
“Stop, kak!” Teriak ku kesal.
“Ada apa, sayang?” Dia terkejut dan melirik sekilas ke arahku namun dia tidak berhenti dan kembali fokus menyetir mobil.
“Pinggirin mobilnya sekarang!!!” Desakku pada kak Alex.
“Kenapa?” Tanya binging.
“Lakukan saja, kak!” Desakku lagi.
Lalu beberapa meter kemudian kak Alex meminggirkan mobil dan kami pun berhenti. Aku melepas sabuk pengaman dan dengan cepat aku keluar dari mobil, belum sampat kak Alex turun aku sudah kembali masuk dan duduk di kursi penumpang.
“Ada apa sih sebenarnya dek?”
“He-he-he nggak ada kok kak, aku hanya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, godaan kue ini membuat aku kehilangan akal sehatku” Aku tertawa lucu melihat wajah panik kak Alex.
“Huft! Aku pikir kamu marah dan mau kabur”
“Mana mungkin, ayo jalan!”
Aku tersenyum kearah kak Alex yang masih kaget dengan situasi saat itu. Aku tidak terlalu peduli apa yang sedang dia pikirkan karena semua fokusku sudah tertuju pada campuran terigu dan telur dengan teknik yang rahasi dari toko kue yang sedang jadi topik hangat di bicarakan di sekolah dan instagram yang membuat aku ngiler dengan hanya membayangkan saja kue itu. Rasa yang misterus dan kelembuatan yang luar biasa, warna yang mencolok dan krim yang di tata begitu indah diatasnya membuat aku hampir tidak tega untuk memakannya. Sayangnya mulut dan perutku itu selalu tega melahap semua makanan enak dan indah dalam sekejab saja.
“Ehum… Enak banger, rasa lembut dan bikin nagih, aku biasanya tidak bisa menghabiskan satu kotak kue sendiri tapi kue ini membuat aku hampir bisa melahap semua kue yang kakak beli”
“Loh kenapa di makan semua, dek?”
“Kenapa emangnya?”
“Sudahlah, kalau kamu makan jangan lupa di habiskan karena udah nanggung kalau di bawa pulang”
“Satu lagi buat ibu, ya?”
“Heum” Kak Alex menangguk.
“Aduh gimana nih?! Aku gak tahu, ibu pasti marah kalau tahu aku menghabiskan makanannya, kak Alex gimana nih?” Aku meletakkan kue yang tinggal satu potong kembali ke kotak itu.
“Gak papa, nanti biar aku yang urus, kamu makan aja yang tenang”
Sesampai di rumah sesuai dugaan ibu marah karena kue pesanannya habis di makan tapi waktu itu yang di marahi bukan aku melaikan kak Alex karena dia mengatakan kalau dia yang menghabisakan kue itu.
“Kamu ini keterlaluan sekali! Pokoknya hari ini kamu datang ke toko bibimu dan tunggu sampai kuenya selesai di buat atau gak usah pulang kamu ke rumah ini”
“Ibu, tunggu! Azia mengaku kalau Azia yang makan kue itu, Ibu jangan marahin kak Alex!” Aku berjalan mendekati bu Dewi dan menggenggam kedua tangannya dan menatapnya dengan kedua mataku yang hampir tidak bisa menahan air mata karena gak tega melihat kak Alex di marahi karena ulahku.
“Sayang, kenapa kamu tidak mengatakan dari tadi? Kue itu memang ibu pesan untuk kamu karena Alex bilang kamu itu sangat suka kue, kalau begitu ayo duduk!”
Lalu bu Dewi mengambil cemilan yang ada di atas meja dan menyuapiku.
“Sayangku, ayo makan yang banyak! Lihat semakin hari kamu semakin kurus, apa Alex menindasmu lagi?”
“Iya, bu! Kak Alex terus saja menindasku, dia selalu membuat aku cemburu, di grup anak-anak sekolah juga membahas kak Alex yang berkencan dengan wanita lain, lihat bu ini teman-teman yang memotretnya!” Aku menunjukkan foto-foto yang Andi dan Fara kirim padaku.
“Alex jelaskan apa ini?!” Bentak bu Dewi pada anak sulungnya itu.
“Dari mana kamu mendapatkan foto itu, dek?”
“Apa itu penting?!” bentak bu Dewi mewakiliku.
“Sayangku, kamu jangan sedih biar Ibu yang hukum Alex, ya?!” Bu Dewi memelukku dan menatap tajam pada kak Alex yang duduk di sampingku.
“Apaan sih ibu ini, aku gak salah! Lagian kejadian itu gak seperti yang kalian pikirkan, mereka itu pasien yang pernah aku tangani dan beberapa adalah anggota keluarga pasie, aku hanya bersikap raham pada mereka sebagai seorang dokter yang professional”
“Lalu kenapa sering kali foto diambil di cafe dan beberapa restauran?”
“Mereka selalu mendekatiku saat aku makan siang dengan teman-temanku, ini foto di potong bagian teman-teman yang ikut bersamaku, lihat di foto ini ada tangan di pundakku, bukankah jelas kalau foto ini di potong sebagian agar kamu salah paham denganku”
“Oke, anggap saja itu benar lalu bagaimana dengan cewek yang mengatakan kalau dia pacar kakak?”
“Apa!” Bu Dewi sangat terkejut mendengar hal itu.
Aku yang masih sedikit lapar sambil menunggu jawaban kak Alex pun membuka toples kue dan memakannya.
“Huemm… biskuit buatan ibu enak banget!”
“Benarkah?” Tanya bu Dewi yang terlihat senang mendapat pujian.
