Obsession Of Love

Obsession Of Love
Liburan



Satu hari setelah acara pernikahan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di tempat yang sudah lama aku ingin kunjungi yaitu Maldives. Padahal aku hanya menceritakan tentang keinginanku untuk berlibur di sana pada Liam tapi, ternyata masalah itu sudah terdengar sampai di telinga Papa karena itu beberapa waktu lalu Papa tanpa alasan yang jelas membeli saham di di hotel dan resort yang terkenal di sana. Berkat itu kami bisa menikmati liburan dengan tenang tanpa memikirkan apapun, sesuai kesepakatan Fara dan Bastian ikut bersama kami.


Kami semua tinggal di resort yang berada di tengah laut, pemandangan yang sangat cantik dan air laut yang jernih membuat tempat itu jadi favorit wisatawan dan biasanya tempat itu selalu penuh dan butuh beberapa waktu untuk bisa menyewa tempat itu, namun berkat Papa semua bisa teratasi dengan mudah. Pelayan tempat itu sangat luar biasa di tambah tempat itu memang sangat sempurna untuk dijadikan pilihan liburan dengan nyaman.


“Azia, nyari makan yok?” Ajak Fara padaku yang sedang berbaring lelah karena perjalan kami yang cukup melelahkan.


“Biarkan dia istirahat, aku akan memesan makanan untuk kalian.” Ucap kak Alex yang sibuk membereskan barang-barang bawaan kami.


“Eum, oke” Fara berjalan masuk dan tidur di sebelahku.


“Kenapa kamu tidak tidur di kamarmu?” Tanya kak Alex dengan nada mengusir.


“Kak, biarkan saja lah!” Ucapku yang mencoba untuk tidur.


Kak Alex menatap kesal pada Fara, dan Fara hanya nyengir melihat kak Alex yang kesal tapi kak Alex tidak bisa mengatakan apapun lagi karena dia tidak ingin terjadi keributan dan membuat aku tidak bisa beristirahat dengan tenang.


Tak lama kemudian Bastian datang, “Belum selesai juga beres-beresnya?” Tanya pada kak Alex.


“Nih dikit lagi” Jawab kak Alex sambil membereskan koper dan meletakkannya di samping lemari.


“Mereka tidur” Melirik ke arah kami yang sudah tertidur pulas.


“Eum. Bastian, bisa kita bicara?”


Keduanya pun keluar dari kamar dan menuju ke balkon. Keduanya duduk di kursi santai sambil menatap langit yang berubah menjadi jingga keemasan.


“Ada apa?” Tanya Bastian.


“Ini terdengar tidak sopan tapi, kamu bisa kan membawa anak itu menjauh dari istriku? Ya setidaknya beri kami privasi, kalian juga baru menikah pasti kalian tahu apa yang kami butuhkan di saat-saat seperti ini bukan?” Ucap kak Alex.


“Aku mengerti! Tapi, aku tidak bisa menjanjikan apapun karena dia sedikit keras kepala dan sejauh yang aku lihat dia sangat tidak menyukaimu… sepertinya dia juga terus berusaha keras untuk membuat kamu jatuh di depan Azia. Tapi apapun masalah kalian, yang aku tahu dia istriku yang tidak ingin aku lukai dan tidak ada yang boleh melukainya” Ucap Bastian tegas pada kak Alex.


Kak Alex menghela napas, “Aku tidak berniat membalas perbuatannya tapi, jika sudah berlebihan aku benar-benar tidak bisa sabar lagi… Sebaiknya kita mengawasi istri kita masing-masing, dan aku harap tidak ada masalah dalam liburan ini.”


“Aku juga berharap begitu”


Lalu aku terbangun dan melihat kedua laki-laki itu sedang berbicara serius di balkon tapi, aku tidak bisa memastikan apa yang sedang mereka bicarakan karena itu aku keluar dan menemui mereka.


“Kenapa kalian di sini?” Tanyaku


Keduanya terkejut dan saling memberi kode lewat tatapan mata, aku sedikit curiga tapi aku tidak ingin merusak mood ku karena itu aku mengabaikan hal itu.


“Apa kamu lapar?” Tanya kak Alex padaku.


“Fara mana?” Tanya Bastian yang mencari sosok lain di belakangku.


“Dia masih di tempat tidur, apa aku bangunkan dia sekarang?”


“Tidak perlu, aku sudah bangun” Fara menyandarkan kepalanya di bahuku.


