Obsession Of Love

Obsession Of Love
Kisah hari ini



"Nih, udahkan! Puas sekarang" Tanyaku dengan nada kesal dan dibalas anggukan dengan senyum puas dari Bastian.


Lalu anak itu pun bangun dan segera pergi dari kamarku tanpa mengucapkan kata-kata yang biasanya akan menaikkan emosiku.


***


Sejujurnya aku muak dengan hubunganku dengan Bastian, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia untuk saat ini dan mungkin saja ini akan berlangsung lama apalagi mata-mata kakek terus saja mengawasi interaksi kami. Beberapa kali aku mendapat teguran keras dari kakek saat terlalu dekat dengan laki-laki lain, atau karena aku mengabaikan Bastian saat jadwal makan malam kami tiap minggu.


Jujur setahun tanpa kak Alex rasanya hidupku benar-benar kacau, ditambah Bastian tunanganku yang sekarang itu selalu membuat aku emosi dengan sifat kekanakannya dan juga kebodohannya yang membuat aku malu. Dia tidak hanya nakal tapi juga bodoh hingga rasanya aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai tunanganku di depan orang-orang.


“Bastian, aku sudah dengan Papa dan Mamamu, mulai hari ini aku akan menjadi guru les mu, sekaligus pengelola keuangan, jadi butuh uang, kamu harus meminta padaku terlebih dulu, paham” Ujarku pada Bastian yang sedang asik bermain game di handphone kesayangannya.


“HAH?” Dia melotot kaget melihat ke arahku, dihentikannya permainannya itu lalu, handphonenya di letakkan di atas meja.


Aku menghela nafas kesal, “Apa kamu sudah mulai tuli?” Tanyaku padanya yang terus menatapku lekat.


“Aku tidak tuli, tapi kenapa? Kenapa harus kamu yang mengatur keuanganku? Aku tidak mau! Sayang… Jangan gitu dong, aku nggak mau uangku dibatasi, ya?” Pintanya manja padaku.


Dia mulai mendekatiku hingga jarak kami tidak berjarak lagi, di gandengnya tanganku, lalu disandarkannya kepalanya di pundakku. Aku mencoba mendorongnya tapi, semakin aku mendorongnya, semakin erat dia memeluk lenganku.


“Hentikan!” Bentakku kesal hingga membuat Bastian kaget dan melepas tanganku, “Aku tidak akan melakukan ini andai kamu sedikit bersikap lebih dewasa dan tidak boros untuk hal yang tidak berguna, aku tidak peduli kamu setuju…. Motor dan mobilmu aku sita, mulai hari ini kita akan berangkat bersama, aku akan mengawasimu secara langsung”


“ISH! Kenapa sih kamu gini? Kamu menyebalkan!” Keluhnya dengan wajah cemberut seperti biasa.


“Memang, apa kamu baru menyadarinya”


“Azia, kenapa kamu jadi sekejam ini padaku, padahal biasanya kamu tidak peduli.” Tanya dengan masih mempertahankan ekspresi cemberutnya yang sok menggemaskan itu.


“Tentu saja karena aku tidak tau apa aku bisa lepas dari hubungan ini dimasa depan atau tidak, peluangku semakin kecil karena itu, untuk meminimalisir kemungkinan mendapatkan suami tidak berguna seperti kamu, mending aku mendidikmu secara langsung agar pantas untuk menjadi suamiku di masa depan.” Jelaskan dengan nada datar yang dibalas senyum tipis olehnya. “Kenapa kamu tersenyum?” Tanyaku.


“Aku senang kamu mulai menerimaku, aku pikir kamu tidak menginginkan hubungan kita” Ujarnya dengan sebuah senyum yang makin melebar.


“Terserah apa yang kamu pikirkan, intinya semua akan berjalan sesuai aturanku, jadi bersiaplah” Ucapku sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


*


*


Kamar….


Aku pandang foto di galeri handphone ku, sebuah foto seorang pria tinggi, putih, dengan lesung pipi yang terbentuk di pipinya saat tersenyum, pria yang mengenakan jas dokter itu menjadi satu-satunya foto yang ada di galeri handphone ku hingga detik ini.


“Kak, aku merindukanmu. Apa kamu baik-baik saja disana?” Ucapku sambil terus menatap foto pria yang paling aku cinta, “Kak, apa kamu tau kalau aku sudah bertunangan dengan orang lain di sini, meski tidak ada yang tau termasuk dirimu selain keluargaku dan keluarganya. Kak, aku tidak bisa bahagia tanpamu, aku menginginkanmu” Perlahan air mataku tumpah karena terlalu merindukan kak Alex.


“Kak, apa aku egois karena masih mencintaimu dan menginginkanmu saat aku tau jika kita bersama maka aku akan kehilanganmu dari dunia ini. Kak, aku telah melepasmu sekarang, jangan muncul lagi dihadapanku, aku tidak ingin menjadi egois dilain waktu.”


“Kak, jangan buat aku semakin mencintaimu, atau aku akan menjadi egois dan kembali berusaha mendapatkanmu meski aku tau resikonya adalah nyawamu dan nyawa mereka” Menolongku pada foto kak Alex.


