Obsession Of Love

Obsession Of Love
Pak Arya



Dari malam aku masih gelisah karena aku masih penasaran apa alasan pak Arya hingga menitipkan aku ke tempat yang penuh dengan orang-orang yang mengerikan itu dan apa alasan pak Arya menjauhkan aku dari orang tua kandungku. Pagi itu aku sudah berencana bolos, sengaja aku bangun paling pagi dan pergi sebelum Mia dan Fara membuka mata agar rencanaku tidak ketahuan. Dari pria yang bernama Ian itu aku mendapatkan alamat perusahaan pak Arya. Aku menunggu di depan gerbang masuk sambil mengamati mobil-mobil yang masuk ke area perkantoran itu.


Aku menunggu cukup lama hingga beberapa sate bakar yang lewat pun hampir menguras seluruh uang jajan ku untuk minggu itu. Begitu melihat mobil pak Arya aku segera membawa makanan lalu berlari masuk dan mengejar mobil itu hingga di depan pintu masuk perusahaan.


“Pak Arya!!” Teriakku sambil terengah-engah karena mengejar mobil itu sebelum pak Arya masuk ke dalam.


“Dek, ini bukan tempat main-main, sebaiknya kamu pulang saja sebelum kami bertindak kasar” Ucap dua penjaga yang menghalangiku mendekati mobil pak Arya yang hanya berjarak sekitar 1 meter lebih lagi.


“Pak Arya!” Aku terus memanggil pak Arya yang baru akan keluar dari mobilnya.


“Lepaskan dia!” Pak Arya datang dan menghampiri aku yang ditahan oleh dua penjaga yang bertubuh tinggi dan berwajah menyeramkan itu.


“Azia, kenapa kamu ke sini? Kamu tidak ke sekolah?”


“Saya bolos karena ingin bertemu dengan bapak”


“Bertemu dengan saya? Untuk apa? Ada hal mendesak apa sampai kamu harus bolos sekolah?” Pak Arya mengerutkan kening seakan sedang menerka apa yang akan aku bicarakan dengannya.


“Kita masuk saja dulu, di dalam kita akan bicara. Ayo ikut saya!” Lanjut Pak Arya dengan menuntun jalan menuju keruangannya.


Dua penjaga itu menatapku sinis meski begitu mereka tetap memberikan aku jalan untuk mengikuti langkah cepat pak Arya. Kami menaiki lift dan saat itu pak Arya kelihatan tidak berdosa sama sekali, dia malah terlihat biasa saja padahal aku sedang sangat kesal dan marah pada dia yang menjadi alasan kenapa aku berada di panti asuhan yang mengerikan itu.


Pak Arya terus berjalan setelah pintu lift terbuka lalu kami melewati meja sekretaris. Di sana terlihat dua wanita yang berdiri sambil memberi salam pada pak Arya yang melewati mereka. Lalu kami berakhir di sebuah ruangan yang luar bak apartemen yang bisa ditinggali dua orang, ruangan itu begitu rapi, indah dan pemandangan di luar pun sangat menakjubkan. Aku bisa membayangkan bagaimana bisa melihat matahari yang tenggelam di sore hari di tempat itu.


“Azia!” Pak Arya memanggilku dan seketika khayalanku pun pecah dan aku kembali lagi pada dunia nyataku.


“Azia, silahkan duduk! Apa kamu ingin minum sesuatu?”


“Tidak, pak! Saya langsung ke intinya saja!”


“Silahkan”


“Kenapa bapak menitipkan saya di panti asuhan? Kenapa saya dipisahkan dari orang tua saya? Kenapa bapak berpura-pura baik pada saya selama ini?”


“Apa nenekmu yang memberitahukannya?” Tanya pak Arya yang kaget.


“Jadi nenek tahu juga masalah ini” Aku benar-benar kecewa mendengar kalau nenek juga tahu akan masalah ini dan nenek selama ini hanya diam saja.


“Kalau bukan nenekmu lalu dari siapa kamu tahu masalah ini?”


“Apa itu penting sekarang? Pak Arya hanya perlu menjawab apa yang saya tanyakan! Saya berhak tahu kenapa saya di buang ke tempat itu, pak!”


“Azia, tenangkan dirimu” Pak Arya bangun dan mengambil segelas air untukku.


“Minum dulu, nak! Tenangkan dirimu, saya akan ceritakan semuanya tapi sebelumnya kamu harus tenang dulu”


Aku meneguk semua air itu lalu menatap tajam kearah pak Arya sambil berharap pak Arya langsung menjawab tanpa perlu aku mengulang pertanyaanku.


“Jangan menatap saya begitu! Baiklah, saya akan ceritakan semuanya”


“Jadi, saat kecelakaan itu Papa dan Mama kamu mendapat luka yang sangat parah dibandingkan kamu. Setelah menjalani operasi Mamamu langsung dibawa oleh keluarganya, sebelum Papamu meninggal dia mengatakan untuk tidak membiarkan kamu dibawa oleh keluarga Mama mu karena dia tidak ingin mereka melukaimu”


“Kenapa Papa berpikir begitu, lalu kenapa harus ke panti?”


