Obsession Of Love

Obsession Of Love
klien 2



“Tidak ada, apa anda harus?”


“Tidak, saya ingin pergi ke kamar kecil sebentar”


“Baiklah, silahkan.”


Aku pun menaiki mobil club car yang ada di sana, sejujurnya tujuanku bukan ke kamar kecil hanya ingin berteduh dari sinar matahari hingga tiga pria itu bosan bermain dan mengajakku makan siang.


*


*


Siang itu sesuai dengan janji tuan Hideyoshi, akhirnya kami semua makan siang di kediamannya. Tempat itu terlihat sangat indah, nuansa klasik melekat di dalam bangunan yang mungkin sengaja di desain menggunakan gaya bangunan lama.


“Silahkan, dimakan” Ucap tuan Hideyoshi dengan senyum ramahnya pada kami semua.


Tanpa ragu dan menunggu yang lainnya Alham sudah mulai makan, dia terlihat sangat lahap makan makanan yang di hidangkan. Menu hari itu adalah seafood, semua jenis masakan yang dihidangkan hampir semua berbahan utama udang dan kepiting kecuali di depan Robert terdapat ikan panggang dan di depan tuan Hideyoshi terdapat gulai ikan, sedangkan di depanku terdapat cumi-cumi, kepiting, udang, dan beberapa jenis kerrang.


“Gimana makannya nih?” bisik ku pada Alham.


“Kamu nggak bisa kupas udang? Mau aku kupas kan?” Tanya Alham yang seolah lupa kalau aku alergi kepiting.


“Kamu ingin mati? Aku alergi, gila!” Bisikku sambil mencubit pinggangnya.


“Ada apa?” Tanya Robert yang melihat Alham menahan rasa sakit dan aku yang duduk terlalu dekat dengan Alham.


“I-itu… Bukan, apa-apa, ya’kan Alham?” Ucapku dengan penuh penekanan.


“Iya. Pak Robert boleh saya meminta ikan bakar yang ada di depanmu?” Tanya Alham.


“Apa kamu gila, jangan buat malu!” Bisikku kesal.


“Mending malu ketimbang kamu kelaparan, dari pagi juga kamu enggak makan, udah lah lupakan gengsi mu kali ini”


“Apa anda kesulitan mengupas kepiting?” Tanya Robert dengan sorot mata padaku.


“Bukan seperti itu hanya saja saya alergi terhadap beberapa jenis seafood.” Jelasku dengan sedikit ragu-ragu.


“Maaf, saya tidak tau kalau anda punya alergi terhadap makan ini, maafkan kelalaian saya. Bagaimana kalau saya siapkan makanan yang lain saja?” Tawar tuan Hideyoshi.


“Tidak usah, tuan. Dia masih bisa makan ikan yang tersedia disini.” Ucap Alham.


“Baik, kalau begitu. Bawa ikan ini pada nona Azia!” Perintah tuan Hideyoshi pada pelayan ada ada di belakangnya.


Disaat yang sama Robert juga ikut bangun dan membawa ikan panggang yang ada di depannya dan diletakkan di depanku. Sejujurnya aku merasa tidak enak karena merepotkan mereka di pertemuan pertama kami.


“Terimakasih” Ucapku pada mereka.


“Tidak apa, ini juga kesalahan saya karena tidak tau makanan yang tidak bisa dimakan oleh tamu saya. Sekarang silahkan menikmati makanan anda, lain kali saya berjanji akan menyiapkan semua tanpa kesalahan” Ucap tuan Hideyoshi.


Aku hanya mengguk kecil dengan sebuah senyum sebelum memulai acara makan yang tertunda. Sayangnya baru saja makan dua suap tiba-tiba dari jauh terdengar suara langkah kaki dan teriakan dari anak kecil.


“PAPA…” Teriak anak kecil dengan mata hitam pekat dan rambut pirang.


Mendengar suara imut itu, semua mata teralih pada anak yang sedang berlari kecil ke arah tuan Robert. Tanpa sadar aku ikut bangun bersama dengan Robert yang bangun untuk menyambut anak itu, tapi entah kenapa anak itu malah berhenti berlari dan melihat ke arahku.


“Mama…” Dia berteriak memanggil ku dengan sebutan ‘mama’ dan berlari ke arahku, aku yang refleks malah ikut beradegan seolah dia anakku. Aku merentangkan tangan dan menyambut pelari kecil itu kedalam pelukanku. Dia yang aku kira sekitar 6 tahun itu terasa lebih ringan dari yang aku pikir hingga tanpa sadar aku menggendongnya dengan cukup mudah.


