
Setelah melewati malam yang sangat luar biasa, aku mencoba untuk tetap bersikap seperti biasa, aku tidak mau ada kecanggungan atau apapun yang membuat aku dan kak Alex tidak bisa berkomunikasi seperti biasa. Aku mencoba menekan rasa malu ku dan berhenti mengingat setiap detail dari kejadian malam itu, tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan sepenuhnya tentang malam itu karena bekas yang ditinggalkan kak Alex benar-benar terlampau banyak di tubuhku. Aku tidak tahu harus memakai baju apa lagi agar bisa menutupi semua bekas gigitan yang merah padang di tubuhku itu.
Pada akhirnya karena tidak punya pilihan lain aku terpaksa menggunakan foundation ke leher dan beberapa bagian tubuh yang tidak bisa aku tutupi dengan bajuku.
“Pagi, sayang” Sapa kak Alex yang mencoba bangun dari tempat tidurnya.
“Pagi, kak. Mau makan apa hari ini?” Tanyaku sambil memakai sunscreen di wajahku.
“Heum…” Dia mulai bangun dan memelukku yang sedang fokus melihat kaca sambil meratakan foundation. “Boleh nggak kalau aku makan kamu aja?” Tanya dengan setengah berbisik di telingaku.
“Kak, geli!” Keluhku sambil mencoba menghindar.
‘tingg!’
sebuah notifikasi pesan masuk dan membuat aku teralihkan.
“Kita sarapan di restoran kemarin, aku sudah pesan tempat, ayo keluar aku tunggu diluar” Pesan dari Fara.
“Kak, cepat bersiap, Fara sudah menunggu kita untuk sarapan.”
“Eum… Tapi aku masih pengen di sini, bisa nggak kalau kita sarapan di kamar aja berdua?” Pinta kak Alex dengan nada manja padaku.
“Kak…”
“Iya deh, aku siap-siap” Lalu ia mencium kepala ku dan segera pergi ke kamar mandi.
Entah aku baru menyadarinya atau aku tidak pernah menyadarinya kalau kak Alex benar-benar sangat manja, tapi aku menyukai hal itu.
Sambil menunggu kak Alex selesai mandi aku mencoba untuk melihat beberapa email yang masuk dari sekretarisku. Sebenarnya setahun yang lalu aku diam-diam mendirikan perusahan baru dari usahaku sendiri tanpa campur tangan keluarga besarku. Untungnya Papa mendukung rencanaku hingga bisa menutupi hal itu dari kakek, hingga tahun ini perusahaan kecil milikku sudah mulai memperlihatkan kemajuan. Beberapa laporan ternyata sudah masuk dan menunggu untuk disetujui tapi karena beberapa masalah terjadi akhir-akhir ini aku benar-benar menghambat perusahaan.
Setelah mempelajari semua laporan itu aku segera menghubungi sekretarisku.
“Halo Indah, semua sudah saya lihat dan pelajari, tidak ada yang perlu saya koreksi dan lakukan sesuai rencana awal saja. Saya akan segera mulai bekerja secara langsung di perusahaan kita sekitar dua atau tiga hari lagi… dan untuk pengajuan cuti mu, saya akan berikan setelah saja kembali, untuk saat ini tolong lakukan dengan maksimal.”
“Baik, bu Azia. Lalu bagaimana dengan bonus saya?”
“Tenang, semua sesuai dengan kesepakatan kita, itu sudah termasuk dengan bonus liburan 1 minggu di bali. Karena itu kamu…”
“Sayang , kamu sedang bicara dengan siapa?” Tanya kak Alex yang baru saja selesai berganti pakaian.
“Kita bicara lagi nanti”
“Tapi bu Azia, bagaimana dengan masalah sekretaris baru anda?”
“Kamu pilih saja sendiri, lagi pula dia akan menjadi rekanmu kedepannya, pastikan kalau orang itu bisa bekerja sama denganmu. Hubungi aku kalau ada yang mendesak saja, paham”
“Baik”
Aku segera mengakhiri pembicaraan dengan Indah. “Hanya teman lama, dia tadi nanya kabar soalnya kamu udah lama nggak ketemu”
“Cowok atau cewek?”
“Eumm… Ayo berangkat, jangan sampai sahabatmu itu berubah jadi mak lampir lagi”
“Kak, jangan gitu ih! Mau bagaimanapun dia itu udah kayak kakak aku sendiri, lagian dia nggak seburuk itu.”
