
“Jangan asal nyerocos deh! Memang ada masalah apa dengan sifat aku, hah?! Aku ini cowok polos dan baik hati!”
“Polos pantat mu? Kami udah sering mergokin kamu ciuman saat SMP, itu yang kamu sebut polos?”
“Itukan masa lalu, ngapain masih di ingat-ingat!”
“Sana pulang!”
“Ini juga mau pulang, gak usah pakai diusir segala kali!” Andi pun pergi dengan wajah kesal
“Azia, kami perlu bicara sama kamu, ayo buka pagarnya kita bicara di dalam”
“Iya tunggu aku ambil kuncinya”
Akhirnya kami masuk dan duduk, wajah Mia dan Fara terlihat kesal.
“Kenapa kamu tidak pulang ke rumah?”
“Kan aku juga udah di rumah, nih di ruman nenek, ya’kan?”
“Azia, setelah kamu sakit waktu itu, aku dan Papa udah memikul tanggungjawab atas kamu. Nenek telah memberikan kamu pada keluarga kami untuk di jaga, kamu paham gak?”
“Tapi aku…”
“Aku apa? Kamu mau bilang kangen rumah nenek lagi? Gak usah kami udah tahu berita tentang kamu! Mau sampai kapan kamu merahasiakan masalah ini pada kami?”
“Kalian tahu dari mana?”
“Apa itu penting sekarang? Apa kamu benar-benar menganggap penting persahabatan kita?”
“Harusnya, kalau ada masalah kamu langsung share ke kami, beb! Kami ini udah anggap kamu lebih dari sekedar sahabat, kamu sudah seperti adik kami sendiri, keluarga kami. Apa hanya kami yang berpikir begitu?” Mia mulai meneteskan air mata dan wajahnya terlihat kecewa.
“Bukan seperti itu! Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian lagi! Selama ini semua masalahku selalu kalian yang mengatasinya, aku merasa menjadi beban untuk kalian”
“Apa kamu pernah mengatakan kalau kamu membebani kami?”
“Kami tidak pernah menganggap kamu beban, sayang!”
“Tapi…”
“Aku tanya sekali lagi, apa kamu menganggap hubungan kita bertiga ini tidak penting?”
“Tentu saja penting, kalian sudah seperti keluargaku sendiri.”
“Kalau memang begitu kenapa kamu menganggap dirimu beban untuk kamu? Apa hak kamu berpikir begitu? Kami saja tidak mengatakan hal itu, harusnya kamu langsung cerita kalau ada masalah!”
“Benar beb, kamu tahu gak kamu beberapa hari ini terus saja merasa khawatir pada perubahan sikapmu, kami takut kamu di usik lagi oleh orang-orang jahat itu dan kembali berpikir mengakhiri hidup seperti dulu!” Mia memelukku dengan erat sambil mangis.
“Maafkan aku” Aku juga ikut menagis dan kami semua pada akhirnya mengis bersama sambil saling berpelukan.
Aku tahu kalau mereka selalu peduli padaku, selalu ada untukku tapi aku tidak pernah berpikir kalau mereka sangat mencintai dan menyayangiku sama seperti keluarga sendiri. Beberapa menit setelah itu kami sedikit tenang dan mulai kembali bicara.
“Sekarang kamu pulang dengan kami, ya?”
“Tidak sekarang, Mia! Aku masih butuh sedikit waktu, aku harus menyelesaikan ini semua, setelah itu aku akan pulang”
“Azia, jangan keras kepala! Kami bisa menyelesaikannya dalam sehari kamu tidak perlu memusingkan itu, kamu harus kembali bersama kami”
“Sayangku Fara dan Mia, kali ini saja biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini”
“Boleh tapi tolong pulang bersama kami sekarang, ya?”
“Eum…”
“Udah pulang aja, atau kamu mau kami ambil tindakan hari ini?”
“Jangan!”
“Iya deh, aku pulang”
Akhirnya aku membereskan barang-barangku dan kembali bersamanya.
“Semua sudah siap?”
“Iya, aku kunci pintu dulu”
Setelah mengunci pintu aku meletakkan kunci kunci di bawah pot bunga.