“Ah Fara! Kamu membuatku kaget! Ayo kita cuci muka dan bersiap untuk makan malam!” Aku menarik tangan Fara ke kamar mandi dan dua laki-laki itu pun kembali masuk ke kamar dan menutup pintu kaca dengan hati-hati.


Satu jam berlalu dan kini kami sudah di meja makan, di tepi pantai dengan suasana romantis dengan lampu-lampu yang mengelilingi pohon-pohon di tempat itu, dua lilin di atas meja, lalu makanan yang sudah di selesai di hidangkan di depan kami dengan sajian yang cukup indah dan estetik yang membuat aku dan Fara tak bisa menahan diri untuk tidak mengambil foto makanan itu. Kami yang terlalu bersemangat mengabadikan hal itu tidak menyadari kalau dua pria di depan kami mulai cemberut kesal karena lapar dan kami tidak membolehkan mereka menyentuh makanan hingga kami mendapatkan potret terbaik dari makanan malam itu.


“Aku tidak tahu, sabar aja dulu”


“Aku sudah lapar! Bisa nggak sih lain kali kita ngelarang mereka bawa handphone?” Lanjut Bastian yang melirik tajam ke arah kami.


“Memangnya kamu berani? Kalau kamu berani coba saja nanti” Ujak kak Alex.


“Oke, sudah! Ayo makan” Ucap Fara sambil melihat lagi hasil foto yang dia dapat. “Eh, ini bagus gak sih?”


“Iya bagus tu, ayo kita upload!” Ajak ku yang sudah selesai mengetik beberapa kata di caption foto itu.


“Oke”


Kak Alex mengambil piringku dan menukarkannya dengan piringnya yang berisi daging yang sudah dipotong kecil-kecil untukku.


“Makan dulu, sayang” Ucapnya.


“Makasih kak”


Aku senang dengan perhatian kecil dari kak Alex, sedangkan Fara malah kebalikannya. Fara terkesan lebih romantis dan lebih dewasa dari Bastian, bahkan yang memotong daging untuk Bastian adalah Fara.


“Aku boleh minum anggur?” Tanya Bastian pada Fara yang ada di depannya.


“Heum” Fara mengangguk.


Bastian pun segera menuangkan anggur ke gelasnya, dia terlihat sangat senang. Aku jadi iri dan berkeinginan untuk mencoba anggur itu juga tapi, tatapan mata kak Alex seolah mengatakan ‘jangan coba-coba’ dan hal itu membuat aku tidak berani berkata-kata. Aku hanya bisa melihat Bastian terus meneguk anggur yang terlihat sangat menggiurkan dan menggodaku.


“Bastian, sudah cukup. Itu gelas kedua dan tidak ada lagi setelahnya!” Ucap Fara dengan tegas pada batian yang sudah hampir menuang anggur ke gelas untuk ketiga kalinya.


“Baiklah, aku akan berhenti minum! Setelah ini kita ngapain?” Tanya Bastian.


“Eum… Bagaimana kalau kita buat api unggun ? Aku akan meminta pengurus untuk menyediakan kita kayu bakar dan sebuah gitar, itu akan membuat malam ini jadi lebih seru, seakan kita sedang… Sedang apa itu… eum…”


“Maksudmu mungkin… kemping?” Fara melanjutkan ucapanku yang terhenti karena aku lupa dengan nama kegiatan itu.


“Nah! Itu yang aku pikirkan, ayo lakukan!”


Setelah kami selesai makan, aku meminta pengurus resort untuk menyediakan kami kayu bakar dan gitar di dekat tempat itu. Rencananya kami ingin bersusah payah untuk menyalakan api tapi, pengurus resort sudah sangat pengertian dan perhatian hingga dia tidak hanya menyediakan kayu bakar tapi juga menyalakannya untuk kami.


“Pengertian juga orang itu, ya?” Ucap Bastian.


“Iya, enggak kayak kamu! Ayo mainkan lagu untuk api unggun kita malam ini!”


“Lagu apa?” Tanya Bastian yang sudah siap untuk memainkan gitarnya.


“Kamu tahu lagu ‘come through’ dari Jeremy?” Tanya Fara pada Bastian.


“Oh itu… liriknya yang… Eum.. Ah itu, I’m trying to realize… it’s alright to not be fine… itu kan?” Jawab Bastian.


“Iya yang itu! Ayo coba”


Batian pun mulai memperlihatkan kemahirannya dalam bermain gitar, aku sangat suka dan kagum pada suara merdu dan cara dia memainkan gitar seolah-olah dia adalah seorang penyanyi profesional.