“Ya enggak buruk, saking nggak buruknya sering banget dulu dia cari cara buat misahin kita.”
“Kan itu sudah berlalu, kak. Yang penting sekarang kita sudah bersama jadi jangan cemberut gitu lah” Aku berjinjit dan memberinya satu kecupan.
Senyumnya kembali muncul, lalu kami pun menemui Fara yang ternyata sudah berada di depan pintu kamar kami.
“Udah ngocehnya? Lain kali bisa nggak jangan ngomongin orang di belakang? Kalau berani ngomong nih di depan?” Ucap Fara kesal.
Kak Alex hanya terdiam dan menarikku berjalan melewati Fara yang sangat kesal padanya.
“Hai! Kenapa dia? Gak berani? Dasar pecundang!”
“Beb, udah dong! Kita mau sarapan nih… coba tenangkan diri dulu, tarik napas… buang…. tarik lagi… buang… bagaimana udah tenang?” Tanya Bastian.
“Eum” Angguknya lalu keduanya pun mengikuti langkah kami.
Aku pikir permasalah sudah selesai setelah Bastian menenangkan Fara, tapi nyatanya sampai saat kami makan pun kedua manusia dengan egonya masing-masing itu terus saja perang dingin. Mereka bertengkar dengan hal-hal kecil hingga kami sampai pada titik dimana kami memutuskan untuk melakukan permainan voli pantai, cukup menyenangkan awalnya tapi tanganku mulai memerah dan sakit.
“Udah yuk, tangan aku udah mulai sakit”
“Lah kok gitu? Aku nggak terima kalah dari kampret itu! Sekali lagi!” Ucap Fara kesal karena dia berada di tim ku yang mengalami kekalahan dari awal permainan.
“Sudahlah, aku mengaku kalah” Ucap Bastian yang melempar bola kearah Alex.
“Kita sudah menang, untuk apa mengalah” Alex tersenyum kecil, dengan mata melirik ke arah Fara yang sedang kesal karena kekalahan lalu berjalan ke arahku.
“Tidak peduli siapa menang atau..” Matak kak Alex mulai terarah pada Fara yang terus menatap kami, “Kalah dalam permainan ini!” Dia benar-benar berencana membuat Fara murka saat itu terlebih bagaimana dia mengatakan kata ‘kalah’ yang jelas ia tujukan pada Fara. “Untukku pemenang sesungguhnya hanya Azia-ku, benarkan istri mungilku” Dia menatapku dengan sebuah senyum manis lalu tangannya meraih pipiku, sebuah cubitan manja pun ia berikan pada pipiku yang akhir-akhir ini sedikit berisi.
“Kak, aku malu tahu!”
“Dasar menyebalkan! Sayang, ayo jalan-jalan!” Fara menarik Bastian dan keduanya pergi meninggalkan kami berdua.
“Sayang, apa menyenangkan membuat Fara marah?” Tanyaku melihat kak Alex tidak berhenti menertawakan Fara meskipun Fara sudah tidak terlihat lagi.
“Heum? Kamu cemburu?” Tanya nya padaku.
“Tidak. Hanya saja, aku kasihan saja melihat Fara. Bagaimana kalau sesekali kakak mengalah saja?”
“Aku sudah banyak mengalah selama ini, karena itu kali ini aku ingin dia sadar posisi. Aku ingin dia sadar kalau kamu milikku dan dia harus berhenti bertindak seolah dia menguasaimu”
“Kak, aku tidak berpikir kalau Fara melakukan itu. Kak, tolong jangan lakukan itu lagi, aku tidak ingin liburan kita jadi berantakan karena hubungan buruk kalian.”
“Baiklah, aku akan melakukan semua sesuai permintaan istri mungilku.” Lalu kak Alex mencium keningku.
Aku pikir semua akan menyenangkan setelah menikah, semua mulai terbayang dalam pikiran tentang bagaimana tiap kali aku membuka mata ada pria tampan dengan penuh pesona menyambutku, lalu menjalani hariku bersamanya. Tapi itu hanya bayanganku, setelah liburan berakhir kami mulai menjalani aktivitas normal. Kak Alex mulai sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit dan aku mulai sibuk dengan bisnisku yang sedikit demi sedikit mulai berkembang.