
Setelah kaki ku agak mendingan dan aku membujuk Tante dan om biar di biarin masuk sekolah sebelum kaki ku sembuh total. Sebenarnya Fara menentang aku yang mau masuk sekolah dengan kondisi kaki yang belum sembuh total tapi, karena aku terus mendesak dia belajar selama di rumah pada akhirnya dia memilih membiarkan aku ke sekolah dari pada belajar ekstra setelah pulang sekolah.
“Selamat pagi, pak!” Aku menyapa penjaga sekolah yang aku temui di depan pintu gerbang sekolah.
“Pagi juga, nak! Bagaimana keadaanmu, bapak dengar kamu sakit”
“Ah itu, sebenarnya bukan sakit parah kok pak, cuma kaki Azia bermasalah sedikit dan sekarang sudah mendingan, kalau begitu Azia masuk dulu”
“Baguslah kalau begitu, belajar yang rajin, ya!”
“Sip pak”
“Hoi!” Andi dari parkiran mengagetkanku dari belakang dan membuat aku hampir memukulnya.
“Hai jangan mukul orang pagi pagi lah!”
“Makanya jangan ngagetin gitu! Oh iya, gimana udah punya pacar sekarang?”
“Um, itu.. Kenapa kamu kepo? Jangan-jangan kamu suka sama aku, ya?”
“Ngarep! Udah, serius nih, masa kamu seriusan mau nge jomblo?”
“Emang kenapa?”
“Ya aneh aja, seorang Andi si playboy tiba-tiba nge jomblo, kayak gak mungkin banget gitu”
“Apanya yang gak mungkin, mungkin-mungkin aja karena aku tu punya standar yang tinggi buat milih cewek”
“Alah, alasan aja! Bilang aja yang suka sama kamu tu cuma cewek-cewek yang matanya udah pada katarak, ya’kan?”
“Kamp**t kamu, Zia! Kamu pikir temanmu ini tidak tampan, hah? Aku ini tampan tingkat akhir tahu! Dan pastinya yang suka sama aku tu cewek-cewek yang cantik semua dan pastinya gak se-level sama kamu!”
“Maksud kamu apa nih? Pagi-pagi udah ngajak berantem”
“Kamu duluan! Tapi emang benarkan, yang se-level kamu itu cuma kutu buku yang membosankan, tiap hari bahas pelajaran mulu, ngebosenin banget”
‘plak’ Aku memukul kepala Andi dengan tasku.
“Au, sakit Azia!”
“Makanya jangan asal nyerocos aja! Udah diam!”
“Eh Azia! Kebetulan banget kamu di sini, kepala sekolah lagi nyariin kamu tu” Heri datang menghampiri kami.
“Serius?”
“Iya, aku duluan, ya!”
“Oke!”
“Azia, kamu artis, ya?”
“Apaan?”
“Ya habisnya yang manggil kamu itu kepala sekolah dan kamu juga punya popularitas tertinggi di antara anak perempuan lain, sebenarnya kamu siapa, sih? Kamu anak penjabat, ya?”
“Ya kali, udah sana ke kelas! Aku tahu kamu sengaja jalan pelan-pelan karena hari ini kamu piket kelas, ya’kan?”
“Kamu kok tahu?”
“Karena aku lihat jadwal piket kelas mu saat ke sana. Udah sana sebelum kenapa marah sama yang lain!”
“Iya iya, dasar bawel!”
Aku sebenarnya males banget ke kantor kepala sekolah karena aku sudah tahu apa yang akan di bicarakan di sana. Aku lebih suka mengajar dari pada ikut olimpiade, dan biasanya kalau sudah di panggil ke ruangan kepala sekolah maka yang di bicarakan hanya soal lomba dan itu mengesalkan sekali. Setelah mendengar beberapa siraman rohani dari kepala sekolah karena aku menolak mengikuti lamba yang di minta, aku kembali ke kelas tapi, ada yang aneh dengan suasana kelas.
“Azia, ibu kecewa pada kamu”
“Apa? Ada apa ini? Kalian pada kenapa?”
Semua orang menatapku dengan tatapan benci dan penuh kemarahan termasuk guru kimia bu Mima.
“Kamu pura-pura tidak tahu? Apa ini?”
Bu Mima melempar kertas ke atas meja dengan penuh kemarahan.
“Entah, memangnya itu kertas apa?”
Lalu aku mengambil kertas itu dan melihat isinya, itu hanya berisi soal ulangan untuk kelas kami.
“Bu, ini pilihan gandanya salah, jawabannya harusnya 5,2 tapi di pilihan ini tidak ada jawabannya”
“Benarkah? Coba ibu lihat!”
