
Aku pikir semua akan menyenangkan setelah menikah, semua mulai terbayang dalam pikiran tentang bagaimana tiap kali aku membuka mata ada pria tampan dengan penuh pesona menyambutku, lalu menjalani hariku bersamanya. Tapi itu hanya bayanganku, setelah liburan berakhir kami mulai menjalani aktivitas normal. Kak Alex mulai sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit dan aku mulai sibuk dengan bisnisku yang sedikit demi sedikit mulai berkembang.
Tepat jam 7 pagi, alarm ku berbunyi hingga aku terbangun, tanganku mencoba mencari sumber suara berisik itu, setelah mematikan alarm aku baru sadar kalau Alex sudah tidak ada di sebelahku. Aku mungkin terbiasa tidur sendiri pada awalnya tapi setelah menikah dengan Alex rasanya bangun tanpa melihat dia di sampingku adalah hari terburuk yang bisa aku rasakan.
“Kenapa dia pergi sepagi ini?” Pikirku sambil mencoba melawan dari tarikan magnet dari kasur yang cukup kuat tiap paginya.
‘ting!’
Sebuah notifikasi masuk dan terlihat di layar handphoneku pesan singkat dari kak Alex.
“Apa sudah bangun? Aku sudah menyiapkan sarapan, jangan lupa makan, istri mungilku”
“Tidak salah pilih, memang kak Alex yang terbaik” Aku segera mencuci muka dan turun ke ruang makan.
Alex benar-benar suami yang sempurna untukku yang biasa, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah dan termasuk memasak, meskipun dia sibuk dengan pekerjaannya tetap saja akan ada waktu khusus untukku. Namun sayangnya jadwalku kadang tidak bisa aku atur untuk bisa menemainnya.
Tidak ada hal buruk yang terjadi selain aku yang selalu merindukan kak Alex, di sela kesibukan kadang aku merasa ingin menggunakan pintu kemana saja yang ada dalam cerita nobita dan doraemon, tapi sayangnya tidak mungkin aku bisa melakukan itu. Meski rindu mencoba membunuhku, pekerjaanku tidak bisa menunggu aku selesai dengan drama yang ku sebut ‘rindu’ itu. Membangun bisnis baru benar-benar membutuhkan banyak tenaga dan juga tentunya uang, karena aku memilih menentang keluarga besarku dan menikah dengan Alex membuat aku kesulitan untuk meminta bantuan keluarga dan rekan bisnis kakek yang aku kenal untuk berinvestasi dalam bisnisku.
“Bu Azia, sebenarnya saya tidak ingin mengatakan masalah ini sekarang tapi, saya sudah terlanjur berjanji pada keluarga saya untuk pulang minggu ini, jadi…” Ucapnya ragu-rabu dengan mata kadang tidak bisa menatapku.
“Aku tahu, kamu pasti ini membahas tentang janjiku waktu itu, benarkan?”
“Iya, tapi sebenarnya saya tidak ingin meninggalkan anda dalam situasi saat ini tapi kali ini saya benar-benar harus kembali ke rumah orang tua saja.”
“Eum, aku tahu. Aku sudah berjanji memberi cuti saat aku kembali, kamu boleh mulai cuti besok tapi, penggantimu harus datang mulai hari ini.”
“Soal itu… Dia …”
Lalu seorang pria muda hampir setinggi Alex masuk ke ruanganku, dia menyapa dengan sebuah senyum. Pria dengan kulit seputih perempuan eropa itu memiliki wajah yang cukup familiar di ingatanku, aku harap hari itu aku salah mengenali seseorang karena orang yang ada dalam ingatanku bukanlah orang yang ingin aku ingat atau aku dengar namanya.
“Selamat pagi, bu A.Z.I.A”
Mendengar suaranya aku mulai yakin kalau aku tidak salah dalam mengenali orang.
“Alham Hardi?” Ucapku secara spontan.
“Syukurlah, anda tidak melupakan nama saya, bu A.Z.I.A.”
“Kalian saling kenal?” Tanya Indah pada kami yang masih saling menatap.
Aku bangun dari kursi ku dan menghampiri pria yang suka tebar pesona.
“Sudah lama, aku pikir kamu sudah hidup bahagia dengan perempuan itu” Tanpa sadar aku mulai menyindir Alham.
