
Setelahnya dia keluar lebih dahulu dan menuju ke kamar neneknya, aku di belakang menyusulnya hingga saat kami sudah berada di kamar neneknya tiba-tiba dia mintaku untuk keluar karena dia ingin bicara berdua dengan neneknya. Aku yang tidak ingin memancing emosi Azia yang baru saja pedam pun akhirnya langsung mengalah dan pergi dari ruangan itu. Karena aku belum makan siang, aku pun pergi ke kantin rumah sakit sambil menunggu Azia selesai bicara dengan neneknya.
Selama di kantin aku terus kepiran tentang apa yang akan Azia sampaikan pada neneknya hingga aku tidak boleh tau tentang itu, padahal biasanya dia selalu menceritakan segala hal padaku dan tidak ada rahasia diantara kami berdua. Aku yang terlalu penasaran pun pada akhirnya menyelesaikan makanku dengan cepat dan hendak kembali hingga tiba-tiba Bima menghadangku dan dia mulai menanyakan tentang pasien yang baru saja masuk tadi siang saat dia tidak ada di rumah sakit.
Dari jauh An An berjalan cepat kearah kami dan menyela percakapan kami, "Kamu bali berantam sama si Azia, ya?" Tanya nya tiba-tiba yang membuat aku kaget, aku pikir pertengkarang kami di lantai 5 sudah tersebar ke seluruh rumah sakit.
"Kamu tau dari mana?" Tanyaku penasaran.
"Aku lihat Azia tadi matanya merah kayak baru siap nangis" Jawabnya.
Seingatku saat kami bertengkat tadi hanya aku yang menangis sedangkan Azia tidak satupun air mata yang keluar selama kami bertengkar bahkan hingga saat aku meninggalkannya di kamar neneknya pun aku tidak melihat matanya mengeluarkan air mata.
"Sekarang dia dimana?"
"Tadi dia menuju ke parkiran."
Mendengar hal itu aku pun segera bergegas ke parkiran, tapi sayangnya aku terlambat, Azia sudah masuk ke mobil hitam dengan orang asing yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, aku berusaha mengejar mobil yang hendak keluar dari area rumah sakit tapi, tiba-tiba mobil yang tadinya berjalan perlahan malah menambah kecepatan seolah sengaja menghindariku.
Sebenarnya aku hendak mengejar mobil itu tapi, sayangnya saat ini aku tidak bisa keluar dari rumah sakit dan meninggalkan tugasku, apa lagi aku sudah mendapatkan teguran dari Paman karena sering bolos hanya karena ingin bertemu Azia. Aku mencoba menghubungi Azia tapi, aku tidak bisa menghubunginya, bahkan aku menghubungi nomor baru yang dia dapat dari Fara, tapi tetap saja dia tidak menjawab panggilanku bahkan beberapa saat kemudian nomor itu malah tidak aktif lagi.
Pada malam harinya aku menghubungi Fara dan Mia, tapi mereka mengatakan tidak mengetahui keberadaan Azia, bahkan mereka juga kaget karena Azia tidak bisa dihubungi, mereka yang tadinya aku pikir tau rupanya mereka benar-benar tidak tau, bahkan mereka berencana untuk menghubungi polisi untuk mencari keberadaan Azia. Saat tengah malam, aku masih berada di rumah sakit, karena aku sudah kehilangan akal, dan frestasi karena Azia masih belum ada kabar, pada akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada nenek Azia, sayangnya jawaban yang aku dapatkan masih sama seperti yang lain, nenek Azia pun tidak tau Azia pergi kemana. Dalam perjalan menuju lift aku teringat kalau Andi masih berada di rumah sakit, karena itu aku pun menghampiri kamar Andi.
"Andi, apa kamu sudah tidur?" Tanyaku pada Andi yang masih main game.
"Kamu buta, ya?" Jawabnya ketus.
"Andi, kamu tau Azia dimana?"
Dia hanya diam dan fokus pada gamenya, aku menarik kursi dan duduk lebih dekat dengan ranjang Andi.
"Andi, tolong katakan sesuatu, apa Azia mengatakan dia pergi kemana?"
"Kenapa kamu tanya padaku? Bukan kamu pacarnya? Lagian bukan dia mempunyai 2 sahabat lain, kenapa kamu bertanya padaku?"
"Aku tidak tau dia dimana sekarang dan teman-temannya yang lain pun tidak tau, hanya kamu orang terakhir yang bisa aku tanyakan. Andi apa kamu tau Azia dimana?"
