
Kakak Alex membawa aku kabur dari rumahnya, dia menyalakan mobil dengan cepat sebelum bu Dewi mengejar kami berdua. Dia terlihat kesal tapi, tidak mengatakan apapun di perjalanan, membuat aku merasa ada yang aneh dengan dia, aku merasa takut tapi tidak bisa berkata apapun karena aku benar-benar takut kalau dia yang tidak pernah menunjukkan amarahnya akan benar-benar marah hari itu.
“Kak, kita mau kemana?”
“Entahlah, aku juga lupa memikirkan tujuan karena terburu-buru, karena ini masih pagi, bagaimana kalau kita sarapan dulu?”
“Baik tapi, setelah itu aku mau pulang ke rumah, ya!”
“Rumah mana? Rumahku atau rumah Fara?”
“Tentu saja rumah Fara lah, aku tidak mungkin terus tinggal di rumah kakak atau nanti orang tua Fara akan cemas padaku dan itu akan membuat masalah dalam hubungan kita”
“Iya, kalau gitu ayo turun kita sudah sampai”
“Kamu mau pesan apa?”
“Apa aja asal bisa di makan”
“Beneran kamu gak mau lihat menunya dulu?”
“Iya, gak mau, lagian aku tidak terlalu mengerti dengan makanan barat”
“Kalau gitu aku yang pesan”
Aku merasa terlalu rapar hingga yang ada dalam pikiranku hanyalah makanan yang di buat Andi, rasa lezat yang tertinggal dalam mulutku seakan bertahan hingga saat aku membayangkannya.
“Azia, apa yang kamu pikirkan?”
“Aku hanya merasa andai saja hari ini sekolah, aku bisa makan masakan Andi, aku sangat suka masakannya”
“Andi? Kenapa pagi-pagi sudah memikirkan dia? Apa dia penting untukmu?”
“Aku hanya memikirkan makanan yang dia buat dan bukannya dia, dia mah gak penting-penting amat”
“Benarkah? Kalau begitu siapa yang paling penting untukmu?”
“Tentu saja kakak Alex!” Tiba-tiba aku merasa malu setelah mengatakan itu dengan penuh percaya diri.
Makan pun datang memecah rasa malu ku karena ucapan ku, aku mencoba fokus pada makanan tapi, sialnya kak Alex terus saja menatapku hingga aku tidak bisa makan dengan benar.
“Kak, kenapa kakak melihatku begitu?”
“Tidak, aku hanya merasa kamu lebih cantik dari biasnya, apa karena aku bisa melihatku di pagi hari dan bisa sarapan bersama?”
“Apaan sih! Jangan bikin aku ge-er deh!”
‘ting’ satu notifikasi pesan masuk ke handphone ku.
“Siapa?”
“Ni si Andi! Dia nanya, jadi gak aku ngajarin dia hari ini, katanya kalau gak jadi dia mau main sama teman-temannya”
“Lalu?”
“Ya aku bilang aku akan ke sana setelah sarapan”
“Kenapa harus kamu?”
“Karena ibunya mempercayakan Andi padaku. Eh, kakak gak mungkin punya pemikiran sempit dan cemburu dengan si Andi’kan?”
“Eh, itu.. Hahaha.. mana mungkin aku cemburu dengan teman kamu. Aku percaya pada pacarku, jadi aku tidak masalah” Dia mengerutkan alisnya sambil tertawa dan itu membuat aku semakin mencurigainya.
“Bagus deh, aku pikir kakak cemburu, dan punya pemikiran sempit soal hubungan kami seperti yang di katakan Fara.” Aku mencoba mengabaikan apa yang aku lihat dari ekspresi kak Alex karena tidak mau memperpanjang masalah antara kami.
“Fara? Dia bilang apa aja sama kamu?” Tiba-tiba nada bicaranya menjadi serius.
“Tidak banyak hanya masalah pemikiran sempit kakak saja”
“Oh… APA?” Dia kaget karena ucapan ku.
“Kak, setelah makan anterin aku pulang lalu anterin aku ke rumah Andi, ya?” Aku mengalihkan topik secepat kilat agar dia tidak bertanya lebih jauh lagi.
“Baiklah”
Setelah itu dia benar-benar mengantarku ke rumah dan menungguku untuk pergi ke rumah Andi tapi, anehnya dia berada di depan rumah Andi dalam waktu yang lama, hampir setengah jam, aku melihat mobilnya masih berada di depan rumah Andi saat akan mengambil makanan yang kami pesan.
“Aku merasa sikap kak Alex semakin aneh akhir-akhir ini”
“Azia! Cepat dong, aku lapar nih!”
“Iya bawel!” Aku mencoba tetap berpikir mungkin dia punya urusan di daerah tempat itu, lalu setelah itu aku kembali mengecek keberadaan mobil kak Alex dan untungnya dia pergi sebelum aku datang.
