari mana sih?”
“Dari dialah, jadi cerita sebenarnya itu bagaimana sih?” Tanya aku lagi.
Fara pun mulai menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi di bandara saat itu.
Setelah bertemu dengan orang tuaku, mereka akhirnya memesan tiket untuk kembali ke Indonesia. Namun saat baru saja akan masuk ke airport seorang pria berambut pirang dengan mata hitam pekat menghampiri Fara dan Bastian. Tanpa basa-basi pria itu memeluk Bastian, Fara kaget melihat hal itu ditambah pria itu malah mencium bibir Bastian tanpa memberikan Bastian kesempatan berbicara.
“get…”
Belum selesai Bastian bicara, sebuah ciuman dari pria itu membuat dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Mata Fara benar-benar kaget di buat kedua pria yang berada di hadapannya. Lalu Fara pergi dari tempat itu dengan buru-buru dan meninggalkan dua pria yang sedang bercumbu mesra di sana. Bastian mendorong pria itu lalu, mencoba mengejar Fara yang sudah cukup jauh tapi pria itu menahannya.
“Where do you want to go?” Tanya pria itu sambil menahan tangan Bastian.
“We’ve broken up, stop appearing in life! I’m sick of you!” Bastian pun mengejar Fara tapi dia kehilangan jejak Fara, dengan rasa sedih dan bersalah Bastian akhirnya pergi dari tempat itu.
Di sisi lain Fara sedang berada di toilet. Sebenarnya saat kejadian itu Fara memang kaget tapi alasan dia segera pergi dari tempat itu bukan karena dia marah pada Bastian hanya saja dia mendapat panggilan alam yang cukup mendesak, karena itu dia bergegas pergi meninggalkan Bastian dengan pria itu dan menyelesaikan panggilan alamnya secepat mungkin. Tapi saat dia selesai dan kembali, Bastian ternyata sudah pergi, di saat yang sama dia mendapat panggilan dari orang tuanya yang meminta dia untuk kembali.
Setelah hari itu Fara mencoba menghubungi Bastian tapi nomor Bastian sudah tidak aktif, bahkan Bastian memblokir akun Fara hingga Fara tidak bisa menghubunginya dari berbagai sosial media. Dia ingin menyusul Bastian tapi beberapa hari terakhir dia di sibukkan dengan urusan hotelnya, karena sekarang dia sudah mengambil alih pekerjaan orang tuanya.
“Jadi apa kamu mengerti situasinya sekarang?” Tanya Fara lagi padaku.
“I already understand your situation, but… Eum, you know … gimana bilangnya ya… aku sebenarnya ingin membantu tapi aku sedang di situasi sulit, beri aku sedikit waktu dan aku akan menyelesaikan masalah kalian, okay!” Ucapku.
“Memangnya kamu ada masalah apa lagi?” Tanya Fara.
“Pas banget kamu nanya, sebenarnya aku ingin menceritakannya pada kamu. Jadi kakek tadi tiba-tiba ngasih restu ke aku, gila nggak tuh? Udah 5 tahun tiba-tiba kakek tiba-tiba ngizinin aku untuk nikah sama kak Alex, ini terasa tidak wajar, yak an?” Ucapku.
“Bukan kah itu bagus, kamu tidak perlu over thinking. Sekarang kamu hanya perlu menikahi dia dan semua selesai.” Fara mencoba meyakinkan aku kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi, aku malah semakin khawatir.
“Apa kamu yakin?” Tanya ku dengan penuh keraguan.
“Iya. Ambil sisi positifnya aja, mending persiapkan saja pernikahan kalian dengan cepat sebelum kakek mu berubah pikiran lagi”
Kalau di pikir-pikir ya ucapan Fara ada benarnya, seharusnya aku tidak perlu terlalu banyak berpikir, dan seharusnya aku lebih fokus pada persiapan pernikahanku yang mendadak ini sebelum kakek berubah pikiran.
“Kamu ada benarnya juga, ya sudah aku akan segera menyiapkan pernikahanku”
“Oke, selamat atas keberhasilan perjuangan kalian, aku harap tidak ada masalah untuk mu lagi kedepannya.” Ucap Fara yang terdengar aneh untukku.
“Iya, semoga saja. Sudah ya Fara, aku mau ngecek keadaan kak Alex di rumah sakit”
Setelah itu aku segera bersiap untuk kembali ke rumah sakit.
Sebenarnya ada banyak hal yang aku pikirkan terutama Fara, yang kadang terasa aneh, aku tidak cukup yakin kalau dia sudah benar-benar mendukung hubunganku dengan kak Alex karena aku cukup menengah Fara dan untuk seorang seperti Fara, untuk bisa berubah pikiran itu hal yang sangat sulit, butuh alasan yang cukup benar baginya agar bisa berubah pikiran. Jika memang dia berubah pikiran karena dia menyayangiku dan tidak ingin aku berakhir sama dengan kakak sepupunya, bukankah seharusnya dari dulu saja dia mendukung hubunganku dengan kak Alex. Lalu kenapa harus menunggu cukup lama hanya agar dia memberiku restu. Entah ini hanya aku yang terlalu banyak berpikir atau memang ada sesuatu yang aku lewatkan.
Bersambung…..