"Tidak" Jawabnya singkat dan terdengar tidak peduli. "Ah sial, aku kalah lagi" Keluhnya kesal dan memepar handponya ke ujung kasurnya.
"Apa kamu benar-benar ingin tau?" Tanya Andi tiba-tiba berubah pikiran.
"Iya, aku ingin tau" Jawab ku antusias.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin menanyakan sesuatu dulu"
"Soal apa?" Tanyaku penasaran.
"Aku sangat mencintainya" Jawabku tanpa keraguan.
"Bisa kamu melepasnya?" Tanya nya lagi dengan nada datar seolah tidak mengharapkan jawaban dariku.
"Tidak"
"Heum... Terserahlah, tapi saranku lupakan saja dia."
Mendengar ucapan Andi seketika aku mulai marah, "Apa maksudmu?! Jangan bilang kamu menyukainya!!" Bentakku padanya.
"Santai, meski Azia adalah gadis yang cantik, baik dan pintar, tapi aku tidak mungkin memiliki perasaan pada anak yang dari dulu aku harap jadi adikku, tapi kamu... kamu benar-benar tidak pantas untuknya yang sempurna, meski aku tidak mentang hubungan kalian secara langsung karena aku melihat Azia benar-benar mencintaimu, tapi jauh dari hatiku terdalam aku tidak terlalu berharap hubungan kalian akan bertehan selamanya, dan akhirnya tuhan juga memisahkan kalian dengan cara ini" Ucapnya dengan nada datar.
"Aku tidak butuh pendapatmu tentang hubungan kamu, aku hanya ingin tau Azia dimana sekarang"
"Azia?" tiba-tiba dia tersenyum dengan ekspresi seolah sedang meremehkanku, "Kenapa aku harus mengatakannya padamu"
Tanpa sadar aku menarik kerah bajunya karena terlalu kesal dengan ucapannya.
"Alex, meski aku mengatakan dimana dia berada pun, kamu tidak akan bisa menemukan dia sekarang"
"Aku tidak peduli! Katakan saja dimana dia!"
Dia mencoba melepaskan tanganku dari kerah bajunya, dengan senyum miringnya dia berhasil membuat aku melepaskan dia.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi melihat frustasi rasanya aku ingin membuat mu semakin frustasi setelah tau Azia dimana. Benarnya Azia tadi mengatakan kalau dia akan kembali ke keluarganya dan tidak tau kapan kembali, lalu dia juga mengatakan tidak akan bisa menghubungi kami setelah ini"
Sejenak aku terdiam, aku mulai mencerna apa yang terjadi waktu itu lalu yang terjadi hari ini, aku menyimpulkan mobil yang membawa Azia siang itu adalah mobil suruhan dari keluarga Azia yang pastinya untuk menjemput Azia agar kembali ke keluarga aslinya.
"Kamu tau dimana rumah kaluarga Azia?"
"Tidak, dia tidak mengatakan apapun soal itu." Jawabnya.
"Tunggu dulu, kenapa dari semua orang yang dekat dengan Azia kenapa hanya kamu yang tau kebenaran ini? Kenapa Mia atau Fara tidak tau? Kenapa Azia hanya mengatakan ini pada kamu?"
"Bukan lebih baik kamu tanyakan pada orangnya langsung? Lagian itu pilihan dia dan bukan pilihanku jadi kenapa aku harus tau?"
Sejenak aku terdiam dan memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.
"Dari pada banyak pikir mending kamu bersiap melanjutkan pendidikan mu dengan tenang karena mengakatan akan mencoba segera kembali dalam 5 tahun, dan jika kamu tetap dalam keadaan seperti ini apa kamu pikir Azia akan tetap menyukaimu sementara dia sudah pasti sudah jauh berada diatasmu. Dengan keluarganya yang memiliki kuasa, rasanya kamu sekarang tidak akan mungkin bisa di sandingkan dengan Azia. Dari pada kamu menggila dan buang-buang waktu, mending kamu fokus sama pendidikanmu dan tunggu saja sampai Azia selesai dengan masalah keluarganya dan kembali kesini.... Sekarang kamu bisa pergi, aku ingin istirahat." ucapnya sambil menarik selimut.
Aku yang merasa terusir pun akhirnya pergi dari ruangan itu, meski aku masih tidak mengerti kenapa Andi seolah tau banyak hal tentang Azia, sedangkan aku dan sabahatnya yang lainnya seolah tidak benar-benar mengetahui apapun tentang Azia.
Alex POV end