“Mama, mama, mama” kata-kata itu terus di ulangnya hingga beberapa kali dengan tangan memelukku dengan erat seolah tidak ingin ditinggalkan.


Semua mata teralih pada kami berdua, dengan Robert menjadi orang yang paling kaget dari yang lain dan nona Sakura menjadi orang yang menatap kami dengan penuh amarah.


Sejujurnya aku memeluk anak itu bukan tanpa alasan tapi, melihat dia berlari kecil dari jauh terlihat menggemaskan hingga aku ingin memeluk makhluk menggemaskan itu.


“Do you want to eat with me?” Tanyaku untuk mengalihkan topik pembicaraan.


“Eum” Ucapnya sambil mengangguk kecil.


Aku tetap membiarkan dia duduk dipangkuanku dan menyuapi dia makanan.


“Mama, I like those prawns, may I have some?” Tanya nya sambil menunjuk udang di depannya.


“Of course, baby.” Aku mengambil piring berisi udang dan memberikannya pada Alham. “Tolong kupaskan” Perintahku.


“Dasar merepotkan” Gumamnya yang masih terdengar jelas ditelingaku. “Nih!”


“Terimakasih”


Selama di meja makan tidak ada pembicaraan apapun tentang tindakanku yang memberi makan anak kecil itu, meski tatapan sinis masih terlihat jelas diberikan oleh nona Sakura.


Setelah makan, aku dan Alham berencana kembali ke kantor tapi, anak itu menahan kami cukup lama.


“Sayang, lepaskan tante Azia, ya! Dia harus pergi” Ucap Robert pada anak itu.


“No! Aku ini bersama Mama. Mama, tolong tetap tinggal” Ucapnya dengan nada memohon.


“Lah, bisa Bahasa Indonesia ni anak, tau gini langsung aja tadi gas pakai bahasa Indonesia.” Pikirku.


“Namamu siapa?” Tanyaku.


“Aku Rion, Ma. Apa Mama melupakanku?” Matanya mulai berlinang air mata, suaranya terdengar sangat menyedihkan. Aku tidak tahan melihat makhluk selucu ini menangis, bagaimana bisa aku tega membuat dia menangis.


“Rion! Cukup! Dia bukan Mamamu, dia tante Azia. Rion, cepat kemari dan lepaskan tante Azia!” Bentak Robert.


“Maaf pak Robert, saya rasa membentak anak kecil bukan solusi di sini. Anda tidak perlu membentaknya untuk membuat dia paham akan sesuatu.” Tegasku kesal karena Robert membentak Rion di depanku.


“Rion, sayang. Tante ini memang bukan mamanya Rion, tante itu temannya Papa Rion. Rion tidak boleh panggil sembarangan orang sebagai Mama, ya sayang. Sekarang lepaskan tante dulu, nanti kalau ada waktu tante akan mengunjungimu.”


“Tidak mau! Aku mau sama mama. Mama jangan tinggalkan aku.” Rengeknya dengan manja dan terlihat sangat manis.


“Maafkan saya, nona Azia. Rion memang anak yang keras kepala, sulit untuk menentang keinginannya. Bagaimana kalau begini saja, biarkan dia bersama anda selama saya masih di Indonesia, sebagai gantinya saya akan ikut berinvestasi di perusahaan anda, bagaimana?”


“Terima aja, rejeki gak datang dua kali. Lagian menurut jadwal tuan Robert harusnya berangkat ke Jerman sekitar 6 hari lagi, udah terima lah.” Bisik Alham padaku.


“Baik, kalau begitu! Saya akan menjaga Rion selama dia di sini. Masalah investasi kita jadwalkan ulang untuk membahas masalah ini, hari ini saya harus kembali ke perusahaan.”


“Apa tidak masalah membawa Rion ke perusahaan?” Tanya tuan Hideyoshi.


“Tidak, saya yakin bisa menjaganya di sana bersama dengan Alham, bukan begitu tuan Alham.”


Alham tersenyum lebar tapi, terlihat jelas di mataku kalau dia tertekan, “Hahaha,, tentu saja. Kalau begitu bagaimana kalau kita berangkat sekarang.”


“Wait a minute, is it okay to leave the child with them? What if they can't take care of it?”


“I believe they can take good care of Rion, and my son's matter is my business and you have no right to interfere in this matter.”


“Up to you” Nona sakura pun meninggalkan tempat itu dalam keadaan marah.


“Kalau begitu kami permisi”


Aku pun kembali ke perusahaan bersama Alham dengan membawa Rion bersama kami. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok tapi, yang pasti hari ini kami sudah pasti mendapatkan 2 investor besar dan dengan begini aku sudah siap mengambil resiko melawan kakek.


Bersambung….