
Setelah itu aku menghubungi Andi, Fara, Mia, dan Kak Alex untuk ikut makan siang bersama dengan pak Erdian. Semuanya mengatakan akan ikut tapi Andi dengan kondisi masih kurang baik terpaksa hanya bisa meminta makanannya dibungkus karena dia tidak mau jatahnya hilang meski dia gak bisa ikut.
Siang itu, aku dan pak Erdian sudah berada di sebuah café dengan aku yang masih berbalut baju SMA dan pak Erdian yang entah kapan ganti baju terlihat lebih fresh dari pada aku.
“Kamu sudah siap memesan?” Tanya pak Ardan padaku karena aku terlalu lama menahan pelayan yang mencatat makanan kami di meja karena aku terlalu plin-plan dalam memilih makanan.
“Udah. Mbak, saya mau ini 4, ini dan ini, lalu yang ini juga 4 dan satu porsi dari semua menu saya pilih ini tolong di bungkus dan di kirim ke alamat ini” Aku menulis alamat rumah Andi di sebuah kertas dan aku berikan pada pelayan itu.
“Baik, mohon ditunggu pesanannya!”
“Azia, kamu pesannya banyak banget, kamu lapar banget atau apa?”
“Bapak nanya kayak gitu karena bapak gak sanggup bayar atau apa sih?” Sindirku.
“Bukan begitu, saya sanggup kok bayar, masa hanya segitu saja saya gak sanggup bayar apa kata orang-orang nanti” Pak Ardan tersenyum masam lalu mengalihkan pandangan ke arah handphonenya.
“Gitu dong, pak. Kan enak kalau ajak orang gak cuma ngajak aja, tapi sekalian dibayarin makanannya” Aku tersenyum jail, sambil melihat pesan grup whatsapp
Lalu tak lama kemudian si Mia dan Fara sampai dan dibelakang mereka ada kak Alex dengan kemeja biru tuanya.
“Hai! Disini!” Aku melambai-lambaikan tangan agar mereka bisa menemukanku dengan mudah.
“Siapa mereka?” Tanya pak Erdian kaget.
“Teman saya dan di belakangnya pacar saya.” Jawabku.
“Kamu bukannya pacaran dengan Andi?”
“Pak, itu hanya gosip aja tapi, pria inilah pacar saya satu-satunya. Kak, duduk disamping aku!” Aku menyeret kursi agar kak Alex lebih dekat dengan ku.
“Iya sayang” Kak Alex mengelus rambutku lalu mencium keningku. “Kamu pesan apa?”
“Aku sudah pesan makanan sesuai dengan kita berempat jadi sekarang cuma perlu nunggu saja”
“Saya jadi ingat punya janji hari ini, kalian makan saja saya yang akan bayar, maaf yang tidak bisa lama-lama disini” Pak Erden terlihat kaget dan merasa tidak senang dengan kehadiran kak Alex dan teman-temanku, dia membuat alasan untuk kabur dari tempat itu.
“Gak, papa pak! Hati-hati di jalan, pak!” Aku mengguk paham.
“Iya, saya tinggal dulu” Pak Erdian pergi dengan terburu-buru dari tempat itu dengan wajahnya yang kecewa berat akan sesuatu hari itu.
“Setelah makan kita jalan, yuk?” Tanya Fara padaku kami.
“Gak, ah aku mau ketemuan sama pacar baru aku” Ujar Mia dengan mata masih fokus pada handphonenya.
“Hai, kamu kok gak taubat-taubat juga sih Mia?” Fara menggeleng kecil melihat tingkah Mia yang tiba kunjung berubah padahal sudah mendapat teguran dari pada kakaknya.
“Selama masih ada celah ya kenapa gak dimanfaatkan saja, ya’kan?” Ucap Mia dengan kekehan kecilnya.
“Suka-suka kamu lah Mia, kalau kamu Azia gimana?” Ujar Fara pasrah pada Mia.
“Aku mau jalan sama kak Alex, ya’kan kak?” Tanyaku pada kak Alex yang sedang sibuk melihat handphone setelah mendapat beberapa spam pesan entah dari siapa.
“Sayang, aku harus segera kembali ke rumah sakit setelah makan siang, aku punya…”
Aku tau kak Alex sibuk, tapi entah mengapa aku sedikit kesal karena dia sering tidak punya waktu untukku,“Oke, aku ngerti! Jadi kapan kakak akan pulang?” Aku memotong ucapan kak Alex dengan cepat.
“Aku ngerti, Fara kita jalan yuk?” Mataku beralih pada Fara.
“Oke”
Lalu tiba-tiba Fara mendapat notifikasi, sebuah pesan masuk dan ternyata itu dari tantenya yang baru sampai dari Jerman, Fara terpaksa pergi cepat-cepat dan meninggalkan kami.
“Tante aku di bandara sekarang, aku harus jemput dia sebelum dia murka, maaf ya teman-teman!”
