Obsession Of Love

Obsession Of Love
Pengacau



“Oh, terus kenapa?” Muka kak Alex datar dan terlihat kalau dia tidak peduli.


“Aku panggil, ya?! And….”


Tiba-tiba kak Alex menggenggam tangan kananku dan dengan matanya dia memberikan aku isyarat untuk tidak memanggil Andi. Aku mengurungkan diri untuk memanggil Andi dan kembali fokus pada kak Alex yang ada di depanku, waktu itu aku pikir mungkin kak Alex ingin kami berduaan saja dan dia tidak mau Andi mengacau seperti kencan kami yang lalu.


“Rasanya sudah lama sekali aku tidak bisa duduk berhadapan dengan kakak seperti ini, aku senang karena kakak mau jalan dengan aku malam ini”


“Aku juga senang, beberapa waktu yang lalu aku sangat sibuk dan hampir stress karena pekerjaan yang tidak ada habisnya makanya aku tidak bisa menjemput pacar mungilku ini” Kak Alex mencubit pipiku dengan perlahan.


“Ish! Kakak, aku gak suka ya kalau kakak mengatakan kalau aku mungil! Aku ini masih masa pertumbuhan, aku yakin kalau aku bisa tinggi lagi kok!”


“Aku tidak…”


“Stop!” Aku memotong ucapan kak Alex dan menelpon Mia dan Fara lewat grup kami.


“Ada apa, beb?!”


“Kenapa, Azia?’


“Apa aku bisa tinggi?”


“Eum itu….” Fara langsung memutuskan telepon itu dengan cepat karena sepertinya dia tidak bisa menjawab pertanyaanku.


“Mia, apa kamu masih di sana?” Tanyaku pada Mia yang belum mematikan teleponnya.


“Iya, kamu pasti bisa tinggi dengan bantuan olahraga renang dan minum susu, kalau gitu aku mau belajar dulu, dah!” Mematikan telepon dengan cepat.


“Tumban banget Mia mau belajar?” Pikirku.


“Tu kan kak, aku bilang juga apa, aku pasti bisa lebih tinggi dari kalian dengan sedikit usaha lagi”


“Tapi dek, setau aku kamu kan gak bisa berenang, jangankan berenang olahraga saja kamu hampir tidak bisa”


“Dari mana kakak tahu?!” Tanyaku curigia di campur kesal.


“Itu… Huem…. Pesanan kita sudah datang, ayo makan!”


Kak Alex yang mengalihkan topik membuat aku jadi curiga akan satu hal yang beberapa hari yang lalu pernah Andi bahas bersamaku saat sedang di perpustakaan.


‘Plak!’


sebuah tangan memukul meja dan membuat aku kaget hingga tidak bisa memasukkan makanan yang sudah di tenganku ke mulut dengan benar.


“Kagetkan?!” Tanya Andi yang langsung duduk di sampingku dan mengambil sendok lain di meja, lalu dia mulai


“Ya Tuhan! Kenapa engkau kirimkan teman yang tidak punya rasa malu ini padaku” Ucapku sambil melihat kearah Andi yang tanpa rasa melu terus saja mengambil makanan di piringku.


“Kak… Lihat ni Andi jahat banget, aku kan belum makan satu sendok pun…” Aku merengek pada kak Alex yang terus menatap Andi dengan tatapan kesal.


“Sudah, kasih saja makananmu ke dia, aku pesan yang baru untukmu, ya sayang?!”


“Gak mau! Aku kan lapar!”


“Udah, buka mulutmu!” Pinta Andi yang bersiap menyuapiku.


Saat aku akan melahap makanan yang Andi beri tiba-tiba saja tangan tak Alex menghentikan tangan Andi yang hanya berharak beberapa centimeter lagi dengan mulutku.


“Ada apa kakak?” Tanyaku yang menahan rasa kesalku saat itu.


“Ni kalau bukan pacar sendiri udah aku pukul dari tadi, menyebalkan, aku lapar!!” Teriakku dalam hati.


“Dek, sini duduk di samping aku!” Pinta kakak Alex dengan nada tegas yang membuat aku langsung pindah dalam hitungan detik tanpa bertanya lagi.


“Pak, tolong bungkus 10 nasi goreng lagi, ya!”


“Buat apa banyak banget tu?” Tanya Andi yang masih lanjut makan tanpa beban sama sekali.


“Buat di bawa pulang, kamu masih mau nambah?”


“Oh, boleh nambah nih?” Tanya Andi dengan tersenyum lebar.


“Dasar gak ada malu! Udahlah Andi, kamu pulang aja sana!” Pintaku kesal.


“Kamu makan saja punyaku!” Kak Alex memberikan makanan miliknya untukku.


“Tapi kakak gimana?”


“Kalau kamu gak mau, sini biar aku lahap!” Tanya Andi sambil menari piring berisi nasi goreng milik kak Alex yang ada di depanku.


