
“Oh ya, pacar kamu aneh juga ya, dia mengirim seseorang untuk terus mengawasimu dari beberapa bulan yang lalu tapi dua bulan terakhir ini sepertinya dia berhenti mengirim seseorang mengawasimu”
“Apa maksudmu?”
Dia kembali menatapku dengan tatapan serius dan seakan sedang akan membicarakan gosip yang sedang hot topic.
“Jadi, beberapa bulan yang lalu saya berpapasan dengan kamu. Gak niat mau nyapa tapi, saat saya perhatikan ternyata ada yang mengikuti kamu. Beberapa hari saya jadi mengawasi kamu karena penasaran dengan orang yang mengawasi kamu, lalu setelah saya selidiki ternyata orang yang mengirim mereka itu adalah pacar kamu sendiri”
“Apa maksudnya ‘mereka’?”
“Ya, karena tidak satu orang tapi ada beberapa orang dan dengan wajah yang berbeda di tiap harinya. Pacar kamu mengerikan juga, ya? Oke, waktu kita habis saya mau pergi, bye!” Dia bangun dan berjalan cepat meninggalkan aku yang masih kaget dengan apa yang sedang kami bicarakan tadi.
“Apa dia bohong? Kak Alex mana mungkin melakukan hal itu?”
Tak lama setelah itu kak Alex mengirim pesan padaku “Ketemuan sama siapa hari ini?”
“Loh kok dia tahu kalau aku sedang dengan orang lain? Darimana dia tahu?” Aku melihat sekeliling tapi di tempat itu hanya ada pelayan yang lalu-lalang sesekali.
“Kok aku baru nyadar, ya?! Pantas saja waktu itu kak Alex sering sekali tahu dimana aku berada padahal aku gak kasih tahu ke dia. Eh tunggu dulu! Kata pria tadi bukannya kak Alex sudah berhenti mengirim orang untuk mengawasi lalu kenapa ini….”
Aku langsung bangun dan keluar dengan cepat dari tempat itu, begitu keluar aku cukup terkejut karena di pintu keluar kak Alex sedang berbicara dengan kak Roni. Begitu melihat kak Alex dari jauh aku kembali berniat kembali masuk ke lift tapi itu terlalu memakan waktu dan aku terpaksa pergi ke tangga darurat agar bisa menghindari kak Alex.
“Mati aku, bagaimana kak Alex ada di sini?” Aku mencoba menaiki tangga dengan cepat lalu saat akan membuka pintu satu pesan masuk.
“Ngapain kamu ke tangga darurat?”
“D-darimana dia tahu?” Aku mulai ketakutan dan langsung mematikan handphone ku dan kembali menaiki tangga dan menuju lantai dua.
Aku kelelahan menaiki tangga lalu saat akan membuka pintu aku terpaksa duduk karena tidak bisa bergerak lagi, aku terlalu lelah dan nafas pun sudah tidak teratur lagi. Kepala ku menjadi sedikit berat dan penglihatanku mulai kabur, aku mencoba bersandar di dinding di dekat pintu lalu tak lama mataku semakin berat dan aku kehilangan kesadaranku.
Begitu aku membuka mata aku sudah terbaring di kasur rumah sakit dan kak Alex duduk di sampingku sambil membaca buku.
“Kak Alex?!” Aku mencoba bangun.
“Udah tiduran saja, kamu istirahat saja!” Dia bicara dengan nada lembut tapi aku merasa sedikit takut.
“Kenapa aku di sini?”
“Entahlah, mungkin karena lelah menghindari pacarnya, atau karena takut ketahuan selingkuh” Ucap kak Alex menyindirku.
“Aku tidak…”
“Hahaha… Aku hanya bercanda sayang, jangan terlalu dipikirkan! Kamu pingsan di tangga darurat lantai dua hotel Roni. Bicara soal hotel, kamu ngapain di sana?” Ucapnya yang masih terlihat curiga padaku.
“Aku… Ah, iya waktu itu aku hanya sedang ingin makan di restaurant kak Roni itu saja, kalau kakak tidak percaya tanya saja sama kak Roni”
“Oke aku percaya, gak mungkin kan kamu bohong sama aku, ya’kan sayang?” Ucapannya menekan seakan dia mengatakan hal yang sebaliknya.