“Mungkin ibu salah menghitungnya tapi, kenapa kamu malah membahas itu sekarang?”
“Lalu apa? Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Kamu mencuri kertas soal itu sebelum kita ulangan, ya’kan?” Ucap salah seorang anak yang duduk di bangku belakang.
“Apa?”
“Kalian gila ya? Aku baru juga sampai, lagian aku gak tahu kalau ibu udah buat soal ulangan dan yang paling penting kapan aku mencurinya?”
“Lalu kenapa kertas ini ada di laci meja kamu?”
“Loh kalau itu mana saya tahu, bu! Lagian kalau mau saya curi buat apa yang letakkan di laci, itukan tindakan ceroboh dan bodoh banget! satu hal lagi, biasanya saya tidak mengikuti ulangan dengan soal yang sama dengan anak-anak lain, ya’kan BU?”
“Eh, itu betul juga, lalu kenapa ini bisa di meja kamu?”
“Bukannya tadi sudah saya katakan? Saya udah dua minggu gak ke sekolah masa baru masuk udah kena fitnah lagi, sih? Udah, kalau gitu saya pulang aja!”
“Tunggu! Azia, kamu pasti mencuri ini untuk…. untuk kamu berikan pada teman-teman yang lain, kan?”
“Kalau pun aku punya niat kayak gitu kenapa gak sekalian aja aku kasih soal ujian, lagian aku yang buat soal untuk kelas lain! Sebenarnya aku gak mau kasih tahu masalah ini tapi, karena kejadian ini, aku terpaksa mengatakannya!”
“Pantas saja kamu selalu mendapatkan juara, ternyata kamu main curang?”
“Curang apa? Soal untukku itu beda dari kalian! Aku ujiannya di depan guru, kalian enak dapat soal yang mudah, nah aku dapatnya soal yang susah, aku udah gak tahan lagi, pokoknya hari ini masalahnya harus selesai!”
“Azia, ibu minta maaf karena menuduh kamu mencuri soal tapi, siapa yang ingin menjebak kamu?”
“Tentu saja orang yang menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Bunga, kamu pasti pelakunya”
“Loh kenapa jadi aku?”
“Cuma kamu yang akan tega melakukan hal semacam ini padaku, sudahlah kita lihat saja buktinya.”
“Buktu apa maksud kamu?”
“Rangga! Kamu meletakkan kamera di rak buku itu’kan dan cctv di sudut itu’kan?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku kan pengikut channel mu!”
“Makasih sob, kamu memang yang terbaik.” Ucap Rangga yang senang mengenatahui kalau aku juga pengikutnya.
“Rekaman kemaren dan hari ini belum kamu periksa’kan?”
“Iya, coba periksa sekarang”
Lalu Rangga mengambil laptopnya dan melihat rekaman dari kameranya dan benar saja kalau Bunga adalah pelaku yang sebenarnya, padahal aku cuma menebak saja kalau dia pelakunya karena dari tadi cuma dia yang terlihat berantusias menuduhku sebagai pelakunya, matanya penuh kebencian itu sudah aku sadari dari sebelum kejadian itu terjadi.
“Nah lihatkan kalau tersangkanya anak itu! Kalau begitu aku akan melaporkan masalah ini pada pihak sekolah dan aku ingin dia mendapat hukuman yang sesuai dengan perbuatannya”
“Azia apa kamu tidak terlalu kejama?”
“Kejam? Apa dia tidak kejam saat menuduhku yang baru masuk sebagai pencuri? Ini bukan sinetron dimana pemeran utamanya akan berbaik hati memaafkan orang yang salah, orang salah itu harus di hukum biar mereka jera dan tidak mengulangi perbuatannya, ya’kan bu?”
“Benar, ibu sependapat karena menurut buku yang ibu baca kejahatan yang lebih besar muncul karena kejahatan kecil tidak di tindak dengan benar, Bunga ayo ikut ibu ke kantor sekarang”
“Awas kamu Azia!”
“Bu, dia belum jera tu katanya ‘awas kamu Azia!’ kayaknya butuh hukuman yang berat baru dia sadar tu, bu” Ucapku untuk memanasi bu Mima agar hubungan si Bunga semakin di perberat.
“Bunga, harusnya kamu tidak berkata seperti itu, kamu harusnya menyadari dan merenungkan perbuatan salahmu itu!”
Setelah itu semua kembali seperti biasa dan teman-teman sekelasku meminta maaf karena sempat berpikir kalau aku yang menjadi pencurinya.
Bersambung....
Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan, kalau ada kesalahan bisa tulis di komentar agar bisa di perbaiki. Terimakasih telah berkunjung dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dari kalian😁😁😁