“Syukurlah kalau kalian sudah saling kenal, jadi tidak perlu ada proses yang terlalu lama dan saya tidak perlu khawatir meninggalkan anda dengan sekretaris pengganti saya.”
“Bu Indah bisa berlibur dengan tenang, saya akan menjaga bu direktur dengan baik dan memastikan kalau semua aman terkendali hingga saat anda kembali” Ucapnya sambil tersenyum ke arahku.
“Indah, apa kita bisa bicara berdua?”
“Eum.. aku paham. Hati-hati di jalan, sampaikan salam ku pada orang tuamu, aku akan mengirim beberapa hadiah untuk mereka nanti.”
“Terimakasih, bu Azia. Saya akan sangat merindukan anda” Indah memelukku lalu segera berlari keluar.
Begitu Indah keluar, suasana menjadi aneh, entah itu terasa canggung atau mencekam. Tatapan Alham juga sedikit aneh, dia terlihat seolah punya dendam padaku tapi, seingat ku dia yang membuatku kesal dan bukannya aku.
“Kenapa kamu melamar kerja di sini? Kenapa kamu tidak bekerja di sana saja? Bukan kah itu akan lebih dekat dengan ‘orang itu’ aku pikir kamu tidak akan kembali lagi ke Indonesia” Ucapku sambil berjalan kembali ke kursi ku.
“Berhentilah membahas masa lalu, itu sudah bertahun-tahun lagian kenapa kamu peduli dengan hal itu?”
“Peduli? Aku? Hhahahah.. jangan bercanda! Mustahil!”
“Kalau kamu tidak peduli kenapa kamu terus membahas soal kejadian itu?”
“Aku, tidak! Sudah kembali bekerja!”
“Tentu saja.” Dia kembali tersenyum aneh lalu keluar dari ruangan ku.
Aku pikir berpisah beberapa jam dengan kak Alex adalah hal terburuk dalam hidupku tapi, ternyata itu bukan alasan yang paling buruk karena kini aku temukan hal yang lebih buruk dari itu. Sejujurnya sebenarnya aku tidak ingin mengingat beberapa kejadian dimasa lalu karena itu aku sengaja menyimpan masalah tentang Alham untuk diriku sendiri agar tidak ada alasan mengingatnya tapi tiba-tiba dia muncul dalam hidupku lagi.
“Kenapa tiba-tiba dia muncul sih? Baru aja menikmati hidup sempurnaku, kenapa dia muncul? Aku harap tidak ada kekacauan lagi kali ini”
Tidak lama kemudian dia kembali lagi ke ruanganku, rasanya aku ingin melempar dokumen yang sedang aku baca saat itu tapi, aku mencoba menahan diri dan bersikap selayaknya seorang bos kepada karyawan pada umumnya.
“Maaf, bu Azia. Ini teh Anda, ini adalah produk yang akan kita keluarkan dalam bulan ini.”
“Apa saya memintanya?”
“Tidak. Namun menikmati produk sendiri bukankah lebih baik dari pada produk orang lain, bukan begitu bu A.Z.I.A?”
Senyum yang dia tunjukan padaku seolah berkata ‘kamu harus meminumnya atau aku akan menghajarmu’
“Apapun masalah kita diluar kantor, aku harap tidak terbawa ke sini.” Aku terus menatap ke sebotol teh dengan rasa apel dan lemon yang dipadukan menjadi satu rasa yang unik.
“Saya yakin kalau kita berdua orang yang profesional dan membawa masalah pribadi dalam pekerjaan.”
Entah kenapa ucapannya terdengar soal menyudutkan, seolah yang bersikap tidak profesional antara kami adalah aku.
“Kamu sudah tahu tugas dan batasmu, bukan?”
“Tentu saja. Apa saya boleh mengajukan beberapa pertanyaan?” Alham berjalan selangkah lebih dekat dengan meja ku.
“Selama itu masih berkaitan dengan pekerjaan, jika tidak simpan saja dalam otak kecilmu itu.”
“Sangat kejam.” Gema nya dengan suara kecil. “Baiklah, kalau begitu saya akan menyiapkan berkas untuk meeting kali ini”
Aku hanya mengangguk, lalu dia segera keluar dari ruangan ku dengan ekspresi seolah aku baru saja menegurnya.