“Biar Raihan bisa masuk kalau dia pulang”
“Raihan tinggal di sini?”
“Iya, toko masih dalam renovasi jadi, dia terpaksa tinggal di sini sementara lagian tempat ini juga kosong”
“Bagus deh, seenggaknya ada yang nyapu halaman tiap pagi”
Saat sedang berjalan keluar pagar aku melihat sosok pria tampan, ya bukan hanya tampan tapi super tampan yang berkulit putih dan hidung mancungnya membuat jantungku berdebar dengan kencang. Pria itu memarkirkan mobil tepat di depan pagar rumah nenek dan berdiri di samping mobil bak seorang model yang siap buat di potret.
“Kak Alex! Kenapa kakak di sini?”
“Ya karena kangen kamu lah! Lagian kenapa kamu akhir-akhir ini cuek dan bersikap dingin, buat aku jadi kepikiran terus.”
“Maaf, tapi aku sebanarnya gak bermaksud seperti itu”
“Lalu kalian mau kemana?”
“Mau pulang”
“Azia pulang bareng aku aja!”
“Nope! Azia pulang bareng kami dan gak ada bantahan titik!”
“Gak bisa gitu dong! Dia itu pacar aku!”
“Dia teman kami!”
“Azia, kamu harus ikut aku!” Perintah kak Alex dengan nada tegas.
“Gak boleh! Azia, kita udah sepat buat pulang bareng, ya’kan?!” Mia menarik tanganku dan menyembunyikan aku di belakang mereka.
“Apa-apaan sikap kalian ini? Biarkan dia pergi bersama dengan aku!”
“Gak bisa!”
“Iya gak bisa! Kamu udah sering mencuri Azia kami, Fara hajar dia!” Pinta Mia yang terus melirik kearah mobil.
Fara yang aslinya juara karate pun menyerang kak Alex tanpa aba-aba dan Mia membawaku lari ke mobil dengan cepat. Setelah melakukan beberapa pukulan dan tendangan Fara berlari dengan cepat ke mobil dan meninggalkan kak Alex yang kesakitan.
“Apa dia baik-baik saja?”
“Iya udah gak usah dipikirkan! Lagian dia hampir membalas seranganku tadi kalau aku gak lari, artinya dia masih sehat!”
“Kalian tega banget sih sama dia?! Gimana kalau aku gak bisa nikah karena sikap kalian ini?”
“Udah gampang, kakakku masih jomblo, akan aku jodohkan dengan kamu” Ucap Mia santai.
“Gak, aku akan mengenalkan kamu dengan kakak sepupuku dari Australian, dia itu super ganteng dan super tajir deh!”
“Gak, aku bukan cari ganteng atau tajir tapi, aku cari kenyamanan dan cuma kak Alex lah yang bisa membuat aku nyaman.”
“Kamu kan belum dekat aja sama kakakku, kalau udah dekat kamu pasti akan merasa dia itu super bikin nyaman.”
“Gak, kamu harus kenalan sama sepupu aku Azia, dia pasti gak hanya akan membuat kamu nyaman tapi super bahagia. Jangan mau tu sama kakak si Mia, gak jelas orang nya! Dia aja suka kabur dari rumah biar gak ketumu sama kakaknya itu”
“Hahah… Iya juga” Aku tertawa mengingat tingkah kedua orang di sampingku yang kadang membuat aku lupa dengan rasa khawatir akan masalahku dan juga mereka selalu tahu cara membuat aku kembali ceria.
“Nah dia tertawa lagi! Gitu dong jangan sedih-sedih dan galau terus!”
“Kami akan mendukungmu Azia jadi, kamu jangan terlalu Khawatir dengan masalah itu, ya”
“Iya, makasih ya teman-temanku yang paling aku cinta”
“Kalau urusanmu sama si Lina udah siap, gimana kalau kita jalan-jalan dan shopping bareng?”
“Ide bagus tu Mia, menurut kamu gimana Azia?”
“Aku ikut aja!”
Bersambung
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN KALAU KALIAN MENYUKAI EPISODE INI. SAMPAI JUMPA EPISODE BERIKUTNYA