
Dalam mobil….
“Jangan seperti siput, tambah kecepatan!”
“Azia, aku tidak bisa melakukannya lebih dari ini, itu terlalu berbahaya.” Ucap Bastian padanya. “Tenangkan dirimu, asistenmu sudah berada di sana, Zuzu aman bersamanya, jangan terlalu panik”
“Bagaimana tidak panik, terakhir kali aku membiarkan dia sendirian di apartemen, guci pemberianmu pecah dan membuat dia luka, aku tidak ingin hal itu terulang lagi, kamu mengertikan”
“Iya, aku ngerti kok” Jawabnya dengan mata masih fokus mengemudi.
Apartemen…
Begitu sampai di parkiran apartemen Azia segera berlari masuk menuju lift dan meninggalkan Bastian di belakangnya, entah hanya perasaanku saja tau memang orang yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat masuk ke dalam lift itu merupakan salah seorang kenalannya, tapi karena kepanikan nya membuat dia mengabaikan pria yang masih menatapnya hingga pintu lift tertutup rapat. Di sisi lain Bastian terlambat masuk ke dalam lift akhirnya hanya bisa menunggu lift berikutnya, tapi karena tidak sabar menunggu akhirnya dia terpaksa menggunakan tangga darurat menutup lantai 10.
Ting!
Pintu lift terbuka, Azia langsung berlari menuju ke pintu apartemennya, di ketiknya beberapa nomor yang merupakan kombinasi password apartemennya.
“Zuzu!” Teriaknya panik.
Yang dipanggil pus menoleh, lalu dengan cepat anak perempuan berkuncir 2 itu berlari kecil menuju Azia, “Mimi” Panggilnya dengan nada yang menggemaskan.
“Anak Mimi, kamu baik-baik saja kan sayang?” Azia merentangkan tangannya, lalu memeluk dan menggendong Zuzu.
“I’m good Mimi, cenapa Mimi baru campai? Zuzu kangen Mimi” Ucap gadis kecil dalam pelukan Azia.
“Maaf ya sayang, Mimi sibuk jadi tidak bisa menemuimu beberapa tahun terakhir ini, tapi sekarang Mimi akan membayarnya, Mimi akan menjaga Zuzu sampai Papa Leon dan Mama Cici pulang, ya sayang?”
“Heum?” Angguk si gadi kecil itu, “Mimi, Pipi mana?” Gadis kecil itu menanyakan keberadaan Bastian, orang yang dikenalnya sedari dulu sebagai ayah angkatnya karena orang tuanya memperkenalkan Bastian padanya sebagai pasangan dari Azia yang merupakan Ibu angkatnya.
“Pipi? Pipi dia…”
Baru hendak menyusun alasan, Bastian pun muncul di sana dan menghampiri Azia yang sedang berjalan menuju sofa dengan Zuzu masuk dalam gendongannya.
“Pipi!” Panggil Zuzu antusias, dia merentangkan tangannya dan berusaha lepas dari Azia dan beralih pada Bastian yang dengan cepat menyambut Zuzu dalam gendongannya. “Pipi, Zuzu lindu”
Bastian mencium kening putri angkatnya itu, “Pipi juga rindu sayang, bagaimana kabarmu?”
“Zuzu, senang karena bisa bertemu Pipi dan Mimi, kata Papa dan Mama, Zuzu boleh menginap dengan Mimi dan Pipi, Zuzu senang sekali.” Ucapnya dengan senyum yang memancarkan kebahagiaan.
“Ehum! Maaf menyela adegan keluarga kalian, tapi aku cuma mau bilang, besok Azia akan mulai masuk ke kantor dan menggantikan presidir, karena itu…” Pria yang merupakan teman sekaligus sekretaris Azia itu mengeluarkan beberapa dokumen dari tas yang ia bawa, “Tolong pelajari ini, besok pagi ada rapat, siangnya kita akan meeting dengan klien dari Jerman, Malamnya dengan klien Jepang, tolong persiapkan dirimu Azia”
“Padahal kamu sekretarisku tapi, ucapanmu tidak mencerminkan posisimu, sangat tidak sopan” Tegur Azia, namun dibalas tatapan julit dari temannya yang bernama Ardian. “Yaelah, kan kamu besok baru resmi jadi atasanku jadi sekarang santai aja dulu, dah aku mau pulang, jaga tu bocah, tadi hampir mecahin pot bunga atas meja, untung aku cepat datang tadi.”