“Jangan ngada-ngada kamu!” Aku memukul tangan Andi dan memakan makanan itu dengan terus mengawasi Andi yang bisa saja kembali mengambil nasi goreng milikku.


Kak Alex tersenyum kearahku dan membuka mulutnya dengan pun menyuapinya dengan hati-hati. Saat aku akan menyuapi kak Alex untuk yang kedua kalinya Andi malah menarik tanganku dan memakan makanan yang ada dalam sendok itu dengan wajah tersenyum puas.


“Andi!!!!” Bentakku kesal.


“Ada apa?” Tanya Andi dengan santai seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.


Saat pesanan kak Alex siap aku langsung mengajak kak Alex untuk pulang karena aku kesal pada Andi yang terus mengganggu aku. Padahal bisanya dia tidak bersikap begitu tapi entah kenapa dia menjadi semakin menyebalkan dan terlihat jelas kalau dia ingin mengganggu keberamaan aku dengan kak Alex.


“Aku tidak suka dia melakukan itu!” Gerutuhku kesal mengingat apa yang Andi lakukan.


“Dia siapa?” Kak Alex terlihat fokus ke jalan.


“Si Andi itu! Kenapa dia harus ke tempat itu dan mengganggu kita?! Padahal aku sudah lama ingin berduaan dengan kak Alex”


“Bukannya tadinya kamu ingin memanggil dia?”


“Ya emang tapi, biasanya Andi tidak seperti itu, tadi dia kelihatan sekali ingin merusak suasana romantis kita!”


“Iya, aku ngerti, dek! Tapi apa tidak sebaik kamu berhenti membahas itu? Kita masih punya waktu sebelum sampai di rumah, iya’kan? Bagaimana kalau kita bahas tentang hubungan kita saja?” Kak Alex mengelus rambutku dengan tengannya yang hangat dan itu membuat emosiku sedikit mereda.


“Kak, bisa gak sesekali kakak jemput aku? Aku kanget banget bisa pulang bareng kakak”


“Iya, besok aku akan usahakan agar bisa menjemput pacar mungilku ini” Kak Alex mencubit pipiku dengan pelan.


“Kak, aku kan udah bilang kalau aku bakalan tinggi jadi berhenti mengatakan mungil, kecil atau sejenisnya!”


“Baiklah pacarku” Kak Alex terlihat menahan tawanya sambil mengalihkan pandangan kearah lain.


“Kak, bagaimana keadaan nenek sekarang?” Tanyaku yang tiba-tiba teringat pada nenek.


“Itu…”


“Ada apa kak?”


“Kenapa kamu tidak mengunjunginya saja?”


“Aku sudah berulang kali datang tapi nenek menolak kunjunganku dengan berbagai alasan, sebanarnya ada apa sih kak?”


“Dokter yang merawat nenekmu bukan aku jadi aku tidak terlalu tahu persis apa yang sedang terjadi terlebih akhir-akhir ini rumah sakit jadi semakin sibuk”


“Tapi kakak bisa kan mencaritahu hal itu untukku?”


“Nanti akan aku usahakan tapi, kamu harus sabar, ya?”


“Iya, terima kasih my love”


Rencananya mau meluk kak Alex lebih lama tapi kami malah sudah sampai di depan pintu gerbang masuk ke rumah.


“Sayang, aku rasa panggilan kamu itu agak….”


“Kakak gak suka?” Tanyaku dengan menatap tajam kearah kakak Alex.


“Bukan begitu, hanya saja…”


“Aku mau masuk, kakak hati-hati di jalan!” Aku langsung keluar dan membawa nasi goreng yang kami pesan untuk Fara.


Baru masuk ke dalam ternyata tante Mita sudah menungguku dengan Fara.


“Loh tante sudah pulang?” Aku tahu kalau tante akan mulai memberikan siraman rohani kalau tangannya sudah di lipat di dada dan menatap lurus kesatu arah.


Aku duduk dan memberi Fara kode agar dia menanyakan apa yang aku bawa.


“Azia, kamu bawa apa?”


“Oh ini, tadi aku keluar sama kak Alex buat beli nasi goreng di tempat yang baru buka itu loh! Kalian mau coba, ini khusus buat tante, yang ekstra pedas”


Lalu tante Mita mengambil nasi goreng itu, dan mencium aromanya.


“Baru di masak! Huem… Kalau begitu kalian boleh masuk ke kamar dan tidur, jangan lakukan kegiatan apapun selain tidur, paham?!”


“Siap, bos!”


Lalu aku dan Fara segera pergi ke kamar tapi di saat akan menaiki tangga tiba-tiba Fara putar arah dan kembali lagi ke ruang tamu, dia mengambil dua bungkus nasi goreng lalu membawanya masuk ke kamar.


Bersambung…


jangan lupa likenya dan sampai jumpa di episode berikutnya...