“Apa keluarga Mama tidak menerima aku?”


“Paman kurang tau soal itu tapi Papa mu itu hanya mengatakan untuk menjagamu dan menjauhkan kamu dari keluarga Mama mu”


“Lalu kenapa pak Arya malah menitipkan saya di tempat itu?”


“Waktu itu saya tidak punya pilihan lain, tahun itu berat untuk saya dan keluarga saya. Saya tidak mungkin membawamu pulang dan menambah masalah pada keluarga saya, saya menitipkan di panti asuhan dengan harapan saat semua sudah tenang saya akan membawa kamu ke dalam keluarga kami”


“Tapi Anda tidak pernah melakukan itu, ya’kan?” Ucapku yang agak kecewa dengan penjelasan pak Arya yang diluar harapanku.


“Saya memang bersalah tapi, semua itu ada alasanya. Keluarga Mama mu mendesak saya dan membuat saya tidak biasa membawamu untuk ikut bersama saya, saya bahkan terpaksa menggunakan anak lain untuk bisa menjauhkan kecurigaan mereka terhadap kamu.”


“Padahal belum tentu keluarga Mama membenci saya, tapi kenapa saya harus berada di tempat yang mengerikan itu? Tempat asing dan dipenuhi dengan tatapan sinis, kebencian yang membuat saya tak pernah bisa bernapas tenang di sana”


“Saya tidak tahu soal itu, kenapa tidak ada yang mengatakan hal itu pada saya?”


“Meski tidak ada yang memberitahu seharusnya anda tahu bagaimana rasanya begitu bangun dari rumah sakit seorang anak di bawa ke tempat yang asing dan tidak ada satupun orang yang dia kenal, perbedaan fisik dari anak-anak lain membuat dia dihindari, tidak ada yang mau bicara dengannya, semua orang menganggapnya aneh, semua menatapnya dengan tatapan tidak suka. Seharusnya anda tahu bagaimana tersiksanya saya selama satu tahun itu!!” Aku mulai menangis saat mengingat tahun penuh dengan ketidak nyamanan itu.


“Maafkan saya, Azia! Saya tidak tahu kalau kamu tersiksa itu, saya minta maaf!” Pak Arya berlutut sambil menggenggam tanganku.


Dari matanya terlihat dia tulus meminta maaf tapi, dalam hatiku yang sudah terlanjur terluka itu sulit sekali untuk memaafkan pak Arya. Pak Arya menghapus air mataku lalu memelukku sambil terus mengatakan maaf berulang kali hingga aku berhenti menangis.


“Apa kamu sudah tenang?”


Aku mengganggu sambil membersihkan air mata yang membasahi kedua pipiku.


“Bagaimana kalau kita mengunjungi makam Papa mu?”


“Apa bisa sekarang?”


“Tentu saja, nak”


Lalu kami pergi menuju ke tempat pemakaman umum. Terlihat sebuah nisan yang bertulis nama Darwin Mutian, terukir dalam tulisan yang indah. Aku langsung terduduk sambil menatap nisan itu, aku kehilangan kata-kata, hanya air mata yang mewakili perasaanku saat itu. Aku menyesal karena pernah berpikir kalau aku dibuang karena tidak di inginkan, aku pernah berpikir kalau mereka membenciku, aku tidak mengerti kenapa tidak ada satupun ingatan tentang mereka dalam ingatanku.


“Pak, kenapa saya tidak mengingat apapun tentang mereka?”


“Benturan di kepalamu membuat kamu kehilangan semua ingatan itu. Mama mu juga tadinya mengalami hal yang sama tapi menurut informasi yang saya dapat baru-baru ini mengatakan kalau Mamamu sudah pulih total dan dia sedang mencarimu dari beberapa tahun terakhir.”


“Kenapa baru mencari saya saat dia sudah melupakan saya dan Papa, dia sudah punya keluarga baru dan kenapa dia memerlukan saya yang seorang dari masa lalunya?”


“Azia, mau bagaimanapun dia itu Mama mu, dia pasti akan sangat bahagia kalau bisa melihatmu lagi”


“Apakah itu benar?” Tanyaku ragu.


“Tentu saja, nak!”


Lalu entah dari mana datangnya pria-pria bertubuh tinggi dan menggunakan pakaian serba hitam. Mereka membawaku paksa dan menahan pak Arya yang mencoba menolongku. Saat mencoba memberontak aku malah dibius hingga aku kehilangan kesadaran dan setelah itu entah apa yang terjadi.


Bersambung….


Sampai berjumpai di episode berikutnya semoga semakin seru dan tugasku tidak menghambat cerita ini lagi.