“Aku juga mau dong!” Kak Alex mencoba mengambil biskut di tanganku tapi bu Dewi malah memukul tangan Alex.
“Au! Sakit, bu! Tega benget sih ibu ini?!”
“Udah, jawab saja pertanyaannya!”
“Oh, itu! Iya, ibu tahu tapi kenapa bisa ada yang mengatakan kalau dia pacarmu?”
“Mana aku tahu, bu!”
“Terus handphone di tangan kakak itu dapat dari mana?”
“Heum?!” Kak Alex mulai mencoba mengingat siapa yang mengembalikan handphone itu padanya.
“Ah, aku baru ingat! Waktu itu aku bertemu salah seorang keluarga pasie di koridor rumah sakit terus dia memberikan handphone itu padaku, katanya aku meninggalkannya di kantin rumah sakit”
“Kapan?”
“Saat kamu pelukan dengan Andi di tempat parkiran!”
“Waktu itu karena aku lihat kakak lagi pelukan sama cewek lain terus aku…”
“Terus maksud hanya karena kamu salah paham melihat keluarga pasie yang memelukku karena sedih itu kamu boleh memeluk pria lain, begitu?”
“Andi bukan pria lain! Aku tidak memeluk Andi tapi Andi yang memelukku untuk menanangkan aku yang dia bilang membuat dia malu karena menangis di depan umum, PAHAM!!” Aku sedikit emosi karena kak Alex memotong ucapanku.
“Lalu apa maksudnya dengan ucapanmu yang mengatakan kalian sudah pacaran sejak SD waktu di restaurant saat itu?”
“Kapan?” Aku bingung dengan ucapan kak Alex karena aku lupa tentang kejadian beberapa bulan yang lalu yang sebenarnya hanya aku anggap angin lalu.
“Waktu sebelum Andi mendapat serangan dari gadis gila”
“Oh itu….! Hahahaha… Aku pikir apa, masa kakak salah paham hanya karena itu? Kakak kan bisa bertanya kalau kakak merasa itu menjadi masalah, iya’kan?”
“Aku ingin bertanya tapi kamu pernah bilang gak suka laki-laki yang cemburuan?”
“Tapi aku gak pernah bilang gak suka kakak, iya’kan? Aku suka semua hal yang kakak lakukan kecuali tentang dekat dengan cewek lain di belakangku”
“Aku tidak..”
“Iya, aku tahu kak, intinya kakak boleh kok merasa cemburu pada siapapun kecuali Andi, kakak boleh melarangku bertemu dan dekat dengan siapapun kecuali Andi, Mia, dan Fara”
“Kenapa dengan mereka?”
“Karena bagiku mereka adalah keluarga, nah intinya aku dan Andi gak pernah pacaran dan gak akan pernah pacaran sampai kapanpun karena hal itu mustahil bagi kami”
“Apa maksudmu?”
“Kakak ini lucu juga, ya? Kakak kok bisa percaya sama kata pacaran dari SD, mana ada orang pacaran dari SD terus di bolehin pacaran sama orang lain secara terang-terangan? Lagian setahu aku teman-temanku semua pada waras jadi gak ada yang pacaran dari SD, paling-paling cinta monyet di SMP”
“Kamu benar juga tapi kembali lagi ke pertanyaan ku yang tadi, apa alasan yang membuat kamu berpikir kalau Andi dan kamu gak mungkin bersama padahal kalian tahu kalau kalian gak ada hubungan darah”
“Memang aku tidak memiliki hubungan darah dengan Andi tapi kedekatan kami sudah lebih dari ikatan darah saja, orang bilang Andi dan aku sudah seperti kembaran yang tidak bisa di pisahkan. Lihat saja, tiap kali aku kena masalah Andi dengan cepat akan menyelesaikannya, dan saat Andi mendapat nilai rendah aku selalu membantunya belajar”
“Alex, harusnya kamu percaya pada Azia karena dasar dari sebuah hubungan adalah saling percaya, kalau kalian tidak saling percaya maka hubungan kalian akan hancur”
“Tapi bu, bagaimana kalau Andi menyukai Azia?”
“Gak mungkin lah kak! Cewek yang Andi suka adalah Mia, gak percaya coba saja kakak terobos kamar yang selalu di kunci sama si Andi itu”
“Memangnya ada apa dengan kamar Andi?”
“Ada album khusus yang isinya foto Mia, terus di meja dekat tempat tidurnya ada foto Mia dan dia saat kami berempat liburan bersama ke bali, tahu gak kalau dia memotong foto yang harusnya ada aku dan Fara hanya agar bisa terlihat seakan mereka berdua berfoto berdua”
“Hahaha…. ternyata selama ini aku salah paham pada kalian, aku minta maaf ya dek”
“Iya, aku juga minta maaf karena sempat marah dan salah paham pada kakak. Tapi kak aku gak suka kakak terlalu baik pada cewek lain di belakangku apa lagi memberi mereka harapan kalau kakak bisa jadi kekasih mereka”
“Aku berjanji gak akan membiarkan kamu salah paham dan aku juga tidak akan pernah lagi memberi mereka celah dari mulai sekarang”
Saat kak Alex akan memeluk aku tiba-tiba bu Dewi menarik aku dan memelukku sambil mendorong Alex menjauh dari ku.
“Ibu senang kalian baikan tapi ibu akan lebih senang kalau kalian tunangan biar ikatan kalian itu semakin kuat.”
“Bagiamana kalau lusa kita tunangan?”
“Ibu setuju!!”
“Kenapa dadakan sekali?”
“Nak Azia, biar orang tua yang mengurus hal itu kamu jagan terlalu ambil pusing sekarang kamu makan saja, ya?!”
Bersambung….