Obsession Of Love

Obsession Of Love
Kisah singkat sudut Alex



Namaku Alex Hardiata, di usia ku yang sudah 23 tahun ini untuk pertama kalinya dilanda kebimbangan, situasi memaksa aku memilih antara logika dan cinta. Hari itu aku benar-benar kaget begitu tahu kalau ternyata pacarku Azia usianya benar-benar terlalu muda dan sebaya dengan adikku sendiri. Aku memang mencintainya tapi, aku cukup sadar jarak usia kami yang terlalu jauh ini membuat aku berpikir kembali untuk mempertahankan hubungan kami.


Malam itu saat sedang berkemah aku mendapatkan pesan dari paman untuk menghubunginya dan di saat yang sama aku tahu kalau ternyata usia Azia jauh lebih muda dari perkiraanku selama ini. Paman menawarkan aku untuk lanjut kuliah di Amerika dan tanpa pikir panjang saat itu aku langsung mengiyakannya. Kalau ditanya apa aku menyesal mungkin sedikit karena aku akan pergi jauh dari Azia untuk waktu yang lama tapi itu adalah caraku agar aku memberi Azia kebebasan untuk menjalankan kehidupannya sebagai seorang remaja tanpa aturan dan batasan yang tidak bisa aku berikan jika kami terus berada dalam daerah yang sama.


“Bro, Alex ngapain bengong siang-siang gini?!”


“Eh, kamu Don.” Aku kembali fokus pada langit yang berawan hari itu.


“Galau aja, ada gerangan apa nih tiba-tiba galau? Putus ya sama pacar kecilmu?”


“Jangan mengada-ngada kamu!”


“Santai, bro! Jadi kamu ada masalah apa sampai se-galau ini? Coba cerita siapa tahu aku bisa bantu”


“Jadi sebenarnya…”


Aku sudah terlalu pusing karena itu begitu Doni datang ingin mendengar masalahku, aku pun langsung menceritakan semua masalahku padanya.


“Oh, kalau gitu mah gampang”


“Ada solusinya?”


“Jelas ada dong bro! Jadi kamu tinggal putusin aja tu pacar kecilmu lalu cari pacar baru”


“Itu mah bukan solusi! Yang benar aja, aku itu cinta banget sama dia jadi mana mungkin aku bisa putus”


“Kalau gitu pertahankan! Masa cuma masalah beda usia aja kamu jadi gelisah kayak gini?”


“Gimana aku gak gelisah, misalnya nanti dia ketemu sama yang lebih muda dan lebih baik dari aku gimana??”


“Santai! Jangan panik! Dia pasti sudah tahu dari awal perbedaan usia kalian tapi dia mau mau aja tu pacaran sama kamu jadi artinya beda usia gak ada menghambat cinta tapi kalau kamu bahas nikah ya pastinya keputusan kamu ini udah tepat kali.”


“Kalau aku bilang mau pergi apa dia akan baik-baik saja?”


“Kenapa kamu tanya aku sih bro? Tanya dong sama pacarmu, aku mana tahu jawabannya. Gini aja deh, kalau dia merasa gak bisa melanjutkan hubungan kalau LDR yaudah kamu putuskan saja dan cari deh pacar di orang Amerika biar anak lo nanti ada muka campuran dikit biar gak kayak orang korea semua. Masa bapaknya Indo-korea nanti anaknya Indo-korea lagi, kan gak bervariasi banget, bro!”


“Woi! Ini aku yang mau punya anak kok kamu yang protes?”


“Aku gak protes bro cuma menyarankan aja hehehe. Udah ah, ayo balik kerja udah habis nih jam istirahat”


“Huem”


Saat akan masuk ke dalam rumah sakit bersama Doni tiba-tiba saja orang yang aku minta untuk mengawasi Azia mengirimkan aku foto kalau Azia pergi ke hotel milik keluarga Mia. Awalnya sih aku berpikir mungkin saja dia pergi bersama Mia hingga pesan yang lain masuk.


“Tuan, Nona berada di restaurant bersama seorang pria asing dan tempat itu di jaga ketat”


Begitu membaca pesan itu aku hampir saja terbawa emosi dan hampir menghubungi Azia saat itu juga tapi aku mencoba menenangkan pikiranku dan hanya mengirimnya pesan singkat.


