
“Saya tunangan Azia” Ucap Bastian tegas.
Ucapan Bastian saat itu benar-benar membuat Alex terdiam dan hanyut dalam pikirannya, dia pernah mendengar kalau Azia bertunangan, tapi dia pikir itu hanya hoax, atau jika itu benar, Azia tidak akan mungkin sedekat itu dengan orang yang dijodohkan dengannya sedangkan hati Azia jelas-jelas hanya milik Alex hingga saat ini, pikir Alex.
“Apa anda baik-baik saja?” Tanya Bastian yang sedikit khawatir dengan kediaman dan juga ekspresi syok dari Alex.
‘Aku pikir mereka sepupu karena pria ini terlihat lebih khawatir saat tau kakek Azia sakit, aku tidak pernah berpikir kalau dia adalah orang yang jadi tunangan Azia. Kenapa bisa begini? Kenapa mereka dekat? Bukan Azia mengatakan mencintaiku? Lalu bagaimana dengan pria ini’ Pikirnya frustasi.
Pukk!
Bastian menepuk pelan pundak Alex, “Are you oke?”
“Hah? Apa?” Tanya Alex yang baru saja keluar dari lamunannya.
“Anda sudah pesan?” Tanya Bastian mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah” Jawabnya singkat dan kebetulan pelayan pun datang membawa pesanan Alex.
Mata Alex teralih pada Zuzu yang wajahnya sedikit belepotan, “Sepertinya dia membutuhkan tisu” Ucap Alex pada Bastian.
Bastian pun terarah pada gadis kecil yang ada di sampingnya, “Duh, anak Pipi, kok belepotan makannya” Ia mengecup lembut pipi dan mulut Zuzu.
“Pipi, Zuzu mau ketemu Mimi” Pinta si kecil imut itu.
“Tapi, Mimi sekadang kerja sayang.”
“Tapi, Zuzu mau ketemu PIPI!” Tegasnya kesal.
“Kita coba hubungi dulu ya”
Disaat yang bersamaan Alex pun menghubungi Azia, dia berharap panggilannya lah yang diangkat dan bukan panggilan dari Bastian. Beberapa kali mencoba tapi tak ada satu panggilan pun yang dijawab Azia.
“Sepertinya Mimi sibuk, nanti kita ke kantor Mimi ya sayang” Bujuk Bastian pada Zuzu.
“Hemm.. baiklah”
Drring!
Handphone berwarna hitam yang berada di atas meja berdering, tertulis nama ‘my queen’ di layar, segera si pemilik handphone itu menjawab panggilan yang sudah ia tunggu-tunggu.
“Kamu masih di kantor?”
“Tidak, aku baru saja selesai bertemu klien di dekat butik, sekarang aku berencana mencoba gaun untuk pesta nanti malam. Kalian di mana?”
“Kami di toko kue, tidak jauh dari butik, kamu mau mampir sebentar? Zuzu ingin bertemu”
“Nanti malam saja, aku masih ada urusan.” Jawabnya sebelum memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Disisi lain ada tatapan kecewa dan kesal yang terlihat samar dari raut pria yang duduk di samping Bastian.
Driing!
Handphone kini handphone milik Alex pun berdering dengan nama kontak ‘my wife’ wajah sendu dan kecewa dari Alex kini berganti dengan senyum bahagia meski dalam hati masih terasa sedikit sakit.
“Hallo kak! Ada apa menelponku?”
“Bisa, kakak dimana?” Jawabnya.
“Aku di toko kue Dream, apa kamu bisa kesini?” Tanya nya penuh harapan.
“Toko kue? Sepertinya tidak bisa, bagaimana kalau tempat lain saja?”
“Kenapa tidak bisa, apa ada masalah dengan toko ini?”
“Bukan begitu kak, hanya saja …”
“Kamu takut bertemu seseorang bukan?” Ucap Alex dengan senyum tipis melirik kearah Bastian yang sedang berbincang dengan gadis kecil yang terlihat kesal karena Azia tidak bisa menemuinya.
“Kak Alex, kamu tau?”
“Bukan kamu bilang, kamu sangat mencintaiku, kalau kamu memang mencintaiku, apa bisa kamu datang dan katakan pada orang itu kalau kamu milikku bukan miliknya” Ucapnya dengan nada berat.
Azia terdiam mendengar permintaan itu, lalu ia putuskan panggilan itu. Dia coba beranikan diri untuk menemui dua pria yang sedang memiliki ikatan dengannya, satu ikatan cinta, dan satu ikatan resmi yang direstui seluruh keluarga.
Beberapa menit setelahnya, Azia benar-benar datang ke toko kue itu, dia masuk dengan langkah berat namun dipaksakannya, tapi saat melihat Zuzu yang sedang bersama Bastian, dia malah menjadi ragu untuk mengatakan kebenaran yang ingin segera dibongkar dan jelaskan pada orang yang menyandang status tunangannya.
“Mimi” Panggil Zuzu mencoba turun dari kursi lalu berlari menuju Azia yang baru saja datang.
Sedangkan kedua pria yang tadinya sedang berbincang teralih pada sosok perempuan cantik, sedikit pendek, seksi, dan anggun.
“Bukannya kamu bilang tidak bisa datang?” Tanya Bastian yang menghampiri Azia.
“Aku hanya ingin melihat saja, setelah itu aku akan kembali ke kantor” Jawabnya.
“Kebetulan sekali, lihat siapa yang aku temui. Dia orang yang menyelamatkan kakek, dia kakak teman kamu dulu, ayo temui dia dulu” Bastian merangkul mesra Azia, lalu keduanya berjalan menuju meja dimana Alex sedang menatap geram kedua sejoli di depannya itu.
“H-hai kak!” Ucap Azia kaku.
“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu Azia?” Tanya Alex sambil melirik tangan Bastian yang masih senang tersemat di pinggang Aziz.
Menyadari kemana arah tatapan Alex, Azia langsung memindahkan tangan Bastian dari pinggangnya.
“Zuzu turun dulu ya sayang” Ucap Azia sambil meletakkan Zuzu di kursinya.
“Mimi mau kemana?” Tanya Zuzu.
“Mimi..” Azia tetap saja tidak benar-benar mengalihkan pandangannya dari Alex, meski sesekali dia melirik ke arah anak angkatnya. Azia menyadari ada tatapan penuh tanya dan kemarahan dari tatapan Alex padanya. Ia memang datang kesana untuk memperjelas kondisi hubungannya dengan Bastian dan memperkenalkan Alex pada Bastian sebagai orang yang dia cintai tapi, sayangnya niat Azia hilang saat menatap mata polos Zuzu, dan bagaimana hangatnya sambutan dari Bastian padanya. “Mimi harus kembali bekerja sayang, kita bicara lagi nanti, ya”
“Mau tidak tinggal untuk makan kue dulu?” Tawar Bastian.
“Lain kali saja, aku baru ingat kalau aku ada meeting setengah jam lagi, aku harus kembali. Kalian… kalian makanlah dengan tenang” Azia segera pergi dari tempat itu, sambil berjalan dia mengirim pesan pada Alex. “Maaf kak, ini sulit untukku, beri aku sedikit waktu lagi. Jangan hari ini, tolong jangan marah”
“Jangan terus menunda Azia, aku ingin hubungan kita menjadi jelas”
“Aku tau, aku akan berusaha, tolong sabar sebentar lagi saja. Aku janji ini tidak akan lama”
'Maaf kak, aku tidak bisa melakukannya sekarang, masih ada banyak hal yang harus aku jaga sebelum meninggalkan semua dan kembali padamu' Batinya.
***
Bersambung....................