“Is oke! Salam ya buat tante Yani!” Ujarku yang sedikit kecewa karena setelah ini aku akan.
“Sip” Fara berlari dengan cepat hingga menabrak seorang pria tinggi dengan kulit coklat yang sangat eksotis, tatapan tajam dan bulu mata yang lentik dengan bibir tipisnya terlihat indah.
“Maaf, Mas saya buru-buru” Ucap Fara cepat,
“Iya gak apa-apa” Jawabnya dengan senyum manis menghiasai wajah tampannya.
“Boleh minta nomornya gak, Mas?”
Lalu mereka saling bertukar nomor dengan cepat sebelum Fara kembali berlari dengan terburu-buru.
“Masih sempat-sempatnya dia minta nomor cowok di saat seperti ini, btw cowok itu manis juga, aku sepertinya suka” Ucap Mia dengan tata terus menatap kearah mana pria itu langakah.
“Jangan ngada-ngada kamu, udah ingat aja tu sama si Dirga” Peringatku padanya.
“Iya, iya dasar Azia gak asik”
Lalu tak lama kemudian makanan kami sampai. Makanan lezat itu membuat kami yang tadinya banyak bicara menjadi bungkam tanpa satupun kata yang keluar dari mulut kami. Setelah makan kami semua berpisah, kak Alex kembali ke rumah sakit dan Mia pergi dengan pacarnya yang baru atau bisa dibilang selingkuhan barunya. Karena aku masih senggang jadinya aku memutuskan untuk bertemu dengan Bu Dewi dan membicarakan masalah ku padanya.
Sesampai di rumah bu Dewi kami duduk di teman dengan taman yang sedang di penuhi warna-warni bunga yang sedang mekar.
“Sayang, jadi apa yang ingin kamu bicarakan pada ibu?”
“Bu, Azia bingung”
“Kamu bingung kenapa, sayang?” Tanya Bu Dewi.
“Azia, gak mau ninggalin kak Alex tapi, Azia juga gak bisa terus di ini, kalau Azia di sini, bisa-bisa nanti Kakek membuat semua orang yang Azia sayang termasuk kak Alex terluka. Azia, tidak bisa begini bu, Azia tidak tahu harus apa”
Sejenak bu Dewi terdiam dan terlihat keningnya berkerut yang menandakan dia sedang berpikir keras, "Ibu tidak tau harus mengatakan apa, tapi dari hati yang terdalam ibu tidak ingin kehilangan kamu... Namun situasi sekarang benar-benar tidak mendukung untuk ibu menahan kamu. Ibu tau kamu mencintai Alex dan Alex pun pasti mencintaiku seperti kamu mencintainya... Ibu benar-benar tidak punya solusi dengan situasi sekarang. Kakek mu punya kekuatan yang cukup besar untuk menghancurkan kami, ibu tidak ingin kehilangan kamu atapun Alex." Ujarnya dengan wajah sendu.
Ucapan Bu Dewi membuat aku semakin bimbang dan frustasi, rasanya semua jadi semakin sulit. Dalam situasi ini orang yang mungkin bertahan hanya keluarga Andi, sedangkan Mia, Fara ataupun keluarga kak Alex pasti akan dengan mudah untuk dihancurkan oleh Kakek. Aku tidak ingin mengambil resiko lagi, tapi hatiku masih enggan melepas kak Alex.
"Bu, Aku tidak yakin dengan keputusanku tapi, aku tidak punya pilhan lain sekarang. Aku akan melepas kalian semua. Aku berharap bisa segera kembali setelah membentuk kekuatanku di sana, tapi aku tidak bisa menjanjikan apa itu benar-benar akan terwujud atau hanya angan ku saja, karena itu... Aku terpaksa melepas kak Alex. Bu, aku benar-benar tidak ingin menyakiti kak Alex tapi, aku tidak sanggung jika melihat dia dan kalian semua menderita karena keegoisanku."
Bu Dewi menggengam tanganku, dengan tatapan sendunya dan suara lembutnya ia pun meminta maaf padaku, "maafkan ibu yang tidak bisa membantu kalian"
"Tidak bu, ini bukan salah ibu, ini salahku karena keluargaku yang kejam membuat situasi kalian semua jadi terancam"
Tiba-tiba Bu Dewi memelukku, "Andai kamu anakku, semua akan jadi lebih mudah. Kenapa kamu harus lahir dari perempuan itu, harusnya Alex saja yang jadi anaknya jadi ibu bisa terus melindungimu. Jika saja kamu anak ku, aku bisa dengan mudah mengatakan untuk tinggalkan saja si Alex itu, dan mencarikanmu pria taman dan baik, tapi sayangnya kamu bukan putriku, jika aku memintamu mencari pria lain, kamu tidak bisa menjadi putriku" Bu Dewi pun menangis lebih kencang dan sedih dari aku.
Next....