“Ketemuan sama siapa hari ini?”


Karena dia tak kunjung membalas pesanku aku pun langsung pergi ke hotel itu dengan cepat dan meninggalkan rumah sakit setelah menitipkan semua pekerjaan pada Doni. Begitu sampai di tempat itu aku bertemu dengan Roni yang sedang berbicara dengan seseorang tidak jauh dari pintu masuk.


“Alex, ada apa?”


“Kamu tahu dimana Azia?”


“Ada di lantai atas, mau aku antarkan?”


“Boleh”


Saat akan menaiki lift bersama Roni aku melihat bayangan Azia pergi ke arah tangga darurat.


“Ayo, naik!” Ajak Roni begitu pintu lift hampir tertutup kembali karena aku terlalu fokus pada bayangan yang aku kira Azia.


“Roni, kamu tahu Azia ketemuan sama siapa?”


“Gak, dia cuma minta di bookingkan tempat untuk 1 jam saja, memangnya dia bertemu siapa?” Roni yang selalu bisa mengontrol ekspresinya itu membuat aku meragukan ucapannya meskipun dari ekspresi luar dia terlihat jujur saat menjawab pertanyaanku.


“Sudahlah kalau kamu tidak tahu.” Begitu lift berhenti di lantai tiga aku pulang langsung turun dan meninggalkan Roni.


“Loh, kamu mau kemana? Dia ada di lantai 5.”


“Gak, aku gak jadi kesana, aku mau turun aja”


“Oh, oke!”


Begitu pintu lift di tutup aku langsung berlari ke arah tangga darurat dan mengirim sebuah pesan kepada Azia.


“Ngapain kamu ke tangga darurat?”


karena Azia tidak membalas pesanku aku pun mulai menuruni tangga darurat itu dan aku kaget melihat Azia pingsan di tangga dan wajahnya terlihat pucat. Aku sangat panik saat itu karena itu aku hampir lupa kalau aku adalah seorang dokter karena melihat Azia dalam keadaan lemas bersandar di dinding dekat tangga lantai tiga. Aku menggendong Azia dan menuruni tangga dan segera membawa Azia pergi ke rumah sakit dan untungnya tidak ada yang serius pada keadaan Azia, dia hanya merasa lelah saja.


“Kak Alex?!” Suara lembutnya saat memanggilku membuat aku yang tadinya sedang gelisah menjadi tenang dan seakan berada dalam kedamaian. Buku yang hanya aku lihat dari tadi sebagai pengalih kegelisahan sama sekali tidak ada maknanya jika dibandingkan dengan mendengar suara merdu dan lembut dari pacar kecilku itu.


“Udah tiduran saja, kamu istirahat saja” Aku berusaha memperlihatkan sisiku yang keren dengan tetap bersikap berpura-pura melanjutkan bacaanku.


“Kenapa aku di sini?” Wajahnya terlihat kebingungan benar-benar terlihat lucu hingga aku merasa harus sedikit mengerjainya.


“Entahlah, mungkin karena lelah menghindari pacarnya, atau karena takut ketahuan selingkuh”


“Aku tidak…” Terlihat jelas dia mulai panik dan itu terlihat sangat menggemaskan.


“Hahaha… Aku hanya bercanda sayang, jangan terlalu dipikirkan! Kamu pingsan di tangga darurat lantai dua hotel Roni. Bicara soal hotel, kamu ngapain di sana?”


“Aku… Ah, iya waktu itu aku hanya sedang ingin makan di restaurant kak Roni itu saja, kalau kakak tidak percaya tanya saja sama kak Roni”


“Oke aku percaya, gak mungkin kan kamu bohong sama aku, ya’kan sayang?” Meski tahu kalau dia bohong aku tidak bisa berkata apa-apa karena mungkin saja ada hal yang memang belum waktunya aku tahu meski begitu aku tetap kesal karena orang yang dia temui itu pria.


Dan dengan terpaksa aku akhirnya menyita handphone miliknya, alasan sederhananya karena aku ingin memasang pelacak dan juga ingin tahu pria yang mana yang bisa membuat seorang Azia berbohong padaku.


Bersambung…