Obsession Of Love

Obsession Of Love
Jalan-jalan malam



Lupakan soal Mia yang sedang bersama kakaknya, kita kembali lagi ke Fara yang sedang stress mikirin Andi.


“Azia, tolong buat kan janji lagi dengan Andi”


“Gak bisa Fara, aku gak mungkin memihak kamu terus, dia kan juga sahabatku, mengertilah posisiku”


Lalu sebuah pesan masuk ke handphone Fara, awalnya dia mengabaikannya tapi karena pesan terus masuk makanya pada membuka pesan itu. Pesan itu dari nomor tidak dikenal tapi saat dia membaca semua pesan itu, dia mulai kembali menggila.


“AAA…” Fara berteriak kegirangan dan meloncat ke sana kemari seperti orang kehilangan akal sehatnya.


“Baru juga beberapa detik yang lalu kamu nangis sekarang malah kayak gini, bikin orang jadi stress aja, udah kalau gitu aku mau ganti baju terus menyiapkan materi untuk kita belajar nanti malam”


“Siap bos!”


“Apa dia beneran kerasukan setan atau apa? Kenapa tiba-tiba dia jadi semangat banget diajak belajar” Pikirku yang merasa aneh sekaligus curiga dengan sikap Fara.


Fara terus menari dan tertawa bahagia hingga hampir setengah jam dalam keadaan yang sama.


“Sebenarnya kamu kenapa, sih? Pesan tadi dari siapa dan apa isinya hingga membuat kamu kayak orang gila aja”


“Azia, aku gila, gila karena cinta, aku benar-benar tergila karena cinta Andi. Andi-ku, pria idamanku, AKU MENCINTAIMU!!” Tiba-tiba Fara berteriak hingga aku terkejut.


“Fara, jangan teriak-teriak dong nanti kamu dikira kesurupan tahu!”


“Sorry, habisnya aku lagi senang banget!!!” Fara terus saja tersenyum lebar sambil melihat langit-langit kamar.


“Senang kenapa?”


“Andi tadi SMS aku, terus dia bilang kalau minggu depan di hari libur, kami akan jalan lagi terus dia janji buat gak akan mengacaukan kencan kami lagi selama aku gak ngadu sama kamu”


“Loh, kok jadi bawa-bawa aku?”


“Gak tahu, yang penting kami bisa jalan lagi hore!!!” Fara kembali meloncat-loncat di atas kasur.


“Biasa aja kali Fara, lagian kamu kan udah bisa kencan sama pacar-pacar kamu”


“Mantan-mantan aku dulu tu cuma pelarian karena Andi terus menolak ku tapi, sekarang aku punya kesempatan lagi dan itu karena kamu, makasih sayangku” Lalu Fara memelukku sangat erat.


‘dring, dring!’ handphone ku berbunyi.


Aku mencoba lepas dari pelukan Fara yang sedang girang itu dan melihat siapa yang menghubungiku sore itu.


“Kak Alex, tumben banget dia menghubungiku duluan, apa ada sesuatu yang terjadi?” Lalu aku mengangkatnya.


“Halo kak!”


“Sayang, kita jalan malam ini bisa?”


“Bisa banget!!!! Jam berapa?” Jawabku cepat.


“Setelah shalat magrib, ya?! Nanti aku jemput jadi bersiap-siap, ya sayang! Love you”


“Love you too my love, I really miss being able to hang out with you my love”


“Me too, my dear! Sampai jumpa nanti malam”


Setelah berbicara dengan kak Alex aku jadi tahu bagaimana perasaan Fara saat Andi mengajaknya berkencan, rasanya sungguh luar bisa, seperti terbang ke angkasa dan menyentuh para bintang di langit malam. Aku jadi ikut-ikutan kegirangan dan kami menari-nari bersama seperti orang gila hingga tiba-tiba Fara berhenti.


“Kamu senang karena apa Azia?”


“Malam Ini kita tunda belajarnya karena aku mau pergi bersama kak Alex, setelah beberapa hari dia ngambek dan mengabaikan aku sekarang kami jadi bisa jalan bareng lagi, senangnya!!!”


“Malam ini? Mama dan Papa gak ada di rumah, terus kamu minta izinnya sama siapa?”


“Kan ada kamu sayang, boleh ya” Aku mulai memeluk Fara dan menatapnya dengan mata penuh harapan.


“well, you won! Berhenti menatapku dengan matamu yang berkaca-kaca itu lagi, aku selalu lemah karena itu!”


“Baiklah, makasih!!!”


Lalu langit berubah menjadi gelap gulita saat aku sudah selesai dengan kewajiban ku sebagai manusia, lalu aku bersiap-siap untuk pergi dengan kak Alex malam itu. Aku sudah berdandan secantik mungkin dan Fara membantuku untuk menata rambutku.


“Azia, si Mia kenapa, ya? Kok gak ada kabar sama sekali?!”


“Lihat dong di grup, Faraku! Kamu ini keasikan lihat chat Andi dan melupakan kami, Mia kan udah bilang di grup kalau dia gak datang malam ini karena tadi siang dia kepergok pacaran sama si… Siapa, ya? Ah, nama kakak itu…. Euhm… Ah iya, Yanto! Benar, itu dia namanya, Yanto! Pokoknya karena masalah itu mulai hari ini dia akan jarang ke sini?”