Jika saja aku melihat mobil kak Alex masih berada di tempat itu, aku mungkin akan berpikir dia mencurigai hubunganku dengan Andi dan kata percaya yang dia ucapkan itu hanya kata yang tak bermakna.
“Azia!”
“Apa?”
“Itu… Eum.. Gimana ya cara bilangnya… Aduh, itu sebenarnya…” Andi seperti ingin mengatakan sesuatu, dia terlihat gelisah dan dia terus saja memegang kepalanya seakan dia benar-benar berada dalam situasi yang sulit untuk di ceritakan.
“Apa? Katakan aja, jangan buat orang penasaran.” Aku jadi kesal karena penasaran tentang apa yang ingin dia ucapkan.
“Aku… Sebenarnya…”
“Andi, kamu kenapa sih? Gak biasanya kamu bicara kayak gitu, apa terjadi sesuatu sama kamu? Kamu di ganggu sama cewek yang itu lagi?”
“Entahlah, kali ini masalahnya agak lebih serius, seseorang seakan mengawasi ku dari mulai masuk rumah hingga aku keluar dalam beberapa hari ini, aku mulai takut bermain di luar”
“Makanya, kalau udah sore itu pulang jangan keluyuran, jadinya kan setan suka ngikutin sama kamu”
“Ish! Aku serius nih”
“Aku juga serius begok! Udah, pokoknya kamu tenang aja, selama ada aku, kamu gak akan di gangguin setan deh, aku jamin deh!”
“Jamin pakai apa? Emangnya kenapa setan gak akan ganggu kalau ada kamu?”
“Ya soalnya aku cantik, jadi setan gak akan gangguin cewek cantik”
“Dasar narsis! Udah, aku mau ke kelas dulu. Eh, nanti pulang bareng, ya”
“Oke”
“Kok aku ngerasa ada yang gak beres sama anak itu, apa dia benar-benar di ikutin setan atau ada penggemar gila lagi yang menguntit dia?” Pikirku.
Setelah jam terakhir selesai aku menunggu di parkir, lalu sebuah pesan masuk dari kak Alex yang bisanya gak pernah mengirim pesan duluan.
“Dek, aku jemput, ya?” Pesan darinya.
“Gimana nih? Kenapa kak Alex pengen jemput sekarang? Andi gak mungkin aku biarkan pulang sendirian karena masalah yang tadi, aku jadi gak enak, gimana kalau dia mati gara-gara cewek gila?” Pikirku.
“Ah, aku bisa pulang bareng Andi, terus sampai di sana aku minta di jemput kak Alex jadi kami bisa tetap bisa pulang bareng.” Lalu aku mengirim pasan untuk menjemput ku di rumah Andi.
“Hai! Udah lama nunggu?”
“Udah tahu nanya lagi, cepat ambil motornya, aku mau cepat-cepat pulang”
“Aku anterin ke rumah Fara?”
“Gak, aku pulang ke rumah kamu aja, nanti di sana aku pulang sama kak Alex”
“Oke deh!” Lalu Andi pergi mengambil motor.
“Andi, kalau kamu benar-benar merasa ada yang mengawasi kamu lagi, kamu langsung bilang sama aku dan nanti aku akan bantu mengurusnya atau apa perlu kita langsung meminta bantuan polisi aja?”
“Bisa sih minta bantuan polisi tapi, kita gak punya bukti kalau ada yang mengawasi ku, nanti di kira aku garang cerita, pokoknya cari tahu dulu kebenarannya baru kita lapor polisi, gimana?”
“Aku sih oke oke aja!”
Saat sedang asih berbincang di motor akhirnya kami sampai di depan rumah Andi dengan selamat, mobil kak Alex pun sudah menungguku di sana.
“Andi, aku pergi dulu”
“Oke, jangan lupa istirahat yang benar, aku lihat kamu kayak orang kurang tidur, dan jangan lupa besok udah mulai ngeles di tempatku”
“Sip! Bye!” Lalu aku masuk ke dalam mobil.
Wajah kak Alex saat itu terlihat seperti sedang banyak pikiran, dia terus menatap ke depan dengan tatapan kosong dan itu membuat aku sedikit merasa khawatir padanya.
“Kak, apa kakak baik-baik saja?”
“Kenapa kamu gak mau di jemput di sekolah?”
“Kakak marah cuma gara-gara itu?”
“Apa kamu malu pacaran sama aku? Apa Andi lebih baik dari aku? Kalian terlihat sangat serasi, si cewek pintar dan si cowok populer, iya’kan?”
“Kakak ngomong apa sih?”
“Gak ada, ayo kita langsung pulang saja”
Dia benar-benar terlihat aneh, dia tidak bicara sepanjang jalan dan sikapnya benar-benar berbeda dari biasanya.
Bersambung....
Jangan lupa LIKE, Komen dan Favoritkan ya kawan-kawan