“Terima kasih kamu udah datang cepat dan menjaga Zuzu”
“Sebenarnya aku nggak niat jaga tu anak, cuma tadi aku mau nganterin berkas-berkas ini, lalu pulang tapi, pas masuk anak ini sudah di dalam dan membuat rumah berantakan dengan mainannya, untung semua sudah aku bereskan.”
“Santai bro, dia yang ngasih aksesnya ke aku pas dia pergi ke Inggris dulu, dia mau aku yang ngurus tempat ini selama dia nggak ada. Jangan mikir macam-macam, soalnya aku dah punya istri. Oke, aku pulang dulu, tolong pelajari semua itu sebelum rapat besok, bye!” Ardian pun pergi meninggalkan tempat itu.
Di ruangan itu tinggal tiga orang yang kini sibuk bermain dengan gadis kecil yang sangat aktif, entah kenapa pemandangan yang mereka ciptakan saat itu seperti keluarga kecil yang bahagia.
“Zuzu, sudah makan sayang?”
“Udah, Mimi” Jawabnya yang masih asik bermain boneka dengan Bastian. “Nona Su, apa mau teh?” Tanya Zuzu pada boneka yang dipegang oleh Bastian.
“Eum, saya mau satu cangkir nona Zu” Ucap Bastian yang berpura-pura menjadi suara dari boneka yang dia pegang.
Zuzu pun menuangkan teh yang berupa angin dari teko mainan miliknya, “Silahkan nikmati, nona Su” Ucapnya dengan senyum polos yang menggemaskan.
Bastian mengambil cangkir yang kosong itu dan berpura-pura meminumkannya pada boneka beruang dengan topi pantai berwarna pink yang ada di tangannya, “Eeum… enak sekali nona, anda memang sangat pandai membuat teh”
“Mau cemilan?” Tanya Azia pada kedua orang yang sedang asik bermain boneka.
“Aku mau” Jawab Bastian Antusias.
“Zuzu mau kukis coklat Mimi” Pinta Zuzu sambal melempar senyum manisnya pada Azia.
“Baik putriku, tunggu sebentar ya, Mimi ambilkan kukisnya untuk kalian” Azia pun bangun dan pergi ke tempat penyimpanan stok cemilan miliknya.
Dibukanya lemari yang berisi berbagai cemilan dan beberapa toples yang berisi kukis coklat yang dikirim dari rumah utama, kukis yang dikirim khusus oleh koki keluarga Xu untuknya sehari sebelum Azia kembali ke singapura. Diambilnya satu toples kukis coklat dan satu cemilan kentang yang baru saja dia minta untuk di stok pada Ardian.
“Ini kukis terenak di tempat ini, silahkan coba tuan putri” Ucap Azia pada Zuzu.
“Buatku mana?” Tanya Bastian karena tidak mendapatkan apapun dari Azia.
“Itu bagi dua dengan Zuzu” Ucap Azia santai sambal membuka kemasan cemilan kentang kesukaannya.
“Zuzu, Pipi minta satu” Pinta Bastian pada Zuzu yang memeluk posesif toples kukis pemberian Azia.
“No! Pipi, ini milik Zuzu, Pipi tidak boleh minta” Ucapnya dengan menggembangkan kedua pipinya saat mengunyah kukis yang entah berapa dia masukkan ke dalam mulut kecilnya.
“Zuzu, jangan pelit, Pipi minta satu dong” Pinta Bastian lagi.
“No! Mimi, melihat Pipi mau mengambil kukisku” Adunya pada Azia, sedangkan Azia menatap prihatin pada Bastian. Zuzu dan Bastian sebenarnya cukup dekat tapi, Zuzu bukan tipe anak yang mau berbagi makanan, karena itu kadang kala makanan bisa jadi alasan mereka berkelahi, kadang Bastian menanggapinya dengan serius saat sifat kekanak-kanakannya muncul dia akan dengan sengaja mengambil makanan yang ada di tangan Zuzu hingga membuat Zuzu menangis dan mengadu pada Azia, namun tiap kali Zuzu selesai menangis, Bastian akan mengembalikan makanan yang diambilnya dari Zuzu.
“Satu saja, Zuzu!” Bastian mulai terlihat cemberut karena Zuzu tidak mau membagi kukis itu padanya.
“Jangan mulai!” Azia menarik tangan Bastian hingga laki-laki itu terduduk di sampingnya, “Mengalah sajalah pada anak kecil, nih makan” Azia menyuapi cemilan miliknya ke mulut Bastian yang hendak protes dengan ucapannya. “Enakkan?” Tanya Azia pada Bastian yang di balas anggukan dan senyum manis dari laki-laki itu.
Bersambung....