Orang bilang, cinta itu tentang waktu, apa mungkin waktu juga bisa membuat aku menghilangkan perasaan yang mustahil ini? Aku ingin menghilangkannya agar aku tidak harus merasakan kehilangan lagi, aku tidak ingin menjadi egois tapi, perasaan cinta yang masih bersemayam dalam dadaku cukup membuat aku tersiksa hingga detik ini karena tidak bisa merelakan kak Alex dan menerima Bastian sebagai orang yang dipilih untuk menjadi pendamping masa depanku.


***


3 Tahun kemudian….


Aku telah berusaha membuat Bastian menjadi lebih baik, namun sifat buruknya masih memiliki banyak hingga kadang kala aku mulai lelah menghadapinya.


Jujur aku kadang iri pada Bastian yang terlalu diperhatikan oleh Bibi Aurel, ya mungkin ini karena Bastian anak tunggal dan anak kesayangan Bibi Aurel. Berbeda denganku, aku dan Mama hingga saat ini tidak pernah bicara, kecuali dalam acara resmi itupun hanya formalitas di depan kamera. Dibalik itu semua aku sedikit bersyukur karena Papa tiriku itu sudah menggapku seperti putrinya sendiri, bahkan Liam adikku yang dari pernikahan Mama dan Papa tiriku itu cukup dekat denganku. Jika orang asing yang tidak mengenal keluarga kami mungkin mereka akan berpikir kalau Mexinus adalah orang tua kandungku sedangkan Tiara Lestari itu ibu tiriku.


*


*


“Azia, Putri Papa, selamat atas kelulusanmu” Ujar Papa padaku dengan memberikan sebuah buket bunga mawar putih kesukaanku, lalu memberikanku sebuah pelukan hangat.


“Selamat kakak” Ucap laki-laki yang kini sudah hampir setinggi diriku.


“Terimakasih adik kecilku” Ucapku sambil mengacak-acak rambut Liam.


“Kak, aku sudah besar”


“Iya deh, si paling besar” ujarku dengan tawa kecil.


“Baguslah kamu telah lulus, setelah ini mau langsung masuk ke perusahaan kakek?” Tanya Mama dengan nada dingin seperti biasa.


Nada bicara yang dingin menjadi batas yang paling jelas di antara hubungan aku dan Mama. Asing, mungkin itu yang selalu aku rasakan saat bersamanya, rasanya seperti sangat asing dan jauh meski raga kami sedang saling berhadapan.


“Saya akan melanjutkan S2 di inggris, Papa sudah setuju dan kakek pun sudah setuju.” Ujarku dengan nada sedingin Mama.


“Eum” Dia hanya berdengem lalu matanya teralihkan pada Liam, “Sayang, ayo pergi, kamu belum makan, kan?” Tanya nya lembut pada Liam.


Perbedaan perlakuannya padaku dan Liam itu sangat jelas dari dulu hingga sekarang dan aku pun tidak terlalu mempermasalahkannya karena sedari awal aku sudah mengatakan kalau aku tidak membutuh lagi sosok Mama dalam hidup aku, terutama setelah dia menyebutku pembohong dan mengatakan wajahku adalah hasil operasi plastik.


“Ayo sayang, ikut makan siang dengan kami” Ajak Papa Mexim padaku.


“Maaf Pa, hari ini aku akan pergi merayakan kelulusanku dengan Bastian.” Aku menolak ajakan Papa dengan membawa nama Bastian hanya karena aku tidak mau makan bersama dengan Mama.


“Ah begitu, lalu Bastian mana kenapa belum kelihatan dari tadi?”


“Entahlah, mungkin…” Baru aku ingin mencari alasan keterlambatan Bastian di depan Papa tapi, dia malah sudah muncul, “Itu dia sudah datang”


“Hi, boy! Kenapa telat?”


“Maaf Paman, aku ada kelas, dan ini baru selesai” Jawabnya yang terlihat jujur.


“Baiklah, lain kali jangan terlambat di acara penting Azia.”


“Jangan berlebihan sayang, Bastian hanya terlambat sekali, biasanya juga selalu tepat waktu, iya kan Bastian?” Bela Mama.


Dibandingkan dengan aku, Mama lebih dekat dengan Bastian, mungkin karena Bastian anak dari sahabatnya, dan juga dia dekat dengan bastian sedari kecil, beda denganku, kami sudah tidak pernah bertemu sejak kecil.


“Apa kamu ingin makan sekarang?” Tanyaku pada Bastian dengan sedikit menarik ujung bajunya, aku memberinya sedikit kode agar kami bisa segera menjauh dari mereka.


“Ah iya, aku sudah sangat lapar, ayo pergi. Paman, Bibi, aku bawa Azia, ya” Izinnya dengan sopan pada orang tuaku.


Bersambung....


Banyak yang terjadi akhir-akhir ini hingga membuat aku berpikir kembali tentang cerita mereka, jika ada banyak kesalahan penulisan atau mungkin hal-hal yang mungkin tidak aku sadari silhkan tulis saja di kolom komentar agar kisah ini semakin berkembang dengan motivasi dari kalian semua. (author)