Obsession Of Love

Obsession Of Love
Prioritas



Keesokan harinya seperti biasa Mia dan Fara berangkat sekolah.


“Kamu istirahat saja, hari ini mama pulang jadi kamu bisa ngobrol sama mama, aku udah minta izin ke sekolahmu jadi kamu tidak usah khawatir”


“Makasih, kalian semangat ya belajarnya” Ucapku pada Mia dan Fara yang akan mulai belajar tanpa pengawasanku.


“Insyaallah” Ucap Mia dengan wajah yang lesu, aku kenapa dia begitu karena dia lagi males buat ke sekolah.


Aku melihat handphoneku dan ternyata tidak ada satu pesan dari kak Alex, aku tahu dia sibuk di rumah sakit tapi aku merasa dia sudah cukup keterlaluan karena tidak membaca pesanku.


“Kenapa WA aku gak dibalas sama dia, ya? Apa dia sangat sibuk atau jangan-jangan…. Ah mana mungkin kakak lagi bersama wanita itu, apa aku telpon saja?”


Lalu pada akhirnya aku memutuskan untuk menelpon kak Alex pagi itu, aku sangat berharap bisa mendengar suaranya karena rasanya dari kemarin kami belum ngobrol sama  sekali. Beberapa kali aku coba hubungi, tapi dia tidak mengangkatnya, sayangnya aku tidak menyerah karena itu aku terus mengubungi handphone kak Alex hingga akhirnya dia mengangkatnya.


“Hallo! Kak Alex kok lama banget sih angkat telponnya? Kakak sibuk apa sih pagi-pagi gini?”


“Dia sibuk mengurus pasien, udah kalau gak ada keperluan gak usah ganggu” Ucap wanita asing yang mengangkat panggilan dariku.


Aku sangat kaget karena yang mengangkat teleponku itu seorang wanita.


“Ini dengan siapa?” Tanyaku yang masih berusaha percaya pada kak Alex.


“Ini pacarnya, kalau kamu gak ada urusan sama dia tolong jangan ganggu dia, paham?!” Lalu wanita itu memutuskan telpon begitu saja.


Aku hampir melempar handphone milikku ke lantai tapi enggak jadi soalnya aku sayang uang yang aku hamburkan untuk beli yang baru. Aku sangat kesal dan sedih sekaligus kecewa pada kak Alex, aku hanya bisa memukul-mukul bantal yang ada di tempat tidur sambil membayangkan wajah wanita itu. Aku ingin berteriak tapi, aku takut orang rumah mendengarnya dan akan membuat yang lainnya panik.


“Kak Alex jahat!!! Bisa-bisanya dia punya pacar lain di belakangku! Awas saja kalau ketemu aku bakalan marahin dia” Lalu air mata ku tidak tertahankan dan akhirnya meluap.


Mukaku terasa sangat panas ditambah karena aku memang sedang demam hari itu, aku sangat kesal dan stress karena masalah itu. Aku tidak nafsu makan dan aku juga tidak bisa minum obat karena tiap kali ada yang masuk dalam mulutku pasti akan terkeluar kembali, seakan tubuhku menolah semua hal yang di luar tubuhku. Hari itu demamku semakin meninggi hingga membuat pelayan di rumah semakin panik, tante Mita pun yang baru kembali ikut-ikutan panik karena aku tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Saat aku membuka mata infus sudah terpasang di tanganku, di kamar itu sudah di penuhi dengan tante Mita, om Hiro, dan kak Hendrik dan beberapa pelayan di belakang mereka.


“Ada apa ini tante?” Aku kebingungan dengan apa yang terjadi.


“Demam mu tadi naik dan kami langsung memanggil dokter untuk memeriksa tapi karena dokter Eko sedang berada di luar kota makanya Hendrik yang di minta untuk menggantikannya”


“Azia, harusnya kamu tidak perlu memikirkan hal yang bisa membuat kamu stress, kamu tahukan kalau tubuh tidak bisa menerima terlalu banyak tekanan?” Om Hiro terlihat sangat khawatir pada keadaanku yang semakin memburuk.


“Apa sih yang kamu pikirkan sayang? Coba katakan pada tante” Tante menggenggap tanganku, dengan harapan aku berkata jujur tentang masalahku.


“Azia hanya…” Aku kebingungan menceritakan masalahku pada tente karena aku tidak mau membuat nama kak Alex jadi buruk di mata tante dan yang lainnya.


“Sudah, kalau tidak bisa di ceritakan sekarang tidak apa-apa tapi, jangan terlalu di pikirkan, tante sudah pernah bilang’kan kalau kamu harus membuat masalahmu terasa ringan, jangan di bawa panik dan pikirkan pelan-pelan penyelesaiannya jadi kamu tidak akan stress.” Ucap tante Mita.