“Ah, gak asik, kan gak ada teman buat nonton drakor.”


“Aku kan ada di sini, Fara!”


“Kamu?! Yang benar saja, di ajak nonton bentar kamu pasti paksa belajar dulu baru boleh nonton, mana asik tu!”


“Aku lakuin itu karena…”


“Karena kamu sayangi kami, ya’kan?” Fara menyambung kalimat yang belum selesai diucapkan dengan nada kesal.


“Iya, aku tahu itu makannya aku berusaha untuk tetap berada di antara kalian dan tidak mengambil jalur loncat kelas agar aku bisa segera bisa kuliah dan fokus pada mimpiku, aku masih di sini karena aku ingin melewati setiap waktu bersama kalian”


“Jadi itu alasan kamu menolak beasiswa yang Dirga rekomendasikan pada kamu?”


“Hum!” Aku mengangguk.


“Maafkan aku, Azia! Aku terlalu banyak berpikir dan tidak pernah mengerti posisimu, lain kali aku akan berusaha belajar lebih baik lagi dan kita bisa lulus bersama-sama”


“Aku senang kamu berpikir begitu, tapi by the way, kak Alex kok belum nongol juga, ya? Ini kan udah jam 8 lewat, nanti kami tidak bisa pergi”


“Coba kamu hubungi saja, Azia!”


“Iya, aku hubungi saja dulu”


Lalu saat aku menghubunginya terdengar kata “Nomor yang anda sedang berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi!”


Berulang kali aku mencobanya tapi yang terdengar hanya kata yang sama dari operator. Aku kesal dan membanting tasku ke meja dan aku merajuk. Tepat jam 9 kak Alex datang dan meminta penjaga untuk memanggilku.


“Tu orang yang di tunggu udah datang, jangan ngambek lagi, sana pergi sebelum dia pulang!”


“Yaudah, biarin aja dia pulang, aku mau ngambek aja sama dia hari ini”


“Boleh, kalau gitu aku minta penjaga mengusirnya sekarang, ya?!”


“Jangan!! Iya, aku akan keluar tapi kamu jangan usir kak Alex, aku sebenarnya masih rindu dan ingin jalan sama dia”


“Udah, kalau gitu ayo bangun dan rapikan rambutmu sebelum bertemu dengan si Sialan itu”


“Fara!”


“Sorry, aku lupa!” Ucap Fara sambil tersenyum padaku.


“Kalau gitu aku pergi dulu!”


Aku keluar dengan terburu-buru dan sampai di depan pagar kak Alex sudah lama berdiri dan kemudian dia membukakan pintu untukku.


“Terima kasih, kak!”


Lalu dia masuk ke mobil dan memasangkan sabuk pengaman padaku.


“Kita mau kemana?”


“Entahlah, waktu sangat mepet jadi, kita keliling sebentar saja lalu pulang, besok kamu kan sekolah jadi kita punya waktu 1 jam saja”


“Loh kok gitu, padahal aku mau lebih lama sama kakak”


“Aku juga maunya begitu tapi, aku besok ada pekerjaan jadi…”


“Selalu begitu, kakak selalu mengurus pekerjaan kakak dan mengabaikan aku, kakak juga sering membatalkan janji akhir-akhir ini, apa aku tidak penting itu untuk kakak”


“Sayang, kamu yang paling penting di hidupku, hanya saja aku punya kewajiban lain selain mencintaimu, ada banyak orang yang harus aku rawat di rumah sakit”


“Rumah sakit itukan besar, banyak kok dokter di sana lalu kenapa harus kakak yang selalu sibuk?”


“Sayang, sekarang aku sudah menjadi dokter secara resmi, aku punya tanggungjawab yang harus aku penuhi, kamu mengertikan, sayang?” Kak Alex mencoba menjelaskan keadaanya padaku dengan cara yang lembut dan mencoba menenangkan aku yang sedang kesal.


“Sayang, kamu lapar, gak?”


“Iya, lapar” Jawabku singkat karena masih ngambek.


“Di depan ada yang jual nasi goreng rindu, mau coba, gak? Teman aku bilang di sana nasi gorengnya enak banget”


“Yang benar?” Aku mencoba melupakan rasa kesalku dan mengalihkan pikiranku pada makanan yang kak Alex tawarkan padaku.


Lalu kami mampir di tempat itu dan memesan nasi goreng yang sedang populer saat ini.


Lalu saat kami sedang menunggu pesanan aku tidak sengaja melihat Andi dan teman-temannya sedang berjalan kaki melewati tempat itu.


“Kak, itu Andi!” Tunjukku pada segerombolan anak muda yang berjalan kami itu.


“Mana?”


“Itu, di tengah-tengah yang pakai baju warna kuning!”


“Oh, terus kenapa?”


“Aku panggil, ya?! And….”


Tiba-tiba kak Alex menggenggam tangan kananku dan dengan matanya dia memberikan aku isyarat untuk tidak memanggil Andi.


Bersambung….