“Ha-ha-ha… iya, mana mungkin aku bohong. Apa aku boleh pulang sekarang” Jantungku berdebar sangat kencang seakan-akan aku sedang menontong film horror.
Aku mencoba bangun dan turun dari tempat tidur tapi kak Alex menarikku kembali ke tempat tidur dan menyelimutiku.
“Sayang kamu istirahat saja, nanti kita pulang bersama setelah urusanku selesai! Handphone kamu aku sita sementara”
“Apa? Kenapa? Gak bisa begitu?” Protesku.
“Jangan… Oke, boleh disita, tapi sampai kapan?”
“Sampai waktunya tiba, kalau begitu kamu istirahat dan aku akan kembali bekerja dulu, kita pulang bersama setelah urusanku selesai, mengerti”
“Iya” Aku hanya bisa patuh karena kak Alex saat itu terlihat agak menyeramkan.
Aku mulai kesal karena di sana terlalu membosankan, tidak ada buku atau handphone membuat aku merasa sangat-sangat super bosan. Langit sudah menggelap dan aku sedikit kelaparan. Aku turun dari tempat tidur dan mengganti baju ku setelah itu aku mencoba untuk melihat situasi di luar dan saat merasa aman aku pun keluar.
“Tunggu!” Suara seorang pria yang berjalan ke arahku dari belakang, aku pikir itu kak Alex hingga jantungku hampir saja copot untungnya itu orang lain.
“Kamu pasien yang baru masuk ke ruangan ini kan?” Tunjuknya pada ruangan tempat aku dirawat.
“Iya, ini untukmu”
Pria itu memberikan aku sebuah kertas yang dilipat membentuk simpul, begitu aku membukanya ternyata pengirimnya adalah pria yang tadi sore aku temui.
“Pacar kamu gila, masa dia mengancam akan membunuhku kalau aku menghubungimu. Lupakan itu, yang penting sekarang seseorang telah menjual informasi tentangmu pada keluarga kandungmu, aku hanya menebak mungkin mereka sudah bergerak. Jangan menuduh aku karena aku tidak menjual informasi tentangmu. Berhati-hatilah!” Setelah membaca surat itu aku langsung merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.
“Di mana orang yang mengirimnya?”
“Tadi dia berada di situ tapi sepertinya dia sudah pergi. Apa perlu saya membantu mencarinya?” Tawar pria itu dengan ramah padaku.
“Ah, tidak usah, itu terlalu merepotkan!”
Saat sedang berbicara tiba-tiba kak Alex datang dan menarikku masuk kembali ke kamar tempat aku dirawat.
“Kak, sakit!”
“Kenapa kamu bicara pada dia? Dia siapa?” Tanya kak Alex yang terlihat marah.
“Kakak ini kenapa sih? Aku juga gak tahu dia siapa, lagian aku hanya bicara beberapa patah kata dengan dia kenapa kakak semarah itu?”
“A-aku tidak marah” Kak Alex melepaskan lalu membelakangiku.
“Aku hanya merasa khawatir saja, bagaimana kalau kamu ditipu oleh pria lain dan membuat kamu salah arah.”
“Ada-ada saja kakak ini! Kakak cemburu, ya?”
“Memangnya tidak boleh kalau cemburu pada pacar sendiri?”
“Ya, boleh, tapi gak usah berlebihan juga kali kak, lagian aku gak akan pernah berpaling dari kak Alex. Kakak tahu kenapa?”
“Memangnya kenapa?”
“Karena aku cinta….. Banget sama kakak, apa sekarang boleh pulang? Aku lapar, nih!” Aku memeluk kak Alex dari belakang sambil berharap kalau dia benar-benar tidak marah padaku.
“Baiklah, ayo kita pulang!”
Lalu sambil bergandeng tangan aku mengikuti langkah kak Alex keluar dari rumah sakit. Di banding pacar sebenarnya kalau pergi sama kak Alex pasti orang-orang berpikir kalau aku adiknya kak Alex. Suster dan dokter yang kami temui di jalan sesekali terdengar berbisik sesamanya dan mengatakan ‘adik sepupu Alex cantik juga, ya?!’ dan itu bikin aku emosi dan pada akhirnya gandengan tangan biasa jadi lebih intim dan aku sengaja memperlihatkan kemesraan kami pada umum agar mereka tahu kalau kak Alex itu punyaku dan aku bukan adiknya kakak Alex.
Bersambung….