“Iya tante, maaf karena membuat semua khawatir”


“Tidak apa-apa sayang” Tante Mita mengelus rambutku dengan lembut dan menatapku sedang penuh kehangatan, aku tahu kalau tante adalah orang baik dan orang yang hangat karena itu aku selalu merasa nyaman tinggal di sana bersama mereka.


“Apa saya bisa bicara berdua dengan Azia?” Tanya Hendrik pada tante dan om.


“Kalau begitu kalian bicara saja pelan-palan, kami akan tunggu di luar”


“Loh Papa, Mama kan masih mau bersama Azia”


“Sayang, biarkan mereka dulu, nanti kamu bisa bertemu lagi dengan Azia” Lalu om Hiro menggandengan tangan tante Mita keluar dan meninggalkan aku dengan Hendrik.


“Ada apa kak?”


“Maksud kakak apa? Lalu apa masudnya menasehatiku sebagai seorang dokter?”


“Kamu adalah orang yang mudah tertekan walau beberapa tahun ini sepertinya sudah lebih baik dari tiga tahun yang lalu tapi tetap saja sebaiknya kita menghindari semua kemungkinan, iya’kan?”


“Kak, aku enggak ngerti”


“Azia, kamu tahukan kalau Alex itu sangat populer dan banyak wanita yang mendekatinya, aku hanya takut kamu akan terlalu kepikiran karena masalah itu dan membuat akan berpengaruh pada kesehatanmu”


“Aku ngerti tapi itu agak…”


Kak Handrik memotong ucapanku, “Iya, sulit tapi seperti kamu yang berusaha tegar dan menganggap segalanya angin berlalu selama beberapa tahun terakhir ini, tolong tetap seperti itu agar kamu tidak terlalu tertekan dan mengalami hal yang sama seperti tiga tahun yang lalu”


“Baik kak, akan aku usahakan”


‘brak’ pintu di dorong dengan tergesa-gesa dan dua gadis dalam balutan baju seragam SMA masuk dengan wajah panik dan kelelahan karena berlari menaiki tangga. Keduanya terengah-engah saat menghampiriku, kelihatan sekali mereka baru di bertahu tentang keadaanku oleh om dan tante yang berada di bawah.


“Kakak! Ngapain ke sini?” Tanya Mia yang matanya sejak awal menyoroti kakak keduanya.


“Ya ngapain lagi selain memeriksa temanmu yang bandel ini”


“Loh kok aku bendel, sih?” Tanyaku mengikuti arus Hendrik yang menghilangkan pembahasan kami yang tadi.


“Ya bendelah, sudah tahu sakit bukannya istirahat malah membuat diri sibuk dengan urusan yang tidak penting hingga sakitnya semakin parah” Fara mulai mengomeli aku dan aku hanya bisa mendengarkan saja tanpa membantah.


“Azia! Kamu ini susah banget sih kalau di suruh istirahat! Kamu cuma perlu tutup mata dan tidur, makan siang lalu minum obat, sekarang lihat siapa yang menderita? Sekarang jangan main handphone atau megang buku, kamu harus benar-benar istirahat, oke!” Lanjut Fara.


“Oke” Aku mengangguk patuh agar Fara tidak melanjutkan omelannya.


Lalu Mia menarik kakaknya keluar saat aku sedang berbincang dengan Fara.


“Kakak, sebanarnya tadi Azia kenapa?”


“Gak ada apa-apa jadi kamu tidak perlu khawatir”


“Bagaimana tidak khawatir, saat kami tinggal wajahnya tidak sepucat itu, kak! Katakan apa semuanya baik-baik saja?”


“Semua sudah baik-baik saja, tadi dia hanya mengangami demam tinggi saja, jadi kamu tidak perlu terlalu cemas karena dia sudah mendapatkan penanganan yang tepat”


“Tapi kak…”


“Mia, sebaiknya kamu masuk ke dalam dan jangan buat dia stress, apapun yang terjadi katakan pada dia untuk jangan terlalu di pikirkan, kamu dan Fara jika ingin dia berumur panjanga pastikan dia tidak mendapat tekanan lagi seperti dulu, sekarang kakak harus kembali ke rumah sakit” Ucap kak Hendrik sebelum pergi.


“Baik, kak”


Setelah itu Mia kembali masuk ke kamar dan menghampiriku, dia kelihatan sedang banyak berpikir dan menatap lurus padaku. Saat dia duduk di sampingku tiba-tiba saja dia memelukku tanpa memberi aba-aba hingga aku kaget.


“Ada apa, Mia?”


Bersambung…


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak bacaannya, selamat membaca 😊